Episode 20 - Kelompok Daun Biru (2)



Malam belum terlalu larut, namun sepi telah menyelimuti kawasan perumahan elit di selatan kota Jakarta. Deretan rumah semegah istana kokoh menyembunyikan penghuninya dari pandangan dunia luar. Hanya temaram lampu yang terhalang gordyn menembus malu-malu dari dalam rumah. Tipikal perumahan mewah yang bahkan tetangga sebelah rumah saja tidak saling mengenal. 

Di ruang kerja dalam salah satu rumah mewah tersebut, seorang lelaki berusia akhir tiga puluhan tampak duduk di meja kerja sambil sibuk membaca lembar demi lembar kertas laporan dengan dahi berkerut. Kacamatanya melorot menuju ujung hidungnya, namun tak sedikitpun lelaki itu memperdulikannya. Seluruh perhatiannya telah tersita pada tulisan demi tulisan yang ada dalam laporan tersebut.

Sementara di belakang lelaki itu berdiri seorang pemuda berusia akhir dua puluhan dengan kedua tangan dibelakang tubuhnya, persis seperti sikap istirahat seorang tentara. Mata pemuda itu juga tak lepas dari laporan yang dibaca lelaki di depannya. 

Tiba-tiba saja, smartphone yang ada di dalam kantung si pemuda bergetar tanda ada telepon yang masuk. Dia segera mengambil smartphone dari kantungnya dan memeriksa siapa yang menelepon dirinya malam-malam begini. Dari layar smartphonenya, dia mendapati nama Arie di situ. 

“Siapa?” Lelaki yang duduk dikursi bertanya. 

“Arie,” jawab si pemuda singkat.

“Kenapa dia menelepon malam-malam begini? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan kompetisi tiga perguruan?” gumam lelaki di kursi sambil mengisyaratkan agar pemuda tersebut mengangkat telepon dari Arie. 

Pemuda tersebut segera mengangkat telepon dari Arie dan mengaktifkan mode speaker agar lelaki yang duduk di kursi juga dapat mendengar pembicaraan mereka. 

“Ya, Rie?” 

“Mas Arman, ada yang perlu saya laporkan mas.” Suara Arie dari seberang telepon.

“Apa yang mau kamu laporkan Rie?” Pemuda yang dipanggil Arman mengerenyitkan keningnya. Dia tahu betul sifat Arie, anak itu tidak akan membuang-buang waktu melapor pada dirinya jika persoalan yang dihadapi adalah persoalan remeh-temeh. Jadi jelas ada sesuatu yang besar tengah terjadi di kompetisi tiga perguruan.

Arie segera memberikan laporan mengenai kejadian di kompetisi tiga perguruan dan kemunculan Riki yang telah menguasai pengolahan tenaga dalam tahap penyerapan energi tingkat ketiga. 

“Penyerapan energi tingkat ketiga?”

“Ya, Shinta bertarung dengan orang itu untuk memastikannya. Aku menyaksikan sendiri pertarungan mereka. Dapat kupastikan dia telah mencapai puncak penyerapan energi tingkat ketiga. Mungkin tak lama lagi dia akan mencapai tahap penyerapan energi tingkat keempat. Setingkat denganku.”

Kata-kata itu meluncur pelan dari speaker smartphone. Namun Arman dan lelaki yang duduk di kursi dapat mendengarnya dengan jelas. Keduanya saling pandang satu sama lain demi mendengar penjelasan Arie. Kompetisi tiga perguruan adalah event internal dibawah kendali Kelompok Daun Biru. Karena skala kompetisinya kecil dan hanya orang-orang yang berada dalam lingkaran tiga perguruan saja yang dapat mengikutinya, tidak pernah ada orang-orang dari dunia persilatan yang turut serta dalam kompetisi tersebut, kecuali yang berasal dari Kelompok Daun Biru sendiri seperti Shinta dan Arie. 

Lagipula, siapa pendekar dunia persilatan yang mau mengikuti kompetisi silat dunia awam? Tapi kini tiba-tiba saja ada seorang pendekar tak dikenal yang muncul dan bertarung dan menginterupsi pertarungan Shinta di tengah arena? Ditambah lagi, dia telah mencapai tahap penyerapan energi tingkat ketiga dan kemungkinan akan naik menjadi tahap penyerapan energi tingkat keempat tak lama lagi. 

Dalam dunia persilatan di kawasan kota Jakarta, meskipun pendekar tahap penyerapan energi tingkat ketiga tidak terlalu sulit ditemukan. Namun tahap penyerapan energi tingkat keempat termasuk dalam golongan elit. Mereka menduduki posisi yang cukup penting dalam kelompok-kelompok dunia persilatan skala kecil, termasuk dalam Kelompok Daun Biru. Tidak heran jika Arie merasa perlu melaporkan keberadaan Riki yang hampir mencapai penyerapan energi tingkat keempat di kompetisi tiga perguruan.

“Menurutmu dia mata-mata?” Arman tampak ragu-ragu dengan pertanyaannya sendiri.

“Saya nggak yakin mas, dia terlalu mudah menunjukkan jati dirinya sebagai pendekar dunia persilatan. Lagipula, pihak mana yang mau memata-matai kita?” Arie mengulangi jawaban seperti yang dia berikan ke Shinta. 

“Lalu apa tujuannya datang ke kompetisi tiga perguruan?”

“Saya juga belum tahu pasti, tapi dia bilang kalau dia adalah bagian dari Perguruan Gagak Putih, karena itu dia ikut dalam kompetisi tersebut.” terang Arie lagi.

Arman tampak tertegun, begitu pula dengan lelaki yang duduk di kursi. Tampaknya jawaban yang diberikan Arie terlalu sulit untuk diterima oleh mereka. Apakah itu berarti bahwa Riki, pendekar tahap penyerapan energi tingkat tiga, adalah murid Perguruan Gagak Putih? Sejak kapan Perguruan Gagak Putih melatih pengolahan tenaga dalam?

“Apa Arya Wiratama tahu ada praktisi pengolahan tenaga dalam di perguruannya? Berapa lama dia menjadi murid Perguruan Gagak Putih?”

“Paman Arya tidak tahu-menahu, dan dari informasi yang diberikan oleh paman Arya, dia telah bergabung dengan Perguruan Gagak Putih sejak tiga bulan terakhir. Selain itu dia mengikuti seluruh latihan secara normal sebagaimana murid-murid lainnya.”

Arman tampak mengangguk-ngangguk pelan. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada lelaki yang duduk di kursi, seolah meminta pendapat dari lelaki tersebut. 

“Gali informasi tentang orang tersebut, cari tahu latar belakangnya. Dimana dia tinggal, siapa keluarganya, darimana dia belajar pengolahan tenaga dalam, cari tahu segalanya tentang dia.” Lelaki yang duduk di kursi langsung memberikan instruksi pada Arie.

“Baik!” Arie menjawab dengan cepat.

Tak lama kemudian, Arman memutus hubungan telepon dengan Arie. Kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada lelaki yang ada di kursi. 

“Situasi dunia persilatan semakin kacau semenjak kehancuran Sekte Pulau Arwah, dan kekacauan itu sudah mulai merambat ke Jakarta.” Lelaki yang duduk di kursi bergumam pelan sambil menndorong tubuhnya pada sandaran kursi. 

“Hancurnya Sekte Pulau Arwah sebagai salah satu dari enam kelompok terkuat di dunia persilatan telah menyebabkan keseimbangan kekuatan dalam dunia persilatan terganggu. Kelompok-kelompok dunia persilatan yang menjadikan Sekte Pulau Arwah sebagai patron menerima dampak yang paling signifikan. Musuh-musuh mereka yang selama ini takut pada kekuatan Sekte Pulau Arwah kini juga mulai bergerak, tak perlu waktu lama sebelum kelompok-kelompok itu dihancurkan satu per satu. Perserikatan Tiga Racun sebagai bawahan Lembah Racun Akhirat juga mulai mempertajam cengkraman mereka di Jakarta,” 

Arman menghela nafas pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Semenjak Sekte Pulau Arwah dihancurkan, kondisi dunia persilatan semakin tidak kondusif. Meskipun sebagai sebuah kelompok kecil, Kelompok Daun Biru tidak ada sangkut pautnya dengan perseteruan tersebut, bentrokan antar pendekar makin sering terjadi dan akhirnya sedikit banyak mempengaruhi kelompok mereka. Bahkan beberapa anggota kelompok mereka telah terlibat dalam pertarungan tersebut. 

“Kalau begitu, kita harus segera mengumpulkan seluruh anggota untuk membicarakan langkah yang perlu di ambil dalam situasi ini.”

“Kau benar Man. Segera informasikan pada seluruh anggota untuk berkumpul… Besok malam.” 

“Baik… Bagaimana dengan pendekar di kompetisi tiga perguruan itu?”

“Kita tunggu kabar dari Arie, kita perlu mengetahui lebih dulu dari kelompok mana dia berasal. Dan apa tujuannya masuk ke dalam Perguruan Gagak Putih dan kompetisi tiga perguruan.” 

Arman terdiam sebentar, kemudian kembali melayangkan pertanyaan pada lelaki yang duduk di kursi.

“Bagaimana jika apa yang dikatakan oleh Arie benar. Jika benar statusnya hanya sebagai murid Perguruan Gagak Putih?”

“Kita lihat saja nanti,” jawab lelaki yang duduk dikursi sambil tersenyum tipis.


***


Setelah bertemu dengan Shinta dan Arie, aku kembali menuju penginapan Perguruan Gagak Putih. Aku memasuki penginapan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Di dalam penginapan, kawan-kawan kelompokku tengah asyik berbincang-bincang di atas kasur yang dihamparkan di lantai. 

Saat aku datang, mereka langsung menghentikan perbincangan mereka. Namun hal itu hanya terjadi sekejap saja. Dimas langsung berdiri dan menyambutku, bahkan melingkarkan tangannya ke bahuku. 

“Rik, ngomong-ngomong lu belajar silat dimana sih sebelumnya?” tanya Dimas sok akrab. 

“Iya Rik, hebat lu bisa nandingin kehebatan Shinta. Gue aja sampe bengong ngeliatnya. Kok lu ngga pernah ngasih tau kalo lu sehebat itu?”

“Ahahaha… Sorry gue ngga bisa ceritain.”

Aku hanya bisa tertawa mendengar ucapan kawan-kawanku. Meskipun sebenarnya aku juga ingin menceritakan pengalamanku hingga menjadi praktisi pengolahan tenaga dalam. Namun jelas mereka tidak memiliki kualifikasi untuk mendengar ceritaku. 

Dan kulihat teman-teman kelompokku ini meskipun tampak kecewa, namun tak terlalu memikirkannya. Mungkin mereka berpikir masih ada lain kesempatan untuk menggali informasi itu dariku. 

“Tapi, dengan kemampuan sehebat itu, bisa jadi lu murid paling kuat di perguruan kita Rik. Orang bang Ardi aja bilang dia nggak yakin bisa ngelawan Shinta.”

“Masa, sih?” 

“Iya bener, gue denger sendiri.”

Tak lama kemudian, murid-murid lain yang kebetulan satu penginapan dengan kami satu demi satu berkumpul dan ikut mendengarkan celoteh kawan-kawanku. Malam itu, murid-murid Perguruan Gagak Putih memandangku sedikit berbeda. Bahkan beberapa orang tak malu-malu lagi menganggapku sebagai senior dan meminta berbagai petunjuk terkait dengan jurus-jurus silat padaku. Tiba-tiba saja, aku merasa kejadian di sekolah sewaktu baru kembali dari penculikan Sadewo terulang lagi, hampir semua orang bertanya dengan penuh rasa penasaran padaku seolah aku hewan eksotik yang berhasil lolos dari kepunahan. 

Untungnya, kawan-kawan kelompokku selalu menyelingi perbincangan kami dengan candaan. Bahkan tidak jarang mereka membantuku mengalihkan pembicaraan. Mungkin karena mereka paham aku telah berlatih silat sebelum bergabung dengan Perguruan Gagak Putih dan tidak ingin mengungkapkan darimana aku belajar silat. 

Keesokan harinya, kompetisi tiga perguruan dilanjutkan kembali pagi-pagi sekali. Entah kenapa, aku merasa pertarungan hari ini jauh lebih meriah dibandingkan hari kemarin. Mungkinkah karena mereka merasa tersulut oleh pertarungan singkatku dengan Shinta di arena kemarin?

“Hei!” 

Seseorang menepuk pundakku dari belakang dengan keras sekali hingga menimbulkan suara seperti tamparan. Saat kualihkan pandanganku ke belakang, Shinta telah berdiri di belakangku sambil nyengir kuda.