Episode 23 - The Result


Dari dalam tubuh Fhonia. Perlahan keluarlah sebuah wujud monster bola listrik raksasa berwarna biru terang, memercikan petir dari tubuhnya. Dengan sepasang mata, sebagai perwujudan Aura Fhonia.

"Hmmph! Kau serius sekali melawanku ya?" puji Nicholas.

"Iya dong! Kamu kan superstar."

***

Sementara itu Komentator. Salah seorang penonton bertanya padanya. "Hei kamu mau kemana? Pertandingan belum usai kan?"

"Aku juga mau pulang... Daritadi aku tegang, menonton penyihir-penyihir muda ini bertanding..."

"Kenapa?" tanya komentator yang tak mengerti.

"Mereka ini sudah gila. Bertarung dengan sihir berbahaya terus menerus. Maaf saja ya... Aku masih sayang nyawa. Ayo dek, kita pulang."

"Ta-tapi kan? Tunggu!” Komentator heran mendengarnya. “Padahal kan memang seperti itu..."

***

Kembali ke pertarungan,

"Yang sebesar itu bagaimana melawannya!? Tapi, ada satu kelemahan pengguna tipe summon . Dan itu adalah..." Nicholas mencoba mengingat-ingat. "Kalau mediumnya kehilangan kendali, summonnya juga akan ikut lenyap."

Ia menutup Grimoirenya dan mengantonginya lagi. "Sayangnya aku bukan pengguna aura tipe Weapon. Tapi aku bisa sedikit manipulasi sihir untuk membentuk senjata."

Lalu, Nicholas membuat tombak dari kegelapannya dan bermaksud menikam Fhonia dari jauh. Agar tidak dekat-dekat dengan Yupi... Summonnya itu. Yang secara massive menyambar ke arah yang tak tentu, memercikan listriknya.

"Woa! Woa! Woa! Segalanya jadi terlalu serius nih!" ucap Fhonia yang kini merubah dirinya sendiri, menjadi sosok petir biru. Mirip seperti Summonnya.

“Enyahlah!” 

“Black Javelin !!”

Nicholas melempar tombak hitamnya. Namun ketika tombak itu mengenai Fhonia. 

“Woops!” 

Tombak itu hanya melintas lewat seperti tembus begitu saja.

“Haha! Gak kena, gak kena!”

"Sial! Cara inipun juga tak berfungsi!"

"Heyaaa! Yupi serang superstar !!"

"Ta-pi.... Si-a-pa... Su-per-star...?" balas Yupi dengan suara serak dan terpatah-patah seperti robot.

"Maksudku... Nicholas! Pria berkacamata disana itu. Aduh masa gitu aja gak ngerti sih. Yupi kamu gimana sih..."

"A-ku... Meng-er-ti..."

Kini ia mendekat... Menghampiri Nicholas dengan berjalan terbang secara perlahan-perlahan.

"Tak ada cara lain. Aku harus beradu langsung dengan summonnya."

Dan mereka berdua beradu sihir terkuat yang mereka bisa.

Nicholas dengan sihir Dark Magic miliknya.

"Ultimate Dark Force !!"

Sebuah sihir kegelapan dasar. Namun diperkuat dengan mengkonsumsi sejumlah Aura yang tak sedikit. Memberikan tekanan dengan udara hitam yang membuat lawan kesulitan mendekat.

"Yupi Boom-Boom Attack !!" 

Yupi meledakan dirinya di jarak sedekat mungkin dengan Nicholas. Meski sangat sulit untuk mendekati Nicholas yang terus menerus melancarkan Ultimate Dark Force miliknya. Ledakannya seperti sebuah bola petir berukuran dua kali orang dewasa, memancarkan listrik ke segala arah.

"Apa-apaan nama jurusnya itu!" bentak Nicholas yang terus fokus mengubah haluan petirnya agar tak satupun mengenai dirinya.

"Biarin!" jawab Fhonia yang bersembunyi di belakang Yupi. "Habis gak seru kalau nama jurusnya keren-keren terus!"

***

Beberapa saat kemudian,

Keduanya sama-sama terkapar di tanah, Dengan Yupi yang telah menghilang. Keduanya sama-sama kesulitan untuk bangkit kembali. 

Sekitar 20 detik kemudian, Nicholas bangkit lebih dulu menahan rasa sakit di tubuhnya yang tak main-main rasanya. Nicholas berjalan mendekati Fhonia dan mendapati Fhonia, masih tergeletak lumpuh di lantai Arena dengan nafas tersengal-sengal.

"Kau kelihatannya saja seperti anak-anak yang tak pernah bisa serius. Tapi ternyata dibalik sisi childish-mu, kemampuanmu tak main-main."

"Hehe... cie-cie! Superstar muji aku ni-e..."

"Aku masih punya sedikit, sisa tenaga." Nicholas mengulurkan tangannya. "Bangkitlah! Kita bertarung lagi, sampai selesai."

"Bangkit lagi? Menggerakan mulutku saja sudah sakit rasanya. Adududuh..."

"Jadi..." Nicholas menjatuhkan dirinya dan duduk bersila, di depan Fhonia yang masih terbaring lelah. "Kau sudah..."

Tak lama kemudian dan berteriak,

"Aku menyerah !! Adawww! SAKIT !!"

Lalu sahut komentator dengan segera. "Fhonia dari Fragor sudah menyatakan kekalahan dirinya... Pemenangnya! Nicholas dari Umbra!"

"Baguslah, kau inisiatif mengatakannya..." lalu Nicholas sengaja menjatuhkan dirinya dan terbaring juga.

"Hihi... pertarungan ini menyenangkan buatku. Adududuh...” Setiap gerakkan sekecil apapun dari dirinya, terasa perih sekali bagi Fhonia.

“Puahh... senang sekali rasanya sudah pernah bertarung dengan superstar.” ucapnya dalam hati sambil berbaring menatap langit sore menuju malam. “Tapi setelah mengeluarkan summon Yupi. Konsekuensinya tubuhku lumpuh selama 72 jam penuh. Makanya aku jarang panggil Yupi keluar kalau tidak dalam pertarungan yang sangat menyenangkan seperti ini. Hihi..."

"Kuakui kau bertarung dengan sangat baik." Puji Nicholas.

"Hihi..." Fhonia tersenyum. "Aku jadi ngefans sama kamu ... Superstarku."

"Kenapa memangilku superstar terus sih?" kesal Nicholas. "Memangnya aku musisi, atau atlit papan atas."

"Kau kan salah satu yang menerima beasiswa itukan. Untuk 2 yang lainnya aku panggil begitu juga. Hei kamu mau tahu kenapa summonku kuberi nama Yupi?"

"Enggak..." jawabnya ketus sambil sama-sama berbaring di lantai arena.

"Ahh kok gitu sih jawabnya... Bilang mau dong. Biar gk makin sakit nih mulutku ngomong terus."

"Meski bilangnya begitu, tapi kau masih saja banyak bicara."

"Masa bodo... Nama lengkap Yupi adalah Yupiter! ... Yeaaa!" ucapnya riang seperti anak kecil meski sedang lumpuh.

"Penting sekali ya." balas Nicholas yang terlihat malas mendengarkan.

"Ahh... Superstar rese ya."

Mereka masih terus bersahut-sahutan sambil terkapar di lantai Arena dengan arah saling berhadapan.

***

Lalu sahut komentator menutup acara. "Dan... Pertandingan Round of 16, kini resmi selesai. Peserta turnamen yang berhasil lolos. Akan melaju ke babak Quarter-Final yang akan diselenggarakan 7 hari lagi. Yang tak lama setelahnya akan disusul dengan Final, karena peserta semakin sedikit. Dengan jeda panjang ini, kami harap para peserta yang berhasil maju ke babak selanjutnya bisa mempersiapkan dirinya lebih baik lagi."

Dan, kesimpulannya! Perserta yang lolos ke Quarter-Final antara lain adalah...

"Alzen dari Ignis!"

"Joran dari Terra!"

"Sintra dari Lumen!"

"Leena dari Lumen!"

"Lio dari Ignis!"

"Hael dari Umbra!"

"Ranni dari Ignis!"

“Dan terakhir, Nicholas dari Umbra!"

Jadi kesimpulannya, total ada 2 kelas yang masih memiliki 2 peserta. Sementara Terra hanya menyisakan satu peserta. Dan Ignis adalah satu-satunya yang paling unggul saat ini, karena masih menyisakan 3 peserta.

***

Pertandingan telah usai dan malam-pun tiba, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Di ruang garasi yang dari tadi siang berjejer kendaraan yang dipakai turis untuk datang kemari, 2 orang pria dan 1 wanita,  saling mengobrol. Mengomentari pertandingan hari ini.

"Wahh pertandingan hari ini keren ya!"

"Iya... peserta tahun ini gokil-gokil. Kayak sudah mahir sekali menggunakan magicnya."

“Yang dua tahun lalu itu juga seru sih.”

"Dasar cowok-cowok! Kalian pikir itu seru ya! Serem tahu!"

"Iya sih... Sampai dinding pelindungnya jebol begitu tadi."

"Tapi disitulah tegangnya! Iya kan."

"Eh, bentar-bentar." Si cewek menyadari sesuatu. 

"Kenapa?"

"Kenapa? Ada apa?"

"Kuda kita yang mana...?" Si cewek garuk-garuk kepala. 

"Ohh iya!? Kuda kan kalau gak putih, coklat, item. Bedainnya gimana?"

***

Sementara itu,

Di ruang ganti pakaian masih tersisa satu orang yang sepanjang hari menangis, tanpa suara.

Tengah malam, sekitar jam 3 pagi.

"Aku sudah terlalu lelah menangis. Tak ada yang datang atau bahkan mendengar saja, kalau aku ada disini. Aku terkurung. Dikurung oleh guruku sendiri." ucap Hael berbicara sendiri dalam ruang sempit, panas dan pengap itu. "Dia bilang... dia akan kemari setelah pertandingan usai. Tapi mana! Dimana dia sekarang?!"

Lalu terdengar suara bisikan menjawabnya,

"Kau masih mengharapkan guru jahat itu datang?"

"Memangnya aku punya pilihan lain? Satu-satunya cara adalah menunggunya datang kemari dan membebaskan aku." kata Hael sambil murung memeluk kedua kakinya di ujung tembok ruangan.

"Kau kuat... Kau bisa mendobrak pintunya... Atau, menghancurkan seluruh ruangan ini. Jika kau mau."

"Tidak! Kalau aku lakukan itu, hukumanku akan tambah berat lagi! Aku tidak mau!"

"Kau takut? ... atau kau cuma pengecut?"

"Ya! Aku takut! Aku juga pengecut. Semua orang bilang begitu padaku. Setiap harinya! Baik di rumah, maupun di sekolah... semua sama saja."

"Jadi... Kau mempercayainya..."

"Percaya apa?" sahut Hael.

"Dirimu yang pengecut itu... Kau meyakininya?"

"Awalnya tidak... Tapi semua orang bilang begitu. Orang tua-ku juga berkata demikian. Aku pengecut, lemah, penakut dan bodoh. Itulah kenapa..."

Tok! Tok! Tok!

"Halo! Ada orangkah didalam?" sahut suara orang dari luar.

"Ahh... pak Volric, akhirnya datang juga." Hael segera menyambutnya di depan pintu.

Tapi, Hael berpikir ulang dalam hatinya. "Ehh!? Tapi suaranya berbeda?"

"Hoo... kau masih saja mau menyambutnya... salah satu orang dewasa yang paling membuatmu menderita."

"Halo! Ada orang di dalam?" kata suara orang dari luar

Tok! Tok! Tok!

"Ini suara orang lain!? Bukan Pak Volric kan?" ucap Hael tak sengaja.

Orang itu terus menggedor-gedor. "Halo siapa di dalam? Ada orangkah di dalam?"

"Ti-tidak! Tidak ada orang!" sahut Hael menjawab dengan gugup, lalu langsung cepat-cepat menutup mulutnya yang keceplosan.

"Kudobrak pintunya ya! Kamu mundur dari sana!"

Hael mau tak mau hanya bisa diam menurutinya.

"1... 2... 3..."

"Ignition !!" 

Pintu itu dibuka dengan ledakkan sihir api.

DUARRRR !!

"Ka-kamu!? Sedang apa disini?" ucap orang itu sambil berjalan masuk ke dalam ruang ganti pakaian itu.

"Kau!? Kenapa bisa kesini!?" Hael tak habis pikir dan menatapnya tajam penuh curiga dan rasa takut.

"Loh!? Disini cuma kamu seorang?" ucapnya sambil melihat ke kiri dan ke kanan. "Orang yang kamu ajak ngomong tadi mana?"

***

Sementara itu Volric, Sedang tertidur di rumah mewahnya yang berada di kawasan elit kota Vheins ini. Ya karena gaji Instruktur Vheins University terbilang fantastis. 

Ia terbangun di jam 3 pagi dan pergi ke kamar kecil.

"Ohh iya!? Hael!?" Volric baru menyadarinya. "Aku lupa membuka kunci anak itu!?"

Volric langsung bergegas pergi dari toilet dan segera pergi ke ruang garasi Arena.

"Ahh... tapi, tunggu dulu... ngapain aku repot-repot membuka pintunya, toh dia bisa sihir. Sedaritadi dia pasti sudah mendobrak ruangan itu dengan sihir dan melarikan diri sejak sore tadi. Ahh... peduli amat! Mending aku balik tidur deh... nyusahin aja tuh anak!"

***

Kembali ke ruang ganti pakaian,

"Dicari dimanapun, gak ada orang disini?" kata orang itu sambil memeriksa setiap sudut ruangan kecil ini. "Kau bicara dengan siapa?"