Episode 184 - Sayu



“Anak ini cukup ceroboh...” 

“Begitulah...” 

“Akan tetapi, ia memiliki percampuran darah yang teramat sangat langka... Sebagai penyembuh dan peramu, penilaianku tiada mungkin salah.” Nada bicara Ginseng Perkasa terdengar serius sekali. 

“Begitulah...”

“Sebagai gurunya, bukankah dikau seharusnya lebih giat dalam membimbing dan menumbuhkan keahlian...?” 

“Dengan wataknya saat ini... sebaiknya tiada terburu...,” kilah Komodo Nagaradja. 

“Kau tak hendak ia berumur pendek...?”

Komodo Nagaradja tiada menanggapi. 

“Sampai kapankah dikau hendak mengelabui diriku...?” dengus Ginseng Perkasa, mengalihkan pembicaraan karena komentar sebelumnya tiada ditanggapi.

“Aku tak mengerti apa yang ingin kau sampaikan...,” gerutu Komodo Nagaradja. “Tak usah berbelit-belit.” 

“Sekali waktu... Sang Maha Patih berhasil memanfaatkan unsur kesaktiannya. Aku tahu pasti, karena diriku yang merawat tubuhnya di saat terluka akibat unsur kesaktian hitam.”

Komodo Nagaradja tak hendak menanggapi. 

“Sang Maha Patih berhasil menciptakan Segel Hitam. Meski, hanya beberapa saja jumlahnya.” 

Komodo Nagaradja semakin tak hendak menanggapi. 

“Aku tiada mengetahui atas alasan apa... Namun, ia menitipkan satu buah Segel Hitam kepadamu,” pancing Ginseng Perkasa. (1)

“Bukan urusanmu!” hardik Komodo Nagaradja.  

“Memang bukanlah urusanku...,” Ginseng Perkasa kemudian menarik jalinan mata hati. 

Komodo Nagaradja sesungguhnya bukan ingin merahasiakan tentang keberadaaan Segel Hitam. Sebaliknya, ia justru tak hendak menggunakan benda laknat itu. Semakin sedikit yang mengetahui maka akan semakin baik. Risiko yang menghantui demikian besar, sampai seolah tiada dapat ditakar. 

“Diriku memiliki satu penawaran!” Tetiba kesadaran Ginseng Perkasa kembali datang mengusik. 

“Tidak tertarik!” sanggah Komodo Nagaradja sebal. 

“Aku bisa membantu muridmu memupuk jalan keahlian nan ‘kuno’.”

“Dusta!” 

“Bila Gadjah Mada menitipkan Segel Hitam kepada dikau... maka Hang Tuah sempat menitipkan kepada diriku pengetahuan tentang jalan keahlian kuno itu...”

“Kau hendak membahayakan jiwa muridku...”

“Kemungkinan besar akan sangat sesuai bagi muridmu. Tidak... diriku yakin bahwa akan sangat sesuai bagi Bintang Tenggara ini.” Ginseng Perkasa berujar singkat, kemudian ia kembali menarik diri. 

Komodo Nagaradja terdiam. ‘Jalan keahlian’ yang diungkapkan oleh Ginseng Perkasa merupakan ungkapan yang jamak digunakan untuk menjelaskan metode yang dipergunakan oleh para ahli dalam memupuk dan menumbuhkan keahliannya. Sebagai contoh, ada ahli yang menempa diri melalui latihan berat, bertapa, atau pun menceburkan diri dalam rimba belantara. Jalan keahlian yang dirinya jalani, adalah berpetualang mencari dan menantang lawan-lawan tangguh. 

Bagi Komodo Nagaradja, Hang Tuah adalah tokoh yang diibaratkan sebagai langit di atas langit. Namun, untuk mencapai peringkat keahlian yang demikian tinggi, tentu besar pula pengorbanan yang perlu dilalui. Jalan keahlian yang ditempuh bahkan menantang banyak teori dunia persilatan dan kesaktian. 

Dalam diam, ingatan masa lalu perlahan mencuat di dalam benak Komodo Nagaradja. 

“Bagaimana...?” Kesadaran Ginseng Perkasa tetiba kembali menyeruak.

“Enyah dari sini!” 

...


“Oh... Kau sudah siuman...?” terdengar suara seorang gadis lembut menyapa. 

Kepala Bintang Tenggara pusing ibarat dihimpit dua batu karang raksasa. Tidak seperti pingsan-pingsan sebelumnya, dimana ia akan segera bangkit dan memantau situasi, kali ini ia tiada bisa berbuat banyak. Seluruh tubuh terasa kaku. 

“Beristirahatlah...,” suara nan lembut kembali menyapa. “Sepertinya dikau terjatuh, dan kemungkinan besar kepala bagian belakang menghantam pohon jati...” 

Bintang Tenggara hendak mengingat kejadian terakhir yang ia alami sebelum tiba ditempat ini. Akan tetapi, kepala kembali terasa pening. Anak remaja tersebut kembali tertidur. 

“Jangan paksakan diri...” Suara yang sama mengingatkan, ketika Bintang Tenggara kembali siuman. 

Bintang Tenggara mendapati tubuhnya terbaring di atas sebuah dipan. Sebagai alas, ia merasakan hanya selembar tikar yang terbuat dari daun rumbia. Sebuah gubuk berukuran sedang, pikirnya dalam hati. Dimanakah gerangan ini?

Anak remaja tersebut berupaya menoleh ke samping. Ia mendapati kehadiran seorang gadis nan manis datang mendekat. Pembawaan gadis tersebut pun sangatlah ramah. Meski demikian, pakaian yang ia kenakan sederhana adanya. 

Bintang Tenggara mendapati bahwa si gadis baru saja selesai memasak sesuatu, karena aroma ramuan demikian kental menyibak. 

“Diriku harus mengantarkan ramuan ini...,” ujar gadis tersebut. Lalu ia melangkah ke luar meninggalkan gubuk. 

Bintang Tenggara berupaya memeriksa kondisi tubuhnya sendiri. Tiada mati rasa. Hanya saja, sulit sekali bilamana hendak bergerak. Pening di kepala masih mendera, meski tiada menyengat seperti sebelumnya. Ia pun kembali terlelap. 

“Tubuhmu cukup sehat, dan sepertinya usia kita sepantaran... Akan tetapi, mengapa dikau memilih jalan nan tak terhormat?” ujar gadis tersebut sambil memasukkan kayu bakar ke dalam tungku. 

“Jalan tak terhormat...?” rintih Bintang Tenggara sambil berupaya bangkit. 

“Oh...?” Si gadis lalu meninggalkan pekerjaan yang ia sedang ia lakukan. Ia mendatangi Bintang Tenggara, memengangi pundaknya, lalu membantu duduk bersandar. 

“Di manakah ini...? Sudah berapa lama diriku terbaring tiada berdaya...? Siapakah gerangan dikau...?” 

“Hahaha... satu persatu... tiada perlu terburu...” Gadis tersebut kembali melakukan pekerjaannya. Di kala mengiris sayuran, beberapa dandang besar-besar terlihat menggelegak mendidih dan mengepulkan uap panas. Entah apa yang sedang ia masak secara bersamaan. 

“Pertama-tama... namaku adalah Sayu,” ujar gadis tersebut memperkenalkan diri. “Siapakah namamu...?” (2)

“Hm...?”

“Dikau tak kehilangan ingatan akibat terjatuh, ‘kan?” gelak Sayu. Tawanya demikian manis. Di saatnya yang sama, ia mengaduk salah satu dandang. 

“Oh... tidak... tidak...” Bintang Tenggara gelagapan. “Namaku adalah... Gemintang.” Dalam situasi nan tak pasti, Bintang Tenggara menempuh jalur aman. Menyembunyikan jati diri adalah langkah terbaik. Entah mengapa, yang selalu keluar dari mulutnya adalah nama sang kakek. 

Gadis bernama Sayu menatap Bintang Tenggara sejenak. Walau bernama ‘Sayu’, kedua bola matanya demikian besar dan jernih. Sayu terlihat telaten sekali di kala memasukkan beberapa bahan ke dalam sebuah belanga berukuran sedang. 

Tertatih, Bintang Tenggara melangkah keluar gubuk. Ia memerhatikan sekeliling, dan mendapati bahwa di wilayah tersebut terdapat banyak gubuk-gubuk. Rangkaian gubuk dibangun melingkari sebuah batu besar sebagai pusat. Sebuah kompleks pergubukan. 

Tak terlalu jauh, Sayu terlihat mengunjungi satu gubuk ke gubuk berikutnya. Gerakannya luwes sekaligus ringkas, layaknya seorang ahli yang telah terlatih. Padahal, gadis tersebut tiada menyibak aura keahlian sama sekali. Ia tak beda dengan orang kebanyakan yang tiada meniti jalan keahlian. 

Gadis tersebut terlihat sedang sibuk membagi-bagikan bermacam jenis makanan dan ramuan yang tadinya ia siapkan. Beberapa orang lelaki tua dan renta terlihat duduk menunggu di depan beberapa gubuk. 

“Apakah kau anak muda yang pingsan di hutan jati beberapa hari yang lalu...?” tetiba suara pelan menyapa. “Kau beruntung Sayu kebetulan melintas di malam itu....” 

Bintang Tenggara menoleh, dan mendapati seorang lelaki tua duduk di teras gubuk. Bukan, gubuk. Kemungkinan besar, tempat dirinya menginap merupakan dapur umum, yang fungsinya melayani kebutuhan pangan gubuk-gubuk lain. 

“Apakah kau datang dari kota...?” orang tua itu kembali berujar. 

Bintang Tenggara menjawab dengan anggukan sekenanya. Kompleks apakah ini? pikirnya dalam hati.

“Tempat ini merupakan Panti Jompo,” ungkap lelaki tua itu seolah dapat membaca pikiran. Kemungkinan ia menyadari bahwa anak remaja lawan bicaranya sedang menduga-duga.  

“Apakah kau hendak membawa Sayu pergi...?” lanjut lelaki tua itu.

Bintang Tenggara tertegun. Apakah maksud dari orang tua itu?

“Sayu mengurus tempat ini seorang diri. Ia memberi makan kepada kami para kakek-kakek jompo.” Seorang lelaki tua lain mendekati Bintang Tenggara. Ia menggunakan tongkat. 

“Anak muda... siapakah namamu...?”

“Gemintang....” Lagi-lagi Bintang Tenggara berbohong. 

“Bilamana engkau pulih nanti, sudikah engkau membawa Sayu pergi bersamamu...? Pergi meninggalkan tempat ini...”

“Hm...?”

“Sayu bekerja di dapur. Saban hari ia menyiapkan makanan dan ramuan untuk kami.”

“Ia menjaga kami tanpa pamrih. Bahkan, ia tiada mempedulikan dirinya sendiri.”

“Telah sejak lama kami meminta agar ia pergi saja meninggalkan Panti Jompo ini. Akan tetapi, berkali-kali pula ia menolak.”

“Bawalah ia pergi bersamamu. Ia masih muda. Kami tak hendak ia menyia-nyiakan hidupnya...”

“Gemintang.... sebaiknya dikau kembali beristirahat. Jangan dengarkan mereka,” sela Sayu yang muncul secara tiba-tiba. Ia lalu memimpin lelaki tua renta yang bertongkat kembali ke gubuk di seberang dapur. 

Demikian, sayu baru saja rampung menjalani rutinitas pagi. Selanjutnya, ia akan bersih-bersih dari gubuk ke gubuk. Jelang petang, gadis belia itu akan mempersiapkan persediaan makan malam. Ia dan para lelaki tua yang mendiami dusun penuh gubuk ini, hanya makan dua kali dalam sehari.  

...


Tak terasa seplima hari sudah Bintang Tenggara menghabiskan waktu memulihkan tubuh. Cedera yang ia alami kali ini berbeda dengan cedera yang disebabkan oleh hentakan tenaga dalam. Kemungkinan besar, dirinya terjepit di lorong dimensi ruang yang menutup, kehilangan kesadaran, lalu terlontar menghantam pohon jati. Sudah terjatuh, ditimpa tangga pula. 

Bintang Tenggara sedang membereskan dapur. Ia mengemas berbagai peralatan yang berserakan, lalu menempatkan dan menyusun sesuai kegunaan alat. Suasana dapur tempat tinggalnya menjadi tertata rapi. Selain itu, anak remaja tersebut juga rajin membantu. Ia mengangkat air, mencari kayu bakar, menyuci dandang dan belanga, dan lain sebagainya. Pada beberapa kesempatan, ia juga mengantarkan makanan dan ramuan ke gubuk-gubuk. 

Jumlah keseluruhan gubuk ada sekitar 18, dan kesemuanya dihuni oleh kakek-kakek tua. Kesibukan sehari-hari di Panti Jompo, membuat Bintang Tenggara terlupa akan Pengemis Utara, alias Panggalih Rantau. Entah kemana perginya tokoh saudagar yang gemar mencuri itu...

“Nak Gemintang, apakah kau sudah sepenuhnya sembuh...?” aju seorang kakek tua seusai makan malam. 

“Sudah,” sahut Gemintang, alias Bintang Tenggara.

"Kau tahu... Sayu akan menjadi seorang istri yang baik..."

“Kemanakah perginya Sayu?” Bintang Tenggara berupaya mengalihkan pembicaraan. 

“Petang tadi Sayu berangkat ke kota,” jawab lelaki tua lain. “Biasanya ia akan kembali esok subuh.” 

“Bagaimanakah kisahnya sampai Sayu memutuskan untuk bekerja di tempat ini?” Bintang Tenggara menjadi penasaran.

“Panjang ceriteranya...”

“Untunglah kita memiliki semalaman,” sahut kakek tua bertongkat datang menghampiri. 

Beberapa kakek tua lain duduk mendekat. Mereka lalu memulai sebuah kisah nan tiada biasa. 

Kisah bermula dengan seorang saudagar kaya-raya bernama Sahak. Suatu hari, saudagar tersebut bersama keluarga dan pengikutnya membawa berpuluh-puluh kerbau, serta berbagai macam barang dagangan lain. Tujuan mereka adalah ke kota terdekat.

Di tengah perjalanan, rombongan Sahak dicegat segerombolan penyamun. Kelompok penyamun tersebut lalu menjarah seluruh harta bendan dan barang dagangan Sahak. Tidak hanya sampai di situ, mereka juga membantai habis seluruh rombongan dagang. Sahak, istri, dan para pengikutnya meregang nyawa. 

Gerombolan penyamun tersebut memang terkenal beringas. Pimpinannya, yang dikenal sebagai Medasing, dikatakan memiliki kemampuan menyembunyikan diri dan berkelit dari situasi apa pun. Hal ini membuat dirinya tak pernah tertangkap pihak berwenang. 

Tanpa dinyana, di kala memindahkan barang hasil jarahan, Medasing menemukan seorang anak perempuan yang disembunyikan, dan tak lain diketahui sebagai anak perempuan Sahak. Medasing, meski dikenal kejam, entah mengapa tiada membunuh anak perempuan itu. Ia pun membawa anak perempuan tersebut kembali ke sarang mereka para penyamun.

“Apakah anak perempuan itu adalah Sayu…?” sela Bintang Tenggara.

Beberapa kakek-kakek tua tertunduk lesu. Sebagian ada yang meneteskan air mata, sebagian lagi berusaha tetap tegar. Yang jelas, penyesalan tak terperi terpancar dari raut wajah setiap satu dari mereka.”

“Kejadian tersebut telah lama berlangsung. Medasing pun telah menghembuskan napas terakhir beberapa tahun lalu…”

“Kami adalah sisa-sisa gerombolan penyamun… kaki tangan Medasing.” 

“Kami merampok di wilayah Negeri Dua Samudera… Lalu melarikan diri ke sarang kami di dalam wilayah Partai Iblis.” 

“Tempat ini adalah salah satu dusun di Pulau Tiga Bengis.” 

“Partai Iblis…? Pulau Tiga Bengis…?” gumam Bintang Tenggara setengah percaya, setengah lagi tidak. 


“Sayu… dari manakah dikau?” Matahari belum terbit. Bintang Tenggara bangun lebih awal demi menanti kepulangan Sayu. 

“Diriku membeli perbekalan di kota terdekat.” Sayu bersiap hendak memulai rutinitas pagi

“Benarkah ada yang berjualan di malam hari…?” Bintang Tenggara meragukan jawaban gadis tersebut. 

“Namanya pasar malam… tentu saja kegiatan pasar berlangsung pada malam hari.”

“Dari mana dikau memperoleh keping-keping perunggu untuk berbelanja…?” kejar Bintang Tenggara. 

“Hm…? Apakah pertanyaan ini layak diajukan oleh seorang pengemis…?” Sayu tak senang dicecar pertanyaan. 

“Diriku bukanlah pengemis…” Meski Bintang Tenggara tak menyalahkan pandangan tersebut, karena dirinya pastilah ditemukan pingsan dengan mengenakan pakaian rombeng. 

“Oh…? Jadi, siapakah dikau sesungguhnya…?” Sayu menatap tajam. Kedua bola matanya sungguh jernih.

“Diriku tiada bermaksud jahat, dan sangat berterima kasih atas pertolonganmu,” ujar Bintang Tenggara tulus. “Akan tetapi, diriku membutuhkan daun Kelor Keris yang dikau curi dari Balai Lelang di ibukota Kerajaan Parang Batu. 

Kecurigaan Bintang Tenggara berasalan. Pertama, Sayu kebetulan menyelamatkan dirinya saat terluka di tengah hutan jati. Tak ada gadis normal yang bermain-main di hutan jati menjelang malam. Kemungkinan, gadis tersebut baru tiba menggunakan lorong dimensi ruang. 

Kecurigaan kedua, di kala membagikan makanan dan ramuan ke gubuk-gubuk, gerakan Sayu sungguh mirip kebanyakan ahli, bahkan seolah lebih ringan. Ia pastilah sudah terbiasa melancarkan suatu jurus… jurus yang memungkinkan pergerakan tubuh menjadi ibarat bayangan.  

Terakhir, adalah kecurigaan yang semakin menegaskan bahwa Sayu menguasai Silek Linsang Halimun. Dikisahkan bahwa Medasing memiliki kemampuan menyembunyikan ‘diri dan berkelit’ dari situasi apa pun dan di mana pun. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Medasing yang sudah tobat, kemungkinan besar mewariskan sebuah jurus langka kepada Sayu. 

Satu-satunya misteri yang belum terpecahkan adalah bagaimana caranya aura peringkat keahlian Sayu tiada dapat dirasakan. Walaupun demikian, rumusan Bintang Tenggara tetap menyimpulkan bahwa: Sayu = Penyamun Halimun! 

“Ikutlah denganku…,” ujar Sayu sambil melangkah keluar dari dapur tempat si tamu selama ini menginap, dan dirinya memasak. 

Kedua remaja menelusuri jalan setapak. Kemudian memasuki hutan jati. 

"Maafkan diriku yang terpaksa mengambil tindakan ini..." Tetiba Sayu memegang bahu Bintang Tenggara.

"Silek Linsang Halimun, Gerakan Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar!"

Sayu merapal jurus sambil menarik tubuh Bintang Tenggara. Keduanya serta merta terperosok ke dalam dimensi ruang persembunyian kecil. Setelah membawa Bintang Tenggara masuk, Sayu segera melompat ke luar. Tindakan yang sedemikian, membuat Bintang Tenggara terjebak!

"Sekali lagi, maafkanlah tindakanku ini. Terpaksa kulakukan karena dikau mengancam kehidupan kami..." 

"Maksudmu...?" Bintang Tenggara berujar santai. Tetiba saja ia sudah keluar dari dimensi ruang persembunyian. 

"Hah!" 


Catatan:

(1) Komodo Nagaradja pernah mengancam Hang Jebat menggunakan Segel Hitam dalam Episode 96.

(2) Nama Sayu diambil oleh novel berjudul ‘Anak Perawan di Sarang Penyamun’ karya Sutan Takdir Alisjahbana. Novel ini merupakan salah satu karya sastrawan Pujangga Baru. Diterbitkan pertama kali tahun 1932 oleh Balai Pustaka.