Episode 182 - Salah Jalan


“Siapakah kalian!?” 

Seorang gadis belia terlihat sangat berang. Saat ini, ia sedang berhadapan dengan empat orang ahli yang tak dikenal sekaligus mencurigakan. Meski hanya seorang diri, tiada sedikit pun ia merasa gentar. Sebaliknya, sorot kedua mata menatap tajam, sampai seolah dapat mengiris-iris kulit dan daging.

“Sekali lagi, siapakah kalian yang lancang melangkah ke dalam wilayah Perguruan Anantawikramottunggadewa!?” 

Gadis belia ini awalnya sedang berlatih seorang diri di salah satu tempat di dalam wilayah Perguruan Anantawikramottunggadewa. Atau, lebih tepatnya, di dekat goa yang mana memiliki keunikan dalam meningkatkan kemampuan indera keenam, atau banyak dikenal sebagai Lintasan Saujana Jiwa. Di sekitar tempat ini, sering kali sepi dari murid-murid. Sesuai aturan perguruan, sesiapa pun yang hendak melangkah ke dalam Lintasan Saujana Jiwa, memerlukan izin khusus. Di saat yang sama, murid-murid juga wajib ditemani pendamping yang setidaknya menjabat sebagai Maha Guru, atau sudah berada pada Kasta Emas. 

Lamalera, sebagai putri angkat Pendiri Perguruan, tentunya memiliki hak istimewa. Walhasil, setiap memiliki waktu luang, maka dirinya tak akan lalai untuk meningkatkan keahlian. Ia tak hendak terus-menerus menatap punggung seorang teman dari belakang. Ia hendak melangkah sejajar berdampingan. Berlatih giat seolah sudah menjadi nama belakang dari tokoh ini. Lamalera Berlatih Giat! 

Perlahan, Lamalera kemudian terlihat mengangkat kedua belah lengan. Demikian banyak perhiasan logam yang ia kenakan di sekujur tubuh, yang mulai terlihat bergetar pelan. Tetiba, perhiasan-perhiasan tersebut terlepas, dan merangkai menjadi sebuah senjata nan panjang. Sebilah tempuling! 

“Hm…?” Salah seorang dari empat ahli yang menceroboh, yang berdiri paling depan, mengangkat kepala. Ia memerhatikan dengan seksama. Awalnya, tokoh tiada berminat meladeni gadis tersebut. Akan tetapi, setelah menyaksikan senjata pusaka yang dihunus di kedua lengan, dirinya kini berubah menjadi sangat penasaran. 

Ingatan masa lalu mencuat di dalam benaknya. Sungguh dalam bekas yang tertinggal dalam bentuk kenangan. 

“Tempuling Malam...,” gumam Kum Kecho pelan. “Sungguh mengingatkan aku akan hari-hari dimana senjata pusaka itu digunakan untuk mengincar dan menikam bertubi-tubi.” 

Lamalera tersentak. Dari manakah lawan dapat mengenal akan Tempuling Malam? Senjata ini diwariskan oleh gurunya, Mayang Tengggara. Mungkinkah sosok berjubah hitam itu mengenal Guru Mayang? Berjubah hitam...?

“Seruni, hadapi dia!” perintah Kum Kecho.

Lamalera tak sempat mengingat-ingat dimana kiranya ia pernah mengetahui atau mendengar tentang tokoh ini. Karena salah satu lawan menunjukkan gelagat untuk bertarung, ia menarik selangkah. Waspada. Lamalera dapat menyadari bahwa keempat ahli berjubah serba hitam di hadapan, sudah berada pada Kasta Perak!

Seorang gadis bertubuh bongsor melompat maju. Ia mengenakan jubah yang kependekan sehingga menggantung di atas lutut. Kendatipun demikian, sesuai perintah Tuan Guru, kini gadis berambut pendek itu mengenakan celana panjang nan sedikit longgar. Sepasang sepatu bot berderap gagah dan perkasa di kala ia melangkahkan kaki. 

Lamalera bersiaga. Ia sudah dapat menilik bahwa lawan kali ini merupakan petarung jarak dekat, serta bersenjatakan tangan kosong. Demikian, lawan akan lebih mengandalkan kekuatan raga. Disadari pula bahwa pukulan dari ahli Kasta Perak Tingkat 1 terhadap ahli Kasta Perunggu Tingkat 9, bilamana mendarat telak... dapat berakibat fatal!

“Srek!” Tempuling Malam dihunuskan lurus ke depan sebagai upaya menjaga jarak. Peluang kemenangan sangatlah kecil, dan Lamalera menyadari akan hal ini. Bilamana terbuka kesempatan, maka dirinya akan bergegas melarikan diri, kemudian memanggil bantuan. 

“Hya!” Seruni Bahadur, meski menyadari bahwa lawan menghunus galah logam nan panjang, tiada gentar. 

Seruni Bahadur kemudian menyerang membabi-buta. Akan tetapi, berkat kelincahan kesaktian unsur angin, Lamalera masih dapat menjaga jarak aman. 

“Keunggulan tempuling terletak pada ujung tajam yang digunakan untuk menikam. Persempit jarak.” Kum Kecho melontar nasehat. 

Seruni Bahadur pun segera melompat maju. Meski bobot tubuhnya besar, ia cukup lincah dalam bergerak. Lengan kanannya merentang jauh sebelum menyapu bogem nan keras ke arah lawan. Lengan kiri yang menempel di pinggang, lalu menyusul melepaskan tinju lurus ke depan. 

Lamalera menebaskan tempuling, berupaya untuk terus menjaga jarak. Kecepatan langkah dari kesaktian unsur angin pun dimanfaatkan seoptimal mungkin, untuk selalu bergerak mengikuti alunan serangan lawan. Berkat ukuran panjang senjata dan unsur kesaktian, jarak antara kedua ahli yang bertarung masih terjaga dalam ruang lingkup yang aman. Aman bagi Lamalera, tentunya. 

Meskipun demikian, kecepatan dan ancaman kekuatan pukulan lawan membuat Lamalera tiada dapat melancarkan serangan balik. Dalam benaknya, kini hanya berharap sebuah kesempatan terbuka untuk melarikan diri. Dengan demikian, pergerakan Lamalera dalam menghindari serangan dilakukan untuk menjauh dari ketiga ahli Kasta Perak lain, yang sampai sejauh ini masih asyik menonton. 

“Berputar. Serang dari sisi lain.” Lagi-lagi terdengar suara memberi perintah. Kum Kecho tentunya telah menyadari bahwa lawan Seruni Bahadur kali ini, hanya bertahan dan menjaga jarak. Ia pun mengetahui bahwa tujuan utama lawan tersebut adalan mencari celah untuk melarikan diri. 

Perbedaan pada kasta keahlian tiada dapat dibohongi. Lamalera tak dapat berbuat banyak di kala Seruni Bahadur bergerak memutar ke belakang dirinya. Kendali dalam pertarungan ini, sepenuhnya berada di dalam genggaman lawan!

Sekira limabelas menit berlalu. Pertarungan terlihat lebih mirip sebagai permainan kucing-kucingan. Andai saja Lamalera memiliki kemampuan melarikan diri setingkat Bintang Tenggara, maka kemungkinan besar ia sudah melenggang meninggalkan Seruni Bahadur. Bahkan, kemungkinan ia sudah tiba di tempat salah satu Maha Guru Perguruan Anantawikramottunggadewa, kemudian melaporkan bahwa terdapat empat ahli mencurigakan yang berkeliaran di dekat Lintasan Saujana Jiwa. 

“Srek!” Lamalera menikamkan Tempuling Malam. Meski dapat dihindari, teriba jeruji panjang dan tajam mencuat dari bilah senjala pusaka tersebut!

“Mega Pahat, Gerakan Pertama: Besar Pasak Dari Tiang!” 

Pada kedua lengan Seruni Bahadur, dari punggung sampai ujur jemari, serta-merta dilingkupi oleh aura tenaga dalam. Jurus persilatan ini mirip dengan jurus Parang Naga milik Panglima Segantang. Bilamana tenaga dalam pada jurus Parang Naga berfungsi melebarkan dan memanjangkan bilah parang, maka pada jurus Mega Pahat, tenaga dalam berwarna gelap setengah transparan melingkupi kedua lengan Seruni Bahadur. Tenaga dalam tersebut kemudian terlihat mengambil wujud seperti sepasang paku raksasa! 

Seruni Bahadur terlihat seperti seorang algojo nan sangat perkasa. Kedatangannya hanyalah demi satu tujuan. Ia hadir untuk mencabut nyawa!

Dengan demikian, Lamalera terpaksa menelan kekecewaan. Kemampuan rahasia dari Tempuling Malam, dengan mudahnya ditepis oleh lengan Seruni Bahadur. Lagi-lagi, jurang yang memisahkan kekuatan di antara keduanya terpaut teramat dalam dan terjal. 

Di saat yang bersamaan, Kum Kecho mengernyitkan dahi. Adalah dirinya yang mengajarkan jurus persilatan Mega Pahat kepada Seruni Bahadur, dan taraf keserasian antara ahli dan jurus tersebut mencapai tingkat yang sangat tinggi. Meskipun demikian, di kala menyaksikan jurus tersebut dikerahkan, malah membuat ia gelisah. 

Kemungkinan besar, Kum Kecho diturunkan jurus ini dari seseorang ahli di masa lalu... seorang ahli yang amat dibenci.  

Kedua mata Seruni Bahadur tak pernah lepas mengunci posisi musuh. Seranganya datang bertubi-tubi penuh tenaga. Setiap langkah yang ia ambil, berarti ancaman besar bagi Lamalera. Setiap ayunan lengan yang ia lepaskan, menjadi momok bagi lawannya. 

Dalam situasi sulit, benak Lamalera malah mengingat betapa alami dan mudahnya bagi Bintang Tenggara melarikan diri di kala dirinya mengejar. Baru kini ia menyadari bahwa di dalam dunia persilatan dan kesaktian, tindakan melarikan diri adalah suatu keterampilan tersendiri. Dibutuhkan taktik yang matang untuk dapat menjaga jarak dengan pengejar, bahkan melepaskan diri dengan piawai. 

Meski Lamalera secara nyata memanglah lebih unggul dalam teknik bertarung menggunakan tempuling. Gadis belia tersebut menumbuhkan keahlian di bawah panduan seorang lamafa bernama Mayang Tenggara. Ketika Mayang Tenggara harus bepergian, ia dipindahtangankan kepada dan dilatih oleh Resi Gentayu. Dengan kata lain, Lamalera tumbuh di bawah bimbingan ahli-ahli digdaya di dalam lingkungan yang relatif aman. 

Kondisi pertumbuhan kedua ahli ini bertolak belakang. Bintang Tenggara tumbuh karena terjerumus ke dalam berbagai keadaan yang membahayakan jiwa. Walau berada di bawah pengawasan Komodo Nagaradja, Bintang Tenggara lebih banyak diasah oleh perkembangan situasi hidup dan mati. Sampai pada batasan tertentu, keterbatasan kemampuan Komodo Nagaradja dalam mengajarkan jalan keahlian justru membangun kepiawaian sang murid dalam mengembangkan diri. 

“Buk!” Kepalan tinju lengan kanan Seruni Bahadur mendarat telak!

Lamalera merasakan getaran keras dan serta merta terlontar jauh ke belakang… Akan tetapi, di luar perkiraan, ia mendarat dan memutar tubuh untuk segera berlari menjauh. Ini adalah teknik dasar melarikan diri yang sangat Bintang Tenggara kuasai, dimana Lamalera pernah pula menjadi korbannya. Di saat-saat akhir, Lamalera menahan kepalan tinju yang dibalut jurus persilatan Mega Pahat dengan bilah tempuling. Kemudian, gadis tersebut memanfaatkan kekuatan dorongan pukulan untuk melontarkan tubuh menjauh dari lawan. 

“Ngiinggg….” Ratusan nyamuk terlihat terbang berkerumun bak asap pekat. Kerumunan nyamuk kemudian menghadang arah berlari gadis belia itu. 

Lamalera dipaksa menghindar ke samping. Ia lalu menoleh ke arah ketiga ahli yang masih menonton… 

“Kau… Kau adalah Kum Kecho!” hardik Lamalera. Jubah hitam dan pawang binatang siluman serangga… akhirnya ia mengingat akan ciri-ciri sosok tersebut sesuai dengan gambaran yang disampaikan oleh Bintang Tenggara. 

“Apakah engkau datang hendak menghisap darah!?” sergah Lamalera. Wajahnya sedikit pucat. Bintang Tenggara memang agak berlebihan di kala menyampaikan ceritera tentang tokoh tersebut. 

Kum Kecho berhasil menyembunyikan keterkejutan dirinya. Sesungguhnya ia memerintahkan Seruni Bahadur menyerang Lamalera untuk memastikan sebuah kecurigaan. Bila dilihat dari kepiawaian dalam menggunakan Tempuling Malam, maka tak diragukan lagi bahwa kecurigaan tersebut terbukti beralasan… bahwasanya Lamalera merupakan anak didik Mayang Tenggara!

Akan tetapi, seharusnya Mayang Tenggara tiada mengetahui bahwa dirinya menggunakan nama Kum Kecho. Sejauh mana pengetahuan segenap ahli akan jadi dirinya…? Lalu, siapakah yang membuat-buat cerita bohong tentang dirinya yang suka menghisap darah!? 

“Tuan Guru, izinkan budakmu menghabisi gadis itu…,” bisik Melati Dara, yang segera melompat maju. Dahlia Tembang ikut menyusul, walau tiada terburu-buru.

Lamalera terjepit. Kerumunan nyamuk di belakang, gadis bertubuh bongsor di hadapan, dan kini dari sisi kiri dan kanan… dua lagi lawan mulai bergerak. Andai saja ia ketahui, bahkan Bintang Tenggara yang piawai dalam melarikan diri, dipaksa mengeluarkan golok Mustika Pencuri Gesit guna melepaskan diri dari kepungan. 

Kum Kecho membiarkan saja campur tangan Melati Dara dan Dahlia Tembang. Dalam dunia persilatan dan kesaktian, bilamana sudah ajal, maka malaikat maut akan datang menjemput… tiada peduli murid siapa pun dia.

Lamalera menggeretakkan gigi. Sungguh ia tak tahu harus berbuat apa.  

“Ehem…” Tetiba suara berdehem terdengar menggelegar. Melati Dara, Dahlia Tembang, serta Seruni Bahadur terdiam di tempat. Ketiganya merasakan tekanan yang teramat berat mendera tubuh. Mereka dipaksa berlutut seketika itu jua. 

Kum Kecho menengadah. Jauh tinggi di udara, sesosok ahli yang berpakaian serba abu-abu melayang ringan. Terpaan angin mengombang-ambingkan jubahnya ke sana-kemari. Aura yang ia pancarkan demikian tiada dapat dicerna!

Sosok tersebut lalu melesat turun. Anehnya, di saat turun tersebut, perawakannya berubah-ubah. Awalnya ia adalah seorang kakek tua, lalu berubah menjadi lelaki dewasa, dewasa muda, remaja… Semakin ia turun, maka semakin muda pula penampilannya. Anehnya lagi, ukuran dan model jubah kelabu yang ia kenakan, pun ikut menyusut dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman!

Seorang anak remaja berusia sepantaran mendarat hanya beberapa langkah di hadapan Kum Kecho. Ia lalu melangkah pelan, dan kini berdiri persis di hadapan Kum Kecho. Jarak mereka terpaut tak lebih dari satu jengkal sahaja… Keduanya hanya diam, saling menatap. 

“Elang Wuruk… sahabatku…,” bisik Resi Gentayu, alias Airlangga, yang kini berpenampilan layaknya seorang anak remaja. 

Kum Kecho hanya diam membatu. Wajahnya terlihat sedikit kusut. 

“Sebutkan keinginanmu… dan aku akan sepenuhnya membantu.”

“Aku tak butuh belas kasihan!” gerutu Kum Kecho. “Tidak dari engkau, tidak dari sesiapa pun!”

“Lalu, apakah gerangan niat engkau datang bertandang?” 

“Aku hendak menggunakan Lintasan Saujana Jiwa.”

“Srek!” 

Tak jauh dari mereka, dari balik kemurunan semak belukar, tetiba seseorang melangkah keluar. Seluruh pandangan mata yang sedang memantau kedua anak remaja yang saling berhadap-hadapan, spontan menoleh ke arah sosok tersebut. Bahkan Kum Kecho dan Resi Gentayu, ikut melirik. 

Seorang gadis melangkah gontai. Walau sorot kedua matanya menatap kosong, wajahnya demikian ayu, Ia mengenakan jubah berwarna ungu.

“Permisi…,” tegur gadis tersebut datar. Sunggguh ia kurang peka terhadap situasi yang sedang berlangsung. “Kemanakah arah menuju Perguruan Ananta… Ananta… dewa…?” 

Seluruh ahli yang hadir di wilayah tersebut, menatap bengong. Saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi seseorang untuk bertanya arah…

Melati Dara tiada mengingat tokoh tersebut, karena mereka hanya berpapasan di jalan selama beberapa saat saja. Kum Kecho, di lain sisi, masih mengingat jelas gadis tersebut sebagai pemilik Selendang Batik Kahyangan. Bahkan, dirinya mengingat betul tajamnya kerambit yang mengiris paha, saat mereka saling berhadapan di ruang dimensi berlatih Perguruan Gunung Agung. 

Walhasil, antara situasi yang kurang pas dan keterkejutan, tiada satu pun yang menanggapi pertanyaan Embun Kahyangan. Gadis itu pun tiada mengulangi pertanyaan yang diajukan. 

Meninggalkan sejumlah ahli yang masih kebingungan, dengan gontai Embun Kahyangan meneruskan langkah. Belum terlalu jauh, terlihat ia berhenti sejenak. Gadis tersebut lalu menoleh ke kiri, ke kanan, ke kiri lagi… Benar-benar seperti seseorang yang tersesat di jalan.

Tak perlu waktu lama baginya mengambil keputusan. Ia pun kembali meneruskan perjalanan. Akan tetapi, tanpa disengaja, Embun Kahyangan malah melangkah masuk ke dalam… Lintasan Saujana Jiwa!



Cuap-cuap:

Beberapa hari lalu, perbincangan dengan seorang kawan menggunakan aplikasi BBM:

Kawan: “Bro, lama kali ceritanya... jelaskanlah sikit alurnya.”

Ane: “Belum tahu, bro.”

Kawan: “Ah! Macam mana pula belum tahu...?”

Ane: “Ceriteranya berjalan berbarengan... Ane menebar mata hati dan mengintip ke dunia paralel.... habis itu baru ditulis.” 

Kawan: “Gitu ya, bro. Macam mana pula cara pakai mata hati?”

Ane: “Jadi, begini...” 

Setelah diajarkan panjang lebar. 

Kawan: “Susah kali, bro...” 

Ane: “Makanya... tunggu aja, ya.”