Episode 29 - Quarter-Final Round


Hari ini, pertandingan Quarter-Final, segera dimulai.

"Selamat datang! Di! Babak Quarter-Final!!" Sahut MC dengan penuh semangat.

"Wooo!" Sorak sorai penonton bergemuruh menantikan hari ini.

Lalu para supporter dari kelas yang berhasil lolos-pun saling bersahutan-sahutan seperti penonton sepak bola.

"Ignis! Ignis!"

"Umbra! Umbra!"

"Terra! Terra!"

"Sudah seminggu penuh kita menungu hari ini! Kita tiba dalam babak baru pertandingan ini! Namun sebelum itu, biar saya jelaskan tentang adanya sedikit peraturan yang berubah, untuk membuat pertandingan lebih menantang!"

"Ohh... ada perubahan peraturan?" komentar Alzen di bangku penonton.

"Ya," jawab Lasius. "Setiap masuk babak Quarter-Final memang selalu ada perubahan untuk memberikan kejutan pada penonton dan peserta."

"Perubahan seperti apa?" tanya Chandra.

"Kamu dengar saja sendiri, aku dan para instruktur lain-pun tak diberi tahu."

"Perubahan pertama! Kalian mewakili diri kalian masing-masing! Jika ada perang saudara, maka itu dianggap sebagai kesialan dalam undian semata! Seperti yang terjadi pada Lumen di turnamen tahun ini! Tak ada kompensasi apapun, karena yang terbaik dari yang terbaiklah yang kami cari!"

"Hah! Aku tak peduli!" komentar Sintra di bangku penonton Lumen. "Bisa melawanmu di tengah tontonan banyak orang ini lebih penting bagiku!"

"Huh! Benar, karena yang terbaiklah yang akan menang." jawab Leena.

Sementara di bangku penonton Ignis.

"Andai saja aku menang! Aku akan melawanmu Alzen." Chandra menggerutu dalam kondisi masih di perban, hanya saja sudah lumayan pulih dan berkurang jumlah perban di tubuhnya.

"Ya... andai saja kamu menang, aku tidak harus melawan Golem itu nih." Alzen menelan ludah dengan keringat dingin.

"Sudah-sudah! Semuanya sudah terjadi." sambung Lasius. “Menang bukanlah hal yang paling penting. Tapi...”

sambung mereka berempat bersamaan. “Melakukan yang terbaiklah yang jauh lebih penting.”

“Haha! Benar, kalian sampai hafal.”

“Iyalah, setiap hari diulang-ulang terus.” ledek Lio.

“Guru sengaja menanamkan mindset ini.” Kata Ranni.

“Aku percayakan padamu Alzen.” Chandra menyemangati.

“Ya!” angguk Alzen. “Aku lakukan yang terbaik!”

"Perubahan kedua! Kata aku menyerah, tidak berlaku lagi untuk menghentikan pertandingan. Yang jatuh ke kolam adalah yang kalah. Tapi... Jika ingin sengaja menyerah, tinggal tenggelamkan diri kalian saja dan itu masih dianggap sah! Namun aku yakin, kalian yang sudah sampai sejauh ini tak akan ada yang melakukan hal seperti itu! Malu dong sama penonton sebanyak ini! Benar tidak!" sahutnya pada penonton.

"Woooo!" sahut penonton bersamaan.

"Geez... lalu apa bedanya?" komentar Chandra. "Sama-sama saja kan?"

***

Di bangku penonton Umbra.

"Huh! Untungnya anak Liquidum tak ada yang berhasil ke tahap ini." komentar Nicholas, duduk dengan kaki disilangkan.

“Memang kenapa?” Sinus bertanya.

“Bodoh!” bentak Nicholas. “Velizar jelaskan padanya!”

"Haahh..." komentar Velizar dengan rasa malas. "Merepotkan saja. Anak Liquidum bisa menenggelamkan kamu, itu saja."

***

"Perubahan ketiga dan yang terakhir. Untuk yang punya kemampuan lebih dari satu elemen, kini tidak terikat lagi dalam kelasnya.”

“Hah?” Alzen kaget mendengarnya.

“Jadi jika ada yang dari kelas Ignis misalnya, Bisa menggunakan Api, Air dan Petir. Boleh memilih salah satunya untuk digunakan disini. Namun larangan menggunakan lebih dari satu elemen masih berlaku."

"Wow! Ini sebuah keuntungan Alzen! Kau ambil elemen air saja. Lakukan seperti yang kulakukan kemarin." kata Chandra dengan girangnya. "Tinggal tarik dan ceburin dia. Keuntungan besar!"

“Aku setuju!” sambung Chandra.

“Ide bagus!” komentar Ranni.

"K-kau yakin?" Alzen masih ragu.

"Yakinlah! Sudah kubuktikan kemarin kan?" kata Chandra.

"Oke! Sudah jelas?! Pertandingan pertama ini, langsung kita mulai saja." Sahut MC.

"Pertandingan pertama! Alzen dari Ignis Vs Joran dari Terra!"

"Woo! Ignis! Ignis!"

"Terra! Terra!"

***

Di bangku penonton Umbra.

"Hahaha! Mampus! Baru pertandingan pertama sudah lawan si golem itu. Hahaha!" komentar Sinus dengan senang sekali.

"Ohh... yang kamu langsung nyerah itu ya." komentar Velizar dengan nada datar.

"Diam! Tidak usah dibahas lagi!" Sinus protes. "Siapapun lawannya juga pasti langsung nyerah lawan monster itu!"

"Oh gitu..." balas Velizar tak menanggapi.

"Rese bener kamu, Vel!"

Sementara itu di satu bangku peserta Umbra, masih kosong, yang seharusnya ditempati Hael.

***

Di bangku penonton Terra.

"Bartell, lukamu sudah sembuh?" tanya instruktur Terra. Eriya namanya. Seorang wanita berambut hitam pendek, berkulit sawo matang dengan ikat kepala merah bergaris-garis hitam zig-zag dan ada sebuah bulu burung di jepit di ikat kepalanya itu.

"Ya, lumayan lah... Bu Eriya. Sudah mendingan. Meski kemarin pendarahan yang aku alami, lumayan parah juga. Tapi berkat Buddha! Aku-"

"Syukurlah..." Eriya memotongnya. "Kamu sih meremehkan anak kelas Umbra itu. Kamu tahu kan? Pemenang tahun lalu, maksudku, 2 tahun lalu tuh anak kelas Umbra. Jadi jangan remehkan mereka. Di prediksikan mereka akan menang lagi tahun ini. Besar kemungkinannya. Adik Nathan dan Nouva itu sama hebatnya dengan kakak-kakaknya."

"Masa!? Tapi tahun ini Ignis unggul kan?" balas Bartell. “Dan ada yang punya 3 elemen lagi.”

"Jumlah bukan yang paling penting. Tapi kualitas pesertanya. Memang Ignis tahun ini punya pelajar yang menarik. Namun Umbra selalu menghadirkan peserta yang kuat-kuat.” 

"Hah... apanya yang kuat-kuat bu... 2 orang langsung nyerah gitu saja kok. Dibilang kuat-kuat. Bercanda aja ibu." Bartell tidak mengindahkannya.

"Hush! Kamu meremehkan musuh lagi. Sikap yang sangat tidak baik!"

"Iya-iya maaf bu. Tapi Terra masih punya Joran kan. Aku yakin, Joran minimal bisa sampai Final!" kata Bartell dengan tegas. “Aku percaya itu!”

“Aku juga berharap begitu. Tapi Joran. Ingat! Jangan remehkan musuh sekecil apapun.”

“Aku mengerti.” balas Joran sambil perlahan berjalan turun ke Arena.

***

Alzen dan Joran memasuki Arena.

"Aaaahah! Lawanku ternyata anak Ignis lagi, kita jodoh atau apa? Kemarin aku sudah menumbangkan salah satu peserta Ignis. Dan untuk kali kedua, aku bertemu dengan Ignis lagi." ucap Joran ketika pertama menatap Alzen dengan berhadapan langsung.

"Kau telah membuat Chandra terluka separah itu!" Alzen geram sekali di depan Joran.

"Chandra? Siapa tuh?”

“Berani-beraninya...” Alzen semakin geram hingga mengepal tangannya kuat-kuat.

“Ohh... aku ingat, aku ingat. Chandra namanya ya? Hahaha! Dia anak bodoh!"

"Jaga mulutmu!"

"Hehehehe... kenapa kau terlihat benci sekali padaku? Kau temannya?"

"Ya! Tentu saja!" jawab Alzen dengan tegas.

"Maaf ya tapi ini Turnamen. Yang menanglah yang berhak menentukan nasib yang kalah."

Sahut komentator "Sebelum itu... peserta Alzen, tercatat memiliki kemampuan 3 elemen. Api, Air dan Petir. Mana yang akan kamu gunakan kali ini?"

"3 elemen? Jadi kamu salah satu pelajar yang menerima beasiswa malam itu ya? Yang dipanggil kepala sekolah kita untuk dihargai besar-besaran. Aku baru menyadarinya sekarang." Sahut Joran, wanita seram dengan tinggi 2,3 meter itu.

“Sampai hari-h dia tidak tahu harus melawan siapa?” pikir Alzen dalam hati. Setelah itu, "Ya... itu aku!" jawab Alzen dengan tatapan yang masih sama.

"Ohh... aku takut.” sindir Joran. “Hahaha!"

"Kau lebih terlihat menyeramkan jika bertingkah seperti itu."

"Hee? Kenapa? Salah? Aku ini kan perempuan tulen."

“Tolong, keputusannya sodara Alzen.” tanya MC.

"Alzen! Ambil elemen air!" Sahut Chandra dari bangku penonton.

Namun Alzen masih diam mempertimbangkannya masak-masak, elemen yang akan ia gunakan. Ia mensimulasikan seluruh elemen yang ia bisa di dalam pikirannya.

"Kalau elemen api." ucap Alzen dalam hati. "Di pertandingan sebelumnya sudah dibuktikan oleh Chandra. Api tak bisa menembus pertahanan tembok tanahnya itu. Kalau Air, meski bisa menarik jatuh Joran waktu itu. Namun itu karena lawan sedang lengah dan sedang fokus pada sikap meremehkan lawan. Serangan semacam itu terlalu mudah dihindari, jika musuh dalam keadaan siap dan daya serang elemen air juga tak terlalu besar. Keuntungan satu-satunya hanyalah kolam. Namun pilihan terakhir... Petir? Apa ini akan berfungsi? Petir bisa menembus tembok tanahnya? Entahlah aku tidak mencobanya... Namun kalau Api dan Air saja gagal. Mau tak mau aku harus pertaruhkan ke elemen ini. Yang kemungkinannya masih tidak jelas. Apa! Apa! Apa?! Aku harus memilih apa?!"

“Mohon segera dijawab sodara Alzen.”

Setelah memikirkannya matang-matang, Alzen mengangkat tangan dan mengucapkan "Aku akan menggunakan elemen petir!"

"Yah! Kok petir! Dasar Alzen bodoh!" sahut Chandra yang protes sarannya tak didengar. “Sudah kubilang juga!”

Setelah menjawab itu, Alzen melihat ke belakang dan mengacungkan jempol ke Chandra sambil tersenyum dari bawah Arena.

"Baik... sudah diputuskan!" balas komentator. "Lalu selanjutnya... Peserta Joran?"

"Hah? Kenapa ditanya juga?" Alzen heran.

"Kamu tercatat memiliki kemampuan 2 elemen. Elemen tanah dan metal. Mana yang akan kamu gunakan kali ini?"

"Hahaha!" Joran tertawa keras dalam hatinya, tapi yang ditampakkan dirinya secara kasat mata, hanyalah senyumnya yang merasa dirinya sudah diatas angin. "Ternyata dia juga sama bodohnya dengan temannya yang sudah ku kalahkan itu. Ohh yes! Dengan begini, Final bisa kutempuh dengan lebih mulus." pikirnya.

"Ehhh tunggu!? Kamu bisa lebih dari satu elemen juga?" Alzen tak menduganya. "Bo-boleh ganti elemen pak?"

"Tidak..." jawab komentator. "Pilihanmu sudah diputuskan dan bersifat mutlak."

"Apa!?" Alzen tak habis pikir. "Gawat nih. Aku menyiapkan diri selama seminggu terakhir untuk melawan elemen tanahnya... Tapi, Agh!"

"Hahahaha! Lihat tingkahnya itu. Dia panik sekali!" Joran mencoba menahan tawa, meski di dalam hatinya ia sudah tertawa keras sekali. "Aku heran jadinya Ignis bisa lolos sampai 3 peserta. Padahal isinya cuma orang-orang bodoh!"

"Aku memilih Elemen Metal!"

"Baik! Sudah diputuskan!"

"Ehh!? Celaka!? Ini diluar skenario latihanku!" Alzen panik.

"Hahahaha! Final... Ohh... Final! Sambut aku dengan segera." Joran sudah yakin sekali akan ke Final dalam hatinya.

"Baik! Pemilihan Elemen sudah diputuskan. Dan pertandingan pertama... Dimulai!"

"Woo! Ignis! Terra! Ignis! Terra!"

"Aduh... Si Alzen, apa yang kau pikirkan? Air aja Air!" Chandra gelisah.

"Guru? Kalau begini bagaimana caranya dia bisa menang?" tanya Ranni gelisah.

"Enak ya... Si Alzen. Bisa gonta-ganti Elemen begitu." kata Lio sambil melipat lengannya di dada. 

“Ayo Alzen berjuang!” Fia dari bangku penonton Liqudium menyemangati.

"Lio kok tenang-tenang saja?" tanya Chandra.

"Hei! Dia Alzen, dia dapat beasiswa. Dia Top 3 angkatan kita. Apa yang kau khawatirkan"

Lasius hanya menjawabnya tanpa beban. "Tenang saja, tenang. Jangan simpulkan apa-apa dulu pada pertandingan yang bahkan belum dimulai."

***

"Wah... Wah... Wah. Kamu kok terlihat menyesal begitu sih?" ucap Joran.

"Habisnya aku tak tahu kamu bisa elemen lain." balas Alzen.

"Biar aku sudah unggul. Aku tak akan lengah! Aku tak pernah meremehkan lawan!" balas Joran, lalu ia menimbang-nimbang dalam hati. "Tapi ini juga masalah buatku, aku terlalu takabur tadi. Aku boleh memakai Elemen Metal terang-terangan tapi Elemen tanahku tidak boleh dipakai. Sedang aku sendiri, jujur saja kurang mahir pada elemen sekunderku ini. Sedang dia ini? Punya 3 elemen dengan tingkat kemahiran yang sama atau gimana, aku tak tahu sama sekali. Seminggu terakhir, aku hanya sibuk menghabisi Sand Bandit di padang pasir Fel."

"Tak ada gunanya mengeluh,” Alzen menepuk-nepuk pipinya. “Aku akan tetap melakukan yang terbaik." Alzen dengan ekspresi serius mengeluarkan sihir elemen petirnya.

"Di-dia?! Kenapa semangat-nya pulih kembali!?" kata Joran dalam hati.

Alzen terus mengumpulkan listrik sebanyak yang ia bisa, sambil ia terus berlari mengelilingi arena.

"Cih! Dia lincah juga.” Lalu Joran meng-cast sihirnya.

“Iron Body !!" 

Tubuh Joran berubah menjadi sekeras besi, dan daging-daging manusianya menjadi mengkilap layaknya besi. 

"Dari elemen sekunder-ku, hanya jurus ini yang aku miliki." Pikir Joran.

"Oke sudah cukup." Alzen yang terus berlari, kemudian berhenti dan menembakan serangannya yang seperti sambaran petir di musim hujan.

"Lightning Bolt !!" 

Tembak Alzen dengan gaya seperti Hadouken.

"Celaka!?"

DRESSSSSTTT!!