Episode 18 - Kau yang Akan Tentukan Jalanmu Sendiri


 Coklat, Ival, dan Fauzi sekarang lagi duduk-duduk manis di ruang tamu rumah Bu Riny. Senyum-senyum mereka pada mencurigakan, soalnya kebetulan mereka enggak pada bawa makanan. Tahu kan kalau berkunjung ke rumah orang tapi enggak bawa makanan, niatnya mau minta apa? Nah sama kayak mereka. Sementara kado masih dipegang sama Fauzi.

 “Kok kalian belum pulang?” tanya Bu Riny yang duduk di hadapan mereka.

 “Hmmmm.” Coklat garuk-garuk kepala.

 “Kenapa?”

 “Ini kadonya masih sama kita, belum kita serahin ke ibu,” ujar Fauzi.

 “Oh ya sudah sini kadonya,” pinta Bu Riny sambil manadangkan tangannya.

 “Tapi, Bu,” ucap Ival megangin perutnya.

 “Jadi kalian?”

 “Iya, hehehe, Ibu tahu aja,” sahut Ival.

 “Jadi kalian pengin buang air besar toh, megangin perut segala.”

 “Wek!” serentak mereka bertiga.

  Akhirnya setelah dijelaskan panjang lebar oleh Fauzi, mau enggak mau ya, ikhlas enggak ikhlas Bu Riny mengempani mereka bertiga. Diempani? Emang ayam diempani pakai beras. Bu Riny menyiapkan empat buah roti tawar di meja makan, satu orang masing-masing dapat jatah satu. Roti tawar yang dihiasi oleh selai coklat terhidang di atas piring masing-masing.

  “Hehehe, kita kayak orang bule aja ya makan kayak beginian,” ujar Coklat.

 “Iya, jarang-jarang lho gue makan yang beginian,” ujar Ival.

 “Jiah, lo berdua kayak baru ketemu roti tawar aja udah senang,” kata Fauzi.

 “Emang lo sering ya makanan kayak beginian?” tanya Coklat.

 “Sering gue mah, ini mah makanan sehari-hari gue.”

 “Wih, hebat lo ya,” ucap Coklat terkagum-kagum.

  “Ah biasa aja,” ujar Fauzi sok cool, “ya ampuuun, senang banget dah gue makan roti kayak begini, hohoho.” Lalu berubah menjadi senang.

  Sementara Bu Riny memandang mereka dengan tatapan menggelikan. Bu Riny yang sudah selesai makan rotinya langsung minum segelas air yang sudah tersedia di atas meja.

 “Coklat, setelah lulus kamu mau kemana? Kerja apa kuliah? Atau dua-duanya?” tanya Bu Riny.

 “Saya sih engga muluk-muluk, saya sih pengin kerja habis itu jadi pengusaha punya duit banyak dan akhirnya merit sama Ibu.”

 “No! I don’t love you, Coklat!”

 “Tapi enggak apa-apa kalau Ibu enggak mau, kan masih ada Sweety, Bu.”

 Sweety yang sedang makan di rumahnya kemudian hanya diam ketika angin membawa perkataan Coklat sampai di telinganya. Wusssh! Seperti itu suara angin yang masuk ke dalam telinga Sweety.

 “Coklat mau merit sama kamu,” kata angin yang membawa pesan.

 “Oh no!”

 Dia diam kemudian menaruh piring yang dia pegangnya di atas meja. Dia lalu keluar rumah dan berlari sekencang-kencangnya ke rumah Bu Riny. Sampai di depan rumah Bu Riny, dia langsung membuka pintu tanpa salam atau pun permisi. Bruk! Semua mata tertuju ketika melihat Sweety berdiri di depan pintu.

 “Eh Sweety, kamu numpang makan juga?” tanya Bu Riny.

 “Coklaaaat! Gue enggak mau merit sama lo, nadjoooong!” teriak Sweety.

 “Tapi, Sweety,” kata Coklat lalu berdiri dari tempat duduknya.

 “Apa?!”

 “Aku itu sebenarnya Pangeran William yang dikutuk jadi seperti ini. Aku akan kembali berubah ke bentuk asliku, asal ada seorang wanita yang tulus mencintaiku.”

 “Pret lah!”

 Coklat menundukkan kepalanya.

 Sweety kembali pulang. Dia sudah capek-capek lari jauh dari rumahnya ke rumah Bu Riny cuma mau bilang kayak gitu doang, kurang kerjaan banget kan. Nah sekarang, Bu Riny bertanya ke Fauzi. Fauzi itu kan pintar, pasti jawabannya serius.

 “Fauzi, kamu mau lanjutin kemana habis ini?” tanya Bu Riny.

 “Serius, Bu.”

 “Iya Ibu nanyanya serius, jadi kamu mau kemana?” tanya Bu Riny sekali lagi.

 “Iya, serius.”

 Bu Riny mulai bingung dengan jawaban dari Fauzi.

 “Kamu mau lanjutin kemana?”

 “Ih Ibu, serius.”

 “Iya Ibu serius nanyanya, kamu malah jawab yang enggak-enggak!”

 “Kata penulisnya saya disuruh jawab serius, Bu.”

 “Arrrggght.”

 Plaaaak! Dessssing! Kedebug! 

 Fauzi lemah tak berdaya sambil cengar-cengir. Dia dalam keadaan bersandar di dinding ruangan ini sambil menahan mukanya yang bonyok. Sekarang Bu Riny bertanya pada Ival.

 “Ival, kalau kamu habis ini mau lanjutin kemana?”

 “Kalau saya sih simple, Bu.”

 “Iya mau kemana?”

 “Mau minum, seret abis makan roti enggak minum,” ucap Ival sambil menuangkan air ke gelas. 

 “Yo weslah,” kata Bu Riny dengan berwajahkan lesu.

 Seusai menikmati sarapan pagi, kini keempat makhluk hidup yang masih dinyatakan hidup, duduk di kursi. Fauzi tak lupa niatan mereka ke rumah Bu Riny. Tanpa berkata-kata lagi, Fauzi langsung menyerahkan kado kepada Bu Riny. Dengan senang hati, Bu Riny menerima pemberian dari anak-anak didiknya.

 “Terima kasih ya, atas pemberian yang kalian berikan,” ujar Bu Riny dengan menitikan air mata.

 “Sama-sama, Bu. Ini enggak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan Ibu yang tulus mengajari kita. Kita enggak tahu harus gimana caranya berterimakasih sama Ibu. Yang kita berikan saat ini jauh banget sama yang sudah Ibu berikan kepada kita,” ujar Fauzi.

 “Ibu minta maaf kalau selama mengajar pernah memarahi kalian, membentak kalian. Ibu ….” Ibu Riny tak kuasa menahan air matanya.

 “Yang harusnya minta maaf itu harusnya kita, Bu. Ibu sudah berusaha membuat penerus bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas, tapi kita kadang membuat ibu kesal di kelas. Kadang kita tak memperhatikan saat ibu menjelaskan materi di kelas, kadang kita hanya bercanda satu dengan yang lain, kadang juga tidur. Kita mengerti Ibu lakukan semua itu untuk menjadikan kita agar lebih baik lagi ke depannya. Kalau bukan jasa seorang guru, entahlah kita mau jadi apa. Kita juga merasa sedih, ketika mendengar berita curahan hati seorang guru honorer, meski mereka pahlawan tanda jasa, tidak sedikit jasa mereka tidak dihargai. Mereka yang ingin membuat anak didiknya cerdas kadang dibuat kesal oleh anak didiknya sendiri, bukan tanpa alasan seorang guru memarahi anak didiknya sendiri. Tapi apa yang mereka dapat? Kadang kesengsaraan dan paling tragis mereka dituntut oleh anak didiknya sendiri. Mereka yang menuntut tak mengerti pengorbanan jasa guru. Dibayar murah, tapi mereka tetap tersenyum karena mereka ikhlas mendidik anak bangsa ini. Bagaimana kalau tak ada lagi seseorang di negeri ini yang menjadi guru? Mau seperti apa penerus ini?” ujar Coklat yang tiba-tiba jadi bijak.

 “Terima kasih, Coklat.”

 “Atas nama pribadi, Coklat mau minta maaf sama Ibu.”

 “Maaf kenapa?”

 “Maaf, enggak bisa jadi yang terbaik buat Ibu, maaf Coklat enggak bisa terima cinta Ibu.”

 “Itu enggak kebalik?” tanya Bu Riny.

 “Oh iya ya.”

 Sedari tadi Bu Riny terus menatap kado yang dipegangnya, dia begitu penasaran dengan isi dari kado tersebut.

 “Boleh ibu buka kadonya?”

 “Silahkan,” kompak Ival, Coklat dan Fauzi.

 Bu Riny yang penasaran tanpa sabar langsung membeset kartas kado yang membungkus hadiah untuknya. Sejenak mata Bu Riny tak kuasa menahan air mata, ada kesedihan di hatinya saat melihat isi kado tersebut.

 “Kok isinya jeroan semua sih?” tanya Bu Riny.

 “Oh, Bu, maaf sudah malam. Kita bertiga pamit pulang dulu ya,” ucap kompak Ival, Coklat, dan Fauzi.

 Sabar-sabar, untungnya mereka udah pada lulus. Coba kalau masih sekolah bisa mati berdiri saya.

 ***

 Coklat pun sudah sampai di rumahnya, kini dia tengah tidur-tiduran sambil menatap langit-langit kamarnya. Dalam pikirannya, dia memikirkan tentang masa depannya kini, entah jalan apa yang ingin dia lalui, ingin rasanya dia memilih jalan yang sama dengan jalan Bu Riny. Merasakan bahagia saat melihat anak didiknya sukses, merasakan doa dari satu persatu anak didiknya. 

 Tok tok tok

 Suara ketukan terdengar dari luar pintu kamarnya.

 “Coklat, makan malam nih!” teriak ibunya dari luar kamar.

 Coklat yang masih kenyang sehabis makan gratisan di rumah Bu Riny, terbangun dari tidurnya, dia melangkahkan kaki dari kamar menuju ruang makan. Bukan, bukan ingin menambah isi di dalam perutnya, namun ada hal lain yang ingin dia bicarakan dengan kedua orangtuanya, tentang restu jalan yang ingin dia lalui.

 Sesampainya di ruang makan, Coklat langsung duduk. Tak seperti biasanya dia hanya diam, biasanya Coklat selalu menjadi yang pertama saat menyendok nasi ke piring.

 “Tumben, enggak makan?” tanya Bapaknya Coklat.

 “Udah kenyang, Beh.”

 “Makan apa?”

 “Tadi makan roti di rumah Bu Riny.”

 “Ah, kenapa enggak ngajak Bapak ke sana?!” seru Bapaknya Coklat.

 Mendengar ucapan itu, Ibunya Coklat yang kebetulan memegang pisau langsung menancapkan pisau di atas meja makan.

 “Pak, ini pisau masih tajam loh. Cocok buat motong-motongin yang panjang-panjang. Kacang panjang aja jadi pendek kalau dipotong sama pisau ini. Bapak mau nasibnya sama kayak kacang panjang?!” tegas Ibunya Coklat.

 “Hehehe, bukan itu loh, Bapak cuma pengin kalau makan di sana kan bisa irit, hehe.”

 “Oh gitu. Bapak tahu engga? Kalau pisau ini bisa buat irit punya Bapak.”

 “Hehehe, ampun, Mah.”

 Beberapa menit kemudian, Coklat memulai beranikan diri untuk bicara tentang masa depannya.

 “Pak, kalau jadi guru itu enak enggak sih?”

 Bapaknya tertegun mendengar ucapan sang anak, dia tak menyangka kalau anaknya itu berniat menjadi seorang guru.

 “Lebih baik enggak usah, kasihan siswa kamu.”

 “Kok kasihan?”

 “Nanti ketularan sengkleknya.”

 “Dih, enggak apa-apa itu, itu namanya kemajuan.”

 “Kemajuan ndasmu!”

 “Hehehe.”

 Sebelum benar-benar melangkahkan kaki ke dalam dunia pendidikan lebih dalam. Coklat ingin tahu apakah dia cocok menjadi tenaga pengajar. Seperti apakah seorang guru itu? Apakah memiliki masa depan yang cerah atau sebaliknya. Tak sungkan dia bertanya kepada Bapaknya terlebih dahulu.

 “Jadi guru itu enak enggak sih, Pak?”

 “Entahlah, tergantung kamu menjalaninya seperti apa. Dari langkah awal, jangan menjadikan sudut pandangmu itu ke arah materi, sebab akan percuma jika kau terus mengeluh tentang materi yang dirasa kurang. Menjadi guru itu kau harus benar-benar bersiap ikhlas dengan segalanya, ikhlas dengan materi, ikhlas dengan kesabaran, ikhlas ilmumu dituangkan kepada generasi sebelum kamu. Kau pun harus jujur, ikhlas itu berawal dari kejujuran, jika awalmu masuk ke dunia pendidikan dengan jalan kolusi, jangan bicara lagi tentang keikhlasan dan kejujuran. Menjadi guru itu berat, kau harus bisa memberi ilmu dan mendidik generasi itu di tengah-tengah kebodohan yang terus menghimpit mereka. Bayangkan saja, kau yang digaji murah untuk mendidik mereka kalah dengan orang yang digaji mahal hanya untuk merusak akhlak mereka. Kau harus yakinkan itu terlebih dahulu, Nak, jangan setengah-setengah berjalan di jalan yang kamu lalui.”

 Coklat dan ibunya pun tersenyum mendengar ucapan sang ayah.

 “Wih hebat ya, Bu, Bapak sekarang omongannya berat.”

 “Nak, kamu baca mantra gih supaya bapakmu kembali normal.”

 “Baik, Bu!”

 “Weleh!” 

 ***

 Di kediaman Ival. Ival yang baru saja menerima kabar ayahnya yang sudah sampai di Australia, tak tampak bahagia. Ada kesedihan yang dia rasakan saat ayahnya mengharuskan dia berpindah dari tempatnya kini ke Australia.

 “Entahlah, Ival harus senang atau sedih. Karena jalan yang ayah pilih bukan jalan Ival,” ucap Ival sembari melihat layar handphone yang masih dipegangnya.