Episode 27 - I Will


“Dasar anak sialan!” bentak Erebus dengan geram. “Aduh...” katanya sambil geleng-geleng. “Kalau ditanya jawab dong!” bentaknya. “Bukannya malah nunduk begitu."

Alzen yang melihat itu langsung dari dekat, hanya bisa kaget dengan mata terbuka lebar-lebar dan pupil yang mengecil, ketika Hael digampar. Rasa takutnya semakin terasa.

"Me-mereka gak mau kesini lagi a, ayah..." jawab Hael takut-takut sambil menahan air mata.

"Ohh gitu, gak heran sih. Kamu jadi juga anak begitu sih. Nunduk... mulu, kerjanya!" balas Erebus dengan kesal. "Sudahlah! Aku sudah capek kerja, habis mandi terus tidur! Bangun, kerja lagi! Alah! Hidup-hidup."

Kemudian Ayah Hael beranjak pergi, melakukan apa yang ia katakan barusan.

***

Suasana hening sesaat, mereka berdua menunggu Ayah Hael benar-benar sudah cukup jauh hingga tak mendengar mereka lagi.

"Hael, kau tak apa-apa?" Alzen melihat pipi kiri Hael memerah. "Astaga!? Ayahmu benar-benar menggamparmu keras sekali!? Dia menggunakan Aura."

"Tidak apa. Dia sudah sering seperti ini." jawab Hael sambil bangkit dan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa.

"Aduh, sayang, aku tak bisa Healing Magic. Tunggu, aku cari obat dulu."

"Kotak obat ada disana." tunjuk Hael pada sebuah kotak P3K di dinding.

Alzen lalu membukanya, dan didapati hanya ada beberapa buah Kristal hijau di dalamnya.

"Kristal? Hael, kok cuma ada Kristal disini?" Alzen melihatnya dengan tatapan heran.

"Ambil saja satu. Terus bawa kemari."

"O-oke!"

Alzen meski tak begitu mengerti, ia tetap menuruti apa yang Hael katakan.

"Terus kristal ini untuk apa?" tanya Alzen yang jongkok di depan Hael.

"Kamu genggam kristalnya di dalam kepalan tanganmu." Hael memberi arahan.

"Begini?" Alzen mengkonfirmasi.

"Iya, terus arahkan ke pipiku ini." ucapnya sambil menunjuk pipi kirinya.

"Baik," Alzen melakukan seperti yang Hael katakan. "Terus?"

"Kamu alirkan Aura pada tanganmu."

"Huh? Aura?" Alzen merasa dirinya salah dengar.

"Lakukan saja."

"Ba-baiklah. Tapi, gimana caranya ya?"

"Sama kayak melakukan sihir saja."

"Biar kucoba"

Alzen melakukan seperti yang dikatakan Hael dan dari tangan Alzen keluar sebuah cahaya hijau yang menyejukkan. Pipi Hael yang bengkak, perlahan beregenerasi dengan cepat, hingga kembali seperti semula.

"Woaaa... hebat! Aku pernah lihat di buku nih!" ucap Alzen dengan wajah antusias.

"Karena Greenhill adalah negara sihir. Cara menyembuhkannya pun juga menggunakan sihir." jawab Hael. "Tapi, Republic of Greenhill ketergantungan terhadap kemampuan sihirnya terlalu tinggi."

"Hael, kau sudah sembuh? Cepat sekali ya."

"Iya, sudah mendingan. Gak sakit lagi. Bengkaknya juga sudah hilang."

"Aku gak habis pikir. Ayahmu setega itu ya." Alzen jadi iba. "Kesan pertama aku melihatnya seperti orang yang santai saja namun agak menakutkan. Tapi ternyata..."

"Tak apa, dia selalu beralasan karena dirinya seorang penegak hukum. Jadinya boleh main kasar begitu. Tapi... Aku mengerti, dia juga orang yang lelah hatinya sama sepertiku."

"Kamu pengertian ya... Hael. Tapi..."

"Bukan begitu..." Hael langsung mengusap air matanya yang keluar sekali lagi. "Aku hanya tak mau dipukul lagi! Aku takut... aku takut pada ayah! Aku bahkan takut untuk membencinya. Aku, aku... aku takut bersuara terlalu keras dan..."

“Aku mengerti.” rangkul Alzen. “Aku mengerti.’

***

Setelah kejadian itu, mereka berdua duduk-duduk di pondok yang berada pekarangan luas keluarga Esterio. Pondoknya berwarna hitam dan putih dan di kelilingi banyak tanaman hijau. Dengan deru air terjun di sekitarnya.

"Aku sekarang mulai sedikit mengerti penderitaanmu, Hael." kata Alzen dengan nada iba sambil duduk-duduk di kursi taman di bawah pondok.

"Te-terima kasih... sejauh ini, kamu teman yang paling pengertian padaku. Tapi, tak ada yang bisa kuubah dari semua kejadian ini." kata Hael sambil menunduk murung menatap ke tanah. "Sekeras apapun aku mencoba, semuanya tetap sama. Tak ada yang berubah!"

"Kamu di bully sampai sekarang, kamu juga sulit mendapatkan teman, keluargamu juga kasar padamu. Tapi, bagaimana dengan ibumu? Dia orang yang baik? Atau..." tanya Alzen

"Tidak sama sekali, dia bahkan lebih parah dari semuanya."

"Maaf,” Alzen tertunduk. “Kalau situasinya begini terus... kau pernah berniat minggat?"

"Aku pernah dua kali melakukannya, tapi tak bertahan lama dan aku kembali ke rumah."

"Kenapa kembali?"

"Yang pertama karena aku lapar dan kehabisan uang, aku kembali begitu saja. Dengan harapan mereka rindu padaku, menginginkan aku pulang dengan menangis memelukku." jawab Hael. "Tapi hasil yang kuharapkan sangat jauh berbeda..."

Alzen mendengarkan. “Rasanya aku tahu kelanjutannya,”

"Mereka berdua menungguku di depan pintu dan aku malah dihajar habis-habisan oleh ayah. Dan disiksa oleh ibuku. Ya... secara harafiah betul-betul disiksa. Ibu meminta orang tak dikenal untuk menyakitiku lewat Dark Magic. Rasanya seperti ditusuk jarum di seluruh tubuh. Tapi setelah semua yang mereka lakukan, Mereka akhiri dengan bilang, agar aku kapok. Aku membencinya, tapi aku juga tak tahu harus bagaimana."

"Kau sungguh malang Hael," Alzen mengusap-usap wajahnya setelah takut sendiri karena mengimajinasikan kejadian itu. "Lalu, yang kedua?

"Untuk yang kedua kalinya aku kabur dari rumah, anak buah Ayah diperintah untuk memaksaku kembali. Jika tidak mereka tak segan-segan menembak kakiku saat itu juga. Mereka bilang sudah diizinkan oleh ayah." jawab Hael. "Aku anggap itu sebagai gertakan kosong, karena mana mungkin ayah setega itu. Aku tak mengindahkannya dan terus lari, lalu...“

“DOOR! Kakiku benar-benar di tembak mereka hingga jatuh ke tanah batu di kota Letshera. Benar-benar sakit sekali. Aku baru disembuhkan oleh Healer yang dikontrak ayah ketika sudah 24 jam dibiarkan kesakitan. Aku benar-benar tak berani lagi setelahnya."

"Cara yang dilakukan orang tuamu barusan, seperti cara menginterogasi kriminal saja." Alzen menghela napas. "Kalau begini susah juga..."

"Aku lemah dan ceroboh, segala yang kulakukan berujung kekacauan. Aku seperti hidup segan, mati tak mau."

"Aduhh... lalu apa dong solusinya?" Alzen kebingungan dan mengacak-acak rambutnya.

"Teman-temanku yang kuajak kemari juga, setidaknya pernah melihat hal yang sama. Tapi Alzen, kau berbeda. Kau tak berniat meninggalkanku kan? Meski sudah tahu, aku ini terlalu beban untukmu?"

"Tidak akan!" jawab Alzen tegas tanpa jeda berpikir. "Kau sudah terlalu banyak di lukai hatinya. Masa aku menambah lagi lukamu."

"Kenapa kau bersikeras sekali? Aku sama sekali tak berharga untuk siapapun." Hael seolah tak mempercayainya. “Semua pada akhirnya membenciku.”

"Semua orang itu berharga! Kamu hanya sedang berada di tempat yang salah saja!"

"Jadi aku harus apa? Aku tidak tahu lagi."

"Kamu harus memutuskan!"

"Me-memutuskan?" pikir Hael sejenak. “Apa yang harus kuputuskan?”

"Kamu mau tetap berada disini dan tak ada yang bisa kamu ubah. Atau kau melepas semua ini, dan mulai lagi dari nol dengan usahamu sendiri."

"Ja-jadi kau memintaku untuk minggat sekali lagi?"

"Habis, aku tak menemukan solusi lain." Alzen mempertimbangkannya lagi. "Aku hanya berpikir jika aku jadi kamu, itu yang akan kulakukan. Merubah orang lain itu susah! Karena itu, yang harus kita ubah ya... diri kita sendiri."

"Aku tak tahu, apa aku bisa. Namun, setelah turnamen selesai. Aku akan coba apa katamu barusan."

"Maaf Hael, ini mungkin bukan solusi yang paling benar. Tapi aku tak melihat banyak pilihan. Kamu harus pergi keluar Greenhill! Untuk lari dari jangkauan anak buah ayahmu. Cari teman-teman baru disana yang mau menerima dirimu. Dan kamu bisa... setidaknya, merubah hidupmu di luar sana."

"Aku mengerti..." ucap Hael seperti biasa dengan kepala tertunduk. "Meski aku agak sedikit takut juga. Tapi... lebih baik daripada semuanya tetap seperti ini."

"Dan jika kamu diluar sana nanti, aku sarankan untuk bersikap tegap! Tataplah lawan bicaramu dengan benar. Percaya dirilah! Aku tahu ini sulit, tapi... aku yakin kamu bisa kok."

"Baik, aku janji ketika turnamen selesai, aku akan melakukan yang kau katakan."

"Bukan begitu... bukan untuk melakukan apa yang aku katakan. Kau melakukan ini untuk perubahan signifikan dalam hidupmu. Dan suatu hari kita pasti bertemu lagi di luar sana! Aku janji." kata Alzen dengan percaya diri.

"Ya! Hidupku akan berubah setelah ini. Entah lebih baik atau lebih buruk. Tapi akan kucoba."

***

Mereka berdua menikmati waktu bersama di pondok itu sampai ketiduran. Namun tak sengaja dibangunkan suara berisik dari derap langkah kaki orang banyak.

Alzen yang terbangun, langsung spontan bertanya pada Hael. "Hael, siapa orang banyak itu?"

"Mereka anak buah ayah. Orang-orang lembaga penegak hukum. Sering ketika ayah di rumah, mereka datang berkumpul untuk rapat dan berkumpul bersama-sama."

"Aku penasaran, aku mau lihat dari dekat."

"Hei Alzen, jangan! Buat apa?"

"Penasaran saja."

Alzen datang menghampiri dan mendapati mereka sudah berkumpul di ruang tamu yang lega dan sangat mewah di sisi kanan rumah. Richard menyajikan makanan dan sekitar 20 orang anak buah Ayah Hael berkumpul disana. Mereka semua mengenakan jas kantor dan Bowler Hat, topi bulat yang khas digunakan Charlie Chaplin.

Dari balik jendela di luar Alzen melihat dan mendengar itu semua secara sembunyi-sembunyi.

"Yoo! Bos Erebus Esterio! Aku selalu senang kalau disuruh rapat di rumah mewahmu ini. Megah dan indah sekali. Top deh, pokoknya!" sahut anak buah Erebus.

"Terima kasih atas sanjungannya,” jawab Erebus dengan santun dan senyum. “Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja seperti rumah sendiri."

"Benar-benar! Aku jadi iri. Suatu hari aku ingin jadi kayak bos Erebus." sahut anak buah Erebus yang lain.

Erebus langsung menanggapinya dengan ramah. "Tentu, suatu hari kau pasti bisa jadi sepertiku. Kalau kamu bekerja keras."

"Loh bos Erebus masih ngantuk ya?"

"Haha! Kamu tahu saja." Erebus tertawa. "Aku baru tidur pagi ini, Soalnya kemarin ada kasus penyelidikan, bersama orang-orang pemerintah. Aku harus ikut andil bagian juga sebagai kepala tertinggi. Kalian sudah janji datang lagi hari ini, jadi aku sudah harus siap."

"Wah! Bos memang pekerja keras!"

"Haha! Jangan meremehkanku."

"Hoi! Anggurnya mana?! Anggur?!" sahut anak buah Erebus yang lain

"Richard!" perintah Erebus. "Mohon sajikan Anggur Merah terbaik!"

"Siap tuan!" lalu dengan cepat Richard membawa sebuah botol emas, dihadapan mereka semua.

"Woaaa! Cuma satu nih? Kita kan ada banyak?"

"Hush! Jangan salah! Satu botol ini harganya 10 juta Rez."

"Woaaa!!” serentak semuanya dibuat kaget.

“Beneran!?" 

"Ahh... ntar suruh bayar aku gak mampu. Haha!"

"Tidak-tidak, masa aku suruh bayar. Coba saja segelas. Kalian pasti belum pernah coba kan?" Erebus mempersilahkan.

"Bo-boleh nih? Oke deh coba seteguk."

"Lumayan pernah sekali coba anggur 10 juta Rez loh."

"Ehem! Sodara-sodara, siapkan berkas-berkasnya. Ingat, kita kesini untuk rapat penting." sahut wakil ketua dari masa kepemimpinan Erebus. Ia berumur lebih dari 50 tahun dan sudah putih rambutnya.

"Iya-iya, bos Humphrey gak bisa lihat orang seneng sih."

"Dengar!" Humphrey menggebrak meja. "Dalam rapat ini kita akan bahas mengenai negara baru yang cukup mengancam akhir-akhir ini. Ini sesuatu yang tidak bisa dianggap main-main!"

"Yang anda maksud barusan, adalah Arcales Empire bukan?" sambung Erebus.

"Betul sekali tuan Erebus! Memang setelah Dalemantia Empire jatuh setahun silam, Greenhill memiliki masa damai yang tak pernah kita rasakan selama 13 tahun berperang melawan Dalemantia yang tak terkalahkan itu." ucap Humphrey dengan serius. "Namun selama setahun terakhir negara baru ini berdiri. Benih-benih perang ke depannya mulai tumbuh kembali. Jangan lupa, rezim mereka saat ini, di kendalikan oleh pemerintahan Anzel yang menjabat sebagai raja Arcales saat ini."

Alzen yang mendengar itu langsung teringat sesuatu. "Anzel!? Dia itu kan...”