Episode 30 - Back Then



"Lightning Bolt !!" 

Tembak Alzen dengan gaya seperti Hadouken.

"Celaka!?"

DRESSSSSTTT!!

Serangan Alzen terkena telak pada tubuh joran dan listriknya mengalir di tubuhnya.

"UAGGHHH!!" teriak Joran.

"Aku simpulkan, aturan satu elemen ini merugikan dan menguntungkan kedua belah pihak." Pikir Alzen. "Elemen petirku sering dikombinasikan dengan tubuh lawan yang sudah kubasahi lebih dulu. Tapi... Disini, tak mungkin kulakukan. Tapi keuntungannya, lawanku juga tak boleh menggunakan Earth Wall yang sangat merepotkan itu."

"Hosh... Hosh..." Joran tersungkur lelah sambil menarik nafas terus-menerus. "Sial! Apa aku salah pilih elemen?!” katanya dalam hati. “Karena elemen tanah dan elemen metal. Punya cara bertahan yang berbeda. Tapi sekarang bisa aku anggap, orang ini... Punya tingkat kemahiran yang seimbang pada setiap elemen yang ia kuasai."

"Sepertinya seranganku barusan kurang begitu efektif ya?" ucap Alzen dalam hati ketika melihat hasil serangannya. "Aku masih punya masalah dalam stamina, aku harus pastikan semua seranganku kena telak padanya dan tak boleh menghambur-hamburkan Aura-ku secara sembarangan."

Alzen mengumpulkan listrik biru yang menyambar-nyambar di kedua tangannya.

"Electric Charge !!"

"Dia mau melakukan hal yang sama lagi?" Joran menduga-duga, seketika melihat Alzen melancarkan serangan selanjutnya, ia langsung bangkit dan memperhatikan geraknya.

"Bisa gak ya? Bisa gak ya? Bisa gak ya?" Alzen ragu-ragu dan sangat berhati-hati sekali dalam mengontrol serangannya. "Aku harap segini cukup!"

"Hoo! Dia mau main jarak dekat sekarang?" pikir Joran.

Alzen yang mendekat, kini dihampiri tinju dari tangan Joran yang sama kerasnya seperti besi.

"Waaa!!? Gawat! Ke kiri? Ke kanan?" Alzen panik melihat sosok manusia 2 meter lebih melancarkan tinjunya dengan ditutupi bayangan tubuhnya yang besar.

"HYAAAA!" teriak Joran melancakan serangannya.

"Ke!? Ke!? Ke kanan! Ehh... Kiri! Ehh...!?"

JLEGGGARRRRR!!

Satu hantaman keras dari pukulan Joran sudah memporak-porandakan lantai batu arena.

"Buset!!?" Alzen pucat ketika berada di sebelah kanan untuk menghindar. "Kalau kena, langsung remuk aku!!?"

"Sepertinya aku salah." Joran meninju secara diagonal untuk mengecoh. Tangan kanannya meninju secara miring ke kiri.

Joran mengangkat tangan kanannya dan ujung kepalan tinjunya berdarah-darah saking sakitnya berbenturan langsung dengan lantai yang keras.

"Ini kesempatan!" Alzen kembali fokus dan dengan dua aliran listrik di tangannya, Alzen mendekat dan menempelkan kedua telapak tangannya pada perut Joran. "Rasakan ini!"

"Lightning Stream !!"

Sebuah arus listrik tegangan tinggi, di alirkan melewati tubuh Joran dan perlahan menyebar ke seluruh anggota tubuhnya. Hingga dari pori-pori Joran mengeluarkan percikan-percikan listrik kecil yang menyengat secara luar biasa di seluruh tubuhnya baik dalam maupun luar.

"HWAAAAAA !!" Teriak Joran yang merintih dalam kesakitan yang luar biasa.

"Aku berha..."

Dalam rintihan kesakitannya, Joran masih terus menggerakkan tangan kirinya perlahan ke sisi pundak kanan. Lalu...

"...!?" Alzen terlambat menyadari, sebuah lengan besar bergerak cepat dari kanan ke kiri dan menghantam Alzen keras-keras dengan gerakkan seperti menggampar seseorang.

BUAGGGHHH !!

Tubuh Alzen yang kecil dimata Joran, dihempas begitu saja hingga tubuhnya membentuk huruf C dan terpental sampai ke ujung tembok Arena. Fatal sekali.

"UAGGHHH!!" dengan posisi seperti itu, Alzen berbenturan langsung dengan tembok yang sangat keras. Dan dalam tubuh terluka parah, Alzen perlahan tergelincir jatuh ke bawah, yang adalah kolam tempat peserta dinyatakan kalah, jika sampai tercebur.

"Aish! Sakit, sakit sekali! Tapi... Ini belum s-selesai." Alzen tetap memaksakan diri untuk terus bertarung. “Aku harus melakukan yang terbaik.”

"Lightning Walk !!"

Alzen membungkus kakinya dengan petir dan bergerak sekilas seperti sambaran petir untuk kembali ke arena, apapun yang terjadi. Namun karena tidak begitu terbiasa, ia terjatuh di pinggir Arena dan hampir-hampir membuatnya terjatuh.

"Sialan!" Joran makin geram melihat Alzen tak terjatuh ke kolam. "Kenapa kamu tak menyerah saja!"

"K-kan gak bisa nyerah, bodoh!" jawab Alzen dengan posisi tengkurap dan tubuh yang terluka parah.

"GRRR!" kesal Joran seperti beruang ganas, ia berlari mendekat dengan kepalan tangannya kedua tangannya untuk menghantam seperti palu. Ia melompat dan membantingkannya ke tanah untuk keras-keras menghancurkan Alzen.

"Gyaaaa! Ampun!" Alzen pucat benar-benar pucat, melihat sebuah sosok manusia besar segera datang menghantamannya dengan sosok siluet yang tak terkena sinar matahari.

"STOMP HAMMER !!"

"Lightning Walk !!" 

Reflek Alzen dengan sedikit sekali waktu untuk berpikir.

JLEGGGGARRR !!

Alzen berhasil menghindarinya dengan bergerak seperti petir meskipun dalam kondisi tengkurap sekalipun, apapun dilakukan untuk tetap hidup.

"Pheeww! Hampir..." Alzen lega bisa menghindar, lalu dirinya perlahan bangkit kembali. "Cara kabur begini cuma ada di elemen api dan petir saja. Untung bukan elemen air yang kupilih."

"Kau masih mampu menghindar rupanya?!"

***

Sementara itu reaksi para penonton di bangku Umbra,

"Buset!? Dia All-Out sekali ya?!" komentar Sinus yang sadar tak sadar, kagum menyaksikannya. " Untungnya dia bisa gerak cepat gitu. Kalau aku disana, aku sudah remuk dihamtannya nih."

"Nicholas, kayaknya bakalan sulit nih." tepuk Velizar ke pundak Nicholas dengan tatapan datar.

"Ya... dari pertandingan sejauh ini, kecil kemungkinan anak itu menang. Lawannya terlalu kuat." komentar Nicholas, menjawab pernyataan Velizar.

***

Di bangku penonton Terra,

"Hebat juga dia! Bisa memojokkan Joran sampai sejauh itu." komentar Bartell si biksu.

"Joran hebat, anak Ignis itu juga hebat. Angkatan tahun ini memang agak keterlaluan kemampuannya." komentar Eriya.

"Tapi bu, aku yakin 99% Joran yang menang."

"Hei... Ada 1% kemungkinan pun, itu juga masih bisa menang loh... kita lihat sampai akhir." balas Eriya. “Semoga sifat buruk Joran tidak ia lakukan disini.”

***

Di bangku penonton Ignis,

"Guru! Bagaimana nih? Guru tak mau turun menghentikan Alzen?" tanya Ranni.

"..." Namun Lasius tetap diam menonton pertandingan.

"Wahh... gak kebayang kalau dia jadi lawanku." Lio palm face sambil sedikit-sedikit melihat pertandingan dengan takut-takut.

“Tenang Alzen kan Top 3...” sindir Chandra mengimitasi Lio sebelumnya. “Ahh! Tetap saja aku khawatir setengah mati tahu!”

Ranni bangkit berdiri dan menyemangati. “Ayo jangan menyerah Alzen!” 

***

Sementara itu di bangku penonton yang lain, para peserta yang telah kalah masih hadir untuk menonton.

"Aku ingin turun menolong Alzen, tapi..." ucap Fia gelisah.

"Habisin aja anak itu!" kesal Luxis. “Ayo Joran habisi dia!”

"Aduh... aku takut, ini terlalu kejam." Cefhi menutup mata dengan tangannya. Lalu berlindung di pelukan instrukturnya.

"Ghhh..." Sintra tak peduli dengan pertandingan ini, daritadi ia hanya memandangi Leena yang ada di sampingnya.

"..." Leena tetap menonton dengan ketegangan yang ditutup-tutupi, dengan kata lain, jaim.

"Kalau dia sampai membunuh Alzen, biar kutenggelamkan oleh Water Dragonku." ucap Gunin.

"Kalau saja dia bisa menggunakan ketiga elemennya sekaligus, mungkin akan jauh lebih mudah." komentar Sever.

"Hihihihi!" Fhonia melompat-lompat kegirangan. "Pertandingannya seru sekali! Tapi, siapa yang bakal menang ya? Aku tak peduli!"

***

"Kena Kau! Kali ini tak bisa lari lagi!" ucap Joran yang berhasil mencengkramnya.

"C-celaka!? Aku tak bisa kabur lagi?!"

Joran sudah tepat berada di depan Alzen dan memegang erat-erat tubuhnya. Joran datang untuk menyiksa Alzen.

"Ini! Untuk sambaran pertama!" Joran meninju perut Alzen keras-keras.

Alzen memuntahkan banyak sekali darah yang naik dari perut ke mulutnya.

"Ini! Untuk sambaranmu yang kedua!" Alzen ditinju sekali lagi dan kesadarannya sudah semakin pudar.

"Dan ini... YANG KETIGA!”

“UAGHHHHH !!”

“Hah! Hah! Hah! Belum cukup! Belum cukup! Ini yang Keempat! Kelima! Ke-En..."

Alzen yang sekarat. Sesaat tidak merasakan sakit, ia malah berhalusinasi. Kembali saat ia bertemu dengan Aldridge, temannya. Anak malang yang bertahan hidup saat peperangan Dalemantia setahun lalu.

.

.

.

.

.

"Hei Alzen...! Kild...! Turunlah! Lihat ini!" Aldridge memanggil mereka berdua untuk melihatnya melakukan sihir.

"Wahh... kamu bisa melakukan sihir juga rupanya... Sejak kapan?”

“Lihat ini, lihat ini.” Aldridge, anak seumuran Alzen yang berambut pirang itu menunjukkan sihir anginnya.

“Wooow... Kau bisa elemen angin. Elemen yang aku tak bisa dari dulu." ucap Alzen dalam ingatannya.

"Hehehe..." Aldridge tertawa bangga.

Memori berganti lagi,

.

.

.

.

.

Di bawah pohon dekat rumah menara Franquille. Rumah tempat Alzen dan ayahnya, Kildamash Franquille tinggal diatas bukit sepi di ujung barat West Greenhill.

Kild memberikan sebatang besi pada Aldridge. "Hei Aldridge... Coba gunakan ini."

"Makasih Kild!" balasnya.

"Aldridge, setidaknya panggil aku paman atau pak..."

"Baik Kild..."

“Hah terserah sajalah. Hahaha!” Kildamash tertawa.

Berganti lagi,

.

.

.

.

.

Kini Alzen dan Aldridge sedang duduk di bukit.

"Hei Alzen, kau lihat apa?"

"Ini, Vheins Magic University."

"Ya! Kita sama-sama akan belajar disana!"

.

.

.

Di depan gerbang Vheins,

"Wuahh! Gerbangnya besar sekali!" ucap Aldridge.

.

.

.

Pada saat penjurian.

“YES !!”

“Aku siih YES !!”

“Tentu saja YES !!”

“Aku senang sekali waktu itu.” kata Alzen. “Tapi...”


"NO !!"

"NO !!"

"NO !!"

Ketiga juri menolak Aldridge.

.

.

.

"Aku gagal dan kau berhasil." Aldridge sedih di pojokan.

.

.

.

Lalu di sebuah ruang kosong yang semuanya putih.

"Ngomong-ngomong... Aldridge apa kabarnya ya?"

.

.

.

"Dia masih di rumahku kah?"

.

.

.

"Apa yang dia lakukan sekarang sama ayah?"

.

.

.

"Tunggu dulu..."

.

.

.

"Kenapa tiba-tiba aku teringat Aldridge?" ucap Alzen dalam halusinasinya.

.

.

.

“Aku...”

.

.

.

.

.

.

Kembali ke alam sadar...

"Dan... Ke Tiga Belas !!"

DUAGGHHH !!

Lalu Alzen dijatuhkannya ke lantai dengan tidak hormat layaknya membanting sebuah barang tak bernyawa.

"Hah! Dia sudah pingsan." Joran sudah puas membalas.

Kini ia mengangkat Alzen untuk menceburkannya ke kolam. "Dengan begini... Aku pemenangnya!"