Episode 28 - Esterio Family


Alzen yang mendengar itu langsung teringat sesuatu. "Anzel!? Dia itu kan? Nama yang disebut Aldridge waktu itu ya? Jadi, dia raja negara baru itu?" pikir Alzen dalam hati.

"Bukannya, Anzel itu mantan politisi senior Dalemantia?" tanya Erebus.

"Ya! Itu sudah jadi informasi yang semua orang politik negara-negara Azuria ketahui. Anzel diduga sudah bersekongkol dengan Arcales yang sebelum tahun 1900,"

"Interupsi! Maksud bapak apa? Arcales baru berdiri ketika Dalemantia jatuh. Tapi yang bapak sebutkan barusan mengarah pada-"

"Dengar dulu sampai selesai! Mereka diketahui sudah ada, bahkan sebelum mereka menempati tanah Dalemantia seperti saat ini. Hanya saja, mereka tak memiliki wilayah seperti saat ini."

"Tunggu dulu, ini menarik. Dimana dan siapa mereka, sebelum jadi Arcales?" Erebus menanggapi.

"Seperti yang saya ucapkan barusan. Kuat dugaan, Arcales bersekongkol dengan Fel yang saat ini tengah dalam situasi ekonomi yang kritis karena raja muda yang korup. Tapi biar bagaimanapun, ini hanya hipotesis yang keakuratannya belum 100 persen terbukti. Karena berdasarkan data-data, Arcales dan Fel sebelum tahun 1900, dengan kata lain. Sejak Arcales pertama kali berdiri di tanah Dalemantia. Mereka sudah menjalin kerja sama sedari awal secara sembunyi-sembunyi, disaat negara-negara Azuria yang lain memusuhi Dalemantia."

"Jadi kau mau bilang? Arcales lahir dari Fel? Negara padang pasir yang lagi kacau itu?"

"Belum ada data-data yang merujuk kesana. Arcales bisa jadi juga bukan negara sebelum menjadi seperti sekarang. Tapi sulit mendapat informasi lebih lanjut ketika Arcales Empire memiliki kebijakan negara tertutup. Kami tak bisa mendapat informasi banyak darinya. Jika memaksakan diri dan bertindak gegabah di dalam. Kita bisa kehilangan banyak Spy terbaik kita dengan sia-sia."

"Lalu adakah pergerakkan signifikan yang dilakukan Arcales?" tanya Erebus.

"Selama 1 tahun 3 bulan sejak mereka berdiri, gerakkan yang kami ketahui, masih berupa aktifitas dunia bawah. Arcales secara gelap memperjualbelikan senjata-senjata untuk supply para Guild Criminal. Seperti salah satu contohnya yang terjadi tak lama ini. Kasus Guild White Bear di Quistra Empire."

"Quistra? Negara musim dingin itu? Aku tak pernah dengar nama Guild itu sebelumnya. Seberapa signifikan pengaruh mereka disana?" tanya Erebus.

"Menurut data, mereka juga belum lama berdiri, gerakkan mereka didikte oleh orang-orang Arcales secara tersembunyi. Meski mereka Guild Criminal yang bergerak sendiri dalam arti tak beraliansi dengan Guild kriminal yang lain maupun negara tertentu. Tapi mereka tercatat membeli senjata dari Arcales secara masif untuk menterror orang-orang Quistra lewat penarikan upeti."

"Tapi, bukankah beritanya baru-baru ini, operasi mereka terhenti sekarang? Apa yang terjadi?"

"Dikonfirmasi bahwa Ratu Selena selaku kepala negara Quistra Empire. Memberikan kebijakkan untuk memasang Bounty masing-masing petinggi mereka hingga Guildmasternya sendiri, dengan harga yang cukup fantastis untuk menarik minat Bounty Hunter Kelas A."

"Ya, Quistra meski punya kesulitan iklim cuaca disana. Namun Quistra memiliki kemampuan ekonomi sangat baik. Dan akses mereka untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara maju di North Azuria adalah keuntungan mereka. 15 juta Rez bukan masalah bagi mereka." jawab Erebus.

"Ya seperti bos Erebus sendiri beli bir sampai 10 juta Rez, Haha!" celetuk salah satu anak buah Erebus disana.

“Diam kamu!” tegur teman sebelahnya.

“Maafkan dia bos.”

"Tolong, kita mencoba fokus dalam masalah ini. Yang dilakukan Ratu Selena terbukti membuahkan hasil. Guildmaster White Bear berhasil di tangkap dan telah dipenjarakan dalam World Prison saat ini."

"Jadi begitu... lalu bahasan kita selanjutnya adalah kemungkinan revolusi di..."

Alzen mendengar hal-hal seperti itu dibuat pusing rasanya. "Aduh mereka ini bicara apa sih? Serius banget. Aku gak ngerti. Masalah-masalah besar yang benar-benar sulit dipahami."

Karena takut ketahuan juga, Alzen segera beranjak pergi dan kembali ke pondok bersama Hael. Tanpa Alzen sadari, hal-hal yang dibahas barusan saling berkaitan dengan yang dilakukan Aldridge sejak ia pergi dari rumah menara Franquille.

***

Di kamar Hael saat malam hari,

"Alzen, kau sudah mau pulang?" tanya Hael yang melihat Alzen berkemas.

"Iya, aku harus kembali ke Vheins, buat latihan persiapan Turnamen Quarter-Final nanti." jawab Alzen.

"Tapi ini sudah malam, besok pagi saja."

"Hehe... aku cuma berkemas kok. Supaya besok langsung siap."

"Kenapa harus latihan sih?" Hael heran. "Yang lain juga masih pada liburan."

"Soalnya lawanku nanti, anak Kelas Terra yang itu loh."

"Yang mana?"

"Wanita besar berkulit sawo matang, yang kekar badannya. Dan terdapat codet-codet di beberapa bagian tubuhnya."

"Aku ingat, aku ingat! Namanya Joran ya? Yang bikin Sinus langsung nyerah itu. Hihi..."

"Iya, dia orangnya. Haha, kamu tertawa juga akhirnya. Aku ingat Sinus si tukang bully itu merinding ketakutan di hadapannya. Haha! Lucu juga ya..."

"Hahaha! Dia payah sekali waktu itu." Hael tertawa lepas.

"Haha! Haha! Ha..." tawa Alzen terhenti dan perlahan berubah jadi rasa takut. "Tapi biar bagaimanapun, ini masalah juga buatku."

"Hihi! Kau pasti bisa Alzen!" Hael menepuk Alzen untuk memberi semangat dengan tersenyum.

"Wah! Kau jadi optimis sekarang?!"

"Aaa..." Hael langsung memutar badan dan kepalanya langsung tertunduk seperti biasa. "Tidak juga."

"Dia langsung minder lagi!?" Alzen tak menduga-duga. “Ayolah, aku ikut senang melihatmu tersenyum dan tertawa.”

“Te-terima kasih. A, Alzen...”

***

Jam 3 pagi, Alzen dan Hael sudah tidur. Namun dibangunkan oleh suara pria dan wanita yang bertengkar di lantai 1.

"Kamu ini! Kenapa baru pulang sekarang! Istri macam apa kamu?" bentak Erebus.

"Kau juga! Tumben-tumbenan ada di rumah. Gak kelayapan sama cewek lain?"

"Grrr! Kau ini! Berharap aku seperti itu ya?"

Alzen yang mendengar itu, jadi terbangun dan penasaran sambil melihat secara diam-diam ke bawah. Ia melihat dari ujung tangga di lantai 2. Alzen melihat Erebus sedang berbicara dengan seorang ibu-ibu paruh baya mengenakan jubah penyihir, yang bagian belakangnya sampai sebetis. Dia adalah ibu Hael. Leva Esterio.

"Bukan berharap seperti itu! Kau memang sudah seperti itu! Dasar pria bejat! Bisa-bisanya aku menikahi pria sepertimu."

"Kau ini!" dengan wajah merah marah, Erebus menggamparnya keras-keras seperti yang ia lakukan pada Hael tadi pagi.

"Sudah puluhan kali ya! Kau lakukan ini, terus menerus padaku!" ucap Ibu Hael dengan tatapan benci pada Erebus.

"Apa boleh buat! Kau yang memaksaku melakukan ini!"

"Besok kalau teman-temanku lihat aku ada bengkak ini aku harus bilang apa?" katanya dengan nada tenang. 

Lalu ibu Hael menempelkan tangannya ke pipi yang dilukai Erebus. Lalu sebuah cahaya putih muncul dari tangannya dan meregenerasi lukanya secara cepat.

"Kau lebih peduli apa kata teman-temanmu! Hah?! Dibandingkan aku, suami-mu?!"

"Aku lebih peduli duitmu! Dibanding dirimu sendiri!" ucap ibu Hael sambil menunjuk-nunjuk Erebus dengan kasar. "Tunggu sampai karirmu selesai, aku gugat cerai kamu saat itu juga. Suami yang senang memukuli istrinya. Kau benar-benar tidak layak!"

"Ohh... jadi kau mau cerai? Cerai saja! Memangnya aku peduli! Istri yang tak pernah melayani suami seperti, lihat Hael, dia anak yang jadi anak yang bodoh sekarang. Kau tidak becus mengurus anak!"

“Aku lelah bicara padamu.” Tak menanggapi lebih jauh, Ibu Hael langsung beranjak naik ke lantai 2 menuju ke kamarnya.

"Gawat!? Dia kesini!?" kata Alzen dalam hati dan langsung buru-buru pergi.

"Leva! Leva! Tunggu! jawab aku! Leva!" Sahut Erebus yang kesal tak ditanggapi.

Leva, Ibu Hael yang berada di depan pintu kamarnya, kembali menoleh ke sisi belakangnya dan mengatakan. "Siapa disana?"

"D-dia kok tahu?!" Alzen yang bersembunyi hanya bisa tetap bersembunyi.

"Keluar dari balik guci itu, aku tahu kau disana!"

Namun Alzen tetap diam saja.

"Kuhitung sampai 3, Kalau gak keluar juga... 1... 2..."

Leva membuka lemari di kamar Hael yang telah dimatikan lampunya.

"Siapa kamu?" tatap Leva tajam.

"Heeeee!?" Alzen kaget. "Tadi katanya di balik guci?"

"Itu namanya teknik menipu musuh," lalu Leva mengangkat baju Alzen dengan kasarnya. "Kutanya sekali lagi, siapa kamu?"

"Aku teman sekolahnya Hael tante."

"Teman? Jangan bohong! Hael tak memiliki teman."

"Ta-tapi benar kok!" jawab Alzen takut-takut.

"Kalau kau masih bangun, Kamu mendengar pembicaraan di bawah tadi?"

"Tidak tuh!" kata Alzen sambil matanya menoleh ke samping.

"Huh! Kau tak pandai berbohong ya." ledek Leva. "Ingat! Jangan bilang siapa-siapa tentang apa yang kau dengar di bawah tadi. Atau-"

"B-baik tante."

"Nah kan, kau berbohong,” Leva menendang perut Alzen dengan sikutnya.

BUAGGHH !!

“Agh! Adududuh, kenapa lagi sih tante.” Alzen merintih kesakitan sambil membungkuk di depan Leva.

“Tadi kau bilang kau tak dengar!" 

"Iya, iya, iya. Aku gak akan bilang siapa-siapa tante." Alzen mengusap-usap perutnya. “Aduh, aku ketipu lagi.” pikirnya.

Lalu Leva melepaskan Alzen dan kembali ke kamarnya tanpa bilang apapun lagi setelahnya.

Beberapa saat setelahnya, Alzen terus menahan sakit di perutnya, sampai sudah mendingan Alzen berbaring kembali di ranjang dengan menjatuhkan diri hingga ranjang bergoyang.

“Hahh... kasihan sekali ya kamu Hael.”

***

Libur selama seminggu sudah berlalu, 8 peserta yang berhasil maju ke babak ini rata-rata menghabiskannya untuk liburan. Dan di hari-hari terakhir mereka gunakan untuk beristirahat dan sedikit latihan.

Ignis sebagai kelas dengan peserta turnamen yang lolos paling banyak. Menggunakan 5 hari terakhir untuk latihan secara intensif bersama guru mereka, Lasius. Kendati karena kampung halaman mereka yang jauh-jauh, membuatnya tak punya pilihan lain selain ikut latihan.

Kelas lainpun demikian, meski latihan bersifat opsional. Para peserta yang berhasil sampai babak ini menganggap serius turnamen tahunan sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan.

Dalam seminggu terakhir, Joran sepenuhnya latihan dengan Eriya instrukturnya di tanah tandus dekat wilayah perbatasan Greenhill dan Fel yang notabene penuh dengan padang pasir. Meski Eriya hanya memberi menu latihan tanpa mengawasinya. Joran tetap melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Sintra bahkan terlalu ambisius untuk pertandingan yang menantinya. Secara intensif ia belajar dengan instrukturnya, Lunea yang selalu menyempatkan diri untuk sparring dengannya di saat malam dan memberinya menu latihan untuk keesokan harinya. Ia-pun setia menjalakannya dengan tatapan serius dan sungguh-sungguh.

Leena, tidak ada yang tahu ia pergi kemana, yang jelas. Di saat tengah malam, ia tidak pernah dirumah. Dan baru kembali saat matahari terbit.

Dan Nicholas, ia diam di kamar asramanya. Sambil sesekali menelpon ayahnya dengan Crystal Communicator dan menjelaskan apa yang ia lalui. Ia duduk di kamar gelap yang hanya disinari cahaya matahari dari jendela, duduk menyeruput kopi sambil membolak-balikan halaman buku grimoirenya, dengan ekspresi senyum jahat yang seolah berkata, aku harus menyiksa lawanku dengan cara apa ya.

***

Hari ini, pertandingan Quarter-Final, segera dimulai.

"Selamat datang! Di! Babak Quarter-Final!!" Sahut MC dengan penuh semangat.

"Wooo!" Sorak sorai penonton bergemuruh menantikan hari ini.

***