Episode 26 - Hael Sorrows


"Nama Franquille, aku sudah ingat sekarang." kata Richard. "Franquille itu lekat dengan nama seorang Alchemist genius bernama... Kildamash Franquille. Apa itu benar?"

"Haa? Bapak kenal dengan ayah?"

"Astaga!" Richard menepuk dahinya. "Jadi kau anaknya? Betul-betul anaknya?"

Alzen mengangguk. "Bapak tahu ayahku?"

"Tak begitu banyak juga sih. Dulu sekali di sebuah Negri jauh di luar benua Azuria ini. Saat-saat aku masih muda. Nama Kildamash Franquille itu terkenal sekali di negri itu. Segala macam-macam penemuan Potion baru, berasal dari dirinya. Itu yang membuatnya sangat terkenal."

"Hee!? Apa benar?! Ayah sehebat itu dulu?"

"Itu sudah cerita lama sekali. Kalau boleh tanya, berapa umurmu sekarang?"

"16 tahun..."

"Haha! Kau masih jadi Zigot atau belum ada waktu itu. Hahaha! Ini cerita lebih dari 20 tahun lalu."

"Coba ceritakan lebih lagi paman."

"Haha! Senang rasanya ada teman cerita di usia senjaku ini." Richard merasa terhibur sekali ngobrol dengan Alzen. "Begini, aku sendiri tak pernah kontak langsung dengan ayahmu. Aku hanya tahu dirinya dari yang dikatakan orang-orang pada waktu itu. Dari koran dan dari mata kepalaku sendiri. Aku mengenalnya dan mengangguminya. Sekalipun mungkin dia tak kenal aku. Dan yang sepertiku pada saat itu ada banyak."

"Pak, ceritanya... aku menunggu ceritanya."

"Haha! Anak muda tidak sabaran ya." Lalu Richard mulai bercerita.

"Ayahmu itu, aku mengamatinya dari sekadar toko Potion kecil, sampai jadi besar sekali! Bisnisnya bisa begitu maju, karena Potionnya selalu lebih baik dan beda. Tak hanya menyembuhkan, tapi juga menguatkan dan juga, sering efeknya yang bermacam-macam, yang tak pernah dimiliki Potion Maker lain.. Bahkan kala itu ada yang bergurau, kalau minum Potion dari Kildamash Franquille, anak kecil juga bisa lawan naga raksasa. Hahaha!"

"Wow! Hebat sekali dong!"

"Tidak, tidak! Tentu saja itu cuma candaan orang-orang. Terlalu melebih-lebihkan." jawab Richard sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku juga sesekali menggunakan Potion ciptaan ayahmu."

"Tua-tua begini, waktu muda dulu. Aku ini anggota Guild yang cukup bergengsi, kami berkelana ke berbagai Dungeon berbahaya. Potion adalah salah satu barang wajib yang harus dibawa ketika menjelajahi dungeon. Aku yang kalah melawan monster Minotaur, bisa menang setelah mengkonsumsi Potion ayahmu." Richard terlihat bergembira sekali menceritakan semua ini. "Itu benar-benar terjadi, aku tak mengada-ada. Aku merasakan keajaibannya secara langsung. Haha!"

"Aduh... kok ayah gak pernah cerita ya?"

"Tapi bertahun-tahun masa kejayaan Kildamash Franquille, aku melihat ia pada akhirnya jatuh juga." ucap Richard dengan tatapan serius.

"Jatuh?"

"Aku lupa tepatnya tahun berapa, lagi pula... Kamu sudah lahir apa belum ya?" kata Richard. "Karena aku tak tahu penyebabnya apa. Singkat cerita, setelah dirinya sudah bertahun-tahun menginovasikan berbagai Potion yang sebelumnya tak pernah ada."

Sambung Richard. "Kildamash, ayahmu itu. Sempat dilirik dan akhirnya berkontribusi pada pihak pemerintah, untuk sebuah penelitian rahasia yang sampai sekarang aku-pun tak tahu apa yang ditelitinya. Bertahun-tahun setelah itu. Usahanya dan tokonya dibakar dan dihancurkan pihak pemerintah dengan kejinya.

"Haa? Tunggu-tunggu aku gak mengerti."

"Sama denganku. Aku juga tak mengerti, apa alasan pemerintah menghancurkan usahanya yang telah dibangun puluhan tahun, dengan begitu saja dilenyapkan. Kami benar-benar kehilangan sekali saat si jenius Kildamash berhenti berinovasi sejak bekerja dengan pemerintah. Dan aku yang sudah tua ini, memutuskan pensiun dan pergi dari negri korup itu."

"Lalu apa yang terjadi dengan ayah?"

"Setelahnya, aku tak tahu lagi. Berita tentangnya juga diberi larangan mengabarkan soal dirinya. Jadi tak ada informasi tentangnya lagi. Jujur saja aku menangis waktu ayahmu di hadapi dengan ketidak-adilan tersebut. Tapi itu realitanya. Dan hampir 10 tahun sejak tragedi itu. Aku bertemu dengan anaknya di tempat ini. Hahaha!"

"Kalau diingat-ingat sih, aku sepertinya mengalami yang bapak ceritakan itu."

"Ohh... kau mungkin sudah lahir ketika tragedi itu terjadi. Karena hari itu terjadi belum sampai 10 tahun lalu."

"Iya... aku merasakannya, tapi aku juga tak mengerti apa yang terjadi saat itu. Aku ingat! Aku masih 8 tahun saat itu terjadi."

"Ohh... 8 tahun ya? Dengan umurmu sekarang. 1... 2... 3... Berarti, tragedi itu terjadi tahun 1893. Wah! Aku jadi bisa ingat lagi. Iya... tragedi itu terjadi pada tahun itu."

"Kau mau tahu apa yang terjadi setelahnya paman?”

“Ya, beritahu padaku.”

“Kala itu, setelah itu terjadi. Kita mengungsi ke sebuah desa kecil yang entah ada dimana dan sejauh mana kami pergi." Alzen berbalik untuk bercerita. "Sampai aku umur 10 tahun. Ayah dan Ibu cerai. Aku juga tak tahu apa sebabnya."

"Mungkin ibumu tak sanggup merasakan perubahan drastis seperti itu. Dari keluarga kaya sampai bangkrut seperti itu. Cuma asumsiku saja, sebagai orang yang sudah lanjut usia. Bisa benar, bisa tidak."

"Bisa saja begitu. Saat ibu cerai dengan ayah, di tahun yang sama. Kami berlayar ke tempat jauh dan tinggal di Greenhill sampai sekarang. Aku yang masih anak-anak tak begitu paham apa yang sebenarnya terjadi. Tapi setidaknya aku mengalaminya langsung."

"Jadi begitu, kelanjutan kisah hidupnya. Terima kasih sudah berbagi cerita ini padaku." Richard tersenyum puas. “Paling tidak di ujung usiaku, ada sedikit yang bisa kutuntaskan.”

"Tidak-tidak, harusnya aku yang terima kasih. Ayahku tidak pernah cerita soal ini sebelumnya."

Richard menyudahi pembicaraan dan beranjak pergi. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Sebagai Butler, biar aku sediakan sarapan untuk kalian berdua nanti."

"Ahh... Tidak usah repot-repot paman." Alzen sungkan. “Kapan-kapan biar aku ajak menemui ayahku. Dia tak jauh dari sini kok.”

Richard tersenyum. "Kau benar-benar anak yang baik." lalu beranjak pergi untuk mempersiapkan makanan. “Aku menantikannya.”

***

Jam 8 pagi di meja makan. Hael dan Alzen sudah disuguhi macam-macam hidangan seperti makan malam kemarin hanya saja lebih cenderung ke menu sarapan.

"Psst! Alzen," Usik Hael ke Alzen yang sedang lahap mengunyah makanan.

"Ya? Kenapa?"

"Kau bangun jam berapa sih tadi?"

"Seperti biasa, jam 5 pagi." jawab Alzen santai.

"Kamu memang tipikal anak rajin ya. Beda denganku."

"Ya... karena ayahku membiasakan seperti itu sih. Tidak rajin-rajin amat juga. Haha!"

"Hehe... kau senang disini?" tanya Hael. "Senang makanannya? Atau..."

"Semuanya mewah, tapi kalau lama-lama jadi gak enak juga ya... soalnya ini rumah orang, tetap saja tak ada yang lebih nyaman dari rumah sendiri."

"Alzen, kalau gak ada kamu disini. gak ada siapa-siapa lagi disini."

Sambung Alzen. "Masih ada Pak Richard kan?"

"Tidak, aku mengharapapkan teman yang seumuran denganku, namun tak ada yang bertahan lama." kata Hael dengan kepala tertunduk. “Begitu tahu aku lebih kaya dari ekspektasi mereka, keserakahan mereka malah makin menjadi-jadi.”

"Karena tahu kau punya banyak uang?"

"Ya, jadi meminta traktir setiap haripun. Mereka pikir itu tak masalah buatku. Padahal..."

"Kenapa kamu tak menolak saja?"

"Mereka akan pukul aku beramai-ramai sampai babak belur. Lalu mereka mengakhiri pertemanan dengan mengatakan... dasar kamu pelit! Dan semuanya dengan segera menatapku dengan kebencian."

"Siapa teman-teman palsumu itu?" Tantang Alzen dengan bara api di tangannya. "Biar aku kalahkan satu persatu."

"Tak perlu, mereka sudah lulus dan jadi penyihir pro. Sementara aku..."

"Aku tak peduli! Kau tunjuk saja siapa?"

"Aku senang kau bersikap seperti itu. Tapi, itu sudah tak penting lagi. Aku hanya dibuat tak ada pilihan. Jika bukan karena uang tak ada yang mau berteman denganku. Dan karenanya aku,"

"Aku mau!" jawab Alzen dengan tegas. "Seperti yang sebelumnya aku katakan, aku mau jadi temanmu."

Hael yang tertegun mendengarnya menjawab dengan gugup, "Bu-bukan karena materi yang kumiliki?"

"Hei, hei! Jangan samakan aku seperti teman-teman palsumu itu." Alzen protes.

"A-aku senang mendengar kata-katamu barusan." Hael tertunduk lagi. "Tapi aku tak tahu kau bicara jujur atau tidak. Kau berniat menipuku atau tidak. Karena teman-teman palsuku juga... Menjawab dengan cara yang sama! Aku tak tahu lagi membedakan yang benar dan salah!"

"..." Alzen tak bisa menjawab.

"Tapi tolong untuk terakhir kali ini saja." Hael meneteskan air mata. "Jangan khianati aku lagi! Berhentilah menjadi serigala berbulu domba! Yang cuma berteman karena kubelikan sesuatu!"

Di hadapan Alzen, Hael mengacungkan jarinya seperti menuduh Alzen langsung.

"Hael..." Alzen memandangnya dengan tatapan kasihan.

"Agh!? Ma-maafkan aku. Lupakan saja yang kulakukan barusan." Hael beranjak pergi ke kamarnya.

"Hael," Alzen menarik tangan Hael. "Kau mau aku buktikan dengan cara apa? 

"Te-tetaplah berteman denganku!" jawab Hael dengan berlinang air mata. "Itu saja! Tak lebih dan jangan khianati aku lagi. Kumohon!"

GREEEEEKKK!

Suara pintu terbuka, lalu masuk seorang pria dewasa yang baru saja masuk ke rumah dengan pakaian jas dan koper yang dibawanya.

"Ouw! Ouw! Ouw! Baru saja pulang sudah ada drama disini." Kata pria jangkung, berambut hitam belah tengah bergelombang dan berkumis huruf W lengkung. Berpakaian jubah hitam panjang dengan tongkat yang bisa dicabut sebagai pedang.

"A-ayah sudah pulang?" Hael langsung segera mengusap air matanya.

"Iya, maaf kemarin aku tak bisa pulang." Ayah Hael, Erebus Esterio. Menaruh kopernya dan melepas jasnya. "Tapi, ouw! Temanmu masih disini?” Ia datang menghampiri Alzen sambil bergerak lebih cepat. "Siapa namamu nak?" tanyanya dengan senyum yang ramah sekaligus seram.

"A-aku Alzen om... Alzen F-Franquille."

"Gak usah tegang gitulah," Ayah Hael menepuk pundak Alzen dengan keras. 

"Aduh!" Alzen merasa tersakiti sedikit karena sangat terasa ada aura hitam di tepukan ayah Hael.

"Hmm?” Esterio tersenyum sinis. “Aku orang baik-baik kok. Aku berpihak pada keadilan."

Setelahnya, Ayah Hael langsung duduk di sofa. "Puah! Apa sebaiknya aku ganti kerja saja ya. Tapi tagihan terlalu banyak, aku sama sekali tak punya pilihan."

"D-dia ayahmu?" bisik Alzen yang tak habis pikir tentang sosok ayahnya.

"Iya, aslinya dia jarang sekali pulang. Tapi tumben sekali..." jawab Hael dengan bisik-bisik.

"Hael! Harusnya kamu senang jadi anakku, bisa tinggal di rumah mewah ini tanpa harus capek-capek kerja.” Tunjuknya pada sekitar rumah. “Soalnya Aku nih! Yang susah payah cari duit buat kamu. Tapi aku gak bisa nikmatin, Yang nikmatin siapa? Ya cuma kamu. Aku kebagian capek doang. Setiap hari berurusan sama kriminal dan perang." 

“...” Hael terdiam menunduk, tapi dengan suara kecil ia bilang. “Aku juga tidak nikmatin kok.”

Keluhnya Esterio dalam kondisi tubuh yang letih. "Yah... memang masalah orang dewasa tak jauh-jauh dari situ sih. Jadi apa gunanya aku mengeluh.” kemudian ia berdiri. “Richard!” sahutnya. “Ambilin kopi dong! Sekalian rapihkan kamarku! Habis ini aku mau tidur!"

"Siap tuan!" Richard langsung melayani secepat mungkin. Sampai ia harus berlari.

“Sepagi ini? Tidur?” pikir Alzen.

***

Beberapa menit setelahnya,

"Puahh! Kalian tuh masih muda, enak! Punya tenaga, punya harta, punya waktu juga. Lengkap deh pokoknya." ucapnya sambil menyeruput kopi hangat. “Kalau bisa, aku sih mau bayar satu juta rez untuk setahun umur kalian lalu ditukar dan membuatku jadi muda lagi.”

“Aku mau kalau gitu.”

“Hahaha...” Erebus berhenti minum dan tertawa. “Kamu benar-benar tidak mengerti. Tadi siapa namamu? Alzen ya?"

"I-iya..." jawab Alzen ragu-ragu.

“Kau orang yang seperti apa?”

“Ahh... bagaimana ja-“

Potong Erebus. "Kalian teman sekelas?"

"Tidak, hanya sama-sama pelajar di Vheins saja." jawab Alzen dengan hati-hati.

"Ohh gak sekelas? Kamu kelas apa?"

"Ignis, nama khusus untuk kelas api."

"Ahh... dijelasin gimana juga, aku gak begitu ngerti sih." jawab Erebus sambil garuk-garuk kepala. "Vheins sih urusan si pak tua genius itu. Tapi kok, aku heran. Kamu kalau bawa teman kesini ganti-ganti terus? Temanmu yang lain mana?"

"..." Hael tak menjawab melainkan hanya menundukkan kepala.

Ayah Hael berdiri dan...

BUAAKK!

Erebus spontan meninju pipi kiri Hael keras-keras sampai bengkak dan terjatuh dari kursinya.