Episode 40 - Blood


“Masalah apa lagi ini?” gumam Gildur.

“Gawat! Benar-benar gawat!” celetuk Sully, gemetaran. “Dia nekat memanggil makhluk itu. Dasar Red sialan!”

“Ada apa? Apa yang dilakukan Red?!” Gildur mendadak panik.

“Kau tidak tahu? Blood adalah ancaman terbesar di turnamen ini.” Sully tampak gusar. Matanya terus-terusan memandang langit. “Red terlalu serius meladeni sampah macam kalian!”

Bane menyiagakan perisai besarnya, takut jika yang datang punya kekuatan menyerupai Reflect Eyes. Namun, belum ada gelagat mencurigakan dari Red yang terperangkap dalam jerat lengan Gildur, selain langit yang kian mengerikan.

“Langitnya seakan mau meleleh,” ujar Bane.

“Kau akan tahu apa arti monster sebenarnya.” Seutas kalimat menyelusup dari belakang. Rupanya Red barusan bicara. “Jangan pikir aku kehabisan upaya. Secuil kekuatanku baru saja datang.”

Awan pekat berarak ke puncak medan pertempuran, perlahan-lahan bergerak memutar bagaikan tornado raksasa. Kemilau kilat sesekali merebak, berpadu dengan gelegar petir. Kondisi semacam ini, Bane tahu pasti bagaimana buruknya.

“Ini mimpi buruk.”

“Bukan,” tampik Red. “Ini mimpi buruk yang menjadi nyata.”

Portal besar menganga lebar, serta-merta membawa angin dingin kematian. Semua sadar kalau keadaan nyaris gelap total. Akan tetapi, apa yang ada di balik potal tersebut jauh lebih gelap lagi. Sungguh, seolah kegelapan jagat raya bersatu untuk menyokong kejayaan Red.

Kala itu, sebuah tabir telah terungkap. Tabir yang dengan jelas menikam fondasi semangat Bane. Dia memang belum paham situasi, tetapi hati kecilnya semakin lama kian bergetar. Perihal sesuatu yang bernama Blood itu, mungkinkah merupakan akhir bagi perjuangan asrama pagi?

Bukan hanya Bane. Bahkan, Sarasvati yang berjaga di sekitar menara asrama malam sampai terjatuh. Dan Fasha, gadis itu menjerit kesakitan. Indra sensoriknya menangkap sesuatu yang seharusnya tidak boleh ditangkap.

“Aku punya firasat buruk,” tukas Fred.

ZBLARR!

Gelegar ternyaring sepanjang pertandingan tercipta, dan guntur menyilaukan sontak menghantam menara kebanggaan asrama pagi.

“ASTAGA!” Gildur terpelanting, tumbang menghantam tanah.

“Waduh!” Sully nyaris mengikuti nasib mantan rekannya, tetapi ia masih sempat memanfaatkan angin untuk mendarat dengan selamat. “Blood benar-benar merepotkan.”

“Gildur!” Bane berusaha menghampiri temannya, tepat sebelum petir susulan datang dan menyambar jalan di depannya. “Sial!” Bane terpaksa mengambil langkah mundur.

“Aku tidak terkalahkan.” Menyingkirkan lengan Gildur yang mulai melemah, Red berdiri cuai, menatap musuhnya.

“Apa-apaan semua ini?! Apa yang kau rencanakan, Red?”

“Sudah terlalu lama. Sudah terlalu lama kau kubiarkan bersenang-senang.” Kedua tangan Red mengepal kuat-kuat, sementara giginya bergemertak. “Sekarang giliranku.”

Portal raksasa menyeruak, dalam sekejap membidaskan awan ke segala arah. Kegelapan menipis, ikut terlempar bersama energi super kuat yang perlahan menyelubungi seisi arena. Tatkala temaram menerpa, barulah tampak apa yang menghuni langit.

“Hah! Mu-mustahil.” Bane terduduk, ketar-ketir menatap angkasa.

“Blood telah datang.” Sully menyerengeh, kendati kedua tangannya gemetar hebat.

Itu sebuah mata. Mata besar layaknya purnama. Merah, seolah darah segar menggeliat di permukaannya, menampakkan seberapa seram kesan Blood. Dan, iris mata tersebut menyala-nyala layaknya arang yang dilahap api.

“Bisa apa kau sekarang, Bane? Semangatmu takkan menolong lagi.”

Red menengadah, menyambut guardian-nya yang teramat agung. Mata mereka bertemu, membawa malapetaka tersebar bagi para lucid dreamer.

“Habisi mereka, Blood!”

Iris mata Blood bergerak, tepat ke arah Gildur. Untuk sesaat, nyala api di matanya berderik-derik, sejurus dengan paniknya Gildur. Tiba-tiba, manakala Gildur hendak beringsut, sinar pekat menerobos cepat, menggerus Sang pengkhianat asrama malam begitu cepatnya.

“Api Blood lebih kuat dari api pengejut milik Goro. Siapapun yang terbakar akan langsung terbangun di dunia nyata.” Red tersenyum lebar, sarat akan kepuasan. “Dengan kata lain, Blood adalah mesin pembunuh terhebat di Pandora, mengalahkan para pengurus turnamen.”

“Ga-gawat.” Jakun Bane naik-turun.  

Iris Blood kembali bergerak, kali ini menusuk tajam ke arah Sully. Yang benar saja! Blood tidak tahu mana musuh mana kawan. Ia bergerak atas satu perintah, dan Red tak mampu membatalkan perintah tersebut.

“Dasar Red bodoh!” Sully memelesat cepat, coba berkelit dari laser merah yang coba membakarnya. “Lucidity liarmu akan menghancurkan segalanya!”

Selaras dengan ucapan Sully, Red mengakui bahwa keputusannya memanggil Blood adalah kesalahan besar. Guardian itu bukan atribut biasa. Makhluk yang lebih kuat dari Super Guardian milik Vida. Tercipta di antara anugerah dan kutukan, Blood benar-benar malapetaka bagi seisi Pandora.

“Nyaris saja!” Sully memacu kaki-kakinya lebih cepat, melompat dari angin ke angin, berusaha mencapai posisi tertinggi sekaligus terjauh dari jangkauan serangan Blood. “Kau harus hentikan ini, Red!”

“Tidak bisa! Blood punya pikiran sendiri. A-aku tidak bisa menghentikannya.”

“Bodoh! Dasar Bodoh!”

ZRASHH!

Sully terpelanting, salah satu pijakannya berhasil disabet laser Blood. Pemuda berkupluk itu dalam bahaya. Belum siap kalah, Sully memaksa keempat anggota geraknya bekerja keras. 

Sebelum laser Blood mencapai dirinya, ia pun meluncur ke belakang, melompat dari angin ke angin hingga akhirnya sampai ke dahan pohon.

“Aku tahu ini takkan berhasil,” ketusnya tatkala menyaksikan laser merah itu bergerak mendekat. “Kau akan terima akibatnya, Red!”

BRAKK!

Pepohonan berderak, tak sanggup menahan betapa dahsyatnya pergerakan laser Blood. Sontak saja, Sully melompat jauh, tak peduli pada kakinya yang terkilir akibat gagal memijak angin.

Kacau-balau. Blood menghabisi semua yang bisa dilihatnya. Beruntung, Bane tidak menjadi target dalam waktu dekat. Maka dari itu, ia coba mengambil momen untuk melumpuhkan Red.

Pelan-pelan, Bane menyiagakan perisai besar seraya beringsut mendekati lawan. Red terlalu sibuk mengkhawatirkan rekannya, sementara bahaya tengah mengancam di belakang. Sesaat Bane hendak memiting leher sang musuh, tiba-tiba laset Blood terhenti.

“A-apa?!” Bane tercekat.

Iris mata besar itu tepat mengarah padanya. Selain sebagai mesin pembunuh, Blood juga berfungsi sebagai pengawas Maha Tahu. Ia menjadi indra keenam Red. Membantunya memantau keadaan arena, termasuk gelagat Bane.

“Terlalu bodoh! Reflect Eyes!”

BRUKK!

Bane terpental menerima dorongan gaib dari tatapan Red. Ia lupa menyiagakan perisainya. Alhasil, penghakiman Bane pun dipercepat. Laser Blood berhenti memburu Sully, berganti pada dirinya.

“Harapanmu sudah hancur, Bane! Kau akan segera tamat.”

Beberapa detik sebelum Bane lesap seperti Gildur. Pelan tapi pasti, laser Blood bergeser mendekati target. Kelewat lemas, kaki-kaki Bane tak sanggup menggeliat lebih jauh, apalagi menghindar. Kali ini, ia benar-benar pasrah.

Apa yang mampu ia perbuat? Di detik-detik paling krusial ini, siapa yang mampu menolong asrama pagi? Selain Bane, semua punggawanya telah terkapar tak berdaya. Shota tak sadarkan diri, bersandar di sisi menara kebanggaannya.

“Apa yang bisa kau lakukan?”

“Apa yang sanggup kau upayakan?”

“Dasar Bane lemah!”

“Kau cuma orang yang mengandalkan semangat untuk menang.”

“TIDAK!” Bane tersadar dari lamunan mengerikannya. Teror pesimis yang perlahan menggerogoti asa. Tidak boleh dibiarkan!

Bane menjangkau perisai besar, sekuat tenaga menggeliat agar jarak ujung kakinya terpaut jauh dengan laser Blood. Senti demi senti, apakah bisa mengubah nasib? 

“Mau sampai kapan kau berkelit, Bane?” Red mencalang. “Cepat bangun dan jalani hidupmu di dunia nyata. Kau tidak pantas bermimpi!”

“A-aku ….” Bane bersikeras, mengerahkan segenap lucidity-nya yang tersisa. “TIDAK AKAN KALAH!!!”

Teriakan yang begitu keras, nyaris mengheningkan suasana. Bagi Red itu sebuah bentuk penolakan mutlak terhadap takdir. Bagaimana bisa orang yang hampir lenyap ini terus-terusan dibakar api semangat? Dia tidak habis pikir. Jujur saja, Red kehabisan akal untuk memadamkan semangat Bane.

“HANCURKAN SEMUANYA, BLOOD!”

Sesuai perintah tuannya, laser Blood menambah kecepatan. Bane hanya bisa mengatup mata seraya bertumpu pada perisai besar untuk bergerak jengkal demi jengkal. Hawa panas sudah menggerayangi zirah besinya, seakan memberitahu bahwa ajal akan tiba sesegera mungkin.

“Bertahanlah.” Bane menggumam. “Bertahanlah untuk apa pun! Bertahanlah untuk semua orang yang berharap padamu, Bane!”

Sayang, kali ini semangatnya benar-benar lepas tangan. Pemuda berkacamata itu musti bersusah-payah menggiring badannya sendiri menjauhi bencana. Bahkan, kian lama laser Blood kian mendekati target.

Hanya tersisa beberapa langkah, dan Bane kelewat lelah untuk merangkak lebih jauh lagi. Ia ingin menang, sungguh. Namun, sepertinya bukan untuk saat ini. Kemenangan serasa terlalu jauh, bertengger di puncak Maha Tinggi. Sementara dirinya, terkapar penuh nista di jurang kegelapan. Menunggu mata besar di langit melahap mangsa secepat angin.

“Makluk apa itu? Kadar lucidity-nya sangat besar” Fasha terperangah menyaksikan Blood mendominasi angkasa.

“Aku tidak tahu,” sahut Sarasvati. “Tapi ini berbahaya.”

“Haruskah kita maju ke garis depan?”

“Aku akan menyusul Red.” Sarasvati, meski terpejam, tak kuasa menyembunyikan kecemasannya. “Kau berjaga di sini.”

“Baik.”

Sarasvati berlari menembus gelapnya hutan, berharap dirinya masih sempat menyaksikan kondisi terakhir markas musuh. Ya, jika ia memang berhasil melihatnya, maka Sarasvati akan tahu seberapa mengerikannya Red. Monster yang bersembunyi di dalam tubuh manusia.

ZRIING~

“Asrama malam memenangkan pertandingan.” Pengumuman yang teramat mengejutkan berkumandang ke seluruh penjuru arena.

Sarasvati sontak menghentikan langkahnya. Blood tiba-tiba lenyap dari angkasa, begitu pun segala kesuraman yang dibawanya. Asrama malam telah menjuarai pertandingan. Itu artinya menara asrama pagi telah ambruk.

“Guardian milik siapa itu sebenarnya?” gumam Sarasvati.

Tidak. Dia tidak akan tahu. Setidaknya, sampai ada orang yang cukup nekat memantik amarah Red untuk kesekian kalinya. 

Benar-benar beruntung, sungguh. Bane masih terengah-engah sesaat ujung kakinya nyaris dilahap laser Blood. Dia berada di ambang kematian, tentunya sebelum menara asrama pagi dimatikan secara paksa.

“A-apa yang terjadi?!”

“Apa-apaan ini?!” geram Red. “Siapa yang berani merusak kesenanganku?”

“A-aku ma-masih … hidup?!” Mata Bane berkaca-kaca, tak kuasa menahan lega. “Aku belum terbangun. Ini masih di dunia mimpi!” Ia bergegas bangkit, memeluk tubuhnya erat-erat.

Melihat hal tersebut, Red makin berang. Sedikit lagi baginya untuk melenyapkan api semangat Bane yang menyebalkan. Namun, keberuntungan selalu saja singgah.

“Hoy, Pengurus turnamen! Kalian melakukan kesalahan! Pertandingan ini belum selesai! AKU BELUM MENANG!”

“Sudah! Kau sudah menang, Red.” Bane nekat menyela. “Kau menang, aku mengakuinya. Mungkin butuh puluhan tahun bagiku untuk mengejar kemenanganmu.”

“Omong kosong! Aku memang menang, tapi kau belum kalah. KAU HARUS KALAH, BANE! HARUS KALAH!”

Bane tersenyum, pelan-pelan menghela napasnya. Mata lelaki itu terpejam, seiring perisainya yang tergeletak di tanah. 

“Kalau begitu, aku sudah kalah.”

Dahi Red mengernyit. Ia kelewat heran mendapati orang yang sedari tadi penuh semangat tiba-tiba jadi sepesimis ini. Pasti ada yang salah, pikirnya.

“Ya, aku kalah.” Bane menyunggingkan senyum lebar. Senyum terlebar yang pernah ia buat sepanjang hidupnya. “Tapi aku belum menyerah. Kau bisa mengambil kemenanganku, tetapi tidak untuk semangatku. Sampai kapan pun, aku akan terus berjuang. Seberapa sakitnya kekalahan, seberapa pahitnya ditaklukkan, seberapa perihnya dicaci, aku takkan menyerah hanya karena itu! Suatu hari … suatu hari, aku pasti akan mengambil kemenanganku kembali.”