Episode 188 - Menang Banyak



Ruangan lelang di pasar gelap terdiri dari delapan meja bundar. Masing-masing meja kemudian dikelilingi pula oleh delapan buah bangku. Bintang Tenggara dan Panggalih Rantau mengambil meja paling belakang. Tentu langkah ini diambil demi memudahkan Panggalih Rantau menyelinap dan mencuri daun Kelor Keris. 

Bintang Tenggara benar-benar tiada menduga. Ia memang tiada memastikan lebih jauh siapa-siapa saja yang berpartisipasi di dalam lelang. Selain itu, sinar remang-remang mempersempit jarak pandangan mata. Andai saja ia mengetahui bahwa hadir tokoh yang demikian menyebalkan, pastilah dirinya segera meninggalkan tempat itu. Sesak rasanya berasa di bawah satu atap dengan penculik itu. 

Wujud genggaman jemari tangan dari jurus kesaktian daya tarik bumi memudar dari tubuh Penyamun Halimun yang tertangkap. Sebagai catatan, wujud tangan dari unsur kesaktian daya tarik bum ini berbeda dengan wujud tangan dari unsur kesaktian daya tarik bulan. Pada daya tarik bulan, tangan yang menggenggam memiliki kuku panjang-panjang serta berwarna abu-abu terang layaknya bulan, sedangkan pada daya tarik bumi berwujud jemari yang lembut dan lentur berwarna kebiru-biruan. 

“Bak! Buk! Bak! Buk!” 

Setelah menggeledah dan mengambil kembali daun Kelor Keris, para algojo di balai lelang memukuli Penyamun Halimun yang tertangkap. Bonyok sudah wajahnya lelaki dewasa muda itu. Bahkan, bilamana Bintang Tenggara berpapasan di jalan dengan Panggalih Rantau yang berwajah sedemikian, dirinya pastilah tiada akan mengenali. 

“Segel Kerangkeng!” sergah pembawa acara lelang, yang diketahui juga sebagai pemilik balai lelang di pasar gelap. Ia adalah seorang lelaki berperawakan sedang. Pakaiannya terlihat mahal dan berkelas. 

Terkurung tiada berdaya, Panggalih Rantau hanya bisa menampilkan wajah memelas. Demikianlah nasib seorang pencuri bilamana tertangkap. Menyedihkan sekali. 

“Bawa dia pergi!” perintah si pemilik balai lelang.

“Tunggu!” Tetiba terdengar suara mencegah dari meja deretan belakang. 

Dengan sangat terpaksa, Bintang Tenggara melangkah cepat ke depan. Ia menggenggam lencana Gubernur Pulau Dua Pongah, kemudian menunjukkan lencana tersebut kepada si pemilik balai lelang. Beberapa ahli yang menyaksikan sampai terkesima saat menyaksikan lencana tersebut. 

“Diriku bernama Merpati Lonjak, salah satu dari pengawal Nona Lampir di Pulau Dua Pongah,”ujar Bintang Tenggara. Terpaksa ia berbohong demi menyelamatkan jiwa Panggalih Rantau. “Pencuri ini bukanlah Penyamun Halimun! Ia hanyalah penipu!”

“Memanglah benar adanya,” tanggap pemilik balai lelang. Tentu ia mengenal Penyamun Halimun yang sebenarnya, karena benda langka yang saat ini dilelang adalah dibeli langsung dari tokoh tersebut. Ia pun sepenuhnya menyadari bahwa Penyamun Halimun yang asli tiada mungkin akan tertangkap dengan demikian mudah. Tambahan, tokoh yang telah ditangkap ini sangat berbeda. Topeng yang dikenakan tak sama, perawakan yang ditampilkan pun jauh dari mendekati yang asli.  

“Diriku datang ke Pulau Tiga Bengis karena menelusuri jejaknya.” Bintang Tenggara menunjuk ke arah Panggalih Rantau yang tersegel. “Penyamun kelas teri ini lancang mencuri salah satu koleksi sepatu Nona Lampir!” 

Sepintas, Bintang Tenggara mengingat sebuah pengalaman buruk. Betapa dirinya hampir meregang nyawa kala di Pulau Dua Pongah… hanya karena Lampir Marapi terlupa akan cincin batu Biduri Dimensi yang berisikan koleksi sepatu, tas dan pakaian. 

Pemilik balai lelang mengamati gelagat Bintang Tenggara dalam diam. Benarkah anak remaja itu merupakan salah satu pengawal Nona Lampir, putri semata wayang Gubernur Pulau Dua Pongah…? Atau mungkinkah kaki tangan pencuri kelas teri ini? Meski, ia menyadari bahwa lencana Gubernur Pulau Dua Pongah yang ditunjukkan adalah asli adanya. Setiap anggota Partai Iblis pasti mengenal setiap lencana milik para pejabat tingkat tinggi. 

Akan tetapi, mungkin saja lencana itu pun adalah barang curian! Pemilik balai lelang terlihat sedikit resah. 

“Namaku adalah Banura,” pemilik balai lelang berujar. “Apakah ada yang dapat kami bantu?” ujarnya hendak memastikan. 

“Izinkan diriku membawa pencuri ini kembali ke Pulau Dua Pongah!” ujar Bintang Tenggara. “Gubernur Pulau Dua Pongah demikian murka. Ia harus mempertanggungjawabkan kejahatannya!” 

“Hm…?” Banura malah terlihat semakin curiga. 

“Tuan Banura, saudaraku….” Tetiba terdengar suara menegur. Seorang lelaki dewasa muda melangkah mendekat. Sungguh pembawaannya terpelajar dan penuh ketauladanan. “Kebetulan diriku mengenal para pengawal Nona Lampir dari Pulau Dua Pongah…” 

Meski nada suaranya santai dan tenang, Bintang Tenggara menangkap cemooh dari raut wajah tokoh biang celaka itu. Tetiba perut terasa mual, seolah ingin memuntahkan makanan yang disantap tadi siang. Tak diragukan lagi, Lintang Tenggara dapat membongkar habis kedoknya! 

“Beliau ini adalah benar Tuan Merpati Lonjak,” ujar Lintang Tenggara sambil menatap ke arah Bintang Tenggara. 

“Tuan Lintang, sungguh lama kita tiada bersua…,” terpaksa Bintang Tenggara mengikuti alur permainan lawan. Di saat yang sama, dirinya sudah dapat memperkirakan harga yang teramat mahal yang akan ditagihkan kepada dirinya. 

“Sungguh pertemuan nan tiada diduga…” Lintang Tenggara tersenyum ramah. 

“Sungguh pertemuan yang tiada didamba,” sahut Bintang Tenggara. Meski, dirinya terpaksa membalas senyuman lawan, berat sekali rasanya. Jauh lebih berat daripada berhadapan dengan binatang siluman Kasta Perak sekalipun. 

“Oh… Bila demikian, silakan Tuan Merpati Lonjak membawa pergi pencuri ini,” tanggap Banura. “Maafkan kehati-hatian hamba sebelumnya. Mohon sampaikan salam hamba yang tiada seberapa ini kepada Gubernur Pulau Dua Pongah.” 

“Diriku pastinya akan mengangkat nama Tuan Banura di hadapan sang Gubernur. Sungguh jasa Tuan kepada Pulau Dua Pongah sulit ditakar.” Bintang Tenggara berupaya mencontoh kemampuan silat lidah Aji Pamungkas. “Izinkan diri ini segera undur diri.” Ia pun membawa Panggalih Rantau yang masing tersegel di dalam kerangkeng. 

“Izinkan diriku mengantarkan Tuan Merpati Lonjak…,” sela Lintang Tenggara. 

“Terima kasih atas kemurahaan hati Tuan Lintang. Akan tetapi, diriku tiada hendak menyusahkan Tuan. Diriku akan membawa pencuri ini dan segera bertolak menuju Pulau Dua Pongah.” 

“Tiada menyusahkan. Dengan senang hati diriku akan menemani.” Lintang Tenggara mendesak. 

“Sungguh… tiada perlu!”

“Tiada mengapa. Diriku ‘berutang’ budi kepada Gubernur Pulau Dua Pongah. Setidaknya, dengan mengantarkan Tuan. Hati ini akan merasa sedikit lega.” 

Lintang Tenggara menekankan pada kata ‘berutang’, yang membuat Bintang Tenggara jengah. Sungguh, dari sekian banyak ahli di dunia persilatan dan kesaktian, mengapa dirinya harus berhadapan dengan tokoh bedebah ini. 

“Baiklah, bila Tuan Lintang memaksa.” Bintang Tenggara mengeretakkan gigi. Bila tak disudahi, maka mereka akan terus-menerus berbincang-bincang tiada juntrungan nan pasti. Dirinya sudah menyadari bahwa tak akan semudah itu melepaskan diri dari cengkeraman Lintang Tenggara. 


Bintang Tenggara menyeret Segel Kerangkeng yang melayang ringan sedikit di atas permukaan tanah. Di dalamnya, tubuh Panggalih Rantau terpenjara. Demikian kusut wajahnya terlihat. Melangkah beriringan, adalah Lintang Tenggara. Pembawaan setenang air telaga, bahkan terlihat sumringah. 

Setibanya di luar kota, Lintang Tenggara mengeluarkan sebuah kotak persegi. Ia menjatuhkan benda tersebut dan formasi segel segera berpendar melingkupi mereka. Segel Kamar Kosong!

Bintang Tenggara menyaksikan formasi segel yang menutup kehadiran mereka dari wilayah luar. Unik sungguh formasi segel tersebut. Meski demikian, dirinya tak hendak terbuat menyaksikan berbagai simbol tersebut

“Apa maumu…?” ujar Bintang Tenggara dingin. 

“Serahkan Intan Abadi yang kau miliki!” Lintang Tenggara menyodorkan tangan. Aura terpelajar berubah menjadi selayaknya lintah darat yang haus darah.  

Sebagaimana diketahui, Intan Abadi milik Lintang Tenggara menghilang bersama dengan kaburnya Saudagar Senjata Malin Kumbang. Awalnya, Lintang Tenggara mencari Intan Abadi bukanlah diperuntukkan khusus kepada ahli tersebut. Selain sebagai borgol bagi ahli dengan unsur kesaktian usia, masih banyak kegunaan lain dari benda langka itu. Salah satunya mungkin terkait dengan Segel Mustika. 

“Kita sudah memiliki kesepakatan terkait Intan Abadi.” Bintang Tenggara mengingatkan. Lintang Tenggara seharusnya mengajarkan teknik menyembuhkan mustika retak. 

“Kesepakatan itu tiada lagi berlaku,” ujar Lintang Tenggara santai. 

Anak remaja itu menyadari bahwa dirinya berada pada posisi tawar yang sangat lemah. Bilamana Lintang Tenggara berubah pikiran, mungkin dirinya akan menjadi buronan satu kota. Melarikan diri dari sekian banyak ahli bukanlah tak mungkin bilamana seorang diri, akan tetapi kini adalah Panggalih Rantau yang terluka berat. 

Bintang Tenggara pun merogoh ke dalam tas panggul. Dengan berat hati diserahkannya mineral langka Intan Abadi. Bagaimana pun juga, ia sudah memperkirakan bilamana harus membayar sangat mahal demi menyelamatkan Panggalih Rantau. 

Lintang Tenggara lalu menggerakkan jemari. Seketika itu juga Panggalih Rantau terlepas dari Segel Kerangkeng. Meski cedera, anggota Pasukan Telik Sandi tersebut tetap waspada. 

“Panggalih…,” sapa Lintang Tenggara. Tentu ia mengenal Panggalih Rantau yang pernah mencuri gulungan naskah berwarna hitam. Walau, gulungan naskah tersebut pun merupakan bagian dari siasat Lintang Tenggara dalam mencari tahu sesiapa saja anggota Pasukan Telik Sandi di wilayah tenggara. 

Panggalih Rantau membuang muka. 

“Serahkan daun Kelor Keris…,” ujar Lintang Tenggara. 

“Daun tersebut telah diambil kembali oleh para pengawal Balai Lelang tadi,” tanggap Panggalih Rantau.

“Kepada siapa dikau hendak mengelabui, wahai Panggalih?” Lintang Tenggara menatap lirih. “Kau tadi sempat menukar daun Kelor Keris dengan barang palsu.” 

“Huh!” dengus Panggalih Rantau. 

“Serahkan saja…,” gerutu Bintang Tenggara. 

Lintang Tenggara menang banyak. Tak hanya dirinya memperoleh Intan Abadi, daun Kelor Keris pun didapat dengan cuma-cuma. Sungguh malam yang dipenuhi dengan berkah, mungkin demikian ia bersorak dalam hati. 

“Entah mengapa hari ini hatiku tetiba merasa ringan,” celetuk Lintang Tenggara. 

“Kita tiada perlu berurusan lagi,” cibir Bintang Tenggara. Ia menunjukkan sikap siap bertarung bilamana terpaksa. Cukup sudah tindak pemerasan ini. 

“Baiklah… baiklah…” Lintang Tenggara tersenyum senang. “Karena hatiku sedang ceria, maka aku akan memberi sedikit nasehat.” 

“Tiada perlu.” Bintang Tenggara membantu Panggalih Rantau bangkit. Mereka siap meninggalkan wilayah kota tersebut. 

“Segeralah bertolak ke Pulau Dua Pongah sebelum kehadiranmu disadari oleh Pimpinan Partai Iblis,” ujar Lintang Tenggara. “Bila berada di dalam wilayah Segel Benteng Bening, kehadiranmu di Kepulauan Jembalang tiada akan terdeteksi.” 

Bintang Tenggara tak memahami maksud dari kata-kata lawan bicaranya. Ia pun melengos pergi. Keduanya kembali menuju kota. Berbekal Lencana Gubernur Pulau Dua Pongah, walaupun layanan gerbang dimensi sudah tutup, pastilah dapat ia memaksa penggunaannya. 

Seperginya Bintang Tenggara dan Panggalih Rantau, si Bupati Selatan Pulau Lima Dendam memungut benda berbentuk kotak persegi dari atas tanah. Ia lalu membatalkan Segel Kamar Kosong. Lintang Tenggara kemudian memutar tubuh, dan melontar pandang ke atas salah satu tembok tinggi yang mengelilingi kota. Kedua matanya menangkap sesosok tubuh berpakaian serba hitam, dengan topeng berwarna putih mengamati dari kejauhan. 

Sayu, alias Penyamun Halimun nan asli, membuka telapak tangan. Di dalam genggamannya, terlihat selembar daun dari tumbuhan siluman Kelor Keris. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Lintang Tenggara, yang kemudian menebar senyuman penuh makna. Sayu mengetahui bahwa Lintang Tenggara menyadari akan keberadaan dirinya yang sedari awal mengikuti Bintang Tenggara. Tak hendak terlihat lebih lama, dirinya pun menghilang di balik tabir malam. 


Bintang Tenggara segera bertolak ke Pulau Dua Pongah. Mungkin kali ini belum berjodoh dengan daun Kelor Keris, ia berupaya menghibur diri. Akan tetapi, setidaknya ia mengetahui bahwa selembar daun siluman tersebut ada di tangan Lintang Tenggara, sedangkan satunya lagi masih berada dalam kepemilikan Sayu. 

Sesampainya di Istana Gubernur, anak remaja tersebut disambut oleh para pengawal Lampir Marapi. Lampir Marapi sendiri, dikatakan telah pergi entah kemana. Bahkan para pengawalnya tiada mengetahui dimana keberadaan tuan mereka. Tentunya, Bintang Tenggara mengetahui betul bahwa gadis manja itu berada di Sanggar Sarana Sakti.

Yang membuat Bintang Tenggara hampir melompat tak percaya, adalah kabar angin yang mengatakan kepergian Lampir Marapi diantarkan oleh… Lintang Tenggara. 

Sebagaimana diketahui, Lampir Marapi memiliki unsur kesaktian yang sangatlah unik. Lintang Tenggara bisa saja tergelitik, lalu memutuskan untuk menjadikan gadis tersebut sebagai kelinci percobaan… Ingin rasanya Bintang Tenggara kembali ke Pulau Tiga Bengis, guna memastikan langsung keadaan Lampir Marapi kepada tokoh laknat itu. 

Akan tetapi, Bintang Tenggara mengurungkan niat. Ia akan menggunakan Lencana Pasukan Telik Sandi saja, dan bertanya kepada Sangara Santang. Karena bertanya kepada Lintang Tenggara, berarti harus membayar semacam upeti! Kaya raja saja lagaknya, cibir Bintang Tenggara. 

Karena sang Gubernur Pulau Dua Pongah sedang sangat sibuk, Bintang Tenggara tiada hendak mengganggu. Ia hanya menitipkan salam kepada para pengawal Lampir Marapi, lalu segera memanfaatkan gerbang dimensi ruang untuk menuju Kerajaan Parang Batu. 

“Hei! Darimana saja kalian?” tegur Lombok Cakranegara. Raut wajahnya kumal. Entah berapa lama sudah ia tiada tidur. 

“Kami berupaya menyelidiki tentang Penyamun Halimun,” tanggap Bintang Tenggara. 

Panggalih Rantau terlihat tak nyaman. Bukan karena cedera tubuh, melainkan karena kenyataan bahwa mereka membuntuti si Penyamun Halimun tanpa memberitahu Lombok Cakranegara. Padahal, bilamana mereka menyergap penyamun itu beramai-ramai, bukan tak mungkin dapat membekuknya. 

“Lalu…?” Lombok Cakranegara, yang biasa bersiasat, terlihat penuh harap. Penelusuran yang berlangsung hampir sepekan, belum kunjung membuahkan hasil. 

“Di belakang Balai Lelang Kerajaan, terdapat sebuah prasasti menuju… Partai Iblis,” ungkap Bintang Tenggara. 

“Benarkah!?” 

Lombok Cakranegara tidak hanya menugaskan pasukan untuk segera memeriksa dan melakukan penyisiran. Dirinya pun langsung mendatangi tempat kejadian perkara. Benar adanya bahwa mereka menemukan prasasti batu yang berfungsi sebagai gerbang dimensi ruang. Akan tetapi, sebagaimana banyak prasasti batu milik Partai Iblis, prasasti tersebut pun sudah tak dapat digunakan lagi. 

Bintang Tenggara tak menghabiskan waktu lama di Kerajaan Parang Batu. Ia beserta Panggalih Rantau kemudian menunggangi Burung Undan Paruh Cokelat. Tujuan mereka adalah Pulau Paus, atau lebih tepatnya, Dusun Peledang Paus. Kecepatan terbang burung ini memang tak dapat dibanggakan, akan tetapi masih jauh lebih baik daripada menumpang perahu lalu menunggang kuda.

Betapa Bintang Tenggara tak sabar akan kesempatan bertemu muka dengan sang ibunda. Demikian banyak ceritera penuh suka dan duka yang hendak disampaikan. Setiap satu dari pengalaman yang telah dijalani, akan ia jabarkan secara terperinci.