Episode 14 - Kebangkitan


Setelah kejadian itu, Lerajie masih terus mengulangi apa yang dia lakukan. Memar di tangannya masih terlihat dengan jelas, juga aroma darah yang belum mengering masih bisa tercium. Semua itu karena keesokan harinya, setelah hari itu, dia melihat sebuah retak kecil pada gerbang raksasa itu, pada tempat di mana dia menyerang.

‘Clang Clang Clang’

Melodi dari besi yang saling berbenturan terdengar terus menerus dan menggema di telinga Sitri yang menonton dari jauh Lerajie seorang diri menghantam gerbang raksasa itu dengan tombak. Meskipun dia tampak lelah dan goyah, akan tetapi sorot matanya terus memancarkan rasa percaya diri.

Lingkungan di sekitar gerbang raksasa itu sepi dan gelap, bulan berwarna biru yang menggantung di langit tidak mampu menerangi. Meskipun begitu, itu tidak membuat sedikitpun rasa takut dan ragu melintas dalam benak Lerajie.

Sitri mengepalkan tinjunya, berjalan menjauh dan hilang dalam kegelapan. Dia berjalan melintasi kota yang sesak dengan keramaian. Tidak lama kemudian dia berhenti di depan sebuah bangunan megah dan kokoh. Terdapat banyak penjaga yang dipersenjatai pedang dan tombak menjaganya. Karena ini adalah salah satu tempat paling penting, yaitu gudang senjata.

Di sana terdapat banyak senjata hebat dan kuat, akan tetapi sangat berbahaya, juga, ada rahasia besar yang telah terkubur dalam catatan kelam negeri ini. Tidak mungkin Sitri bisa meminjam atau memintanya, jadi, satu-satunya cara adalah dengan kekerasan.

Sitri mengeluarkan tombak perak miliknya, mengepakan sayap griffin di punggungnya dan dengan cepat melesat menuju para penjaga. Mereka tidak siap dengan serangan mendadak dari Sitri hingga membuat mereka panik. Tidak butuh waktu lama, seorang penjaga memiliki luka tusuk di dadanya dan membuat dia tidak lagi bernafas.

“Siapa kau?” seorang penjaga berteriak sambil memegang tombaknya dan dengan waspada memandang si penyerang, yang karena gelapnya malam, membuat dia tidak dapat dikenali.

Sitri mencabut tombak peraknya yang tertancap di dada seorang penjaga lalu tanpa ampun mulai melesat dengan cepat menuju penjaga lainnya. Mayat penjaga mulai bertambah seiring berjalannya waktu, membuat tempat itu menjadi seperti ruang pembantaian.

“Cepat! Panggil bantuan!” salah seorang penjaga berteriak, tapi tidak lama kemudian sebuah tombak perak tertancap di dadanya. Dia menyemburkan darah dari mulutnya dan akhirnya melihat siapa sebenarnya si penyerang itu.

“Kau....” Penjaga itu tampak tidak percaya dengan apa yang dia lihat, tidak pernah sedikitpun dia menduga bahwa si penyerang itu adalah dia. Tombak perak ditarik keluar dari dada si penjaga, darah segar mengalir deras dan penjaga itu segera tumbang, tidak lagi bernafas.

Sitri telah mengambil jalan penuh darah ini, tidak mungkin lagi baginya untuk kembali, satu-satunya yang menunggu di depannya adalah derita. Tapi, dia rela melakukan semua ini, untuk membuat harapan Lerajie terwujud.

Tidak ada lagi penjaga di sekitar Sitri, mereka sudah mati dan ada juga yang melarikan diri. Pintu gudang senjata terbuat dari besi yang telah ditempa bersamaan dengan tulang dari naga, yang membuat pintu itu mustahil ditembus dengan cara biasa.

Namun, itu tidak berlaku untuk Sitri. Dengan tombak peraknya, dia mengumpulkan energi dari dalam tubuhny. Tidak lama, tiba-tiba muncul api merah pada ujung tombaknya. Beberapa saat kemudian warna merah itu berubah menjadi biru. 

Tingkatan kedua, api biru.

Sitri adalah salah satu yang selamat dari perang besar yang sebelumnya terjadi, dia bersama tombaknya berhasil menumpas musuh di hadapannya dan selamat hingga dinobatkan sebagai salah satu pemimpin pasukan. Karena itu pula penjaga tadi tidak menyangka, bahwa Sitri, lah, yang telah menyerangnya.

Tombak perak itu di selimuti dengan api biru, kobarannya membakar apapun yang tersentuh, bahkan pakaian Sitri sekalipun. 

Sitri dengan perlahan membuka sayapnya, bersiap untuk menghantam pintu kokoh itu. Diiringi suara kepakan sayap, dia terbang lurus untuk menyerangnya.

‘BAMM’

Suara ledakan terdengar sangat memekikan telinga, aroma besi yang meleleh tercium sangat menyengat. Nafas Sitri tersengal-sengal setelah melakukan semua ini, api biru itu menguras hampir setengah dari energinya.

Sitri mengatur nafasnya lalu berjalan maju, dia melihat banyak senjata yang di simpan di ruang ini, akan tetapi dia tidak peduli. Tujuannya hanya satu, yaitu mengambil pedang itu, Gram.

Sitri terus berjalan menyusuri lorong penuh senjata, hingga dia sampai pada sebuah ruangan palling akhir, dia masuk dan melihat pedang itu, tertancap di sebuah naga yang tersegel. 

Naga itu memiliki banyak luka di sekujur tubuhnya, sayapnya juga telah compang-camping, akan tetapi aura yang keluar darinya masih saja membuat Sitri takjub sekaligus takut.

Sitri terbang ke arah pedang itu dan menatapnya dengan seksama, dia merasakan energi yang sangat luar biasa terpancar dan merasa pedang itu memanggilnya.

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar, itu bukan hanya satu dua orang, tapi ratusan. Sitri tidak mau membuang waktu lagi, dia memegang gagang pedang itu dan mencoba menariknya.

“Hentikan!” sebuah teriakan keras bergema di ruangan itu.

Sitri tidak memperdulikan teriakan itu dan terus memfokuskan energinya untuk mencabut pedang dari naga itu.

Orang yang berteriak tadi, Focalor, merasa sangat marah, dia mengepakan sayap griffin di punggungnya dan melesat ke arah Sitri. Namun, sebelum dia bisa mencapainya, sebuah aura kuat meletus yang membuat dia terlempar jatuh.

Focalor melihat ke arah Sitri dan segera merasa putus asa, pedang itu telah tidak lagi berada di atas kepala naga itu.

“Sitri, tahukah apa yang baru saja kau lakukan?” Focalor berteriak marah.

“Aku tahu, maka dari itu, aku melakukannya!” tatapan Sitri tajam menatap Focalor. Dia meregangkan sayap di punggungnya lalu terbang sambil memegang pedang gram di tangan kanannya dan tombak perak di tangan kirinya.

Tidak lama kemudian, mata naga yang telah lama terpejam mulai terbuka lagi. Dia mengedipkan matanya dan melihat semua yang ada di ruangan itu dengan rasa benci. Menegakan tubuhnya lalu meraung keras.

Raungan itu sangat keras, hingga membuat pingsan banyak pasukan yang telah Focalor bawa.

Mengambil kesempatan itu, Sitri terbang dan kabur dari ruangan itu. 

Focalor merasa sangat jengkel dan marah, dia mengepalkan tinjunya lalu berteriak, “Solas, kau urus pengkhianat itu, aku akan menahan naga ini!” 

Solas, dia memiliki wujud setengah gagak, dia juga adalah salah seorang pemimpin pasukan seperti Sitri dan Focalor. Setelah mendengar perintah Focalor, dia segera mengepakan sayapnya mengejar Sitri. Wajar saja, karena dibandingkan dengannya, Solas adalah yang paling lemah dalam hal fisik, sehingga sangat tidak cocok untuk melawan naga itu.

Focalor kembali melihat naga itu, dia merasa merinding di sekujur tubuhnya, dia tahu, dia tidak akan bisa menang dari naga itu.

“Cepat panggil bantuan lagi, aku sendiri tidak akan mampu untuk mengurus naga ini!” perintah Focalor, “Sisa yang lainnya, cepat kepung naga ini, kita harus mengulur waktu selama mungkin!”

Naga ini adalah musuh yang sangat berbahaya. Dia memiliki pertahan yang kuat dari sisik-sisiknya dan semburan api yang sangat panas. Selain itu, pasukan yang dibawa oleh Focalor tak memiliki armor apapun karena dia datang dengan terburu-buru.

Focalor harus menahan naga ini sampai yang lainnya datang.

Naga itu bergerak dengan kecepatan tinggi, memutar ekornya dan menghempaskan pasukan yang mengelilinginya. Para pasukan mati satu per satu.

Focalor melihatnya dengan ngeri dan menyadari sesuatu, para pasukan itu tidak akan berguna melawan naga ini.

Focalor terbang rendah sambil memegang sebuah pedang yang diambilnya dari seorang prajurutnya, dia lupa membawa pedangnnya.

“Semuanya, cepat menyingkir, biar aku sendiri yang akan melawannya!” Focalor berteriak sambil menatap tajam naga itu.

Para pasukan yang masih selamat segera pergi dan meninggalkan Focalor bersama dengan naga itu. “mereka benar-benar pergi?” pikir Focarol. Padahal dia berharap pasukannya akan mengatakan, “Kami tidak akan pergi, kami rela mati bersamamu, pemimpin!”

Namun, ternyata mereka langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Memang benar, Focarol selalu mengajarkan mereka untuk disiplin dan selalu mengikuti perintahnya. Tapi, enggak begini juga kali ... pikir Focarol.

Focarol menyalurkan energinya ke pedang itu, senjata yang tampak biasa itu mulai bersinar berwarna merah terang. Dia kemudian terbang menuju naga itu dan mengayunkannya ke arah naga itu.

Pedang yang telah di aliri oleh energi api milik Focalor menghantam sisik keras yang membungkus seluruh sisi naga itu. sinar merah terang itu segera lenyap dan pedang itu hancur berkeping-keping. Seperti yang diharapkan dari seekor naga yang pernah membuat dunia kacau balau, dia sangat kuat.

Dahulu kala, naga ini datang dan menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Namun, akhirnya naga ini berhasil disegel menggunakan pedang gram. Akan tetapi, setelah pedang itu terlepas darinya, naga itu kembali bangkit, meskipun dia masih belum memulihkan semua kekuatannya setelah tertidur sangat lama, seekor naga tetap tidak bisa dianggap remeh.

“Matilah!” naga itu meraung keras lalu membuat bola api dan memuntahkannya menuju Focarol.

Focarol merasa sangat ngeri dengan bola api dari naga itu, dia segera terbang untuk menghindarinya.

‘BOOM’

Suara ledakan terdengar sangat kencang dan angin hasil dari ledakan itu mendorong Focarol untuk terbang dan menabrak tembok gedung senjata ini hingga hidung mancungnya patah.

Focarol merasakan sakit karena hidungnya yang patah, akan tetapi setelah melihat tempat di mana ledakan itu terjadi, dia merasa lebih baik. Itu benar-benar hancur berantakan.

“Jangan menghindar!” teriak naga itu lalu membuat bola api lagi dan menembakannya ke arah Focarol.

Focarol tentu saja tidak akan mematuhi perintah dari naga itu, dia membuka lebar sayap griffin di punggungnya dan terbang menghindari bola api itu. Mungkin karena naga itu belum benar-benar memulihkan dirinya, sehingga kecepatan serangannya masih bisa dihindari Focarol dengan mudah.

Akan tetapi tetap saja, jika Focarol terkena serangan itu dia pasti akan langsung habis terbakar.

Focarol terbang berputar-putar di ruangan itu, sedangkan naga itu terus menerus menembakan bola api dan menghancurkan apa pun yang dia sentuh. Api membara dan mayat-mayat para prajurit yang telah gugur hangus terbakar.

Focarol terus terbang sambil sambil menghindari serangan bola api naga itu untuk mengulur waktu sampai yang lainnya datang membantu.

Meskipun terus menerus membuat bola api, akan tetapi naga itu tetap terlihat sangat gagah dan perkasa, seakan dia tidak mengeluarkan banyak energi untuk membuat bola api itu. 

Dia memang memiliki energi yang tidak terbatas dan daya tahan tubuh yang sangat kuat. 

Inilah kehebatan dari naga yang sempat memporak-porandakan negeri neraka ini, Fafnir.