Episode 179 - Keberpihakan


Seorang remaja lelaki berambut panjang dan bertubuh gempal melompat naik ke atas panggung yang baru saja diperbaiku oleh sejumlah Guru Muda dengan kesaktian unsur tanah. Sambutan dan dukungan dari hadirin terdengar ramai. Sepertinya, remaja ini memang merupakan salah satu penantang unggulan. Ia terlihat gagah menanti lawan. 

“Hm... Siapakah namamu...?” Sungguh pemandu acara yang tiada kompeten... masa ia menanyakan nama teman seangkatannya. 

Di saat yang sama, Bintang Tenggara pun menyadari bahwa dirinya tiada banyak mengenal teman-teman seangkatan. Terdapat 500 murid yang diterima dalam satu angkatan, selain anggota regu yang selama ini selalu bersama-sama, serta Gundha yang terkadang bertemu muka, sungguh Bintang Tenggara tiada terlalu mengenal murid-murid lain. Ia sadar, bahwa selama setahun terakhir dirinya lebih banyak berada di luar wilayah Perguruan Gunung Agung. Kalau pun sedang berada di perguruan, maka ia berlatih di dalam benteng mulik Maha Guru Keempat. 

“Namaku adalah Sumantali!” jawab remaja itu gagah. “Dan diriku adalah juga salah satu Murid Utama dengan predikat Putra Perguruan.” (1)

Sebagaimana diketahui, dari 500 murid di dalam satu angkatan, maka terdapat 300 Murid Purwa, 150 Murid Madya, serta 50 Murid Utama. Kemudian, dari 50 Murid Utama, akan hadir 10 Putra atau Putri Perguruan. Bintang Tenggara beringsut ke belakang tubuh si pemandu acara, sungguh ia merasa tak enak hati karena tiada mengenal sesama Putra Perguruan. 

“Baiklah Sumantali, sesuai harapanmu maka engkau akan menantang salah satu dari Putra Perguruan terbaik,” lanjut pemandu acara itu. “Seorang remaja bertubuh bongsor... Ototnya terlalu berlebihan... Rambutnya tiada membanggakan... Kecepatannya sungguh menyedihkan... Kita sambut Prajurit Batu... Panglima Segantang!”

Panglima Segantang melompat naik ke atas panggung. Sungguh ia sudah tak sabar menantikan kesempatan bertarung. 

“Sulih Wujud: Gerakan Raga Bima!” seru Sumantali merapal jurus jurus silat dengan gerakan tunggal. 

Seluruh tubuh Sumantali bergetar. Tulang, otot, daging, sampai pembuluh darah di sekujur tubuhnya mengembang. Dengan kata lain, tubuhnya membesar. Untunglah sedari awal ia mengenakan pakaian yang longgar. Di saat itu juga, warna kulitnya berubah menjadi keabu-abuan. Bobot tubuh telah berubah drastis dari gempal menjadi besar dan kekar! 

Bintang Tenggara mengenal jurus ini. Salah satu dari Sapta Nirwana, yang juga dimiliki oleh Guru Muda Anjana. Meski hanya jurus tunggal, kelebihan dari jurus ini adalah peningkatan kekuatan dan daya tahan tubuh menjadi berlipat ganda. Rupanya Sumantali hendak bertarung serius sejak awal!

Di atas panggung, Panglima Segantang menatap lirih. Ini bukanlah kali pertama dirinya berhadapan dengan jurus tersebut. Di saat kejuaraan dalam menentukan perwakilan ke Kejuaran Antar Perguruan di Kota Ahli, dirinya hampir dikalahkan oleh jurus yang sama oleh murid yang beberapa tahun lebih tua. Pada kesempatan tersebut, dirinya dapat meraih kemenangan karena... 

“Gema Bumi, Bentuk Kedua: Hancur Badan Dikandung Tanah!”

Kesungguhan Sumantali pun ditanggapi serius oleh Panglima Segantang. Jurus kesaktian unsur tanah yang didapat dari kitab kuno dan dikatakan merupakan jurus kesaktian milik Komodo Nagaradja, tak diragukan lagi menyibak aura nan digdaya. Massa tanah segera berubah menjadi batu granit nan keras, setelah melesak ke tubuh sang perapal jurus. Tak lama, bebatuan granit segera mengambil wujud berupa perisai komodo. 

“Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk!”

Tukar-menukar pukulan segera berlangsung di atas panggung. Keduanya hanya memanfaatkan tenaga pukulan dan daya tahan tubuh. Tiada mereka menghindar maupun berkelit dari rangkaian serangan satu sama lain. Benar-benar tukar-menukar pukulan tanpa teknik menghindar maupun menangkis!

“Yeah!” Komodo Nagaradja berteriak memberi semangat. Tentunya, karena dirinya yang secara langsung menurunkan jurus nan perkasa ke alam bawah sadar Panglima Segantang. 

“Di setiap generasi, selalu saja hadir ahli-ahli berkepala batu....” Ginseng Perkasa menghela napas panjang. Meski, dalam hati ia tiada pernah menduga akan mnyaksikan jurus tersebut dikerahkan oleh ahli selain Komodo Nagaradja.  

Dalam kaitan pertarungan yang sedang berlangsung sengit di atas panggung, Bintang Tenggara sepakat dengan pandangan Ginseng Perkasa. Pertarungan tanpa teknik sungguh sulit diterima nalar. Pertarungan dengan gaya ini hanya bisa berlangsung di atas panggung, dimana ada aturan yang baku. Bilamana bertarung di dunia luar, dimana nyawa menjadi taruhan, maka risikonya akan teramat besar. 

Raga Bima merupakan jurus unik yang memperkuat daya tahan tubuh dan menambah kekuatan secara bersamaan. Di sisi lain, Gema Bumi merupakan perisai yang terbuat dari kesaktian unsur tanah bak tembok kokoh yang tiada mungkin mudah roboh. Ditambah dengan fisik Panglima Segantang yang memanglah prima adanya, maka secara perlahan namun pasti, hasil akhir laga di atas panggung sudah dapat ditebak. 

“Buk!” Tinju kait Panglima Segantang telak menghantam ulu hati lawan. 

Sumantali terpental tak kurang dari sepuluh langkah ke belakang. Bersusah-payah ia berupaya menjaga keseimbangan agar tak terjerembab jatuh. Pada akhirnya, ia terhuyung beberapa langkah lagi ke belakang, namun masih cukup kuat untuk tetap berdiri. 

“Panglima Segantang pernah menggilas jurus persilatan Raga Bima menggunakan jurus kesaktian Gema Bumi. Lawan itu seharusnya menyadari hal ini. Menyerah kalah sajalah...,” gerutu pemandu acara yang mulai menunjukkan keberpihakan serta berat sebelah. “Tak ada gunanya melanjutkan baku hantam...” 

Menyeka darah dari sudut bibir, sorot mata Sumantali tiada menunjukkan keinginan menyerah. Mereka adalah sesama Putra Perguruan, akan tetapi nama Panglima Segantang demikian bergema di penjuru Perguruan Gunung Agung. Sedangkan dirinya, yang sudah dibekali oleh salah satu jurus Sapta Nirwana Perguruan Gunung Agung, hanya berdiri di balik bayang-bayang lawan. Panglima Segantang adalah tembok kokoh yang harus roboh!

Sumantali menggeretakkan gigi... “Wahai darah siluman yang bersemayam di dalam diri… Berikanlah daku kekuatan menaklukkan musuh. Bangkitlah!” 

Tetiba aura berwarna abu-abu menyeruak dan melingkupi seluruh tubuh Sumantali. Di saat yang sama, kekuatan tubuh Sumantali pun terasa bertambah secara signifikan. Perlahan, aura tersebut lalu mengepul dan mengambil wujud layaknya seekor gajah nan besar dan perkasa!

“Peranakan siluman!” Pemandu acara terperangah. Padahal tadinya ia telah sesumbar mengatakan Sumantali akan takluk dengan mudah, bahkan menyarankan agar menyerah.... 

“Sumantali membuka kekuatan silumannya!” teriak seorang penonton. Rupanya bukan rahasia bahwa Sumantali merupakan ahli peranakan siluman. 

“Panglima Segantang tak akan meraih kemenangan dengan mudah!” Seorang murid lain memberi dukungan kepada Sumantali.

Sekedar mengingatkan, peranakan siluman merupakan manusia yang memiliki darah siluman. Biasanya, keadaan ini terjadi bilamana buyut, kakek-nenek, atau ayah-ibu, menghasilkan keturunan bersama siluman sempurna. Bagi peranakan siluman, mereka dianugerahi kemampuan khas siluman. Akan tetapi, untuk membuka kemampuan siluman tersebut, tidaklah mudah adanya. Setidaknya dibutuhkan satu ahli Kasta Emas untuk mengawal proses kebangkitan kekuatan siluman di dalam diri!

Baku hantam kembali berlangsung di tengah panggung. Puluhan pertukaraan serangan pun terjadi bertalu-talu, berlangsung sampai menimbulkan suara-suara keras yang bertalun. Irama degup jantung penonton pun mulai senada dengan setiap hantaman pukulan kedua ahli. Demikian keras dan cepat!

Panglima Segantang mundur selangkah, lalu dua, kemudian tiga… 

Sumantali merangsek maju ibarat seekor gajah raksasa yang mendorong batang pohon gelondongan. Telapak tangan kiri dan kanannya terbuka dan mengarah secara bergantian ke dada Panglima Segantang selayaknya menepuk. Kekuatan setiap tepukan terlampau dashyat bahkan bagi wujud perisai komodo yang dikenalan. 

Setiap langkah maju Sumantali tiada dapat terbendung! 

“Rasakan engkau, wahai Panglima Segantang!” Pemandu acara berubah mendukung Sumantali semudah membalikkan telapak tangan!

“Pencak Lasamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!”

Tetiba kekuatan seerta kecepatan Panglima Segantang serta-merta berlipat ganda! 

“Walah! Gema Bumi dan Pencak Laksamana Laut! Secara bersamaan!” Ginseng Perkasa terperangah. 

“Huahaha....” Komodo Nagaradja berada di atas angin. 

“Siapakah jati diri sesungguhnya remaja yang menguasai jurus milik Kakak Tuah!?” 

“Huahaha....” Tawa Komodo Nagaradja kali ini sesungguhnya merupakan cara menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya pun tiada mengetahui. Entah darimana Panglima Segantang mempelajari Pencak Laksamana Laut. Bahkan dirinya sulit mempercayai bahwa jurus tersebut diturunkan melalui mimpi di masa kecil. 

“Brak!” Bogem mentah Panglima Segantang mendarat telak di dada Sumantali!

Sumantali, meskipun demikian, tiada terpental. Aura berbentuk gajah yang melingkupi tubuhnya berhasil meredam hantaman tersebut. 

Panglima Segantang hanya diam. Tiada seperti biasanya, dimana ia selayaknya melancarkan rangkaian serangan susulan. 

Tetiba tubuh Sumantali jatuh terjerembab. Dadanya sesak, napas terengah. Hanya dirinya yang mengetahui pasti mengapa ia terjatuh. Daya tahan tubuh dari jurus Raga Bima yang dikombinasikan dengan kekuatan dan aura peranakan siluman... tiada dapat membendung kekuatan lawan. Ia menyadari betapa perihnya sekujur tubuh, seolah organ dalam bergeser dari tempatnya. 

“Uhuk...” Sumantali tetiba memuntahkan darah. Aura perkasa yang melingkupi tubuhnya telah sirna. Meski masih sadar, tiada kuasa ia bangkit berdiri.

“Sesuai perkiraanku! Panglima Segantang keluar sebagai pemenang!” sambut pemandu acara gadungan nan senang berpihak serta berubah pikiran. 

Matahari bersinar terang tepat di atas kepala. Rangkaian kegiatan upacara jelang akhir tahun ajaran berlangsung secara bersamaan di keempat kota yang mengelilingi gunung berapi di Pulau Dewa tersebut. Kembali ke Kota Tugu, babak penyisihan untuk menantang Kuau Kakimerah telah rampung. 

Seorang remaja lelaki melompat ke atas panggung. Wajahnya cukup tampan dan menyibak aura kebangsawan. Pakaian yang ia kenakan necis, senada dengan perkembangan zaman. Ia ternyum sangat ramah kepada Kuau Kakimerah yang baru saja melangkah ke atas panggung. 

“Heh! Siapakah engkau!? Berani-beraninya!” hardik si pemandu acara tak senang. Begitu muak ia menyaksikan gelagat lawan yang nantinya akan berhadapan dengan Kuau Kakimerah.  

“Aaaahhh...”

“Tampannyaa...”

“Kakak Baguuuss...” 

Sejumlah gadis-gadis yang hadir di gelanggang pertarungan terpesona menyaksikan tokoh yang baru muncul itu. Sepertinya ia sangatlah populer di kalangan gadis-gadis sampai beberapa berteriak setengah histeris. Mereka sekaligus menjawab pertanyaan si pemandu acara. 

“Nama daku adalah I Wayan Bagus, salah satu dari Putra Perguruan di dalam angkatan kita,” sapanya. “Nona Kuau Kakimerah dapat memanggilku dengan nama Bagus sahaja.” Kembali ia menyibak senyum nan ramah menggugah. Di saat yang sama, ia melangkah mendekat ke arah lawan. 

Kuau Kakimerah hanya berdiri kikuk... ketika tangannya ditarik perlahan dan keduanya bersalaman. 

“Kurang ajar! Aku adalah lawanmu dalam pertarungan ini!” Si pembawa acara telah melesat secepat kilat... koreksi... melangkah seringan angin. Kini, dirinya berada di tengah panggung pertarungan. Membusungkan dada, ia berdiri menantang tepat di hadapan I Wayan Bagus. Sedikit lagi saja, maka Bagus akan merasakan pitingan maut dari maha jurus Beulut Darat. 

Bintang Tenggara hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala. Bahkan dirinya, yang berada di sebelah si pemandu acara, tak sempat menahan pemandu acara itu.

Panglima Segantang memberikan dukungan semangat. 

“Tolol!” gerutu Canting Emas. 

Kuau Kakimerah sungguh merasa kurang nyaman dengan perkembangan suasana di atas panggung. Ia hendak cepat-cepat menyelesaikan pertarungan yang tiada memberikan imbalan berarti ini. 

Beberapa guru muda yang berperan sebagai panitia pertarungan segera melompat naik ke atas panggung pertarungan. Sejauh ini, mereka membiarkan saja si pemandu acara gadungan itu berperan sebagai komentator pertarungan. Akan tetapi, bilamana secara langsung mencampuri jalannya pertarungan di atas panggung, maka mereka akan bergerak menindak.

“Lepaskan aku!” pekik si pemandu acara berang. 

Beberapa guru muda yang tadinya sekedar menarik turun, kini bersiap membungkam! 

“Baiklah... baiklah...,” si pemandu acara menyerah. 

Pertarungan segera berlangsung. Kuau Kakimerah bergerak cepat. Sebagaimana diketahui, walaupun kelihatan mungil dan lemah, sebagai anggota suku yang mendiami Pulau Belantara Pusat, Kuau Kakimerah memiliki bakat persilatan yang sangat baik. Tak perlu waktu lama baginya melatih raga, untuk mempelajari jurus-jurus persilatan. 

Meskipun demikian, lawannya kali ini hanya berdiam diri menanti. Di kala Kuau Kakimerah menyarangkan serangan pun, tiada ia membalas. Bagus hanya berkelit ke kiri dan ke kanan. Segera diketahui bahwa ia memiliki kesaktian unsur angin.

“Sesungguhnya kehadiranku di atas panggung ini bukanlah untuk bertarung,” bisik Bagus di kala berdekatan dengan Kuau Kakimerah. 

Kuau Kakimerah tak sedikit pun meredakan rangkaian serangan. Bahkan, dirinya menanti kesempatan terbaik untuk menghentikan gerakan lawan dengan jalinan rotan.

“Sudah sejak lama diriku hendak berkenalan lebih jauh dengan Kuau Kakimerah. Hanya pada kesempatan inilah diriku dapat bertegur sapa.” 

Sebagaimana diketahui, Kuau Kakimerah selalu bersama dengan Canting Emas. Siapa kiranya yang berani mendekati kedua gadis tersebut, kecuali Aji Pamungkas tentunya? 

Kehadiran seseorang yang merayu, membuat si pemandu acara naik darah. 

“Hei! Pelanggaran! Pelanggaran kataku!” teriak si pemandu acara yang kini diawasi ketat oleh beberapa orang Guru Muda. 

“Adalah harapanku... bahwa Kuau Kakimerah juga dapat mengenal diri ini.” Bagus masih berupaya merayu di atas panggung.

“Bangsaaaaat!” Si pemandu acara terlihat seperti orang kesurupan. Sebentar lagi mungkin ia akan kejang-kejang tak tentu arah!

“Buk!” Tendangan menohok Kuau Kakimerah mendarat leluasa di ulu hati Bagus. 

“Sepertinya... kesempatan yang diri ini miliki... tiada bertahan lama...” rintih Bagus, sebelum akhirnya ia roboh di tempat. Wajahnya terlihat sumringah. 



Catatan:

(1) Sumantali, bahasa Sanskerta yang berarti pawang gajah. Di dalam novel silat ‘Senopati Pamungkas Vol. 2” karya Arswendo Atmowiloto, terdapat sebuah jurus dengan nama Tepukan Sumantali atau Tepukan Pawang Gajah. Jurus ini digambarkan sebagai pergerakan tenaga dalam dan kekuatan batin yang dahsyat.  


Cuap-cuap:

Mulai hari ini Ceritera.net sudah menggunakan https, supaya tak ada lagi laman ganda di http. 

Sayangnya komentar hari ini hilang semua. Untungnya sempat di-screen grab