Episode 175 - Jangan Sentuh...



Bahkan sang Maha Maha Tabib Surgawi, Ginseng Perkasa, sempat terpana akan pertanyaan polos yang diajukan oleh Aji Pamungkas. 

“Bila suatu racun telah kadaluarsa, maka apakah ia menjadi tak ampuh lagi…? Ataukah malah menjadi semakin berbahaya!?”

Pengetahuan umum perihal obat, adalah sebagian besar dari kita tak akan mengkonsumsi suatu obat bila telah mengetahui bahwa ia kadaluarsa. Adapun, alasan yang selama ini dipahami sebagai kesepakatan bersama, merupakan obat kadaluarsa dapat membahayakan tubuh. 

Jadi, bilamana menggunakan logika tersebut terhadap racun, maka bukankah berarti racun yang kadaluarsa adalah racun yang menjadi semakin berbahaya…? Bukankah ini sejalan dengan apa yang Aji Pamungkas ajukan…?

“Ehem…” Ginseng Perkasa berdehem seolah melegakan tenggorokan. “Tergantung…,” sambungnya. 

‘Tergantung’ adalah jawaban yang tak definitif. Atau dengan kata lain, merupakan jawaban yang tak mutlak dan dapat dikembangkan ke berbagai kesimpulan. Jadi, baik racun kadaluarsa, maupun jawaban Ginseng Perkasa, sangat relatif. 

Kelima Murid Utama Perguruan Gunung Agung telah keluar dari ruang dimensi bercocok tanam milik Pasukan Penyembuh. Gelegar halilintar dan badai hujan angin menyambut mereka di saat keluar dari celah batang pohon raksasa. Tiada yang memperdulikan pertanyaan Aji Pamungkas. 

“Dari mana sajakah kalian!?” Seseorang berteriak. Ia berteriak bukan karena tak senang, melainkan karena bising suara kombinasi dari gelegar halilintar, hembusan angin serta gemericik hujan. 

“Kalian menghilang bak ditelan bumi. Kami sangat khawatir, sampai-sampai menghubungi perguruan untuk mengirimkan regu pencarian.” Seorang ahli lain berujar kepada kelima remaja yang berbaris lurus dan mengenakan mantel hujan.

“Betapa diriku yakin, bahwa beberapa hari yang lalu mereka masih berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8.” Mulai terdengar beberapa dari mereka berbisik-bisik.

Mereka ini adalah kakak-kakak perguruan yang sudah berada pada Kasta Perak, dan telah menetap di seputar reruntuhan selama berbulan-bulan. Tak satu pun dari mereka yang memperoleh petunjuk tentang keberadaaan Cetik Niskala. Tentunya karena tak satu pun dari mereka mengetahui letak formasi segel yang menjadi lorong dimensi ruang. 

“Kami telah menemukan Cetik Niskala yang dicari-cari!” teriak Canting Emas, sambil menyodorkan kotak kayu yang terbungkus kain, dimana di dalamnya juga terdapat botol kecil.  

“Hah!?” Teriakan Canting Emas Ibarat barat halilintar yang menggelegar dan menghujam ke sanubari mereka yang telah lama mencari. 

“Bagaimana mungkin…?”

“Baguslah. Aku sudah hampir gila mencari-cari di reruntuhan ini. Aku hendak segera pulang.”

Tanggapan yang berbeda-beda datang menyambut. Bintang Tenggara mengabaikan para kakak seperguruan itu. Ia sedang berpikir keras. Mulai hari ini, dirinya terpaksa menghitung mundur lima tahun dan satu pekan. Pada saatnya nanti, dirinya terpaksa kembali untuk mengambil beberapa lembaran Gaharu Semerbak. Memikirkannya saja sudah membuat kepala pusing. Masih 1.287 hari lagi!



Di saat kelima murid tauladan telah meninggalkan ruang dimensi milik Pasukan Penyembuh, dan dalam perjalanan pulang menuju Perguruan Gunung Agung, sesuatu yang tiada terduga berlangsung. Sebuah kejadian yang sulit dicerna akal. 

Ratusan Kelelawar Taring Darah melesat keluar ibarat kepulan asap hitam. Cicit suara mereka terdengar serak sampai membuat binatang-binatang siluman lain di dalam ruang dimensi bergidik. Sungguh kejadian yang amat sangat langka, karena kelelawar-kelelawar tersebut keluar dari goa tempat tinggal mereka pada petang hari!

Jauh di dalam liang goa, sebuah formasi segel berpendar temaram. Ini adalah formasi segel yang dilalui oleh Aji Pamungkas sebelum mencapai taman dimana Cetik Niskala Croncong Polo tersimpan. Bintang Tenggara mengira bahwa formasi tersebut merupakan segel pertahanan yang melindungi taman wilayah bercocok tanam.

“Bintang di langit tenggara…,” terdengar suara serak bergumam dari balik formasi segel tersebut.

“Agar ditopang sembilan unsur… Langkah pertama menuju agung…” Suara nan serak berangsur-angsur memudar.


“Tindak kedua memikat putih… Gerak ketiga meraih gilang….” Sampai akhirnya, hilang tak lagi terdengar. 



===


“Siapakah Tuan yang menyelamatkan hamba…?”

Hening. 

Seorang lelaki dewasa bertubuh tambun dan berkepala gundul berdiri seorang diri di dalam aula dan luas. Aroma lembab dari tempat yang gelap tertutup itu demikian menyesakkan dada. Jangankan cahaya mentari, hembusan angin pun seolah enggan masuk ke dalam aula ini. 

Di hadapan lelaki tersebut, terlihat beberapa anak tangga naik ke atas sebuah panggung. Di atas panggung, adalah satu-satunya sumber penerangan di dalam aula, dimana sepasang obor terlihat mengapit sebuah kursi nan besar. 

Sesosok tubuh kekar dan besar sedang duduk diam di kursi singasana nan temaram itu. Siku lengan kanannya bertumpu pada sandaran kursi, dan telapak tangannya menopang dagu. Meski matanya terpejam, aura yang ia pancarkan terlalu gelap sampai tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. 

Malin Kumbang menanti jawaban. Ia tak hendak sembrono dan menyinggung sosok yang telah menyelamatkan dirinya dari genggaman peneliti gila. Dalam diam, ia menggeretakkan gigi di kala mengingat wajah Lintang Tenggara. Selama berhari-hari dirinya diikat dan disekap. Untung saja Lintang Tenggara belum mulai melakukan penelitian dengan menerapkan teknik entah apa terhadap dirinya. Membayangkkannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding.

Malin Kumbang menarik napas panjang. Dirinya sudah lebih tenang karena telepas dari cengkeraman Lintang Tenggara. Ia pun memilih untuk mencermati situasinya saat ini. Dalam diam sang saudagar melakukan apa yang sangat piawai ia kerjakan: menimbang-nimbang, memperkirakan, berharap dapat merumuskan kesimpulan. 

Jangan sampai dirinya terlepas dari mulut harimau, malah jatuh ke mulut buaya. Benak Saudagar Senjata Malin Kumbang berkutat deras dalam berpikir dan mencari-cari jalan keluar. 

“Apakah engkau mengetahui siapa sesungguhnya aku…?” 

Malin Kumbang terkejut ketika mendengar sosok di atas kursi singasana memecah keheningan di dalam aula. Suara yang keluar demikian berat, sekaligus menekan. Ia pun menengadah hendak memberi jawaban. Api obor yang mengalun-alun hanya menerpa sisi wajah dari sosok di atas kursi singasana, sehingga raut wajah secara keseluruhan tiada dapat dikenali. Kesan yang ditimbulkan demikian angker, sampai membuat Malin Kumbang menelan ludah petanda gugup. 

“Tuan Yang Terhormat di hadapan hamba… kemungkinan besar adalah Pimpinan Partai Iblis,” jawab Malin Kumbang sopan. Sudah sangat jarang seorang saudagar besar seperti dirinya berujar sampai demikian santun seperti ini. 

Meskipun gugup, Malin Kumbang bukanlah tokoh yang bodoh. Rakus akan harta dan malas berlatih persilatan dan kesaktian mungkin saja, akan tetapi dirinya mencapai status saat ini justru karena kepintaran, dengan bumbu-bumbu kelicikan dan tipu muslihat. Pengalamannya dalam menyusun siasat, boleh dikatakan berada pada posisi atas di antara para ahli di seantero Negeri Dua Samudera. 

Setelah mengobarkan api permusuhan antara Perguruan Maha Patih dan Persaudaraan Batara Wijaya, Malin Kumbang tiada kembali ke kota asal. Adapun langkah ini diambil karena dua alasan, pertama menghindari persidangan di Perguruan Maha Patih yang akan datang menjemput sebagai saksi mata; dan kedua bersembunyi dari tokoh membahayakan yang berdiam di balik Persaudaraan Batara Wijaya. Langkah mengadu domba kedua perguruan besar tersebut, nyatanya mengundang risiko yang cukup besar pula. 

Walhasil, Malin Kumbang mengirimkan istrinya pulang kampung untuk menyamarkan jejak. Sedangkan dirinya bersama dengan seorang bawahan, berkunjung ke Pulau Satu Garang di Partai Iblis. Bagi Malin Kumbang, Kerajaan Garang yang gemar berperang dan dipenuhi serdadu bayaran merupakan salah satu lumbung pundi-pundi emas dalam peta perdagangan senjata. Walau rencana menyerang Pulau Dua Pongah sementara tertunda, dirinya yakin dan percaya bahwa dengan mengunjungi pulau tersebut, ia dapat merumuskan muslihat agar peperangan segera berlangsung. 

Malin Kumbang, oleh karena itu, segera mengatur temu janji dengan Putra Mahkota Kerajaan Garang. Pada malam di waktu mereka seharusnya bertemu dan membahas jual beli senjata, sebuah kejadian tak terduga terjadi… Lampir Marapi terlihat di dalam ibukota Kerajaan Garang. 

Bersama dengan Putra Mahkota Kerajaan Garang yang tak sabar meminang si Perawan Putih itu, Malin Kumbang lalu menelusuri ibukota. Hasil penyelidikan mengungkapkan bahwa sosok Lampir Marapi dicurigai tiba bersamaan dengan Bupati Selatan Pulau Lima Dendam, yaitu Lintang Tenggara. Di Pulau Satu Garang, tak sedikit yang berprasangka terhadap Lintang Tenggara, serta sejumlah hal yang mencurigakan dari tokoh tersebut. 

Malin Kumbang telah lama mendengar kabar angin tentang tokoh bernama Lintang Tenggara. Seorang peneliti yang dikenal sebagai Petaka Perguruan, karena melakukan hal yang sangat tabu di dunia keahlian, yaitu menjadikan sesama ahli sebagai kelinci percobaan. Saat itu, tak terbersit sedikit pun di dalam benak Malin Kumbang bahwa dirinya hampir saja menjadi salah satu kelinci percobaan. 

Jikalau tokoh di atas singasana itu tiada menyelamatkan, entah apa yang akan dilakukan Lintang Tenggara terhadap dirinya. 

Atas rangkaian kejadian ini, Malin Kumbang menyimpulkan bahwa ia belum meninggalkan wilayah Kepulauan Jembalang, sebagai Markas Besar Partai Iblis. Ia pun mengetahui bahwa jika mencermati peta kekuatan di dalam Partai Iblis, maka penyelamatnya itu hampir tak mungkin datang dari Pulau Satu Garang, Pulau Dua Pongah, Pulau Tiga Bengis atau Pulau Empat Jalang. Hal ini dikarenakan kekuatan Pulau Lima Dendam, cukup diperhitungkan di wilayah Kepulauan Jembalang. Tak akan pulau-pulau lain mencampuri urusan Pulau Lima Dendam. 

Satu-satunya yang berani berbuat sesuka hati mencampuri urusan kelima pulau, adalah para ahli dari pulau utama yang berdiam di tengah, yaitu Pulau Pusat Durjana! Demikian adalah fakta-fakta yang menjurus kepada jati diri sang tokoh penyelamat. Demikian yang membuat Malin Kumbang yakin bahwa tokoh di atas singasana merupakan Pimpinan Partai Iblis!

“Apakah engkau mengetahui siapa sesungguhnya aku…?” Pertanyaan yang sama, diikuti suara nan berat seolah mengunci tubuh Malin Kumbang. 

Tetiba tubuh Saudagar Senjata tersebut jatuh bertekuk lutut! Sebuah tekanan besar dari hawa membunuh, serasa menghenyak tubuh. Tekanan yang semakin berat membuat posisi tubuh Malin Kumbang seolah bersujud. Sepertinya, tokoh yang duduk di atas singasana itu tak puas dengan jawaban yang sebelumnya diberikan.

Kendati tiada berdaya, Malin Kumbang masih dapat berpikir jernih. Ia adalah satu satu dari sedikit ahli yang dapat berperilaku tenang bahkan di hadapan ancaman jiwa, kecuali ketika disekap Lintang Tenggara tentunya. Malin Kumbang pernah merasakan tekanan yang sama di kala diperingatkan oleh seorang ahli digdaya di dekat Persaudaraan Batara Wijaya. Saat itu, menurut Sesepuh Kertawarna, ahli yang menekan mereka berada pada Kasta Bumi!

“Maafkan... kelancangan hamba yang baru ini menyadari…,” ungkap lelaki itu terbata-bata. “Sembah sujud hamba haturkan kepada Yang Garang, Yang Pongah, Yang Bengis, Yang Jalang, Yang Dendam… Raja Angkara Durjana!”

Tak banyak yang mengetahui secara rinci tentang Lima Raja Angkara. Setelah Perang Jagat, sejarah tentang mereka, beserta sejumlah tokoh lain, seolah menghilang begitu saja. Tambahan lagi, untuk kejadian-kejadian serta tokoh-tokoh tertentu, catatan sejarah bahkan dengan sengaja diubah. Dalam hal ini, penamaan pulau-pulau di Kepulauan Jembalang, yang berdasarkan gelar salah satu tokoh Raja Angkara, tiada yang menyadari.

“Siapakah engkau…?” tanggap suara dari atas singasana. Di saat yang sama, tekanan berat yang mengunci tubuh Malin Kumbang perlahan memudar. 

“Hamba adalah salah satu anggota Kekuatan Ketiga, pengabdi setia kepada Kehancuran,” jawab Saudagar Senjata Malin Kumbang cepat. Sudah jarang sekali dirinya berkata-kata sedemikian jujur. 

Sebagai anggota dari ahli-ahli terpilih yang tergabung dalam kelompok Kekuatan Ketiga, tentu Malin Kumbang memiliki informasi yang lebih banyak tentang sejarah Negeri Dua Samudera. Kekuatan Ketiga pun telah lama mencurigai bahwa salah satu Raja Angkara berdiam di dalam dimensi khusus miliki Partai Iblis. Hari ini, kecurigaan tersebut terbukti benar menggunakan mata kepalanya sendiri. Terlintas dalam benaknya untuk segera mengabari saudara-saudara yang lain.

“Kekuatan Ketiga…,” terdengar nada sinis. “Kalian telah membangkitkan Raja Angkara Durhaka. Tak lama setelah itu, Raja Angkara Durkarsa pun terpancing untuk mengembalikan kekuatan seperti sedia kala…” 

“Benar, wahai Yang Garang, Yang Pongah, Yang Bengis, Yang Jalang, Yang Dendam… Raja Angkara Durjana.”

“Aku melepaskan dirimu dari genggaman Lintang Tenggara bukan tanpa sebab. Suatu hari nanti, aku akan datang menagih balasan.” 

“Baik, wahai Yang Garang, Yang Pongah, Yang Bengis, Yang Jalang, Yang Dendam… Raja Angkara Durjana.”

“Sebelum engkau pergi, ingatlah akan satu hal …,” sosok di atas singasana sedikit mencondongkan tubuh. “Jangan sekali-kali kau sentuh… Lintang Tenggara.” 


Cuap-cuap:

Beberapa tahun lalu, ketika ahli karang nan budiman mendapat ide tentang lamafa, ia kemudian melakukan penelusuran, termasuk ke dunia maya (sebuah dimensi ruang nan memuat berbagai informasi). Secara tak sengaja, ia lalu menemukan seorang seniman jam tangan lokal yang membuat ‘Lamafa Diver Watch’. Berikut adalah foto-fotonya:


Dapat dilihat tulisan ‘Lamafa’ pada sisi depan, dan ukiran seorang lamafa yang sedang menikam paus pada sisi belakang. 

Sebagai tambahan, Lamafa Diver Watch milik ahli karang bernomor seri 080/500. Demikian adalah penerapan 99 Taktik Tempur versi Komodo Nagaradja, No. 19: Pamer. 

Sekian, dan terima kasih.