Episode 67 - “Memangnya kenapa...?”



Sebuah teriakan menggema di sekitar – untung saja tak ada orang lain yang bisa mendengar. Kalau ada, mungkin mereka akan salah beranggapan dengan teriakan barusan sebagai pertanda rasa sakit. Namun sebaliknya, itu adalah teriakan pertanda tidak percaya bercampur dengan rasa malu yang sangat.

“Kenapa kau gak bilang kalau itu dia!?”

Euis menempelkan tubuhnya pada Rian. Dua tangannya menggenggam bahu, dan kepalanya disembunyikan di dada bidang milik Rian. Dia melakukan hal itu sambil mengguncang-guncangkan tubuh yang dia tempel, berharap kalau rasa malunya bukanlah kenyataan.

“Memangnya kenapa...?”

“Memangnya kenapa bagaimana?!”

“Bukannya kau juga panggil aku kaya gitu sewaktu aku sama kawanku yang lain, memangnya kenapa kalau itu Beni?”

“Jangan berkata seenteng itu. Ini Beni loh, Beni!”

“Bukannya gak ada bedanya. Ini Beni aja kok.”

Kepala yang mendekap paksa di tubuhnya terus mengeluarkan uap panas. Seperti sebuah mesin yang berada dalam kondisi parah setelah menerima guncangan yang hebat. Membuat dekapannya menjadi semakin erat seiring bayangannya kembali terus mengingat kejadian barusan.

“Sakit tau.”

Dengan permintaan ampun yang sederhana itu, Euis akhirnya melonggarkan dekapannya. Dia juga mulai melepaskan tangan yang melingkar di tubuh bidang Rian, mundur sedikit untuk memberikan jarak.

“Udah tenang?”

Rian bertanya dengan santainya, meskipun Euis belum terlihat seperti apa yang ditanyakan. Pipinya masih bersemu merah, dan dia masih belum bisa berhenti menundukkan wajah.

Dan tiba-tiba, dia menepuk pipinya sendiri. Rian hanya bisa melihat dengan heran kenapa dia harus menyakiti dirinya sendiri.

“Nah! Sampai mana kita tadi?!”

“Sampai kau manggil aku pakai panggilan aneh itu.”

“A-ak! Jangan disinggung lagi dong!”

Euis berteriak cukup kencang dengan bertingkah seperti anak kecil yang kesal. Dan untuk kedua kalinya dia menahan rasa malunya dengan jongkok sambil menutup wajah.

---

“Perayaan Festival Ulang Tahun Sekolah?”

“Emm, oh iya, walaupun dulu kau sudah sering menggantikan posisi Bagas di kursi kerja, kau belum pernah berada dalam rapat seperti itu ya!”

“Memangnya Bagas pernah hadir ke rapat itu.”

“Enggak sih.”

Ekspresi datar yang menunjukkan kekesalan mulai terlihat setelah Euis mengatakan hal itu.

“Yah, hahaha, gimana bilangnya, itu cuma untuk memberikan peran-peran aja pada semua anggota.”

“Peran dalam acara itu maksudnya?”

“Emm.”

“Terus peran Bagas apa...”

---

“Penjaga keamanan...?”

“Huahahaha! Maaf kalau itu pekerjaan yang gak enak, Rian, tapi kalau kau tanya, ya, memang posisi itu yang diambil, atau bisa dibilang diberikan ke Bagas.”

“Tapi, gimana...”

Di hadapan salah satu temannya, yang juga berada dalam posisi yang sama sepertinya – salah satu pangeran – dia sedikit tak percaya dengan peran yang diembankan padanya.

“Kau tahu sendirikan, menjadi penjaga keamanan itu berarti kau gak bisa cukup puas buat menikmati acara. Dan bukannya disengaja, tapi ini Bagas sendiri yang mutusin itu untuk dirinya sendiri sebelum rapat dimulai.”

“Sebelum rapat dimulai...?”

“Aku tahu kalau dia bukan orang yang bakal ambil semua kesusahannya sendiri, jadi aku juga kasih beberapa tugas kecil kepada anggotaku secara bergilir untuk membantu peran itu.”

Dia adalah pemuda yang dapat menyatukan seluruh brandalan yang ada di sekolah. Berdiri paling puncak dalam jurusan Teknik Kendaraan Ringan. Memiliki tubuh dan tinggi yang terbilang mengungguli Rian, bahkan kepintarannya tak dapat diremehkan meskipun dulunya dia termasuk dalam kelompok brandalan yang tak peduli dengan sekolah.

“Tapi, kita bisa tukaran kalau kau mau.”

“...Enggak usahlah. Semua pekerjaannya juga udah dibagi-bagi kok. Aku cuma kesal aja, katanya rapat, tapi yang dikerjain cuma ngocok kertas dalem botol, kaya mak-emak arisan.”

Kelihatannya bukan hanya dia yang merasa seperti itu. 

“Hahaha, awalnya kami semua juga kaget dan kesal karena itu. Tapi Si Penasihat dan Si Tuan Muda menjelaskan secara rinci gimana cara kerjanya, dan yah, jadinya kaya gini deh.”

Mendengar keterlibatan dari dua orang paling berpengaruh di sekolah, Rian menenangkan diri dan bertanya sekali lagi.

“Oh iya, yang kutanyakan ini memang sudah jelas sih, tapi apa dua orang itu perlu gitu ikut pemilihan.”

Perasaan heran juga meliputi lawan bicaranya. Mengingat kalau salah dua orang paling berpengaruh di sekolah itu bisa saja menempatkan diri mereka di mana pun yang mereka inginkan, tetapi dengan akrabnya mereka memasukkan tangan ke dalam kotak pemilihan dan mengambil secarik kertas yang akan menentukan posisi mereka.

“Ya, aku juga bertanya-tanya tentang itu.”

“Yah, udahlah, kurang kerjaan banget mikirin yang begituan.”

“Hhaha, memangnya siapa yang mulai. Eh tapi, apa kau gak apa-apa soal itu. Kami memang sengaja gak masukin kertas Penjaga Keamanan ke dalam kotak dan membiarkanmu gak ikut dalam permainan, tapi kalau kau mau aku bisa aja bujuk semuanya untuk mengulang.”

“Enggak usah, memangnya apa yang susah dari menjaga keamanan.”

“Hmm, iya juga sih. Kalau itu kau, kau cuma perlu ngelakuin kaya Bagas aja, walaupun dengan sedikit usaha lebih sih.”

Mendengar nama sahabatnya disebutkan oleh seseorang yang tak biasa dekat dengannya, Rian dengan spontan memunculkan tanda tanya di atas kepalanya.

“Memangnya dia ngapain aja kalau lagi bertugas?”

“...Susah bilangnya. Tapi coba bayangin, dia berjalan dengan membuat dirinya dilihat oleh semua orang. Asap hitam seolah-olah muncul setiap kali kakinya melangkah. Tatapan matanya seperti mengatakan “Aku akan menghabisimu kalau kau membuat keributan”, begitu.”

Rian merenungkan kembali apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya. Dalam batas normal, hal itu tentu saja tak terjadi bagaimanapun caranya – kecuali menggunakan beberapa trik semacam sulap. Namun, jika hal itu dibayangkan seperti yang dikatakan, maka hasilnya sudah jelas.

“Apa memang kaya gitu...?”

“Ya, gitulah.”

Mereka berdua menyematkan sesaat apa yang keluar dari mulut mereka – suara. Dan setelah beberapa saat.

“Ooi!”

Suara seorang gadis hype terdengar memanggil mereka berdua.

“Nah, begitulah.”

“Ya, makasih informasinya.”

“Tenang aja. Oh iya, kalau ada brandalan-brandalan yang datang padamu, tolong sambut mereka.”

Lawan bicaranya berjalan pergi dengan melambaikan tangan sembari memunggunginya. Hal keren yang dilakukan oleh seorang pemuda yang dulunya merupakan brandalan yang tak menyukai aturan.

“Hei, kenapa dia pergi?!”

“Enggak, cuma kehabisan bahan bicaraan aja.”

Mereka berada tak jauh dari ruang pertemuan. Awalnya Rian hanya ingin menunggu Euis yang tengah membicarakan rencana dengan beberapa orang yang bekerja sama dengannya. Tetapi penantiannya menjadi sebuah obrolan kecil dengan salah satu orang yang paling berpengaruh di sekolah.

“Hm, memangnya apa yang kalian bicarakan? Tunggu dulu, apa ini soal peranmu sebagai penjaga keamanan. Kalau iya kau bisa memintaku untuk-“

Selagi berjalan, Euis bicara dengan volume yang cukup cepat. Tetapi sebelum dia menyelesaikan perkataannya Rian menyela dengan mengangkat tangannya sebahu.

“Kami udah bicarain itu tadi, dan aku gak niat buat ngulangi pemilihannya.”

“’Apa kau yakin...?”

“Ya, dan kau gak perlu khawatir.”

Awalnya dia merasa khawatir dengan apa yang diterima sahabatnya tanpa persetujuannya. Tetapi perasaan khawatir itu berubah menjadi cemas.

“Yah, aku bukannya khawatir denganmu yang bertugas sebagai petugas keamanan. Tapi lebih ke arah, bagaimana kau menanggapi pemilihan itu.”

Euis menunjukkan kecemasannya, tetapi sebuah telapak tangan memukul dengan lembut ke arah dahinya. Membuatnya memejamkan mata lucu karena terkejut.

“Udah kubilang kau gak perlu khawatir kan.”

Kata-kata itu diucapkan bukan sebagai bentuk kepercayaan diri saja, tetapi terdapat perasaan kuat yang mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Ngomong-ngomong Rian mengatakan hal keren seperti itu tanpa melihat ke arah Euis.

“Hei jangan ambil semua bagian kerennya untuk dirimu sendiri dong!”

Euis mengatakan itu dengan sedikit menyikut tangan kiri Rian.

“Bagian keren...?”

“Yah, sudahlah. Oh iya, bagaimana dengan progress-mu untuk ke depan mengenai Penjaga Keamanan itu?”

“Gak ada yang harus dikhawatirin. Kecuali bagaimana aku harus mengatur diri sama orang-orang yang bakal dikirim Yuda.”

Euis menyela dugaannya lebih dulu dengan “~A-aaahh!” lalu membalas.

“Aku ingat kalau dia memang mengirimkan beberapa anak buahnya untuk membantu mengamankan. Memangnya apa yang harus kamu khawatirkan dengan itu?” 

“Bukan, cuma-“

Perkataannya terhenti saat dia melihat seorang pria yang melintas di depan mereka sewaktu mereka berada di tepi perempatan yang dihalangi oleh dinding.

“Pak Elang!”

“Hm, Oo! Adik dari kakak ipar ternyata.”

“Selamat siang!”

“Yo’u! Hmm, ada apa?”

Rian yang pertama kali menyapa dan membuatnya berhenti berjalan. Euis mengucapkan salam dengan riangnya, Elang membalas salam dari Euis namun datang setelahnya ekspresi bertanya yang di arahkan pada ketua kelas dari kelas yang di wakilinya.

“Enggak, memangnya kenapa kau harus tanya kaya gitu?”

“Enggak, aku cuma heran kenapa ekspresimu aneh kaya gitu?”

“Ha-! Apanya yang aneh?”

“Tak biasanya kau menurunkan alismu sewaktu sedang berpikir. Apa kau lagi mengalami masalah?”

Euis memang tak begitu mengenal Elang sebaik Rian, tetapi ketika keduanya bertemu dan tak ada orang lain – orang yang tak begitu dekat dengan mereka – berada di sekitar, maka cukup bisa dianggap kalau sikap mereka satu sama lain itu...

“Aneh!”

“Kau juga menganggapnya seperti itu?”

Euis mengeluarkan apa yang ada di pikirannya ketika dia melihat wali dan ketua kelas itu saling balasan yang tak seperti dilakukan oleh wali dan ketua kelas – murid dan guru yang seperti biasanya.

“Maksudku, sikap kalian. Apa kalian memang bersikap satu sama lain seperti ini sewaktu gak ada orang lain di sekitar kalian?”

“Pertanyaan yang bagus Dik Euis, tapi yah bisa dibilang, ini terjadi tanpa ada kesengajaan sedikitpun. Kami tanpa sadar sudah melakukannya seperti ini, dan lama kelamaan yah, seperti yang kamu lihat sekarang. Seperti tak ada batasan antara murid dan guru saat kami bicara bukan?”

Euis mengiyakan apa yang dikatakan Elang dengan sekali anggukan dan wajah mengerti – mulut sedikit menganga dan mata tak berkedip sewaktu mendengar penjelasan Elang.

“Nah kembali ke topik awal, kayanya kau sedang bermasalah dengan sesuatu, Ketua?”

Untuk kali itu, karena merasa tak ingin merusak martabat yang telah dibangunnya, dan juga faktor kalau mereka masih sedang berada di sekolah, Elang bersikap seperti guru sebagaimana mestinya.

“Ya, sedikit mengenai acara Festival besok.”

“Oke, kita bisa urus itu nanti. Oh iya, apa kau sedang kosong sekarang? Aku butuh bantuanmu untuk mengurus beberapa rancangan di laboratorium.”

“Ya, bisa sih, tapi aku mau ke kantor dulu, buat ngecek pekerjaan.”

***


Dia hendak membuka kunci pintu itu, tetapi sebuah suara dari dalam ruangan menghentikan aksinya. Dan setelah beberapa saat, akhirnya dia kembali membuka pintu. Sesuatu yang aneh dia rasakan setelah melihat ke dalam ruangan.

Dia melihat ke sebuah ruangan yang penuh dengan perangkat-perangkat komputer. Semuanya masih berada pada tempatnya, kecuali satu. Jendela bagian belakang, yang tak pernah disentuh kecuali ada seorang siswa yang duduk di pinggir jendela, saat itu terbuka.

Angin panas menerpa horden dan membuatnya terbang. 

“Apa yang kalian mau dengan laboratoriumku?”