Episode 22 - Thunder Trap Fhonia


Prang!

Barrier yang melindungi Arena, pecah seperti kaca.

“Cepat selamatkan diri kalian!”

“Hei tunggu dulu! Lihatlah.” tunjuk salah seorang penonton pada gumpalan air yang melayang-layang di atas Arena.

Clep! Clep! Clep!

Tes! Tes! Tes!

Tetes air perlahan turun dari langit, melewati lubang pecahan Barrier yang melindungi langit-langit arena.

"Hujan!?" Ranni tak menduganya. "Kok bisa?"

Lalu dari tetesan air dengan cepat berubah jadi hujan deras. Turun... Memadamkan api yang demikian besar itu. Dan Tornadonya membuat air hujan itu jadi tersebar, memadamkan seluruh api tersebut.

"Hujan!? Hujan! Kebetulan sekali hujan turun di saat seperti ini." Sever yang tenang kini jadi orang yang bingung. "Terserah apapun itu, yang penting aku selamat."

"Masa sih hujan beneran? Kenapa bisa kebetulan se-" Ranni celingak-celinguk melihat bangku penonton.

Alzen bersama semua penyihir yang bisa sihir elemen air lainnya. Mengangkat kedua tangan mereka, mengendalikan seluruh air di pinggir kolam bersama-sama. Membentuk sebuah gelembung besar di atas arena dan menghujani arena untuk memadamkan api.

"Ternyata... kalian..." Ranni melihatnya dengan tersenyum.

Lalu Lasius turun ke arena, yang secara tidak diketahui mampu menembus Barriernya. Dan marah sekali pada Sever, ia ingin menghajarnya keras-keras. "Kau ini! Ulahmu barusan bisa membunuh ratusan bahkan sampai ribuan penonton, Merusak arena secara besar-besaran. Kau ini turnamen atau mau ..."

"Maaf... maafkan aku!" Sever yang tenang sebelumnya kini terlihat takut sekali. Nada bicaranya seperti orang paranoid dan nafasnya tersengal-sengal saat bicara. Kedua tangannya menutupi belakang kepalanya dengan posisi bersujud. "Aku... Aku, aku, aku, aku tak bisa kendalikan sihirku sendiri. Terlalu besar, terlalu berbahaya, terlalu sulit untuk kukendalikan. Jadi... jadi, jadi, jadi."

Komentator meminta Lasius untuk beranjak pergi. Karena belum ada yang berkata menyerah maupun yang jatuh ke kolam. Meski arena sudah hitam akibat api barusan.

"Sudah! Ranni-lah... pemenangnya." lalu Lasius memaksa. "Kau! Katakan... aku menyerah!"

"Tapi..."

"Tak ada tapi-tapi!" bentak Lasius. "Cepat katakan!!"

“Hei Lasius!” sahut Aeros, instruktur Ventus dari bangku penonton. “Tidak bisa begitu dong! Pertandingan masih berlanjut.”

Aeros adalah seorang pria dengan kemeja putih dan rompi hijau gelap bergaris motif emas hingga sepinggang, rambutnya jabrik dan panjangnya sampai melewati pundak berwarna hijau tua dengan sehelai rambut yang naik satu seperti daun layu dan ujung rambut bawahnya menukik ke atas.

Aeros kesal dan turun ke Arena dengan menembus Barrier seperti yang Lasius lakukan. “Intervensi dari instruktur seharusnya dilarang.”

“Apa itu masih penting sekarang! Hah!” bentak Lasius ke Aeros.

“Sever apa kau ma-“

“Ohog! Ohog! Ohog! Sudah-sudah…,” katanya sambil menahan muntah. “Aku menyerah! Tak kuat lagi! Ohog! Ohog! Ohog!" Sever mengucapkannya dengan nafas yang lelah sekali. Kedua tangan dan lututnya menopangnya untuk tidak terkelungkup ke tanah sambil sesekali menahan batuknya. Tampang imut dan tampannya kini berubah acak-acakan terutama bagian rambut panjangnya itu.

"Oke sudah diputuskan! Pemenang pertandingan ini adalah Ranni dari Ignis!" ucap komentator.

“Hei! Apa-apaan nih, masa seperti ini. Tidak bisa begitu dong.” protes Ranni yang tak puas dengan cara menang yang tidak diharapkannya.

Sever perlahan bangkit dan berusaha tetap tenang dari kegelisahnnya. Dan langsung perlahan dengan jalan seperti orang sekarat. Ia kembali dan segera dirawat.

"Sudah selesai... semua sudah selesai." ucap Lasius sambil mengulurkan tangannya untuk digapai Ranni yang sama lelahnya dengan Sever.

“Tapi pak...” 

Lasius memeluk Ranni. “Sudah, aku senang kau selamat.”

Dan Ranni tak bisa berkata apa-apa lagi selain merasakan perasaan kaget tidak terduga. Ia hanya terdiam merasakan hangatnya tubuh Lasius sambil tersenyum

***

Dengan berakhirnya pertandingan ini. Pertandingan Ignis sudah selesai untuk hari ini dan Ronde ini. Mereka pulang untuk mempersiapkan pertandingan di hari esok. Sebelum itu, Lasius memberikan sebuah nasihat pada mereka berempat di kelas Ignis.

"Aku sudah melihat banyak orang-orang nekat seperti kalian. Yang memaksakan dirinya di luar batas kemampuannya hanya demi bisa menang. Oke... kalau kalian bisa terus menang dan tetap selamat. Terus mempertaruhkan hidup setiap waktu dan tetap selamat. Lagi... lagi dan lagi." ujar Lasius memberi nasihat.

Mereka berempat mendengarkan dengan baik-baik.

"Itulah yang juga kualami dulu. Waktu diriku masih muda, masih seperti kalian. Tapi ada suatu kejadian paling buruk. Yang membuatku... kehilangan semua teman-temanku. Teman-Teman satu perjuanganku yang kukenal dari sejak kita sekelas di kota ini. Namun mereka semua, mati dalam dungeon."

Alzen, Lio dan Ranni terkejut sekali mendengarnya.

"Teman-temanku... mereka, yang tak kenal lelah dalam bertarung. Yang tak akan kabur sebelum menang. Ada suatu saat, merekapun pada akhirnya kalah. Dan mereka semua mati di usia yang masih sangat muda. Janji-janji mimpi di masa depan menjadi tak ada artinya lagi. Tak penting lagi kalau mereka hebat dan berbakat tapi berakahir sebagai orang yang cepat mati, karena sifatnya sendiri. Jadi tolong jangan mati hanya demi hal semacam turnamen ini."

Sambung Lasius. "Jika besok kalian bertemu lawan yang sangat kuat. Usahakan semampu kalian dan jika tak berhasil. Menyerah saja. Jangan memaksakan diri... kika di masa depan, kalian akan memasuki Dungeon yang berbahaya. Jangan paksakan diri kalian. Agar kalian bisa terus hidup dan tak bernasib sama dengan teman-temanku itu. Jika suatu hari kalian bertemu lawan kuat diluar sana. Juga larilah! Aku bukan mengajari kalian jadi pengecut. Melainkan... nyawa kalian diatas segalanya." Lasius menasehati.

"Lalu kalau suatu saat... salah satu dari kalian, Chandra, Lio dan Ranni dalam bahaya?” tanya Alzen. “Aku juga harus kabur meninggalkan mereka?"

"Tidak ada teman dipertandingan besok. Tapi jika suatu hari kalian diluar sana! Baik di dalam Dungeon yang melawan monster-monster kuat. Atau dalam mengerjakan Quest... Kalian harus lindungi teman kalian apapun resikonya.”

"Kok jadi berubah?" tanya Lio.

“Karena kalau kalian berhasil selamat seorang diri. Kalian hanya akan jadi sama sepertiku. Dihantui penyesalan yang tak pernah bisa hilang.” Kata Lasius yang baru kali ini terlihat muram. “Tapi kembali lagi, itu terserah kalian. Lakukan apa yang benar sesuai kata hati kalian. Aku hanya kasih tahu saja. Oke! Selamat beristirahat."

“Baik! Terima kasih guru!” balas mereka berdua dengan hormat.

“Haha, tak perlu seformal itu,” Lasius berbalik dan melambaikan tangan ke belakang. “Tolong sampaikan juga kata-kataku ini pada Chandra ya. Bye!”

“Bye!” balas mereka bertiga.

“Aa... kalian berdua duluan saja ya,” kata Alzen. “Aku masih ingin menemani Chandra. Dah...”

“Hee... bukannya kita mau makan-makan?” tanya Lio kecewa.

“Tidak ada yang janjian begitu tuh...” balas Ranni, memalingkan wajah dan meninggalkan Lio. 

“Hee... tapi kan, inisiatif sajalah...” 

Lasius kembali, begitu juga dengan yang lainnya. Kembali ke dormnya masing-masing. Namun satu pertandingan lagi masih tersisa.

***

Pertarungan selanjutnya... Yang sekaligus jadi pertandingan terakhir untuk babak hari ini.

"Fhonia dari kelas Fragor Vs Nicholas dari kelas Umbra!"

Hari sudah mulai sore, para penonton juga tidak utuh lagi. Sebagian ada yang sudah beranjak pergi.

"Wow! Aku melawan superstar! Tidakk...!" ucap Fhonia. Ia perempuan usia 15 tahun yang berkepribadian santai dan suka terlalu memuji-muji lawannya. Berambut pendek dan berponi berwarna pink. Dengan kalung dadu di lehernya dan topi seperti topi Sherlock Holmes, berwarna ungu. Tubuhnya langsing dan tidak terlalu tinggi. Tingginya kira-kira kurang dari 150 cm.

"Cih... seperti kau bukan salah satunya saja." balas Nicholas.

"No...no... aku cuma penyihir biasa. Kebetulan saja bisa bertarung dengan superstar! Yey!” ucap Fhonia sambil mengangkat tangannya dengan girang hingga melompat-lompat ceria sepeti anak kecil.

“Apa-apaan sih, lawanku ini.” Ucap Nicholas dengan suara kecil dan kertakan gigi.

“Wahahaha... suatu kehormatan kalau begitu!" ucap Fhonia. "Tapi aku harus sedih atau senang ya? Lawankukan susah... Huuu..."

"Kau dijuluki Thunder Trap Fhonia. Kau terkenal karena terlalu nyeleneh di Fragor." Nicholas tetap serius.

"Waaaw... ternyata superstar kenal aku ya... Asyik! Yipee!" Ia melompat-lompat girang seperti anak kecil sekali lagi, ya memang secara fisik dia terlihat seperti anak-anak.

"Mari kita mulai... " Nicholas mengeluarkan buku Grimoire dari kantongnya. "Sayang sekali ya... hari sudah sore dan sebentar lagi malam... penonton sudah banyak bubar meninggalkan Arena. Pertandingan kita jadi sedikit yang nonton."

"Ohhh gitu...” balas Fhonia tidak tertarik.

“Grr! Anak ini!” Nicholas menahan emosinya.

“Waw! Iya juga!”

“Hmm... akhirnya kau paham juga.” Komentar Nicholas dengan tersenyum merendahkan.

“Aku baru tahu.” ." ucap Fhonia dengan penasaran sambil membungkukkan badan dan mengamati sesuatu. “Superstar pakai senjata buku toh

“Gwaaah! Kau ini.” Nicholas murka. "Diam! Dan berhenti panggil aku superstar atau apapun itu. Panggil aku Nicholas Obsidus! Nicholas!"

"Ihh... takut..."

“Grrr... kau menghinaku ya!” Nicholas melakukan sihir darkness dari grimoire-nya

"Curse !!" 

Dari bukunya, keluar sebuah gas hitam, menyebar ke Arena.

"Thunder Trap !!" Fhonia menyebarkan sebuah bola-bola listrik secara acak dan jika Nicholas dekat-dekat, bola listrik itu akan menyambar Nicholas dengan sekejap.

Dan dalam sekejap serangan Nicholas tertahan oleh jebakan yang di picu serangannya barusan.

"Heh... jebakan biasa... Aku sudah tahu. Intinya adalah tak boleh dekat-dekat dengan ranjaunya." Nicholas menganalisa. “Sesederhana itu.”

Meski tertahan, tapi gas hitam itu menyebar kembali dari tempat ia berbenturan dengan ledakan ranjau miliki Fhonia.

"Hee... benda hitam apa ini. Hyaa! Sakit, sakit, sakit!" teriak Fhonia menjerit dalam kekangan kutukan dari Nicholas.

"Curse adalah sihir darkness yang efektif untuk mengacaukan mental lawan. Aku tak perlu bergerak. Hanya mengontrol dari sini saja dan kau akan menyerah dengan sendirinya." ucap Nicholas.

"Hehehe... bercanda kok." Ejek Fhonia.

"Trap ON !! Attack Nicholas !!"

Click! ... salah satu ranjaunya di picu dengan perintah. Lalu...

Click! Click! Click! Click! ... Disusul ranjau lainnya yang secara bersamaan menyamabar Nicholas.

"Celaka!?" Nicholas tak siap akan serangan ini.

Fokus sihir Nicholas berubah, dari serangan berubah menjadi pertahanan diri. Yang otomatis melepas Curse yang menahan Fhonia untuk beralih fokus.

"Ahh... Superstar gak mungkin kalah dengan serangan cemen seperti ini."

Nicholas melindungi dirinya dengan Darkness, Ia menyerap semua petir yang datang padanya ke dalam Darkness tersebut. Sehingga tak satupun mengenai dirinya meski diserang dari segala arah.

"Tuh kan! Sudah kuduga... meski aku tak mengerti apa yang ia lakukan."

Sambil menyerap semua serangan yang masuk Nicholas berkata. "Elemen kegelapan punya 1 kemampuan Aura khusus yang hanya dimiliki oleh pengguna elemen kegelapan saja. Yaitu Aura Eater. Dan jurus ini kuberi nama..."

"Elemental Eater !!"

"Terima kembali seranganmu sendiri! Anak kecil yang rewel!"

Fhonia tersambar jurusnya sendiri yang dibalikan dari Nicholas. 

BZZZZZZSSSTT!

“Hyaaaaaa!” teriak Fhonia.

Tapi meski ia betul-betul kena setrum. Ia tetap baik-baik saja kecuali pakaiannya yang terkoyak-koyak dan hangus karena sambaran tersebut.

"Adududuh... Rambutku. Jadi berantakan gini." balas Fhonia sambil merapikan rambut.

"Kau kebal pada petir!?" Nicholas tak menduganya. “Hmph!” Nicholas tersenyum, memposisikan dirinya kembali sebagai yang lebih unggul. “Harusnya sudah kuketahui itu sejak awal.”

"Yap, aku kebal petir. Karena aku sendirilah petirnya..."

"...?" Nicholas hanya mengernyitkan dahi dan berpikir lagi.

"Hahaha... sesuai yang kuharapkan... Superstar memang hebat. Biasanya yang terkena serangan seperti itu sudah kalah dalam 1 serangan saja loh... Tapi superstar, bisa meng-counter seranganku sendiri. Hebat! Betul-betul hebat!" Fhonia lompat-lompat kegirangan dan terlihat malah makin senang dengan pakainnya yang sudah terkoyak-koyak.

"Ada larangan 1 Elemen tapi tak ada larangan menggunakan Tipe Aura yang lain kan?" Ujar Fhonia. "Kalau begitu...“

“Summon !!”

Tangan Fhonia terangkat tinggi-tinggi ke langit.

"Yupi!"