Episode 22 - Jika Tak Bisa Jadi Orang Ganteng, Jadilah Orang Baik


 Hari ini para calon mahasiswa mulai mendaftarkan diri di kampus, termasuk Coklat dan Ival. Harap maklum, proses pendaftaran mereka belum bisa online. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Cahaya Bintang yang terdiri dari jurusan PGSD, Pendidikan Matematika, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Pendidikan Olahraga, merupakan kampus yang baru berdiri empat tahun yang lalu. Dan ditahun kelimanya ini karena sudah lama berdiri selama empat tahun, akhirnya sang kampus pegel dan meminta duduk sejenak.

 “Aku duduk dulu ya,” betiulah kata kampus.

 Di lantai dua gedung kampus, Coklat dan Ival yang sudah mendaftarkan diri, duduk di sebuah bangku. Dengan rasa percaya dirinya, Coklat mengorek-ngorek lubang hidungnya, lalu menempelkan upil di baju putih yang dikenakan Ival.

 “Lo ngupil ya?” tanya Ival.

 “Iya, enak banget, Val.”

 “Kok upilnya ditempelin di baju gue?”

 “Biar rame, Val, baju elo.” 

 “Tapi jangan ditempelin di baju gue!”

 “Lah daripada gue tempel di baju gue, itu lebih jorok, Val.”

 “Oh ya udah, silahkan teruskan.”

 Tiba-tiba di hadapan mereka, ada seorang cowok ganteng sedang berdiri di depan jendela kaca dengan tatapan tajam. Tak hanya itu, si cowok ganteng itu pun menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

 “Hey kalian berdua,” ucap cowok itu.

 Coklat dan Ival menoleh ke arah cowok itu.

 “Perhatikan saya,” pinta cowok itu.

 Enggak ada angin, enggak ada hujan tiba-tiba saja cowok itu melompat ke jendela hingga kaca kampus pecah, 

 Prank! 

 Alhasil cowok itu jatuh dari lantai dua, namun Coklat dan Ival yang melihat cowok tersebut tetap tenang duduk di bangku.

 Merasa kurang dapat perhatian dari Coklat dan Ival, cowok ganteng tadi kembali lagi dengan berlari terpincang-pincang menuju tempat dia melompat tadi. Kali ini si cowok ganteng itu berteriak.

 “Lihat sayaaa!” teriak si cowok ganteng itu sambil berlari.

 “Orang yang tadi tuh, Val.”

 “Iya, ganteng-ganteng kok sengklek ya?”

 “Ho oh.”

 Enggak ada angin, enggak hujan lagi, si cowok ganteng itu berlari dan melompat ke jendela lain.

 Prank!

 Kaca jendela kembali pecah dan si cowok ganteng itu terjatuh dari lantai dua lagi. Coklat dan Ival lalu melihatnya dari jendela. Orang itu hanya terkapar di pelataran kampus.

 “Akhirnya, cita-citanya tercapai juga ya,” ucap Ival dan Coklat tanpa merasa berdosa.

 ***

 Sesudah melompat, cowok ganteng itu kembali ke lantai dua dengan kursi roda untuk menemui Ival dan Coklat.

 “Terima kasih ya sudah melihat saya terjatuh dari jendela. Baru kali ini ada orang yang melihat saya,” ucap cowok ganteng itu.

 “Ah, sama-sama, kalau bisa sering-sering ya kayak tadi,” ucap Coklat.

 “Tenang saja, itu hobi saya. Oh iya perkenalkan, nama saya Arul. Cowok yang suka mengaku ganteng.”

 “Saya Coklat.”

 “Saya Ival.”

 Namanya Arul, cowok yang ganteng ini adalah idola bagi kaum hawa. Semasa SMA-nya dia dikenal sebagai cowok yang dikagumi banyak cewek-cewek, terutama nenek-nenek. Buktinya saja pas dia pulang sekolah kalau lewat di hadapan nenek-nenek yang lagi merumpi di lapangan, tuh para nenek-nenek langsung melotot histeris melihat orang ganteng lewat.

 “Aruuuuuul… Aruuuuuul!” teriak para nenek-nenek.

 “Owwwhh nooooo!” teriak Arul yang langsung lari di kejar-kejar sama nenek-nenek itu.

 Selain mengaku ganteng, Arul juga mengaku pintar. Bahkan saat dia sekolah dulu, dia selalu ditunggu-tunggu kalau ada PR di kelasnya. Pas dia datang, anak-anak satu kelasnya sudah siap menyambut dia. Arul pun duduk di tempat duduknya, anak-anak satu kelasnya langsung mengerubungi dia, sudah kayak fans ketemu idolanya.

 “Tenang-tenang, semua pasti dapat tanda tangan kok.”

 Plak! Plak! Plak! 

 Itu suara gamparan anak-anak satu kelasnya enggak terima Arul berbicara seperti itu.

 “Aduh… aduh… aduh… bonyok gue nih.”

 Kasian Arul jadi bonyok, sudahlah itu sekilas perkenalan tentang siapa Arul. 

 ***

 Setelah memperkenalkan diri, Arul beranjak pergi dari Coklat dan Ival. Dengan memakai kursi rodanya, Arul mencoba kembali melemparkan diri bersama kursi rodanya menuju jendela kampus ini.

 Prank!

 “Tuh orang hobi banget lompat dari jendela,” ucap Ival cengo.

 “Enggak apa-apa, Val, yang penting hatinya senang.”

 ***

 Dua cowok keren itu masih duduk-duduk di bangku yang sama. Tak lama berselang ada seorang cowok lagi, ya ampun ini kampus isinya cowok semua kali. Cowok yang satu ini memiliki perawakan gemuk, sebut saja namanya Mubin.

 “Kalian anak baru ya?” tanya Mubin ke mereka bertiga.

 “Iya,” serentak mereka bertiga.

 “Oh sama dong kayak gue, kenalin gue, Mubin,” ucap Mubin mengajak salaman sambil mengedip-edipin matanya dan memonyongkan bibirnya.

 Coklat dan Ival saling tengak-tengok. 

 “Aduh, gua ke wc dulu ya,” kata Coklat sambil memegangi perut dan kemudian beranjak ke wc.

 “Sorry, Bin, gue mau ketemu cewek gue di bawah,” ucap Ival pamit.

 Karena ditinggalin sama mereka berdua, Mubin pun cengo di depan bangku, terus dia berbicara sama bangku.

 “Kamu enggak ikut kabur kayak mereka?” tanya Mubin.

 Si bangku cuma diam saja.

 “Hey ngomong! Rese tahu enggak kamu, diajak ngomong malah diam aja!” ucap Mubin kesel.

 Mubin pun kesal, dia langsung banting bangku itu. 

 Braaak! 

 Bangkunya hancur, tewas di tempat seketika.

 Sejam berlalu sejak Mubin menghancurkan bangku kuliah hingga tewas, dia digelandang ke kantor polisi setempat untuk dimintai keterangan sebagai tersangka dalam kasusnya tersebut. Nah lho, cuman gara-gara menghancurkan bangku bisa sampai ke kantor polisi, bagaimana ceritanya tuh?

 Ceritanya begini, pas dia melempar bangku. Bangkunya melayang, wah hebat yah bangkunya bisa melayang. Ketika bangkunya melayang, para mahasiswa yang melihatnya pun bersorak.

 “Horeee! Horeee! Ada bangku melayang.”

 Mahasiswanya pada benar! Belum pernah melihat bangku melayang pas dilempar! Ok, balik lagi ke cerita. Ketika bangkunya melayang terbang gitu ada suara perempuan teriak minta tolong dari lorong gedung kampus ini.

 “Toloooong!”

 Mendengar teriakan ada orang minta tolong si bangku langsung terbang menuju ke si perempuan yang minta tolong tadi. Si bangku terbang ala-ala Superman dan ketika si bangku sampai di depan perempuan itu, dia langsung bertanya.

 “Ada apa?” kata si bangku.

 Melihat si bangku yang bisa bicara sendiri, perempuan itu pun langsung pingsan. Ada cewek kampus pingsan, para mahasiswa cowok yang lagi pada berdiri langsung bergegas ke tempat si cewek yang pingsan tadi. Cowok-cowok pada mendekati si cewek yang pingsan.

 “Wah asyik nih ada yang pingsan,” ucap salah satu cowok sambil mengelap bibirnya.

 “Gue menang banyak nih,” kata cowok yang lain.

 Mendengar banyak suara cowok, si cewek yang pingsan tadi mulai siuman. Matanya perlahan-lahan terbuka. Si cewek terkejut melihat sudah banyak cowok di hadapannya.

 “Yaaaaah bangun, pingsan lagi kenapa!” serentak para cowok.

 “Ogaaaaah!” seru si cewek langsung berdiri dan kabur.

 “Huuuuuuu.” Para cowok pun kecewa.

 Balik lagi ke Mubin, dia enggak jadi ditahan sama pak polisi. Pak polisinya juga sadar pas melihat perawakannya yang gemuk. 

 “Ssuahlah lepaskan saja dia, dilihat dari badannya dia itu rakus banget,” bisik polisi 1.

 “Iya ini juga mau dilepasin, kalau dilihat dari tampangnya sih, nih orang bakalan nyusahin di penjara, lagian juga kasusnya juga aneh,” bisik polisi 2.

 “Ya sudah lepaskan saja.”

 Gitu ceritanya.

 Si Mubin masih berdiri di tempat tadi. Dia lalu beranjak dari tempat itu ke tempat yang lain, entah kemana. Mubin, siapa dia? Dia itu cowok yang berbadan gemuk dan mukanya juga enggak ganteng-ganteng amat, jelek juga enggak, ya pas-pasan deh. Mubin itu tipikal cowok yang pemberani sama cewek, dia itu playboy. Julukan playboy disematkan padanya ketika dia masih sekolah dulu. Emang dia dulu pernah sekolah juga? Pernah lah.

 Di sekolahnya dia termasuk cowok yang enggak neko-neko sama cewek. Melihat cewek yang sendirian, dia langsung duduk, mengajak kenalan, minta nomor handphone terus ditembak deh tuh cewek. Ceritanya pas dia di kantin sekolah dulu, sebagai cowok yang ganteng dan pendiam. Diam-diam dompet orang hilang, bukan begitu. Dia lagi duduk sendirian, matanya terus mengincar satu cewek yang cakep, rambutnya poni macam Hinata gitu. Dia langsung berjalan mendekati tuh cewek, tanpa basa-basi.

 “Boleh aku duduk.”

 “Iya,” kata si cewek.

 “Nama kamu siapa? Nama aku Mubin.”

 “Aku Siska.”

 “Oh Siska, Siska kamu mau engga jadi istri aku?”

 “Mas, aku sebenarnya berbatang juga loh.”

 “Apa?!”

 ***

 Coklat dan Ival yang baru saja keluar dari area gedung kampus dan kini sedang berjalan di pinggiran gedung kampus terkejut melihat seorang pria yang mencoba lompat dari jendela.

 “Perhatikan sayaaa!” teriak orang itu.

 Coklat dan Ival langsung menghentikan langkahnya, saat Arul sudah melompat dari jendela.

 “Aaaaaaa!” teriak Arul merasakan sensasi jatuh dari atas.

 Brak! 

 Arul tepat jatuh di hadapan keduanya.

 “Gimana? Keren kan aksi gue?” tanya Arul sambil tersenyum mengacungkan jempolnya untuk Coklat dan Ival.

 “Lo kenapa, Rul, hobi banget lompat dari jendela?” tanya Coklat.

 Arul lalu berdiri untuk mencoba menjawab pertanyaan dari Coklat. Wajahnya tertunduk lesu, seperti ada kesedihan dalam hatinya yang belum dia lepaskan.

 “Gue cuma pengin kegantengan gue diakui, dengan cara melompat dari jendela pasti orang-orang akan sadar dengan kegantengan yang gue miliki, terutama cewek-cewek.”

 Seketika, Coklat dan Ival langsung muntah dengernya.

 “Hoeeeeek!”

 “Loh kok muntah?”

 “Rul, buat apa sih kalau lo ganteng tapi nyatanya enggak dibarengi sama hati lo. Maksudnya gini, lo ganteng tapi suka lompat dari jendela yang enggak jelas, yang ada lo itu bisa disangka gila,” ucap Coklat.

 “Kayak orang yang suka ngomong sama tiang listrik ya, Klat?” tanya Ival.

 “Betul, eh. Rul, kegantengan itu enggak abadi, disaat lo tua semuanya akan keriput. Apa lo masih terlihat ganteng saat tua? Engga kan. Daripada mencari-cari pengakuan orang lain akan kegantengan elo, lebih baik lo jadi orang baik, yang suka menolong orang lain. Dengan jadi orang baik, lo enggak butuh yang namanya pengakuan dari orang lain karena orang-orang pasti sudah mengakui bahwa lo itu orang baik. Asalkan kebaikan lo itu engga dipamerin, cukup hanya lo dan Tuhan yang tau perbuatan baik lo,” ucap Coklat.

 “Jadi orang baik itu susah, Klat, kadang-kadang ada saja yang manfaatin,” ucap Arul.

 “Jangan suudzon dulu, kebaikan orang itu akan kembali kepada orang yang berbuat baik juga. Tuhan maha tahu , Rul.”

 Arul yang tertunduk langsung meneteskan airmatanya. 

 “Kalian berdua, mau kan jadi teman gue?” tanya Arul.

 “Iya, asal jangan jadi pacar lo aja,” kompak Coklat dan Ival.