Episode 7 - Tujuh



Di Kademangan Wringin Anom, Patraman adalah seorang berusia cukup muda dan berhasil meraih tampuk sebagai pemimpin pasukan pengawal Majapahit yang bertugas di sana. Mempunyai kecakapan olah kanuragan dan bidang keprajuritan. Selain mempunyai kedudukan tinggi di Kademangan Wringin Anom namun dalam dirinya terbersit hasrat untuk meraih puncak kejayaan melebihi pencapaiannya sekarang ini. Dalam beberapa kesempatan Patraman sering bersaing dengan Ki Demang dalam berebut pengaruh di kalangan petinggi di kotaraja maupun rakyat kademangan sendiri. 

Patraman memandang dirinya lebih tinggi maka dari itu ia enggan untuk tunduk dalam perintah Ki Demang Wringin Anom. Persaingan ini semakin lama semakin mendekati puncaknya ketika orang-orang di sekeliling Sri Jayanegara semakin tajam bersaing. Agaknya persaingan untuk perebutan tahta kerajaan telah menjalar hingga ke sebuah kademangan di lembah Sungai Brantas. 

Sikap tinggi hati dan keinginan Patraman semakin memuncak setelah bertemu dengan seseorang dari kotaraja.

“Aku kemari memberikan kepadamu sebuah tanggung jawab yang besar,” kata orang kotaraja itu suatu ketika di barak prajurit yang terletak di sebelah selatan pedukuhan induk.

“Aku kira sebenarnya aku belum melihat peningkatan kemampuan prajurit di kademangan ini. Apakah tidak akan membawa petaka jika aku memaksakan diri?” Patraman bertanya sambil memainkan belati kecil.

“Tidak!” kata orang itu. Ia terdiam sejenak, lalu,”yang aku maksudkan bukanlah satu peperangan. Tapi kawan kita menghendaki kau dapat membuat satu kemajuan yang akhirnya dapat membawa satu tingkat lebih tinggi.” 

Patraman dengan alis mengkerut pun bertanya,”kemajuan seperti apa yang kakang maksudkan?”

“Aku mendengar ki demang mempunyai anak perempuan yang cantik. Dan aku kira kau pun tertarik pada anak perempuan itu,” senyum orang kotaraja itu mengembang. Matanya mengerling ke arah Patraman yang masih mendengarkan dengan bibir terkatup rapat. Lalu ia meneruskan,”Patraman, untuk meraih suatu keberhasilan sudah barang tentu membutuhkan kerja keras dan pengorbanan. Tentu saja kau tahu yang aku maksudkan.” Ia berhenti sejenak. Dengan sepuluh jari yang terjalin di depan dadanya, ia mengatakan,”aku tahu kau adalah seorang lurah prajurit yang kuat dan justru kau sebenarnya lebih pantas berada di tempat yang lebih tinggi.” Dengan berbisik ia mengutarakan rencananya. Sesekali terlihat Patraman mengerutkan kening dan terkadang meminta untuk dijelaskan lebih mendalam.

“Baiklah, kakang dapat kembali menemui kawan kita dengan kepala tegak. Aku akan mencari cara yang terbaik sehingga tujuan kita akan teraih,” berkata Patraman dengan suara yang cukup dalam. Orang dari kotaraja itu segera pergi setelah berbincang beberapa lama. 

Siang itu, Patraman berbincang dengan Laksa Jaya. Berbagai hal telah mereka bincangkan hingga menyentuh ke maksud dan tujuan sebenarnya. Laksa Jaya yang mengetahui kecakapan Patraman seringkali hanya mengganggukkan kepala mendengar cita-cita Patraman. Berkat kecakapan dan kecerdikannya, secara cepat Patraman dapat meraih posisi penting dalam keprajuritan Majapahit. Akan tetapi gelegak keinginan Patraman untuk dapat menjadi seorang pemimpin kademangan dan lebih tinggi lagi masih tersamar dalam kegiatan sehari-hari. Tentu saja Ki Demang mengetahui perihal ini namun dia tidak dapat berbuat banyak karena tiada orang yang bersedia menjadi saksi maupun bukti yang dapat diungkapkan. Bahkan sebaliknya, Patraman bisa saja menangkap Ki Demang dengan tuduhan pemberontakan.

Di barak prajurit, seolah mengetahui isi hati Patraman, Laksa Jaya meminta Patraman segera memerintahkan dua orang pengawal yang berada dalam ruangan untuk keluar. Tak lupa pula mereka memerintahkan penjaga agar melarang setiap orang untuk memasukinya.

“Laksa Jaya, tentu sangat baik bila engkau bersedia melakukan satu perbuatan untukku.”

“Ya Patraman, apa itu?”

“Menculik Arum Sari lalu membebaskannya. Dan sementara itu aku akan mengadakan pembicaraan dengan Ki Demang.”

Bagai disambar halilintar, raut wajah Laksa Jaya seketika pucat pasi mendengar perkataan temannya itu. Dia tidak mempercayai apa yang telah didengarnya.

“Engkau suruh aku menculik Arum Sari lalu membebaskannya, Patraman? Sadarkah kamu dengan perkataan itu? Engkau seorang prajurit!” Sebenarnya Laksa Jaya sangat memahami watak temannya, akan tetapi menculik Arum Sari merupakan persoalan yang berbeda. Ki Demang dengan kekuasaannya dapat saja menuduh para prajurit gagal mengemban kewajiban dan ia juga dapat meminta pergantian orang yang ada di barak prajurit.

Sedikit beringsut untuk merubah posisi duduknya, Patraman menghadap dengan tatap mata yang tajam ke arah Laksa Jaya. “Laksa Jaya, dalam perkembangan di kotaraja tentang keadaan Sri Jayanegara tentu saat ini adalah tepat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.”

“Maksudmu bahwa engkau akan memanfaatkan keadaan rumit ini?” 

“Mengapa tidak? Bukankah engkau juga tahu bahwa aku mempunyai perasaan yang lain pada Arum Sari? Lantas bukankah juga akan menjadi keuntungan bagiku jika sedikit kerusuhan yang ada akan membawa namaku menjulang di Trowulan? Setidaknya kehadiranku mulai dipertimbangkan oleh Sri Jayanegara dan Patih Mpu Nambi. Dan bila itu terjadi, kademangan ini dapat menjadi pijakan menuju kotaraja.”

Dalam rencananya, ia berpikir untuk menjadikan Kademangan Wringin Anom ini sebagai landasan berikutnya bagi perjuangan yang akan memberinya kehormatan serta kejayaan. 

“Patraman, menculik bukanlah jalan terbaik untuk meraih perhatian dari seorang gadis. Engkau bukanlah seorang penyamun. Sebenarnya kita tidak perlu membicarakan masalah ini. Lagipula kita juga telah mengetahui bahwa rasa cinta itu tidak timbul begitu saja karena tunduknya para prajurit dan kekuasaanmu yang besar. Kalau Arum Sari menyukaimu, tanpa seorang prajurit pun dia akan mengangguk pada dirimu.”

“Apa arti cinta itu Laksa? Setiap orang akan memberi jawaban yang berbeda tentang cinta. Kau sentuh ujungnya dan akan berkata cinta itu seperti ekor gajah. Orang lain mengatakan cinta itu lebar seperti telinga gajah. Dan cinta itu adalah omong kosong, Laksa! Aku tak peduli dengan cinta! Sekalipun Arum Sari tak mencintaiku, namun dengan memilikinya aku akan limpahi dirinya dengan cinta yang aku mengerti. Sudahlah, pikirkan rencana untukku. Karena aku yakin seorang Laksa Jaya tidak akan mengecewakan seorang sahabatnya.” Patraman bangkit dan melangkah mendekati jendela. Terik matahari yang begitu panas makin membakar gejolaknya untuk bergegas melakukan apa yang telah ia rencanakan. 

“Ada satu hal yang perlu kamu ketahui kelemahan satu-satunya Ki Demang adalah keluarganya. Sedikit gangguan pada keluarganya akan merusak segala sesuatu yang telah dibangunnya. Dan aku akan mendapatkan keuntungan ketika dia sudah mengacaukan jalan hidupnya sendiri.” Ia membalikkan tubuh dan menghadap lurus Laksa Jaya yang duduk di depannya. Katanya,”ada dua keuntungan yang aku peroleh apabila rencana ini berhasil. Hanya saja aku tidak dapat berpikir jernih untuk pelaksanaan rencana ini.”

“Seperti yang engkau inginkan bahwa engkau berencana menculik lalu membebaskan Arum Sari. Sementara itu dapatkah engkau katakan padaku seperti apa gerak yang kau tempuh?” tanya Laksa Jaya dengan nada datar. 

“Belum. Rencana itu belumlah mantap. Apakah kau mempunyai usulan?” Patraman balik bertanya . 

“Sebenarnya banyak perhitungan yang harus dibuat. Karena engkau akan menggunakan tangan orang lain untuk menculik Arum Sari. Namun situasi akan menjadi buruk bagimu jika mereka tertangkap dan membocorkan rahasia,” jawab Laksa Jaya.

“Jika begitu,” kata Patraman melanjutkan sambil mengelus dagunya,” maka sebaiknya kita gunakan orang kepercayaan kita sendiri untuk mencari orang yang dapat melaksanakan tugas ini dengan baik.” 

“Bagus.”

“Dan aku segera membinasakan gerombolan penculik itu setelah Arum Sari berada di tanganku.” Patraman berkata dengan memicingkan mata dan menatap tajam Laksa Jaya.

“Apakah itu berarti engkau akan menggunakan para pengawal kademangan dan ditambah wewenangmu sebagai lurah prajurit?”

“Benar. Aku berpikir seperti itu. Aku kira orang yang tepat untuk itu adalah Ki Cendhala Geni,” Patraman kemudian meneruskan,”aku dengar dari pembicaraan beberapa lurah prajurit bahwa Ki Cendhala Geni telah melarikan diri ketika disergap pasukan Ki Rangga Ken Banawa di Alas Cangkring.” 

“Dari beberapa petugas sandi,” kata Patraman kemudian,”Ki Cendhala Geni sebenarnya mengikuti perkembangan yang terjadi di kotaraja. Tentu kau juga sudah mendengar bagaimana sikap Ki Nagapati pada Sri Jayanegara. Dan tentu saja untuk orang-orang seperti Ki Cendhala Geni akan mengambil keuntungan dari ceruk yang dalam. Apabila apa yang aku lakukan ini dapat menggapi keberhasilan, sudah barang tentu orang seperti itu akan dapat menjadi penghalang. Maka itu aku kira lebih cepat kita menyingkirkan Ki Cendhala Geni akan lebih baik. Untuk itulah aku akan menyuruh Rajapaksi menemui Ki Banawa untuk menuntaskan kawanan Ki Cendhala Geni. Dengan begitu, kita tidak perlu susah payah memburu Ki Cendhala Geni. Karena jika Ki Banawa telah memburu Ki Cendhala Geni maka satu pekerjaan kita telah diselesaikan oleh Ki Banawa.”

“Bagus! Tidak terpikir olehku untuk menggunakan Ki Banawa dalam menggulung Ki Cendhala Geni,” gumam Laksa Jaya. Kemudian ia berkata lagi,” dengan begitu kita telah mengurangi lagi satu penghalang dengan tangan yang bersih.” 

“Baiklah Laksa Jaya. Siang ini aku segera kirimkan beberapa orang untuk mencari tahu keberadaan Ki Cendhala Geni. Dan tugasmu adalah menemui Ki Cendhala Geni setelah diketahui dimana dia berada,” kata Patraman.

“Iya memang sebaiknya begitu,” ujar Laksa Jaya.

Siang itu juga beberapa orang segera berangkat menelusuri jejak Ki Cendhala Geni dan Laksa Jaya mengadakan beberapa persiapan untuk berbagai kemungkinan yang akan terjadi bila suatu ketika bertemu dengan Ki Cendhala Geni.

Beberapa hari kemudian, Patraman mendapat kabar bahwa Ki Cendhala Geni dan Ubandhana berada di Kahuripan setelah berhasil lolos dari sergapan prajurit yang dipimpin oleh Ken Banawa. 

Pada saat Ki Cendhala Geni dan Ubandhana berhasil meloloskan diri dari sergapan di Alas Cangkring, mereka selama berhari-hari tinggal di sebuah padepokan kecil di tepi hutan Sadang. Oleh karena mereka berlari sepanjang malam maka mereka pun tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar dan terletak di sebelah selatan sanggar padepokan. Tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang masih gelap dan sunyi, Ki Cendhala Geni menggedor pintu yang tertutup rapat. Ia berteriak keras memanggil pemilik rumah. Bahkan ia juga tak segan-segan mengumpati pemilik rumah. Pintu pun terbuka dan seorang lelaki bertelanjang dada keluar dari dalam. Dadanya yang dipenuhi bulu lebat terlihat kekar di bawah sinar lampu minyak.

“Aku sudah menduga jika yang datang adalah kau, Bulawar!” suara parau dan berat terdengar keluar dari tenggorokan lelaki pemilik rumah.

“Dugaanmu benar, Ki Sura Tenggulun,” Ki Cendhala Geni memasuki rumah lalu menghempaskan tubuh di atas sebuah amben bambu sebelum dipersilahkan oleh Ki Sura Tenggulun. Ubandhana termangu-mangu melihat sikap Ki Cendhala Geni lalu bergantian ia memandang Ki Sura Tenggulun.

“Kemarilah, anak muda!” perintah Ki Sura Tenggulun yang melangkah kemudian di belakang Ki Cendhala Geni. Ubandhana menapakkan kakinya ke sebuah lincak kecil yang berada di ujung ruangan. Tak lama kemudian Ki Sura Tenggulun dan Ki Cendhala Geni saling bercerita tentang keadaan masing-masing sampai pada peristiwa penyergapan di Alas Cangkring. Ki Sura Tenggulun tampak tercenung dan alisnya berkerut mendengar kata-kata Ki Cendhala Geni.

“Aku hanya mencoba menghubungkan peristiwa Alas Cangkring itu dengan keadaan di Kahuripan. Aku pikir sebaiknya kau pergi ke sana. Dan nantinya jika kau telah mendengar kabar tentang keadaan Ki Nagapati yang sesungguhnya, kau dapat segera kembali kemari,” berkata Ki Sura Tenggulun.

“Tentu saja tidak mungkin aku akan berbuat seperti yang kau inginkan, Sarkandi,” Ki Cendhala Geni menyebut Ki Sura Tenggulun dengan nama Sarkandi. Lanjutnya,”Ki Nagapati tidak akan pernah dapat aku gunakan sebagai senjata yang dapat mengarah tepat ke kotaraja. Akan tetapi, aku akan tetap berada di belakangmu jika memutuskan untuk membantu Ki Nagapati.”

“Begitukah? Baiklah, kapan kau akan memasuki Kahuripan?” tanya Ki Sura Tenggulun.

“Aku akan merebahkan tubuh sesaat disini. Dan aku akan berada di tempat ini untuk beberapa pecan ke depan.” Ki Cendhala Geni menjawab sambil membaringkan tubuhnya yang masih basah dengan keringat. Ki Sura Tenggulun pun mempersilahkan Ubandhana beristirahat sementara ia akan kembali ke biliknya. Demikianlah keadaan mereka bersembunyi di sebuah padepokan kecil yang jauh dari pengamatan orang. Mereka bekerja sebagaimana petani hanya saja mereka selalu kembali ke padepokan sebelum matahari mencapai puncak.

Matahari telah cukup tinggi akan tetapi arak-arakan mendung rupanya sedikit menolong Ki Cendhala Geni dan Ubandhana yang telah memasuki dinding kota Kahuripan. Dalam waktu beberapa hari mereka mendatangi satu per satu kawanan penyamun yang bersarang di dalam kota. Ki Cendhala Geni menggunakan kekuatannya untuk memaksa para pemimpin penyamun agar tunduk padanya. Meski begitu, agaknya ketua-ketua dari kelompok penyamun tidak ada yang memaksa diri untuk melawan Ki Cendhala Geni. Rupanya Ki Cendhala Geni telah mengatur pembagian hasil dan wilayah bagi setiap kawanan penjahat, bahkan tak jarang Ki Cendhala Geni terlibat perkelahian untuk membebaskan penjahat-penjahat yang tertangkap oleh prajurit. Sepak terjang Ki Cendhala Geni dan Ubandhana telah terdengar hingga pelosok Kahuripan dalam waktu beberapa pekan saja. 

Dalam waktu tak berapa lama, orang-orang yang mempunyai kegemaran sama dengan kedua orang itu mulai mendatangi Kahuripan untuk berbicara untuk bekerja sama dan menyatakan diri mereka berada di bawah pimpinan Ki Cendhala Geni. Lambat laun keadaan ini menjadikan sejumlah penduduk pergi meninggalkan Kahuripan. Mereka telah merasa tidak ada keamanan di Kahuripan. Bahkan sejumlah prajurit Majapahit termasuk beberapa pemimpinnya sering terlihat bergabung dalam kelompok itu. Keadaaan ini telah tersiar sampai ke telinga para pemimpin Kahuripan. Berulang kali mereka menggelar pertemuan untuk membicarakan keadaan ini namun belum juga melakukan sesuatu yang dapat mengembalikan rasa aman bagi rakyatnya. 

“Mungkin ini saatnya aku meminta bantuan dari kotaraja,” kata Bhre Kahuripan pada suatu ketika di depan para senapati. Mereka yang mendengarnya masih terdiam menunggu kelanjutan kata-kata Bhre Kahuripan.

“Bukankah kekuatan kita masih dapat mengusir mereka keluar, Sri Batara Dyah Gitarja?” berdiri seorang perwira berpangkat rendah yang berusia muda.

“Tidak! Kekuatan kita telah berkurang semenjak Tiro Dharma membawa keluar pasukannya bergabung dengan Ki Cendhala Geni,” berkata Bhre Kahuripan dengan sedikit sesak dalam dadanya. Ia mengakui dalam hatinya,”salah satu sebab yang membuat Tiro Dharma keluar dari keprajuritan adalah aku menolak permintaannya untuk menambah kesejahteraan bagi prajurit. Akan tetapi seharusnya ia juga harus mengerti bahwa penolakan itu juga karena ulah Ki Cendhala Geni yang terang-terangan menguras pedukuhan Sengon yang selama ini menjadi lumbung Kahuripan. Dan memang harus aku akui perampokan di siang hari itu benar-benar memberi coreng hitam di wajahku.” Bhre Kahuripan menarik nafas panjang.  

“Baiklah, ini untuk pertama dan terakhir kali aku meminta semua senapati yang hadir di paseban ini. Untuk kalian yang ingin mengikuti jejak Tiro Dharma, aku minta untuk berdiri dan membawa semua pasukan serta peralatan kalian. Sekarang!” suara Bhre Kahuripan menggelegar menghantam setiap jantung senapati yang berdetak. Ruangan seketika menjadi senyap. Para senapati hanya saling bertukar pandang. Namun tiba-tiba dua orang senapati yang berusia sekitar empat puluh tahun bangkit berdiri lalu meninggalkan ruangan. Mereka melangkah tegap dan seakan digerakkan oleh sebuah keyakinan yang sangat kuat. Kemudian sepeninggal kedua orang itu, orang-orang kembali bersuara seperti dengung lebah.

“Apakah ada lagi yang akan mengikuti Gajah Praba dan Pragola?” suara Dyah Gitarja Bhre Kahuripan kembali menggelegar dengan tangan terkepal menahan geram di hatinya. Pengaruh perempuan muda ini seakan mampu membuat lantai bergetar dan mampu menghempaskan orang-orang untuk kembali menyadari keadaan. Beberapa lama kesunyian kembali mencekam.

“Siapa lagi?” untuk ketiga kali ia menghantam dada setiap orang dengan suara yang penuh kegeraman. Sementara itu mata perempuan yang menjadi penguasa teringgi Kahuripan menebar pandangan dengan sorot penuh amarah. Setelah beberapa lama tidak ada seorang pun yang bersuara, Dyah Gitarja berjalan dengan langkah lebar meninggalkan ruangan. Bhre Kahuripan sebelumnya tidak pernah menduga jika kelonggaran yang ia berikan kepada para pemimpin prajurit justru telah dijadikan pijakan mereka untuk bersaing dalam pekerjaan yang tidak semestinya.

Seseorang yang berusia tiga kali lebih banyak dari Bhre Kahuripan menatap kepergian pemimpinnya itu dengan kebencian. Ia berkata dalam hatinya,”sebentar lagi kau akan menyesal, penguasa kabur kanginan. Kau sungguh-sungguh akan menyesal.” Senyumnya yang licik ia sembunyikan dalam-dalam di balik kepala yang menunduk. Seraya mengelus logam emas yang berukiran kepala ular naga di sabuknya, ia kemudian mengangkat wajah dan melihat ke sekelilingnya.

Tak lama kemudian seorang senapati yang berusia lanjut maju ke depan. Ia meminta semua orang meninggalkan ruangan. Ia berkata dengan suara lantang,” aku adalah senapati yang paling tua diantara kalian. Kini aku minta kalian membubarkan diri dan kembali ke pekerjaan masing-masing.”

Ketika bulan tidak tampak di langit dan mendung gelap menutupi Kahuripan, seorang prajurit keluar dari kota dan berkuda menuju ke sebuah pedukuhan di sebelah barat kota. Pakaian prajurit yang ia kenakan telah membuatnya dapat keluar dari kota tanpa banyak kesulitan. Setiap peronda hanya menyapa tanpa bertanya lebih jauh. Seperenam malam ia menunggang kuda dan akhirnya berhenti di depan regol pedukuhan. Seorang pengawal pedukuhan yang sedang berjaga telah menghentikannya. Prajurit itu turun dari kuda dan membisikkan sesuatu. Pengawal itu tiba-tiba tersenyum lebar sambil memasukkan keping emas ke dalam sabuk yang melilit pinggangnya. Kembali prajurit itu meneruskan perjalanan dan sejenak kemudian ia telah tiba di depan rumah dengan halaman yang luas. Dari mulutnya, ia menirukan suara burung kepodang tiga kali berturut-turut. Tak berapa lama kemudian pintu di depan rumah itu sedikit terbuka. Secercah cahaya keluar dari celah sempit pintu yang terbuka. Prajurit itu melompat turun dari kuda dan berjalan cepat memasuki rumah.

“Apa pesan Ki Srengganan?” suara parau terdengar dari sudut yang gelap.

“Ki Cendhala Geni harus segera mempersiapkan semua orang. Ki Srengganan akan memberi tanda bagi kiai untuk segera memasuki kota dan memutus semua jalan,” kata prajurit itu dengan kepala menunduk dalam-dalam.

“Baiklah. Katakan padanya, aku akan bersiap tiga hari lagi.”

“Tidak kiai. Ki Srengganan meminta kiai telah siaga dalam dua hari ke depan,” kata prajurit dengan kepala masih menunduk. Ia merasa keringatnya merembes keluar. “Aku memang sial karena melewati malam dengan menemui iblis tua ini,” keluhnya dalam hati. Ia segera berharap dalam hatinya agar tidak terjadi hal buruk yang menimpanya selagi masih berada di dalam rumah. Karena ia tahu jika orang bersuara parau itu dapat membunuhnya kapan saja seperti menepuk seekor nyamuk. 

“Baiklah. Katakan padanya, aku menunggu tanda baik darinya. Pulanglah sekarang!”

“Baik, Ki. Aku mohon diri,” prajurit itu mengucapkan kata-kata masih dengan kepala menunduk. Segera ia memutar tubuh dan melangkah keluar kemudian memacu kudanya seperti saat ia meninggalkan barak prajurit.

Sepeninggal prajurit itu, Ki Cendhala Geni memerintahkan semua orang yang berada di dalam rumah untuk berkumpul di sanggar. Maka menjelang malam hari, telah berkumpul banyak orang di dalam sanggar. Mereka membicarakan langkah-langkah yang dapat dijalankan untuk mengambil alih Kahuripan yang akan ditinggalkan Bhre Kahuripan untuk pergi ke kotaraja. Bersamaan dengan pembicaraan yang dipimpin Ki Cendhala Geni, di barak prajurit pun juga berlangsung pertemuan para senapati yang dipimpin oleh Ki Srengganan.

Selama dua hari keadaan kota Kahuripan seperti tidak terjadi adanya persiapan yang akan mengguncang perasaan. Para petani, pedagang dan para pegawai kerajaan masih melakukan kegiatan sebagaimana biasa mereka lakukan. 

Pada saat hari menjelang siang, Bhre Kahuripan yang disertai belasan pengawal berkuda berangkat menuju kotaraja. Sebelum itu, ia mengumpulkan para senapati dan memberikan pesan yang harus mereka patuhi. Bergantian dengan para senapati, ia juga mengadakan pembicaraan dengan sejumlah tumenggung yang akan menggantikannya melakukan beberapa tugas. Setelah ia merasa cukup untuk peralihan sementara, maka ia bergegas menyiapkan diri berangkat ke kotaraja.

Pada hari ketiga sebelum bintang mulai meredupkan cahayanya, sebuah kelompok besar beriringan berjalan kaki menuju Kahuripan. Mereka berjalan dengan senjata telanjang dan nyaris tidak terdengar suara dari kelompok besar itu. Di sebuah simpang tiga, mereka membagi diri dan memasuki Kahuripan dari tiga arah. Ki Srengganan telah mempersiapkan jalan masuk bagi mereka dan ketika fajar mulai menyingsing keadaan Kahuripan telah dikuasai Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni tanpa pertumpahan darah! Akan tetapi di luar sepengetahuan mereka, seorang perwira berpangkat rendah dapat pergi meninggalkan Kahuripan yang dijaga sangat rapat. Perwira ini ini adalah perwira muda yang berbicara langsung dengan Bhre Kahuripan beberapa waktu yang lalu. Ia memanfaatkan suasana yang sedikit lengah ketika terjadi pergantian penjaga dan peronda untuk menghilang di gelapnya malam lalu keluar dari Kahuripan. Ia memang tidak tinggal di barak prajurit karena ia hanya berkedudukan sebagai senapati cadangan dalam susunan prajurit di Kahuripan. Waktu itu setelah Kahuripan dikuasai kawanan Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni, di setiap jalan-jalan besar selalu ada kelompok prajurit yang bercampur dengan orang-orang Ki Cendhala Geni yang berjaga-jaga. Sementara jalanan setapak yang bercabang-cabang selalu saja ada kelompok peronda yang mengawasi, maka dengan demikian nyaris tidak ada celah yang dapat dimanfaatkan untuk keluar atau masuk kota Kahuripan. Senapati ini berjalan kaki menyusur jalan menuju kotaraja menyusul rombongan Bhre Kahuripan yang telah berangkat sehari sebelumnya.

Demikianlah keadaan Kahuripan ketika kuda Laksa Jaya menapak masuk gerbang kota. Seorang prajurit dengan tombak yang telah merunduk bergegas menghampirinya.

“Aku melihatmu dalam pakaian seorang prajurit, Ki Sanak. Sebutkan namamu dan asalmu!” perintah prajurit itu. Laksa Jaya mengernyitkan keningnya bertanya-tanya dalam hati.

“Menurutku telah jelas, Ki Sanak. Aku seorang prajurit Majapahit dan kau dapat mengetahui itu dari tanda tempatku berasal,” jawab Laksa Jaya sambil menunjukkan kain yang terjahit di depan pakaian yang ia kenakan.

“Tidak. Aku ingin mendengarmu sendiri berkata darimana kau berasal!” sahut prajurit itu dengan mata sedikit melotot. “Sombong!” hampir saja tangan kanan Laksa Jaya yang mengembang itu menampar muka prajurit yang berdiri di depannya. Namun ia masih dapat menguasai diri dengan melihat kepentingan yang lebih besar daripada sekedar menuruti keinginan hatinya.

“Namaku Laksa Jaya. Berasal dari barak prajurit di Wringin Anom,” akhirnya suara Laksa Jaya keluar dengan getar penuh gejolak. Prajurit itu berjalan memutari Laksa Jaya dengan mata melihat dari kepala hingga ujung kaki. Sekilas ia melihat kuda Laksa Jaya lalu berkata,”baiklah, aku akan melapor kepada pemimpinku. Sementara kau dapat menunggu di gardu jaga.” Ia berjalan meninggalkan Laksa Jaya yang masih berdiri tegak dan menahan rasa marah yang nyaris saja meledak. Sesaat kemudian Laksa Jaya mengikuti prajurit itu dan memasuki gardu jaga dengan perasaan yang belum mengendap.