Episode 64 - Hari-Hari Mereka Tanpa – Bagian 9



Di depannya berdiri seorang gadis yang sangat gugup dengan perasaannya. Di belakangnya mengamati, seorang gadis yang menjadi motivasi dalam tindakannya kali itu.

“Maaf, tapi aku-“

“Aku minta maaf!”

Gadis di depannya menundukkan kepala dan berteriak dengan cukup kencang. Meskipun nada suaranya tetap indah dan tak memiliki kesan kasar sedikitpun, hal itu tetap mengerjutkannya.

“Padahal aku sudah tahu. Tapi aku tetap berani-beraninya mengirimkan sebuah surat semacam itu padamu. Tolong maafkan aku.”

“Y – ya, tapi kau gak harus berlebihan begitu juga.”

“Aku, hanya ingin mengungkapkan perasaan yang mengganjal di hatiku saja, tapi...”

Gadis di depannya mengangkat kembali kepalanya, dan mengusap bagian mata yang kelihatannya menetes sebutir air mata.

Rian sangat terkejut dengan kejadian di depannya. Dia tak tahu harus melakukan apa, bagaimana untuk menenangkan perasaan gadis di depannya. Tetapi pengamat sepertinya telah mengambil langkah lebih dulu bahkan sebelum pikirannya dapat kembali ke dalam tubuhnya.

“Sudahlah, kamu tak perlu terlalu bersedih seperti itu. Bukannya adalah hal yang lumrah, kalau kamu menyukai seseorang dan menyatakan perasaan padanya.”

“Tapi, Neng...”

Euis mendekat padanya, menepuk bahu gadis yang dikenalnya itu dan memberikan sebuah dorongan padanya.

“Ya-ya, aku mengerti maksud hatimu. Dan kamu tak perlu merasa bersalah padanya. Kalau kamu mau, kamu bahkan bisa terus mengungkapkan perasaanmu padanya.”

Gadis itu tersenyum dan menghentikan perasaan bersedihnya. Sedikit tertawa sebelum membalas perkataan Euis.

“Mana mungkin aku bisa.”

“Yah, iya juga sih.”

“Kalau begitu, Neng, aku minta maaf sebelumnya.”

“Yah, walaupun aku tak tahu kamu berbuat salah apa padaku, aku maafkan kamu kok.”

Pada akhirnya semua berakhir dengan lancar tanpa ada masalah yang lain. Gadis itu mempermisikan diri kepada mereka berdua. Tetapi ada sedikit perbedaan darinya dengan Euis. Gadis itu memberikan beberapa kata manis dengan Euis, tetapi hanya senyum dan anggukan pada Rian.

Rian yang masih belum sepenuhnya kembali ke dalam tubuh, hanya merespon dengan anggukan kepada gadis itu.

“Syukurlah, semuanya berakhir dengan baik.”

Euis merasa lega karena semua berjalan dengan lancar. Tetapi tak seperti dirinya, Rian masih merasa aneh. Ada sesuatu yang kurang dari dialog barusan. Ada sesuatu yang masih belum dia mengerti.

“Hei, ada apa?”

“Engga ada. Kenapa rupanya?”

Meskipun begitu, dia tak lagi ingin mengandalkan Euis dari situ.

Euis tahu kalau Rian sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Namun, dia tak ingin mencari tahu secara langsung, karena bagaimanapun, Rian pasti takkan memberitahu padanya. 

“Ya begitulah dirimu.”

“Apanya?”

“Enggak, bukan apa-apa. Oh iya, apa sekarang kau kosong?”

Rian memikirkan arti perkataan Euis, dan dia menemukan jawaban yang dia pasti tahu bagaimana harus menjawabnya.

“Enggak, aku masih punya urusan yang mau ku urus. Memangnya kenapa?”

“Yahh, gak ada apa-apa sih, cuma lagi pengen nge habisin waktu aja. Aku juga kasihan sama kamu.”

“...”

“Ituloh, akhir-akhir ini kan kamu gak punya banyak waktu buat bersantai.”

“Bukannya biasanya memang begitu?”

“Memang sih, tapi kan kali ini gak seberat yang biasa.”

“Hah, pala lah tuh.”

Rian mulai berjalan, Euis mengikuti di belakangnya. Saat Euis mengejar langkah kaki besar Rian, dia dengan penasaran bertanya.

“Kau mau ke mana sekarang?”

“Ketemu yang laen.”

Maksudnya adalah menemui teman-temannya yang sekelas dengannya. Euis tak menaruh curiga apapun karena Rian yang memang jarang berurusan dengan orang lain saat itu akan bertemu dengan teman-temannya. 

“Terus kau sendiri?”

“Iya...”

Euis tampak berpikir, tetapi dia tak tahu jawaban dari pertanyaan Rian dan hanya bersikap biasa saja.

“Enggak tahu.”

Itu adalah hal yang biasa. Karena seseorang seperti mereka berdua takkan tahu apa yang harus dilakukan ketika mereka memiliki waktu luang. Mereka berdua adalah tipikal orang-orang yang tak bisa menikmati waktu luang yang mereka miliki.

Rian juga tak tahu bagaimana harus menolong Euis yang malang. Sampai tanpa dia sadari, Euis terus mengikutinya sampai ke tempat yang mereka setujui untuk bertemu.

“Yo, ketua, ama, Neng Euis!?”

Evan meneriakkan hal itu saat terkejut dengan kedatangan Euis beserta dengan ketua kelas mereka. Bahkan Rian dikejutkan oleh teriakan Evan yang mengacu pada gadis yang berjalan dengan santai, dan berekpresi santai pula padanya.

***

Itu adalah kafetaria yang mana mereka mengambil posisi di pojokan. Di meja telah tersedia satu keranjang roti dengan berbagai macam jenis. Beberapa botol air mineral dan ada juga makanan berupa gorengan. Tak lupa pula tersedia saus yang menemani gorengan di sebelahnya.

“Yo’u, aku boleh gabung kan?!”

Euis yang ceria berlari kecil ke arah kelompok itu, yang mana terkejut karena keberadaannya yang tak biasa. Maksudnya adalah, Euis yang memang pribadi yang supel, berkumpul dengan orang-orang yang beberapa di antaranya tak memiliki hubungan istimewa apapun padanya.

Tak seperti Beni yang bersikap biasa saja, tiga orang lainnya bingung bagaimana harus menghadapi situasi.

“Hei, kenapa kalian bisa bersama-sama datang ke sini?”

Itu tak mengherankan, karena Euis dan Rian adalah sahabatnya, dan mereka bertugas di ruangan yang sama. Meskipun begitu, harusnya Rian telah mengetahui kenapa Euis – orang lain tak harus ada dalam pertemuan itu.

“Ya, itu karena aku gak ada kerjaan. Dan aku dengar kalian akan berkumpul, jadinya aku memutuskan untuk ikut.”

“Alamak, sorry, aku gak sadar kalo dia ngikutin tadi.”

Rian yang telah duduk di kursinya, merasa bersalah karena kedatangan Euis yang tak diundang, dan tak diinginkan. Meskipun begitu, beberapa orang tak begitu menyayangkan kedatangannya.

“Y-ya, kupikir itu gak apa-apa.”

“Ha?!”

“Tapi, keputusan terakhir masih ada di tangan ketua.”

Rian memikirkan sejenak keputusan yang akan dia berikan. Dan keputusannya berakhir di mana Euis dipersilahkan untuk bersama mereka, akan tetapi...

“...yaa, udahlah, pesan, apalagi yang ditunggu.”

Terdapat maksud tersembunyi di dalam perkataannya. Yang mana itu adalah syarat untuk tak membiarkan topik utama yang akan mereka bicarakan tak bocor dan sampai ke telinga Euis.

“Yeee~! Jadi, apa semua orang sudah memesan?”

“Aku roti ini aja deh.”

“Hahaha, makanmu simple amat sih Ceng. Kaya aku gitu loh, berkelas.”

“Heleh, makan nasi goreng aja bergaya amat.”

“Meneng keh(Diam kau), tahu gak sih, nasi goreng itu masuk ke dalam nominasi masakan terenak di dunia tau.”

“Iya-iya, karepmulah(terserah kau saja).”

“Ris, Van, bisa gak sih gak berantem semenit aja.”

“Heh, mulot, kami gak berantem tahu, kami berdebat.”

Begitulah, perbincangan yang dibicarakan oleh para lelaki. Sangat berbeda dari apa yang menjadi pokok pembicaraan para gadis kebanyakan. Mereka menemukan satu buah pokok bahasan sederhana, menjadikannya luas dan panjang untuk dibicarakan, sampai terkadang terjadi pertikaian kecil yang memutuskan siapa yang paling benar di antara mereka.

Seperti bocah-bocah yang memperebutkan hasil akhir dari sebuah percakapan.

Hal itulah yang membuat Euis sangat senang, dan merasakan perasaan yang berbeda sewaktu dia berkumpul dengan para gadis seusianya. Perasaannya lebih tenang, pikirannya lebih bebas, seperti dia tak harus menahan diri untuk melakukan sesuatu.

“Hei, aku pinjam gawainya dong!”

Euis mengarahkan permintaan itu pada Evan yang baru saja memesan makanannya. Evan yang dipanggil namanya secara tak langsung, menjadi gugup untuk memberikan gawainya.

“E-eh, o-oke, nih.”

“Makasih.”

Evan menarik dirinya, memegang dadanya sembari merasakan sakit. Walaupun Euis tak tahu apa yang sudah diperbuat padanya. 

Kedua temannya kelihatannya memiliki respon yang berbeda dalam menanggapi perilakunya itu. Yang berada di sebelah kanannya mengatakan kalau dia harus menghentikan perilaku yang termasuk menjijikkan itu. Yang di sebelah kiri tak mengatakannya secara langsung, tetapi kelihatannya dia menyinggung tentang bagaimana dia berlebihan dalam berperilaku kalau sedang berhadapan dengan perempuan.

Sudah cukup dengan tiga orang teman sekelas sahabatnya, dia fokus kepada gawai yang digunakan untuk memesan makanan. Dia menggulir layar dan menemukan pesanan yang dia cari.

“Kau pesan apa?”

“Mau tahu aja.”

Dia memasang ekspresi menggoda selagi memberikan gawai untuk Rian. Rian hanya bersikap biasa dalam menanggapi perilaku sahabatnya. Meskipun banyak yang mengatakan kalau ekspresi itu sama sekali tak cocok dengannya, bukan dalam artian buruk atau negatif, hanya saja penampilannya membuat ekspresi itu menjadi senjata utama dalam memberikan kesan dalam pada seseorang.

Meskipun hal itu tak mengganggu Rian sedikitpun, karena dia telah sering dan juga tak menerima efek dari ekspresi Euis.

Rian bergantian memesan, dan makanan yang dia pesan adalah lontong sate dengan saus kacang. Salah satu makanan kesukaannya saat makan siang di kantin.

“Semua udah pesan kan?”

 Rian bertanya kepada semua orang yang ada di meja, dan jawaban yang diberikan adalah ya, kecuali satu orang yang sebelumnya mengatakan hanya akan memakan roti yang tersedia di meja.

Untuk saat itu, mereka perlu menunggu pesanan. Dan untuk menunggu pesanan, tentu saja harus ada basa-basi yang dilakukan untuk meluangkan waktu.

Pemimpin pembicaraan adalah Evan, yang kelihatannya lebih antusias dari biasanya dalam berbicara. Semua orang meladeninya, termasuk Euis yang memang berniat untuk berkumpul bersama mereka.

Meskipun tanpa sadar ada sesuatu yang membuat area dari tempat yang mereka duduki terasa ramai, mereka tak memerdulikannya. Sampai beberapa saat kemudian, pesanan telah datang untuk mereka nikmati.

Pesanan diantarkan oleh satu dari beberapa anak murid yang memiliki keterbatasan dalam biaya sekolah. Sebagai gantinya, mereka menjadi pembantu dalam menangani beberapa pekerjaan di sekolah. Yang mana bertujuan untuk menggantikan biaya mereka.

Walaupun sebenarnya hal itu termasuk keterpaksaan dalam lingkungan sekolah. Tak ada satupun dari mereka, baik dari pihak sekolah yang menyarankan, atau dari pihak siswa yang mengerjakan, yang menyinggung soal betapa buruknya perlakuan itu.

Karena mereka melakukannya murni untuk membiayai sekolah mereka. Pihak sekolah juga berulang-ulang menanyakan kerelaan mereka sebelum benar-benar bekerja dan melakukan kontrak.

Hal tersebut dinamakan ‘Sistem Penanganan Biaya’. Di waktu sebelum tahun Euis belajar di sekolah, pihak sekolah hanya akan menahan ijazah yang keluar ketika seorang siswa tak mampu melunasi biaya sekolah mereka. 

Namun, di tahun itu, terdapat sebuah usulan untuk menggantikan penahanan ijazah. Yaitu, dengan pekerjaan yang diberikan oleh para siswa yang bekerja dalam kantin, atau dari mereka yang mengerjakan sesuatu di bidang yang lain.

“Silahkan, Neng Euis.”

“Terima kasih.”

Yang mengantarkan makanan itu padanya adalah seorang siswi yang kenal betul dengan Euis. Begitu pula dengan Euis sendiri. Dia adalah seorang anak yang memiliki masalah dalam keluargaya. Yang mana sang ibu telah meinggalkan dirinya dan sang ayah tanpa alasan, menjadikan siswi itu cukup terbebani.

Bahkan untuk sang ayah sendiri, tak sanggup untuk menangani kebutuhan dan keperluan keseharian siswi tersebut dan beberapa saudaranya. Lalu suatu hari, siswi tersebut datang padanya oleh saran seseorang. Menceritakan bagaimana keadaan keluarganya, dan mengatakan kalau dia akan ikut dalam sistem penanganan biaya di sekolah.

Siswi itu datang dengan mendorong sebuah troli dengan semua pesanan. Meletakkan semua pesanan kepada sang pemesan dengan sikap sopan, layaknya seorang pelayan sungguhan.

Lalu, saat siswi itu pergi setelah memberikan semua pesanannya, sebuah suara yang menyinggung siswi tersebut terdengar.

“Aahh~ aku ingin menikahinya.”

Itu datang dari seorang pemuda yang haus akan cinta.

“Heh! Jangan sok-sok’an lah!”

“Apa sih, memangnya gak boleh berkhayal begitu.”

“Hmm, apa kamu cuma mau berkhayal soal itu. Kupikir kamu mengatakannya dengan niat tulus dan serius dalam perkataanmu.”

“Ehh!”

Euis menyela perkataan dua sejoli yang bertengkar dengan perkataan salah satunya. 

“Maksudnya apa kau cuma bermain-main saat berkata seperti itu?”

“Nah, itu dia, kupikir akan sangat bagus kalau ada seorang pria yang membantu hidupnya.”

“Yah, aku sih mau, tapi aku takut gak bisa seperti yang diharapkan.”

Tiga orang lelaki, yang merasa tersinggung keberadaannya karena mereka juga prihatin dengan siswi pengantar pesanan, memperjelas perkataan Euis. Mereka mengatakan pemikiran mereka masing-masing – yang mana didahului oleh Rian – sambil mempersiapkan hidangan untuk disantap.

“Eh-eehh! Tung-tunggu dulu, itu artinya, kalian ngedukung aku gitu?!”

“Tapi ingatlah satu hal dari penasihat ini, temanku. Keberadaan gadis seperti itu sangat diincar oleh banyak orang. Karena hatinya yang rapuh, bahkan setetes lem saja dapat menyatukan. Jadi kau...”

“Tenang saja! Aku pasti akan cepat-cepat menjadi lelaki yang pantas untuknya! Untukmu dek, tunggulah abang!”