Episode 19 - Teman Baikmu Pun Bisa Pergi


 19 tahun lalu, kedua sosok ini dipertemukan. Mereka adalah Coklat dan Ival. Keduanya berkenalan ketika usia mereka masih delapan bulan di dalam kandungan. Pada waktu itu, suatu malam Coklat dan Ival tak sengaja membuka pintu perut ibunya masing-masing dikala ibu mereka sedang terlelap tidur. Tujuan keduanya hanya ingin melihat indahnya dunia yang mereka impikan, walau terkadang yang diimpikan tidak sesuai kenyataan. Keduanya berjumpa saat sedang berjalan di depan rumah Wakamiya, ya jarak rumah mereka tak begitu jauh, sebut saja keduanya itu bertetangga.

 “Ba bu ba bu hua hua hua,” ucap Coklat berkenalan dengan Ival.

 “Bububu bababa hua hua ha ha ha buuu,” balas Ival.

 Pantas saja mereka berdua kayak gini sekarang, lah dari bayi saja sudah sengklek duluan.

 Namun hari ini, keduanya harus terpisah. Sebuah kisah yang sudah mereka tulis di dalam buku bernama kehidupan harus tamat, diakhiri dengan perpisahan. Senang dan sedih yang sudah terukir dalam keseharian mereka bersama, tak kan bisa terulang kembali. Pernah kah kalian memiliki seseorang yang berarti, sebut saja sahabat? Ketika kalian terus bersama dan tak terhitung berapa kisah yang sudah kalian lalui, detik ini kisah itu tak bisa dilanjutkan bersama. Ada perasaan yang mengganjal di hati kalian, kalian merasa ada sesuatu yang hilang dari bagian hidup kalian. Entah itu bahagia bersamanya, sedih bersamanya. Ini pun dialami seorang Coklat. Terlebih lagi, dia langsung mengantar kepergian Ival.

 Hari ini, para rombongan jamaah anak IPA tujuh hendak mengantarkan Ival ke bandara Soekarno Hatta. Tapi karena banyak anak IPA tujuh yang enggak mau mengantarkan si Ival dengan alasan inilah itulah. Sebenarnya sih bukan banyak alasan inilah itulah tapi mereka itu lagi sedang hadirin acara sukuran, sukuran atas kepergian Ival, maka cuma Coklat dan Wakamiya yang mengantarkan dia. Seusai ketiganya turun dari taksi, suasana haru mulai terasa ketika Ival berpelukan dengan seorang wanita yang tidak dia kenal meninggalkan keduanya yang masih berdiri di tempat turun tadi.

 “Terharu gue, Val, melihat lo pelukan sama cewek lain sementara gue enggak, menang banyak lo hari ini,” keluh Coklat.

 “Coklat, mau dipeluk?” tanya Wakamiya.

 “Ehmmm enggak usah lah,” jawab Coklat sok cool.

 “Benar nih enggak mau?” ucap Wakamiya mesem-mesem ke arah Coklat.

 “Ehmmmm mau sih, emang kamu mau meluk aku?”

 “Enggak, cuma nanya doang. Hahahaha.”

 “Tuh kan, kamu mah cuma godain aku doang.” Coklat langsung manyun.

 ***

  Wanita yang Ival peluk itu cantik sih kayak Isyana Sarasvati. Ival menangis-nangis sambil memeluk si cewek, keenakan dia lama-lama. Itu sih modus namanya. Namun dibalik tangisan Ival, tersembunyi kata hati yang tak seperti raut di wajahnya.

 Jangan dilepas dong, Mba, biar lamaan peluknya, kalau bisa selamanya aja kayak gini, ucap dalam hati Ival.

 Ya kehidupan juga seperti itu, terkadang dilihat dari raut wajahnya yang bersedih namun di dalam hati tersenyum begitu juga ada sebaliknya.

 “Aku akan pergi jauh, mungkin akan butuh waktu lama untuk kembali. Aku harap kamu enggak sedih,” ucap Ival sambil nangis-nangis.

 Si wanita itu hanya diam, terheran-heran dengan apa yang terjadi kini.

 “Aaa .…”

 “Aku tahu, kamu pasti sedih.”

 “Anu, Mas ini siapa sih maen peluk-peluk aja?!”

 “Wek!”

 Ketika pelukannya dia sudahi, dia cuma ketawa kuda melihat cewek yang enggak sama sekali dia kenal.

 “Maaf-maaf, Mba, aku … aku … sengaja kok,” ucap Ival dengan wajah seolah tak bersalah.

 Plak! Sebuah tamparan keras menghantam pipi kanan Ival.

 “Aduh!” ucap Ival sambil mengusap pipinya.

 “Makan tuh sengaja!”

 Dari kejauhan Coklat lalu tertawa puas melihat Ival ditampar sama cewek yang barusan dia peluk.

 “Hahahaha enak nih ditampar!”

 “Gondrong lo!” 

 Lalu Coklat dan Wakamiya mendekati Ival. Wajah sedih terlihat dari Wakamiya ketika Ival ditampar tadi.

 “Sakit ya, Val?” tanya Wakamiya bersuara manis.

 “Iya, sakit banget.”

 “Oh, sakitnya kayak apa?” suara Wakamiya menggoda.

 “Kayak ditampar.”

 “Kayak gini, bukan?”

 Plak!

 Giliran Wakamiya yang nampar pipi kiri Ival. Tamparan di pipi Ival itu rasanya kayak makan es krim di musim panas, nyeeees seger buat yang menampar tapi sakit buat yang ditampar.

 “Aduh! Aku kok ditampar sih?”

 “Aku cuma reka ulang adegan tadi saja kok, enggak bermaksud sakitin kamu.”

 “Val, boleh ulang adegan ditampar tadi enggak?” tanya Coklat.

 “Boleh, emang lo mau?”

 “Mau.”

 “Tapi lo yang jadi guenya, gimana?”

 “Ok, enggak mau gue.”

 **

 Tiket pesawat sudah ada di tangan Ival. Ival bersiap terbang ke Australia buat kuliah di sana. Ival tak sendiri di sana, ya kedua orangtuanya yang sudah sampai terlebih dahulu di negeri kangguru itu. Sebagai seorang teman, melihat teman kita pergi itu rasanya akan membuat kita sedih. Waktu yang sudah pernah kita lewati seakan percuma bila melihat teman kita itu pergi jauh. Kenangan yang sudah terlewati takkan mudah dihapus begitu saja, apalagi kalau teman kita punya hutang yang masih belum dibayar, rasanya itu enggak rela melepasnya.

 “Gue akan pergi,” kata teman 1.

 “Lo mau pergi kemana?” tanya teman 2.

 “Yang jelas gue lanjutin pendidikan gue di luar negeri.”

 “Gue pinta jangan pergi,” ucap teman 2 sambil memegangi pundak teman 1.

 “Gue tahu lo sedih melihat gue pergi, kita kan teman dari kecil,” ucap teman 1 membalas dengan memegangi pundak teman 2.

 “Bukan, tapi lo masih punya hutang sama gue, makanya gue enggak rela kalau lo main pergi-pergi aja!”

 “Ah sial, ingat aja lagi!”

 “Hehe, bayar!”

 ***

 Wajah sedih semakin kental dan ketara dari Wakamiya dan juga Coklat ketika Ival mengucapkan salam perpisahan. Mereka berdua tak bisa membendung bagaimana rasanya kehilangan teman, apalagi status mereka sudah seperti sahabat yang saling berbagi. Seperti dua orang sahabat ini.

 “Kamu kenapa?” tanya sahabat 1 melihat sahabat 2 yang lagi bersedih duduk di bangku taman.

 “Aku baru saja kehilangan handphone,” jawab sahabat 2.

 “Nih, pakai saja handphoneku, handphoneku ini handphone kamu juga,” ucap sahabat 1 sambil memberi handphone ke sahabat 2.

 “Iya makasih ya,” ucap sahabat 2 tersenyum.

 Beberapa hari kemudian di tempat yang sama.

 “Hmmm kamu kenapa lagi, sahabat?” tanya sahabat 1.

 “Aku kehilangan uang lima puluh ribu.”

 “Oh, ya sudah nih pakai saja uangku. Uangku ini uangmu juga,” ucap sahabat 1 sambil memberi uang lima puluh ribu.

 “Makasih ya sahabat.”

 “Iya sama-sama.”

 Beberapa hari kemudian, di tempat yang sama juga.

 “Hmmm kamu ada masalah lagi?” tanya sahabat 1 sambil menggandeng cewek.

 “Iya, aku baru putus sama cewekku,” kata sahabat 1 dengan pasang muka sedih, terus melirik si cewek.

 “Nih pakai saja cewekku. Cewekku cewekmu juga.”

 Plaaak! Sebuah tamparan melayang ke pipi dua sahabat itu.

 “Dodol! enak aja lo main pakai-pakai aja. Mulai hari ini, kita putus!”

 Abis marah-marah si cewek langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua yang masih di taman. Dua sahabat itu tersadar, mereka saling menatap satu sama lain, mata mereka pun saling kedip-kedipan dan mulai berpegangan tangan. Seusai berpegangan tangan, mereka saling berpelukan oh so sweet dan mereka pun hidup bahagia selamanya.

 Sekarang kita kembali lagi ke si Coklat. Dengan wajah yang sedih, Ival mengucapkan salam terakhir pada mereka berdua.

 “Salam ya buat teman-teman yang lain, buat satpam sekolah juga, buat Bu Riny juga, buat tukang bakso, terus buat tukang somay, terus buat Pak RT Pak RW, terus …,” ucap Ival.

 “Sebut aja semua.”

 “Hehehe.”

 “Nyengir? Tapi gue pinta pas lo kembali lagi ke sini jangan pernah lupa,” kata Coklat.

 “Iya, gue enggak akan pernah lupa sama kalian.”

 “Bukan itu maksud gue.”

 “Lha terus?”

 “Gue takut aja kalau pas lo kemari lo lupa siapa nama lo sendiri, lo lupa kalau lo itu pernah normal dan lo lupa.”

 “VHBGSHUGH!”

 Wakamiya berjalan mendekati Ival dengan wajahnya yang berlagak sedih sambil merentangkan tangannya bersiap memeluk Ival, Ival sumringah melihat Wakamiya bersiap memeluknya. Di hadapan Ival, Wakamiya tersenyum lebar sambil bersiap memeluk Ival dan dia enggan memeluk Ival. Ival enggak terima, lalu Ival protes ke si penulis, akhinya penulis sama Ival pun bertengkar berdua. Bagh bigh bugh! Bagh bigh bugh! Ketikan si penulis diacak-acak sama Ival kayak gini, ksnhdlksjlfjoskdfs. Si Penulis pun murka sama dia, penulis langsung marahi dia. Pas si penulis marah ke dia, dia cuma nunduk doang sambil minta maaf ke penulis, dan penulis pun memaafkannya. Nah itu yang enggak jelas diselingan cerita ini. Back to cerita, sekarang Ival mulai bersiap-siap meninggalkan mereka berdua. 

 “Sob, jangan lupa lo naik pesawatnya masuk ke dalam jangan di atas,” kata Coklat.

 “Iya gue tahu, kasih pesan yang berbobot napa.”

 “Ival, kamu kalau sudah sampai di Australia …,” ucap Wakamiya dengan wajah sedih.

 “Tenang saja, aku kalau sudah sampai sana bakal kabarin kamu kok.”

 “Bukan, kamu kalau sudah sampai di Australia berarti sudah enggak lagi di Indonesia.”

 “Wek, aku juga tahu kalau gitu mah.”

 “Oh iya, Val, kalau lo balik lagi ke sini jangan lupa bawa empek-empek,” kata Coklat.

 “Wek, ini Austalia woy bukan Palembang.”

 “Ya lo mampir dulu ke Palembang buat beli empek-empek.”

 “Ogah amat! Ya sudah gue berangkat dulu ya.”

 “Iya, hati-hati ya di jalan.”

 Dan Ival pun berangkat naik pesawat menuju negara tujuannya itu. 

 ***

 Sementara anak-anak alumni IPA tujuh sekarang lagi pada sukuran, mereka pada duduk rapih di teras rumah Fauzi. Acara sukuran ini dipimpin langsung olehnya.

 “Sukuran lo! Emang enak lo, sukuran!” kata Fauzi sambil loncat-loncatan enggak jelas.

 “Zi, itu sukurin bukan sukuran. Udahlah cepat mulai acaranya,” sahut Sweety.

 “Ok, teman-teman.”

 “Dih, Zi, emang kita-kita ini teman lo apa?” tanya Tiar.

 Lagi-lagi sama kayak ketika pawai obor, Fauzi dicengin. Dia pun langsung berlari sambil menitikan air mata masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan teman-temannya yang masih duduk-duduk di teras rumah, dan acaranya pun batal. Penonton kecewa karena penasaran.

 “Owwwwwhh,” sahut anak-anak IPA tujuh pas melihat Fauzi masuk ke dalam rumahnya.