Episode 181 - Penyamun...


“Hmph!” terdengar dengusan Komodo Nagaradja. “Sungguh aku memiliki murid yang tiada berbakti... bagaimana mungkin sebagai ahli dapat menerima kekalahan dengan lapang dada!?” 

Bintang Tenggara mengabaikan saja. Ia sepenuhnya menyadari bahwa kekalahan dirinya tempo hari masih membuat si Super Guru Komodo Nagaradja demikian sebal. 

“Banyak yang akan menilai aku ini sebagai guru yang gagal...” Padahal, hanya beberapa ahli saja yang mengetahui keberadaan Komodo Nagaradja sebagai guru dari Bintang Tenggara. “Mau ditaruh di mana mukaku ini! Harga diriku tercoreng!” 

...


“Sahabat Bintang... Kini adalah waktunya kita berpisah.” 

Bintang Tenggara menatap ke arah Panglima Segantang. Pembawaan remaja bertubuh bongsor tersebut masihlah sedikit kaku. Namun demikian, kini tak ada lagi keraguan dari sorot matanya. 

“Aku akan kembali ke Kepulauan Serumpun Lada. Kemudian, aku akan melanjutkan pengembangan keahlian di Danau Istana Api. Selain mendalami kesaktian unsur api, lokasi perguruan tersebut juga dekat dengan kampung halaman.” 

Bintang Tenggara menjawab dengan anggukan. Awalnya, ia memandang Panglima Segantang sebagai pribadi yang menyusahkan karena senang mengajak berlatih tarung setiap ada kesempatan. Terlebih, bilamana mendapati prinsip-prinsip keprajuritan dilangkahi, maka Panglima Segantang tak akan segan-segan berkelahi dengan siapa pun itu. Untunglah status sebagai Murid Utama dan Putra Perguruan di Perguruan Gunung Agung, membuat tak ada yang berani bertindak sembarangan ketika berhadapan dengan Panglima Segantang.  

Akan tetapi, Bintang Tenggara juga mengingat banyak pengalaman pahit dan manis bersama dengan sosok berambut cepak tersebut. Panglima Segantang adalah teman seusia pertama di luar Pulau Paus, teman berlatih tarung pertama, teman yang selalu optimis bilamana dihadapkan pada situasi rumit sekalipun. Benak Bintang Tenggara melayang kepada saat dimana berhari-hari mereka dikejar-kejar gerombolan babi, kemudian menghabiskan waktu sebagai peternak tangguh di dalam dimensi ruang dan waktu Cembul Manik Astagina. 

“Kawan Canting, Kawan Kuau dan Kawan Aji... kutitipkan sahabatku Bintang Tenggara. Kumohon kalian memastikan bahwa ia tiada lalai dan bermalas-malasan dalam berlatih.” 

Hanya Bintang Tenggara yang mengetahui bahwa akibat bakat persilatan yang terlampau besar, Panglima Segantang tak memiliki banyak teman seusia. Regu Dayung Penakluk Samudera adalah beberapa teman bagi Panglima Segantang. Akan tetapi, kini setidaknya Panglima Segantang memiliki empat teman yang percaya sepenuhnya. 

Kelima anak remaja sedang berdiri di depan gerbang dimensi di Kota Taman Selatan. Sebuah gerbang dimensi ruang menyibak perlahan. Untuk kembali ke Kepulauan Serumpun Lada, maka Panglima Segantang setidaknya harus melakukan transit lorong dimensi ruang sebanyak tiga atau empat kali. Terlalu jauh jarak terpaut dari wilayah tenggara ke barat laut Negeri Dua Samudera. Bahkan benar-benar berseberangan arah. 

Sebagai catatan, ketika tiba di Kerajaan Parang Batu akibat penyimpangan arah, Panglima Segantang hanya sekali terbawa arus lorong dimensi ruang. Sampai saat ini, baik Panglima Segantang, Bintang Tenggara maupun segenap ahli tiada menyadari apakah penyebab penyimpangan arah, serta keanehan yang terjadi pada seluruh gerbang dimensi ruang di wilayah tenggara kala itu. Kemungkinan besar, hanyalah Kum Kecho yang memiliki sedikit gambaran bahwa Bintang Tenggara melakukan ‘sesuatu’ sehingga turut membuka segel Kepompong Sutera Lestari. Sesuatu tersebut adalah membuka segel terhadap Pulau Bunga yang dirapal oleh Kaisar Iblis Darah. 

“Panglima Segantang engkau tiada perlu meragu. Aku akan mengajak Bintang Tenggara berlatih di malam hari!” sahut Aji Pamungkas. 

Tak satu pun ada yang hendak menanggapi Aji Pamungkas, alias pemandu acara gadungan. 

“Sahabat Bintang...,” wajah Panglima Segantang berubah lesu. Ia melangkah maju. 

Bintang Tenggara spontan mundur selangkah. Ada gelagat bahwa Panglima Segantang seperti hendak datang memeluk. 

“Bawalah ini...,” tetiba Bintang Tenggara menyodorkan Kartu Satwa yang memuat Harimau Bara. Telah diketahui bahwa kini Panglima Segantang sudah bisa membuka segel ruang dari Kartu Satwa. 

“Batang selasih permainan budak. Berdaun sehelai dimakan kuda. Bercerai kasih bertalak tidak. Seribu tahun kembali juga.”

Demikian, Panglima Segantang melompat ke dalam gerbang dimensi ruang. Sebagai catatan, pantun  dsampaikan sesungguhnya kurang tepat. 

“Hmph! Sayang sekali... anak itu demikian berbakat, dan pastinya tak akan tampil mengecewakan,” Komodo Nagaradja. Sebuah sindiran halus. 

Aji Pamungkas kemudian melangkah maju, lalu memutar tubuh. Sebuah buntelan berukuran sedang berada dalam genggaman. “Aku sebenarnya tak hendak meninggalkan Perguruan Gunung Agung selama masa liburan ini. Akan tetapi, apalah daya...” 

“Sampaikan salam hormatku kepada ayahandamu...,” ujar Bintang Tenggara cepat. Di dalam benaknya, bayangan kumis tebal Adipati Jurus Pamungkas sungguh menyeramkan. 

Aji Pamungkas melangkah ke arah Canting Emas dan Kuau Kakimerah. Canting Emas segera memasang kuda-kuda. Kuau Kakimerah beringsut ke balik tubuh Canting Emas. Aji Pamungkas menghentikan langkah. Kemungkinan besar ia akan babak-belur bila memaksakan diri untuk memeluk kedua gadis belia tersebut. 

“Sampai bertemu lagi dalam satu purnama,” ujar Aji Pamungkas sebelum melompat ke dalam gerbang dimensi ruang. 

“Sahabatku Canting... kita pun akan bersua lagi dalam satu purnama,” ujar Kuau Kakimerah. 

“Kembalilah segera bilamana memungkinkan,” sahut Canting Emas cepat. 

“Bintang di langit tenggara... di saat kita bertemu lagi... maka diriku berharap sudah cukup berani menyampaikan sesuatu tentang suku Dayak Kaki Merah.” 

Bintang Tenggara tiada memahami maksud dari kata-kata Kuau Kakimerah. Ia hanya menyaksikan gadis tersebut melangkah lalu menghilang ke dalam gerbang dimensi. 

“Bukankah bila menggunakan gerbang dimensi menuju Kerajaan Parang Batu akan menghemat waktu menuju Pulau Paus?” aju Canting Emas. 

“Diriku sengaja hendak menempuh perjalanan laut,” jawab Bintang Tenggara. 

“Sengaja... sebagaimana kekalahan beberapa hari lalu...?” sela Komodo Nagaradja menggunakan jalinan mata hati. 


===


Matahari bersinar ramah. Langit berwarna biru, dengan sedikit gumpalan awan yang berarak teratur. Desir ombak yang beriringan mengantarkan aroma laut nan segar. Hembusan angin laut menyapa dengan santun. 

Kedamaian inilah yang hendak Bintang Tenggara raih melalui perjalanan laut. Sensasi yang dirasa sangat berseberangan dengan jalan keahlian nan banyak memuat kekerasan dan dipenuhi dengan tipu daya. Laut, bagi anak remaja itu, selalu menyajikan suasana yang dapat menyejukkan kalbu. 

“Hmph! Berleha-leha di atas perahu! Sebentar lagi dia akan mulai membaca!” hardik Komodo Nagaradja. Tak perlu dijelaskan lagi kepada siapa ia berkata-kata. 

Bintang Tenggara tetiba teringat akan sesuatu. Segera ia merogoh ke dalam ruang dimensi penyimpanan di dalam mustika retak. Di dalam genggaman tangan, kini terlihat sebuah gulungan berwarna hitam. Apalagi bila bukan gulungan naskah milik Partai Iblis yang dicuri Panggalih Rantau. Menurut Lintang Tenggara, naskah tersebut memuat sesuatu ramalan kuno. 

‘Bintang di langit tenggara.

Agar ditopang sembilan unsur.

Langkah pertama menuju agung.

Tindak kedua memikat putih.

Gerak ketiga meraih gilang.

Sikap keempat menggeggam darah.’

Hm… Ramalan tentang apakah gerangan ini…? Apakah diriku yang dimaksud dengan ‘bintang di langit tenggara’? ‘Sembilan unsur’? apakah unsur kesaktian, ataukah mewakili pihak-pihak tertentu…?

“Ramalan itu…?”

“Apakah Kakek Gin mengetahui tentang ramalan ini…?”

“Ramalan itu belumlah lengkap adanya. Asal-muasalnya pun tiada diketahui pasti,” sahut Ginseng Perkasa. “Banyak ahli di masa lalu yang mencoba menerjemahkan dan mengira-ngira…”

“Hm…?”

“Kurasa, hanya bila ramalan tersebut telah lengkap adanya, barulah dapat kita memaknai isinya,” sambung Ginseng Perkasa. 

“Ramalan itu bukanlah tentang seorang murid yang mencoreng arang di wajah gurunya sendiri…,” cibir Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara segera menyimpan gulungan naskah nan berwarna hitam. Terkait ramalan, dirinya bukanlah seseorang yang terlalu percaya. Masa depan bukanlah sesuatu yang dapat ditebak dan percuma pula bermain tebak-tebakan. Yang dapat dilakukan terhadap masa depan adalah merencanakan, sedangkan hasilnya nanti tiada dapat dipastikan. 

...


“Adik Bintang Tenggara…? Mengapakah dikau datang berkunjung tanpa memberi kabar berita terlebih dahulu…?” Seorang lelaki dewasa muda terlihat berpenampilan resmi. 

“Kakak Lombok Cakranegara, apakah benar esok lusa akan berlangsung sebuah kegiatan pelelangan barang-barang langka di Kerajaan Parang Batu?” Bintang Tenggara tak hendak berbasa-basi dengan tokoh satu ini. Langsung kepada pokok permasalahan saja. 

“Oh… Lelang Akbar adalah kegiatan tahunan di Kerajaan Parang Batu. Hari ini adalah hari pembukaan. Kebetulan diriku hendak menuju ke Balai Lelang pusat kota.” 

Walhasil, Bintang Tenggara menghitung langkah bersama dengan rombongan dari Istana Utama Kerajaan Parang Batu. Kebetulan, adalah sang Pangeran Pertama yang akan membuka kegiatan Lelang Akbar tersebut. 

“Kakak Lombok! Adik Bintang!” tetiba terdengar suara menyapa di tengah perjalanan. 

“Kakak Panggalih!” sahut Bintang Tenggara. Betapa senang hati anak remaja itu mendapati tokoh yang mengajarkan kepadanya jurus Silek Linsang Halimun. Sebagaimana diketahui, tak terhitung berapa kali sudah jurus tersebut menyelamatkan jiwa. 

“Panggalih Rantau, sebagai seorang saudagar, tentunya dikau pun hendak menyaksikan kegiatan lelang….” ujar Lombok Cakranegara. 

“Tepat sekali!” 

“Bila demikian, kutitipkan Adik Bintang. Diriku harus menjalankan tugas,” ujar Lombok Cakranegara cepat. Ia lalu menyodorkan dua buah lencana. “Terimalah ini. Kalian akan mendapat bangku di tribun kehormatan.” 

Walhasil, Bintang Tenggara dan Panggalih rantau berpisah dengan Lombok Cakranegara. Keduanya lalu melangkah menuju pusat kota. Bintang Tenggara memantau situasi. Suasana kota terlihat ramai. Ramai sekali. Banyak ahli hilir-mudik, sibuk melakukan apa pun itu yang mereka lakukan. Sebagian besar dari mereka tentunya melangkah ke arah pusat kota. 

“Kakak Panggalih, sejak kapan dikau berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9….” Bintang Tenggara mengingat bahwa di kala tokoh tersebut mengantarkan dirinya, Panggalih Rantau hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 2. 

“Sejak kita berpisah arah di Pulau Karang, diriku terus-menerus diburu oleh anggota Partai Iblis. Di kala itulah diriku menyadari akan pentingnya berlatih demi meningkatkan keahlian,” jawab Panggalih Rantau bangga. 

“Kakak Panggalih membeli ramuan sakti…?” tebak Bintang Tenggara telak. Anak remaja tersebut memperkirakan bahwa Panggalih Rantau bukanlah jenis ahli yang senang dan giat dalam berlatih persilatan maupun kesaktian. 

Panggalih Rantau tertunduk lesu. “Benar sekali. Diriku terpaksa menguras isi tabungan demi ramuan-ramuan tersebut.”

Bintang Tenggara merasakan kegundahan hati Panggalih Rantau. 

“Padahal, tabungan tersebut seharusnya merupakan modal pernikahan… Yah… Biarlah… Keping-keping emas dapat dikumpulkan lagi. Nyawa hanya satu sahaja.” Ia mencoba menghibur diri. 

Tetiba Bintang Tenggara menghentikan langkah. Ia menoleh ke samping. Di antara dua bagunan yang berhimpitan, terdapat sebuah lorong nan gelap. Entah mengapa, dirinya merasakan sesuatu yang tak asing dari lorong tersebut. Bukanlah sebuah ancaman… akan tetapi sesuatu yang sulit dijelaskan. Apakah hanya perasaannya saja…?

Bintang Tenggara lalu menoleh ke arah Panggalih Rantau. Ia pun mendapati bahwa lelaki dewasa muda tersebut turut menatap ke arah lorong tersebut. “Apakah Kakak Panggalih juga merasakan sesuatu yang tak biasa…?” aju Bintang Tenggara. 

“Aneh…,” tanggap Panggalih Rantau. “Bukanlah sesuatu yang tak biasa. Sebaliknya, adalah sesuatu yang terasa sangat dekat…” 

Bintang Tenggara menoleh ke sekeliling. Sekian banyak ahli yang berlalu-lalang, namun tak terlihat seperti merasakan atau menyadari keanehan apa pun. Sepertinya, hanyalah mereka berdua yang merasakan sesuatu kejanggalan. 

“Apakah sebaiknya kita memeriksa ke sana…?” ujar Bintang Tenggara. 

“Apa pun itu, diriku ragu tentang kemungkinan menghasilkan keping-keping emas bilamana kita memeriksa.” Naluri sebagai saudagar nan penuh perhitungan tiada akan melakukan sesuatu yang tak jelas untung-ruginya. “Acara lelang akan segera dibuka. Sebaiknya kita periksa sepulang dari Balai Lelang nanti.”

Bintang Tenggara dan Panggalih Rantau meneruskan langkah. Keduanya telah tiba di depan sebuah gedung nan megah. Di sisi atas gedung tersebut, tertera tulisan besar ‘Balai Lelang’. Baris antrian nan panjang terlihat di sisi kiri. Sedangkan antrian di sisi kanan jauh lebih pendek. Panggalih Rantau kemudian mendatangi petugas jaga. Ia terlihat berbincang-bincang lalu menunjukkan lencana yang dibekali oleh Lombok Cakranegara. Tanpa banyak penjelasan, keduanya lalu diarahkan ke sebuah pintu khusus. Tiada perlu mereka mengantri baik di sisi kiri maupun kanan. 

Di dalam gedung, sebuah panggung besar membentang di hadapan. Latar belakang panggung merupakan tirai belundur berwarna merah gelap. Pada bagian-bagian tertentu, terdapat ornamen ukiran tetumbuhan yang terbuat dari kayu. Di sisi atas, sebuah lampu dari kristal yang besar bersinar gemilang. Sungguh sebuah ruangan nan mewah.

Persis di bagian tengah panggung, terdapat sebuah meja kecil berbentuk bundar. Dari jauh saja, terlihat bahwa ukiran-ukiran meja kecil tersebut merupakan karya seni bernilai tinggi.

Seluruh bangku tersusun menghadap panggung tersebut. Bangku terbagi menjadi beberapa bagian. Bintang Tenggara dan Panggalih Rantau menempati deratan bangku terdekat dengan panggung.

Tak lama, terlihat seorang lelaki berpakaian necis melangkah masuk. Ia merupakan sang pemandu acara. Setelah menyapa hadirin, ia pun mempersilakan Pangeran Pertama Kerajaan Parang menyampaikan kata sambutan. Lombok Cakranegara sebagai Kepala Pengawal terlihat mendampingi sang bangsawan. 

“Baiklah, para hadirin sekalian!” sapa sang pemandu acara setelah mempersilakan sang pangeran menempati bangku tempat duduknya. “Lelang Akbar Kerajaan Parang Batu telah dibuka!”

Tepuk tangan riuh rendah terdengar datang dari segenap hadirin. Empat orang ahli Kasta Perak memudian melangkah masuk, dan terlihat mengambil di setiap sudut panggung. Mereka diupah sebagai penjaga keamanan kegiatan lelang. 

“Sebagai sajian pembuka…,” ujarnya sambil merentangkan tangan kanan jauh ke samping. 

Seorang perempuan dewasa muda kemudian muncul dari sisi panggung. Ia mengenakan kemben batik cokelat nan ketat. Bagian atas kemben memperlihatkan pundak yang ramping, disusul dengan penampilan belahan dada. Walau tiada terlalu besar, kelihatannya sepasang buah dada tersebut serasi adanya. Bawahan kemben, adalah kain tenun ikat yang memiliki celah bukaan nan tinggi di sisi kanan, sehingga menyibak satu paha jenjang. Perempuan itu melenggak-lenggok sampai ke tengah panggung. 

Akan tetapi, yang menjadi pusat perhatian sesungguhnya bukanlah penampilan dari perempuan dewasa muda nan cantik itu. Kedua tangannya membawa sebuah nampan yang ditutup oleh kain juga berwarna merah. Nampan tersebut lalu diletakkan di atas meja kecil yang telah menanti di tengah panggung. 

Setelah mengundang masuk perempuan dewasa muda, sang pemandu acara melanjutkan, “Tumbuhan siluman nan sangat langka, bahkan kemungkinan telah lama punah. Khasiat yang ia sajikan tiada terkira, ahli mana pun tiada akan mengira… kami persembahkan... tidak hanya satu, namun dua lembar…”

Perempuan dewasa muda mengangkat kain penutup nampan. “… daun Kelor Keris!” lanjut si pemandu acara dengan suara lantang.

Sambutan tepuk tangan terdengar meriah. Beberapa ahli bahkan melompat dari tempat duduk untuk menebar jalinan mata hati, dimana Bintang Tenggara merupakan salah satu dari mereka. Dua lembar daun berukuran kecil dengan lekukan seperti sebilah keris mungil. 

“Kakek Gin…?”

“Benar… Asli adanya.” 

“Harga pembuka adalah 100 keping emas!” *

“Hah!” Bintang Tenggara hampir melenting tinggi ke udara. “Mahal sekali!” Hadiah dari kejuaran-kejuaraan yang ia kumpulkan, masih jauh dari cukup untuk mengikuti kegiatan pelelangan ini. Bahkan, tak pernah terpikir dalam benak anak dusun tersebut akan jumlah kepingan emas yang demikian besar!”

“110 keping emas!” 

“120!” 

“150!” 

Tawaran berkumandang bersahut-sahutan. Bintang Tenggara hanya diam tersandar di bangkunya. 

“Adik Bintang… Dalam skala lelang seperti ini, harga pembuka tersebut adalah wajar adanya.” Panggalih Rantau menyadari keterkejutan Bintang Tenggara. 

“200 keping emas!” teriak lantang si pemandu acara. “Dua lembar daun Kelor Keris dimenangkan oleh… Saudagar Senjata… Malin Kumbang!” 

“Syuut!” Tetiba sesosok tubuh berkelebat tepat di sebelah meja kecil di tengah panggung. Ia mengenakan pakaian ketat serba hitam. Wajahnya ditutupi oleh topeng justru berwarna putih. 

“Maafkan diriku, wahai hadirin sekalian,” sosok itu berujar santun, tangannya berjerak ringkas. “Daun Kelor Keris ini, telah menjadi milik… Penyamun Halimun!” 

“Syuut!” Sosok tersebut tetiba menghilang dari atas panggung! 

“Penyamun! Pencuri!” teriak pemandu acara kepada keempat penjaga. Meski berjaga, mereka malah ikut terperangah atas kejadian yang berlangsung demikian singkat. 

“Teleportasi!” seorang hadirin berteriak.

“Keparat! Siapakah yang demikian lancang!?” Seorang lelaki bertubuh gempal, berkepala gundul, memaki sebal. 

“Silek Linsang Halimun!?” Bintang Tenggara dan Panggalih Rantau saling pandang. Keduanya terpana karena menyadari betul bahwa pencuri tersebut datang dan pergi, menggunakan bentuk teleportasi dari jurus yang biasa mereka kerahkan….



Catatan:

*) 1 keping emas setara Rp1.000.000


Cuap-cuap:

Tebak-tebak seutas benang, apakah Panglima akan bertemu Mayang? 

Ini adalah episode penutup pada babak kedua dari Buku Perak. Sayangnya, belum mampu menyajikan episode bonus.