Episode 21 - Yang Pergi pun Bisa Kembali


 Di negeri orang, Ival mampu meraih kesuksesan sebagai penyanyi. Albumnya laris di pasaran. Malam ini, dia berjalan sendiri di tengah ramainya orang-orang yang berlalu lalang di pinggiran Kota Sydney. Meski sudah meraih kepopuleran di negeri orang, tak membuat hatinya senang. Dia seakan masuk ke dalam satu lubang yang tak dia inginkan. Wajahnya sayu melihat orang-orang yang ada di depannya hanya sekedar meminta tanda tangan atau foto bersama.

 Apa seperti ini menjadi seorang populer di mata orang banyak? batin Ival.

 Meski begitu Ival tak terlalu bahagia dan menikmati apa yang dia jalani sekarang ini. Menjadi seorang bintang bukanlah jalan yang dia inginkan. Dia hanya ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang nama besar. Seusai melayani para penggemarnya, Ival kembali berjalan menelusuri jalan ini menuju rumahnya.

 Berbeda dengan ayahnya Coklat yang sengklek, ayah Ival cenderung serius. Di dalam rumahnya, Ival kini duduk bersama ayahnya. Ada keingininan di hatinya untuk melepas semua ini, melepas ketenaran yang dia rasakan, ingin sekali Ival merasakan kebebasan dan keinginan yang belum tercapai.

 “Yah, Ival ingin sudahi semua ini. Sudahi permainan yang membuat Ival tidak merasakan apa yang ingin Ival rasakan.”

 “Maksudnya? Apa kamu ingin melepas semua ketenaran yang sudah kamu raih?”

 “Seperti itu. Ival serasa bukan menjadi diri sendiri. Ada hal lain yang ingin Ival capai, tentunya bukan ini.”

 “Ival, apakah kamu tidak mensyukuri semua ini?”

 “Ival bukan tidak bersyukur, Ival merasa jalan ini bukan jiwa Ival. Ival tahu, tapi uang bukanlah sesuatu yang Ival tuju. Ival ingin merasakan jalan yang Ival tempuh. Iya sih, kata orang-orang aku sudah hidup enak, banyak uang, dapat ketenaran. Tapi orang yang berkata seperti itu hanya melihat sisi Ival dari sudut pandang lain, hanya bisa melihat apa yang mereka pandang enak. Mereka enggak mengerti apa yang Ival rasakan. Itu karena mereka hanya melihat Ival dari sisi itu bukan dari sisi yang lain. Yah, ngertiin perasaan Ival. Ival ingin kembali ke tanah air, Ival bahagia di sana, karena ada tujuan Ival berada di sana.”

 Sang ayah terbangun dari tempat duduknya, dia berjalan menuju pintu depan. Dia sejenak terdiam melihat pemandangan langit malam yang berbeda dibandingkan siang hari. Apakah Ayah Ival mengerti dan memahami perasaan anaknya yang merasa tak nyaman dengan apa yang dia jalani karena bukan jiwanya yang berjalan namun hanya raganya?

 “Kau tak menghargai ayahmu sendiri, Nak.”

 “Ck.” Ival memalingkan wajahnya berdesit kesal.

 “Kau harusnya bisa menikmati semua ini, tinggal menikmatinya saja. Ayah yang membuat kamu seperti ini, ayah yang menciptakan lagu di album khusus untuk kamu.”

 Ival kemudian berdiri mendekati sang ayah, berdiri tepat di belakangnya.

 “Ival bisa menentukan jalan Ival sendiri. Ya memang benar, ketenaran dan kenikmatan ini berawal dari ayah, ayah yang berjuang tapi sebagai laki-laki, Ival merasa tak berharga. Ival belum bisa berjuang dengan diri sendiri, meneteskan keringat sendiri. Jika Ival terus bergantung ke ayah, perlahan-lahan Ival enggak akan mengerti apa arti sebuah tetesan keringat. Hidup tak selamanya di atas, Yah, kalau Ival seperti ini, apa Ival bisa belajar untuk bangkit disaat keadaan Ival di bawah sementara untuk meraih semua ini, semua perjuangan ayah dan Ival hanya disuruh diam melihat keringat ayah.”

 Atas jasa ayahnya lah, Ival mampu menjadi seorang bintang di negeri ini, dia sendiri tidak mengerti bagaimana berjuang untuk meraih kesuksesan. Dan Ival membenci itu, terlebih lagi menjadi seorang bintang bukanlah cita-citanya.

 Sang ayah melangkahkan satu langkah kaki kanannya ke depan. Ada raut kesedihan yang terpancar dari wajah sang ayah.

 “Ival,” ucap dingin ayahnya sambil menoleh ke Ival.

 “Maafin Ival, Yah, tekad Ival sudah bulat untuk mengakhiri karir sebagai penyanyi.”

 “Kaki ayah nginjak tahi ayam.”

 Seketika tubuh sang ayah roboh, untung dengan sigap Ival mampu menangkapnya.

 “Tolong uhuk uhuk, ber... ber....” Wajah sang ayah terlihat pucat.

 “Ayah bertahanlah!” teriak Ival.

 “Sih... kan... ka....”

 “Ayah, jangan mati dulu!”

 “Bersihkan, kaki ayah dari tahi ayam... plis, cepat, ayah tak sanggup lagi.”

 Dengan gerak cepat, Ival mencari lap dan seember air untuk membersihkan kaki ayahnya yang terkena tahi ayam. Berhasilkah Ival menyelamatkan sang ayah?

 ***

 Kita tinggalkan perbincangan Ival dengan ayahnya, kembali ke cerita si Coklat.

 Sore hari, suara riuh para penonton menyaksikan pertandingan sepakbola tarkam yang diadakan di kediamannya Coklat. Nah akibat dilaksanakan di kediaman Coklat, parabotan di rumahnya pun berantakan. Tivi, kulkas, lemari, kursi dan yang lainnya pada berjatuhan dari tempatnya, akibat mereka semua pada jatuh, mereka semua pada merintih kesakitan, ada yang encok, ada yang nyeri tulang dan ada juga yang panuan. Hah panuan? Apa hubungannya? Enggak ada kan, ya emang enggak ada.

 “Waduh rumah gue!” Coklat terkejut.

 “Gooooool!” teriak penonton riuh saat bola masuk ke ember.

 “Bubar! Bubar! Main bola sih di dalam rumah orang kayak anak kecil aja lo semua!”

 Habis diusir sama yang punya rumah, kini para pemain sepakbola dan penonton kembali ke lapangan.

 Sang wasit pun segera untuk meniup peluitnya untuk memulai pertandingan kembali. Dia menarik napasnya terlebih dahulu, kemudian dia tahan selama 2 jam, eh jangan deh nanti mati tuh wasit. Saat wasit meniup peluitnya tanda pertandingan dimulai, tiba-tiba para penonton masuk ke dalam. Mereka semua mendekati pak wasit yang bertubuh kurus itu, tak terkecuali Coklat.

 “Ada apa ini?” wasit bengong.

 “Happy birthdaaay ... happy birthdaaay ... to youuuu,” serentak penonton sambil masuk ke lapangan

 “Uh ... uh ... uh ... so sweet,” ucap wasit terharu.

 Sang wasit pun terharu, dia menutupi mulutnya kemudian dia berlari keluar lapangan sambil menitikan air matanya, dan pertandingan tarkam pun bubar karena wasitnya kabur.

 “Aku terharu, baru pertama kali aku dirayain ulangtahun padahal hari ini tuh bukan hari ulangtahunku,” kata wasit tuh sambil berlari.

 Para penonton yang masih ada di dalam lapangan tak terkecuali Coklat hanya bisa bengong terdiam melihat wasit itu berlari menitikan air matanya.

 “Kita terharu yah, melihat wasitnya terkejut ulangtahun,” kata Wakamiya.

 “Iya, pasti dia seneng tuh pas sampai rumah,” kata Sweety.

 “Hmmm betul, tapi dia senang kenapa ya? Padahal hari ini bukan hari ultahnya loh,” kata Coklat.

 “Nah terus ngapain tadi ucapin happy birthday?” tanya Sweety.

 “Lha namanya juga orang pada iseng,” jawab Coklat dengan entengnya.

 “Wek! Iseng doang!” serentak Wakamiya dan Sweety terkejut.

 Mereka bertiga akhirnya meninggalkan lapangan sepakbola ini. Merasa ditinggalkan sendiri oleh banyaknya penonton, si lapangan pun menjadi sedih, wajahnya seperti ingin menangis.

 “Uh ... uh ... uh ... jangan tinggalin aku sendirian,” kata tuh lapangan.

 ***

 Mereka bertiga sekarang lagi jalan bareng menuju rumah masing-masing. Mereka melintasi lembah dan gunung, busyet dah yah enggak mungkinlah.

 “Hmmm, apa memang gue terlalu ganteng ya? Sampai-sampai diapit sama dua bidadari sekaligus, hahaha,” kata Coklat.

 Wakamiya dan Sweety kompak, mereka berdua langsung berhenti meninggalkan Coklat yang masih berjalan, kemudian Coklat pun ikut berhenti.

 “Lho, kok pada berhenti?” tanya Coklat sambil menoleh ke belakang.

 “Aku kasian sama kamu, padahal jelek lho tapi masih suka ngaku-ngaku ganteng,” ujar Sweety.

 “Iya, kasihan ya cuma diri sendiri yang ngakuin,” tambah Wakaminya.

 Lalu mereka jalan meninggalkan Coklat yang tertegun lesu.

 “Yah begitulah, tapi biarin aja deh biar dia senang sendiri,” kata Wakamiya.

 “Iya kasihan dia,” lanjut Sweety.

 Coklat mukanya lecek sambil merenung dalam hati. Padahal gue cuma berusaha jujur sama diri gue sendiri, tapi enggak apa-apalah itu memang nasib orang ganteng dicengin mulu sama orang yang enggak terima kegantengan gue.

 Seperti sinetron-sinetron yang bisa bicara dalam hati. Pas Coklat bicara dalam hati, Sweety dan Wakamiya pun mendengarnya. Dengan tatapan sinis menghadap Coklat, mereka berdua berbicara.

 Iiiiiihh, pede gilaaaaaa! teriak mereka dalam hatinya.

 Lho kok kalian bisa denger apa yang gue ucapin dalam hati?

 Tak terima dengan jawab iuuh dari mereka berdua, terlihat sepintas seperti kilat keluar dari tatapan mata Coklat, zzzzzzz begitulah bunyinya. Hmmm zzzzz itu bukannya suara orang tidur ya? Oh iya orang tidur itu suaranya ngerok, ngedangdut, ngejazz dan ngeroncong. Bukannya ngerok tapi ngorok.

 Rasaakan ini! seru dalam hati Coklat.

 Ah engga kena weeee! teriak mereka berdua dalam hati berusaha menghindar tapi mereka sebenarnya enggak menghindar cuma ngomong enggak kena doang.

 “Kalian curang!”

 “Bodo amat!”

 Sekarang giliran mereka yang mengeluarkan petir dalam mata mereka, zzzzzzzzzz.

 Arrrggghhtt aku kenaaa, tidaaaaak! teriak Coklat dalam hati.

 Coklat yang merasa dirinya kena pun akhirnya terjatuh berlutut di hadapan mereka sambil memegangi dadanya.

 “Aduh… sakit!”

 “Wakamiya, beliin obat dong buat si Coklat, kasian dia padahal enggak diapa-apain eh jatuh sendiri.”

 “Sudah biarkan saja, Sweety. Nanti juga dia sembuh sendiri kok pas dilihatin orang-orang.”

 Dengan wajah yang menahan sakitnya, Coklat terus merintih enggak jelas. Sweety dan Wakamiya lalu meninggalkan Coklat yang masih merintih kesakitan, entah apa yang membuat dia kesakitan seperti itu.  

 Mereka bertiga pun melanjutkan perjalannya mengambil kitab suci ke barat. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan kera sakit, Sun Go Kong. Bertemu dengan kera sakit, mereka dibuat terkejut. Mereka bertiga terheran-heran saat itu, mereka bingung, karena mereka bingung akhirnya mereka bertanya pada polisi. Adalah Coklat yang bertanya pada polisi. Melihat polisi yang ada di jalan, dia langsung mendekatinya. Dengan menaruh rasa hormat kepada polisi dia pun jongkok di hadapan polisi sementara Wakamiya dan Sweety cuma geleng-geleng kepala.

 “Pak,” sapa Coklat sementara polisi hanya diam.

 Coklat terlihat bingung, dia menyapa kembali.

 “Pak, saya bingung, saya mau nanya.”

 Polisinya masih diam. Wakamiya dan Sweety lalu bersua.

 “Sampai tua juga kamu engga bakal dapat jawaban tuh dari polisi,” ujar Sweety.

 “Sweety, kita harus berusaha jangan menyerah gitu aja,” kata Coklat.

 “Coklaaat, kamu itukan ngomongnya sama polisi tidur, ya jelaslah enggak bakal dapat jawaban!” seru Wakamiya.

 “Ya kita bangunin, gampang kan?”

 “Wek!”

 “Pak, bangun sudah mau magrib nih, enggak kasian sama anak bini di rumah?” Coklat yang pantang menyerah terus berusaha membangunkan polisi tidur.

 “Terus aja bangunin!” ucap Sweety dengan kesalnya.

 Coklat pun lama-lama kesal karena enggak direspon, akhirnya dia pun berdiri kembali. Dengan kesalnya dia lalu menginjak-injak polisi tidur itu.

 “Bangun! Bangun! Susah banget dibangunin! Iiiiihh, cepetan bangun kenapa! Et dah susah banget dibanguninnya!” teriak Coklat sambil lompat-lompatan menginjak polisi tidur.

 Tak mau disangka teman dari orang gila yang sedang membangunkan polisi tidur, Wakamiya dan Sweety lalu beranjak dari tempat ini.

 “Kita pulang yuk, obatnya benar-benar abis tuh bocah,” kata Sweety mengajak Wakamiya.

 “Yuuk.”

 Malam menjelang si Coklat masih menginjak-injak tuh polisi tidur.

 “Woy bangun!!!” teriak Coklat.

 Sikap pantang menyerah Coklat pun lama-kelamaan luntur, lalu dia berlutut di hadapan polisi tidur sambil mewek-mewek.

 “Ayoolah bangun pliiiiis, tega banget sih enggak bangun-bangun.”

 Masih belum juga mendapat respon dari polisi tidur itu, Coklat kemudian tidur memeluknya sambil nangis-nangis.

 “Enak aja lo! Emang gue gila apa?!”

 Merasa ditinggalkan oleh dua temannya itu, Coklat pun berlari mengejarnya.

 “Wakamiy … Sweety… tunggu akuuuuu!” teriak Coklat.

 Saking kencangnya dia berlari, pohon-pohon dan bangun-bangunan yang ada di pinggir jalan pada terbang melayang karena tidak sanggup menahan angin yang diciptakan ketika Coklat berlari. Para pejalan kaki yang ada di belakang Coklat tak kuasa menghindar.

 “Waduh! Ada pohon!” 

 “Gawat!”

 “Cepat lariiii! Selamatkan diri kaliaaaan!”

 Dahsyatnya angin yang tercipta sampai menerbangkan pohon-pohon dan bangunan-bangunan yang lain membuat wilayah itu menjadi bencana siaga satu, bahkan sampai menjadi bencana nasional. Ya seluruh bangunan-bangunan yang ada di negara itu pun turut beterbangan sampai-sampai berita ini dimasukkan ke televisi, namun karena tidak muat saat di masukkan ke dalam televisi akhirnya batal jadi bencana nasional.

 ***

 Coklat masih mengejar mereka berdua yang sudah jauh dari hadapannya. Dengan tatapan fokus pada keduanya, Coklat tak mengindahkan apa-apa yang ada di atas jalanan. Alih-alih terlalu fokus melihat Wakamiya dan Sweety, saat dia melihat ke bawah jalan ada tahi ayam yang sedang hangat-hangatnya mengepul di atas jalan. Hayo siapa yang mau? Mumpung masih hangat lho, karena masih hangat ada promosi, beli dua gratis satu. Ayo dong beli, pliiis. Yah pada enggak mau beli, nanti menyesal lho enggak beli. Ya sudah kalau enggak mau beli, kita lanjutkan ke cerita saja.

 Ketika ada tahi ayam yang masih hangat-hangatnya itu, Coklat yang berlari berusaha untuk menghindarinya.

 “Wah gawat, ada tahi kotok! Gue harus bisa ngindarinnya!”

 Langkah Coklat semakin dekat dengan tahi ayam itu, ya hanya tinggal dua langkah lagi, namun dengan teknik berlari yang sudah mahir, Coklat mampu meloncatinya dan mengindarinya, horeeeee. Penonton pun bersorak kegirangan. Dengan senyuman rasa bangga atas prestasinya itu para penonton menimpukinya dengan bunga, bunga bangkai.

 “Wek! Sial.” Coklat.

 Dengan jerih payah usahanya, kini Coklat sudah ada di samping Sweety dan Wakamiya. Napasnya terengah-engah ketika berlari tadi sambil berlutut memegangi lutut kakinya.

 “Hosh … hosh … hosh… cape ya?”

 “Ah kita enggak berdua,” ujar Wakamiya.

 “Lho kok enggak?”

 “Kita kan enggak lari.”

 “Oh iya.”

 Di tempat mereka berdiri kini, tak jauh terlihat sosok seperti seseorang yang mereka kenal sedang jongkok di pinggir jalan, karena orang itu keasyikan nongkrong dia sampai enggak sadar lupa cebok ketika dia bangun, wah kacau buang air di pinggir jalan. Melihat seseorang itu, mereka bertiga mendekatinya. Saat di dekat orang itu, Coklat yang seperti mengenalinya lalu memegangi dagu dengan jempol dan telunjuknya.

 “Sepertinya saya kenal dengan Anda?” ujar Coklat.

 Orang itu pun lalu menoleh ke arah Coklat.

 “Coklat?”

 “Ival?”

 Ternyata orang itu adalah Ival. Melihat itu adalah Ival, Coklat pun merasa bahagia, temannya sudah kembali. Dengan rasa senangnya Coklat langsung memeluk Sweety tapi Sweety enggak mau, dan Coklat memilih memeluk Wakamiya, eh Wakamiya juga enggak mau, dan terpaksa Coklat meluk Ival.

 “Sorry, Val, gue enggak ada pilihan.”

 “Iya gue ngerti kok.”

 Coklat dan Ival pun berpelukan dalam waktu yang cukup lama, kira-kira lima belas tahun. Wah hebat dong, pelukan di jalanan selama lima belas tahun tanpa makan dan minum, bisa masuk rekor tuh.

 Sesudah berpelukan, Coklat menanyakan Ival, kenapa Ival bisa pulang lagi ke Indonesia.

 “Lo kok balik lagi?”

 “Engga betah gue di sana.”

 “Kenapa emangnya?”

 “Di sana enggak ada warteg jadinya gue enggak bisa ngutang kalau makan.”

 “Wek! Apa hubungannya?”

 “Ya enggak ada, cukuplah orang yang sudah merit yang berhubungan.”

 Mereka pun sambil jalan ke rumah bercerita tentang kisah hidup Ival di negeri orang. Karena si penulis malas menceritakan kisah hidup Ival di negeri orang, ya percuma diceritakan juga pasti ceritanya ngawur, lebih baik enggak usah nanti penonton pada bingung. Yang jelas sesudah mereka bercerita tentang kehidupan Ival di sana, mereka punya niatan untuk belajar di jenjang perkuliahan.

 “Aku memilih kuliah,” ujar Sweety.

 “Sama aku juga,” ujar Wakamiya.

 “Jadi kalian lebih memilih kuliah daripada memilih aku? Aku kurang apa sih, ganteng enggak, tajir enggak, pinter kadang-kadang. Tega kalian,” kata Coklat cemburu.

  “Yah kumat lagi, sudahlah biarkan saja lebih baik kita pulang aja yuk,” ujar Sweety.

 Sweety dan Wakamiya pun pulang, sementara Coklat dan Ival masih berdiri. Rupa-rupanya Coklat dan Ival juga punya niat untuk kuliah.