Episode 176 - Busana


Beberapa regu yang terdiri ahli Kasta Perak terlihat berjaga-jaga di balik lebatnya pepohonan. Setiap satu dari mereka mengenakan kain hitam penutup wajah, yang hanya menyisakan segaris celah pada bagian mata. Mereka menanti, sembari memantau wilayah sekitar. Jalinan mata hati menebar siaga. 

Kesiagaan mereka tetiba berubah menjadi kewaspadaan. Adalah seorang seorang gadis yang mengenakan jubah berwarna ungu melangkah gontai, melewati jalan setapak di wilayah penjagaan. Dari sela-sela sisi depan jubah serba ungu tersebut, terlihat belahan dada yang berguncang lembut. Sungguh kelembutan yang mampu membuat pandangan mata lelaki enggan beralih, kemudian serasa hendak membelai pelan.  

Meskipun demikian, sosok-sosok berpakaian serba hitam yang dilengkapi penutup wajah, menghela napas lega. Mereka hanya mengintai dari balik pepohonan tanpa berbuat apa-apa. Sepertinya, bukanlah gadis tersebut yang hendak mereka sergap. Meski menyadari keberadaan ahli yang mengintai, gadis itu tiada peduli. Ia melintas dan terus melangkah ke arah timur tanpa hambatan. 

Jauh tinggi di udara, langit terlihat kelabu. Awan mendung seolah menemani dua ahli Kasta Emas yang melayang serta turut memantau situasi di bawah. Jangkauan mata hati mereka lebih jauh lagi menebar. Akan tetapi, betapa wajah keduanya terlihat gusar. Dapat diperkirakan bahwa sudah sedemikian lama mereka turut menunggu. Sedangkan siapa pun itu yang dinanti, tiada juga muncul batang hidungnya. 

“Mengapa tak kau bunuh saja dia di saat terbuka kesempatan!?” salah seorang ahli Kasta Emas berujar. 

“Aku memang telah mengundangnya ke tempat sepi dengan niat mencabut nyawa… Akan tetapi, firasatku di saat itu mengisyaratkan bahwa ada kekuatan yang justru mengincar nyawaku bilamana bertindak gegabah,” sahut Maha Guru Mahesa Jayanegara, semakin terlihat gusar. (1)

“Anak haram itu memang telah mendapat dukungan dari beberapa keluarga bangsawan… Akan tetapi, siapakah gerangan ahli yang membuat engkau sampai merasa demikian terancam…!?”

“Aku tiada mengetahui…,” gumam Mahesa Jayanegara. “Akan tetapi, firasatku tiada mungkin keliru. Bahaya yang mengancam diriku saat itu nyata adanya.”

“Apakah mungkin ia mendapat perlindungan dari Penegak Perguruan…?” Nada suara tokoh tersebut terdengar bergidik. Tak kuasa ia menyembunyikan rasa takut yang hinggap di hati. 

“Penegak Perguruan telah sejak lama mengasingkan diri dari dunia persilatan dan keahlian. Tiada siapa yang pernah menyaksikan kehadirannya selama ratusan tahun. Bahkan bagi generasi kita, ia hanyalah sebuah mitos pembangkit semangat.” Mahesa Jayanegara menghela napas panjang. 

“Mana ada mitos yang dapat mengaktifkan Segel Perlindungan di saat murid-murid Kasta Perunggu dari Perguruan Maha Patih menyerang!”

“Hal tersebut… adalah kenyataan yang tak bisa disangkal,” sahut Mahesa Jayanegara tak hendak terlibat dalam debat kusir. “Yang kutahu pasti… bahwasanya kita akan menemui hambatan besar bila hendak mencabut nyawa anak haram itu di dalam wilayah Persaudaraan Batara Wijaya.”

“Oleh karena itu engkau memberi peringatan bahwa jiwanya terancam bahaya… Dengan tujuan agar ia meninggalkan wilayah perguruan tanpa paksaan….” Tokoh itu menoleh ke arah lawan bicaranya.

“Benar,” sahut Mahesa Jayanegara lirih. “Informasi yang beredar menyebutkan bahwa ia hendak mengunjungi Kota Baya-Sura.”

“Lalu… dimanakah ia sekarang!?”


Empat sosok berjubah serba gelap berdiri di atas geladak perahu. Hembusan angin laut membuat jubah mereka terombang-ambing senada dengan alunan perahu yang dimainkan ombak lautan. Langit yang ditutupi awan mendung membuat keberadaan mereka demikian misterius. 

Di antara keempat ahli, paling depan adalah seorang remaja dengan jubah dan kantung mata berwarna hitam. Di belakangnya, dua orang gadis juga berjubah serba hitam berdiri berdampingan. Gadis di sisi kiri mengenakan jubah yang terlihat lebih mirip jalinan rambut, sementara yang kanan memakai tudung jubah sampai wajahnya tiada terlihat. 

Hembusan angin mengibaskan jubah dari sosok paling belakang, yaitu seorang gadis bertubuh bongsor. Ia juga menenakan jubah, namun sangatlah pendek sehingga mengantung tinggi di atas lutut. Tiupan gemulai angin, dengan mudahnya mengangkat bagian bawah jubah sehingga memaparkan paha besar nan mulus. Sesekali, angin berperilaku genit dengan berhembus sedikit lebih kencang, sehingga mengangkat bagian bawah jubah lebih tinggi lagi, untuk memaparkan lekukan gembul bagian bawah bokong seorang gadis belia. 

Hampir bulat sempurna bentukan sepasang bokong tersebut. Anehnya bagian bokong yang tersibak dimainkan hembusan angin, seperti tiada mengenakan celana dalam. Padahal, bila diperhatikan dengan sangat seksama, maka sebenarnya terdapat seutas tali lembut yang menyempil ke dalam belahan sepasang bokong nan indah itu. 

“Sejuk…,” rintih Seruni Bahadur sambil berupaya menutupi bagian bawah jubah yang melambai-lambai dimainkan hembusan angin laut.

“Saudari Kedua, mengapakah jubah Saudari Ketiga demikian pendek menggantung?” Melati Dara berujar sambil memainkan jeruji besi pada tali kekang yang melingkar di lehernya. 

“Jubah itu dipesan kepada penjahit sesuai dengan ukuran yang Kakak Melati berikan,” jawab Dahlia Tembang cepat. 

“Oh… benarkah demikian…?” Melati Dara tersadar bahwa dirinya kemungkinan besar memberikan ukuran yang salah kepada penjahit. 

“Selain itu, mengapakah celana dalammu seperti kekurangan bahan…?” Dahlia Tembang berujar kepada Seruni Bahadur dan terdengar sedikit risih. “Bagian depannya hanya merupakan segitiga kecil, sedangkan bagian belakang hanyalah seutas tali? Apakah karena kekecilan…?”

“Oh… celana dalam itu adalah model terkini yang baru saja aku ciptakan,” sela Melati Dara, tetiba ia terlihat bangga layaknya seorang perancang busana termahsyur. 

“Hm…?” Dahlia Tembang meragu. Pastinya sangatlah tak nyaman mengenakan sesuatu yang menyempil di sela bokong…

“Karena Tuan Guru memberi perintah agar aku mulai mengenakan pakaian dalam, maka aku membuat celana dalam yang ringkas serta memudahkan dalam bergerak.”

Seruni Bahadur justru terlihat sulit bergerak akibat celana dalam minimalis tersebut. Sedikit saja melakukan kesalahan, maka bagian tubuh paling intim dari seorang perempuan akan terpampang tanpa perlindungan. 

“Tambahan lagi, lihatlah…” Melati Dara menunggikkan bokongnya yang terbungkus celana kulit hitam, ketat dan mengkilap, “Aku juga mengenakan celana dalam yang sama, namun tiada terlihat seperti mengenakan celana dalam sama sekali, bukan…?”

“Benar juga…,” tanggap Dahlia Tembang. “Tapi, bukankah terasa kurang nyaman saat dikenakan…?” Akhirnya ia mengutarakan pandangan. 

“Awalnya memanglah sedikit risih. Akan tetapi, bilamana telah terbiasa, maka akan memberikan sensasi yang…”

“Tidakkah mudah putus?” sela Dahlia Tembang sebelum lawan bicaranya menjabarkan terlalu jauh.  

“Benang yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan celana dalam ini berasal dari tumbuhan siluman yang sangat lentur dan kuat, sehingga kalian tiada perlu khawatir. Aku pun telah menamai celana dalam ciptaanku ini sebagai… ‘Benang G’.” Melati Dara si perancang busana terlihat demikian jumawa. 

Dahlia Tembang hendak mempertanyakan mengapa celana dalam diberi nama, dan atas dasar apa nama yang ditetapkan memiliki huruf ‘G’. Akan tetapi, tetiba ia tersadar, lalu spontan mundur selangkah ketika menyadari penggunaan kata ‘kalian’. Waspada!

“Aku juga sedang menjahitkan selembar Benang G untukmu. Akan tetapi, karena Tuan Guru mendadak mengajak kita segera meninggalkan Persaudaraan Batara Wijaya, maka milikmu belum selesai, wahai Saudari Kedua.” 

Dahlia Tembang tercengang. “Sejak kapan kita menggunakan kata saudari dan angka dalam menyapa satu sama lain?” Ia berupaya mengalihkan pokok pembicaraan. Walau, pada akhirnya nanti, ia sepenuhnya menyadari bahwa terpaksa juga mengenakan Benang G. Perancang busana Melati Dara tak mudah ditolak kehendaknya.

“Sejak hari ini. Aku merasa bahwa semakin lama akan semakin banyak pengikut Tuan Guru,” jawab Melati Dara. 

Dahlia Tembang dan Seruni Bahadur hanya mengangguk dalam diam.

“Selain itu, alasannya agar lebih mudah bagi kita menyembunyikan jati diri dan menyapa satu sama lain. Aku adalah Saudari Pertama, engkau Saudari Kedua, dan Seruni Bahadur menjadi Saudari Ketiga. Bersama-sama kita akan dikenal sebagai Paguyuban Kembang Kuntum, disingkat Pe-Ka-Ka.” (2)


Di haluan kapal, Kum Kecho menatap jauh ke arah kaki langit. Wajahnya gusar. Adapun kegusaran disebabkan karena tanpa sengaja dirinya mendengar pembicaraan gadis-gadis yang berkumpul hanya beberapa langkah di belakang. Pembahasan panjang dan lebar tentang celana dalam model terbaru nan terlalu kecil… sangatlah tak penting! 

Terlepas dari itu, Kum Kecho memilih jalur perjalanan kali ini karena menyadari akan kemungkinan perangkap yang mengintai. Maha Guru Mahesa Jayanegara tiada dapat mencelakai dirinya di dalam Persaudaraan Batara Wijaya. Alasannya sangatlah sederhana. Meskipun kakek Arya Wiraraja dalam kondisi lemah, seorang tokoh sekelas Jenderal Bhayangkara pastilah dapat dengan mudah menghentikan niat buruk seorang ahli Kasta Emas. Kemungkinan, Maha Guru Mahesa Jayanegara menyadari akan kenyataan ini. 

Atas dasar itu pula, Maha Guru Mahesa Jayanegara yang tiada dapat berbuat banyak berpura-pura berbaik hati. Anggota dari salah satu keluarga bangsawan itu, kemudian menyarankan agar Kum Kecho untuk sementara waktu meninggalkan wilayah Persaudaraan Batara Wijaya. Tipu muslihat pada tingkatan ini, sangatlah mudah terbaca. Oleh karena itu, Kum Kecho menyebar isu bahwa ia akan membawa budak-budaknya untuk segera berangkat menuju Kota Baya-Sura melalui jalur darat. Jikalau benar terdapat regu penyergap, maka regu tersebut akan pulang dengan tangan kosong. Sebagai tambahan, pihak lawan juga akan menyangsikan apakah benar dirinya bepergian ke Kota Baya-Sura. 

Demikian, Kum Kecho memutuskan tidak menempuh perjalanan langsung ke Kota Baya-Sura. Dirinya sengaja mengambil rute memutar melalui jalur laut, meskipun disadari akan memakan waktu sedikit lebih lama. Biar lambat, asal selamat, pikir putra Sang Maha Patih itu.

Tujuan perahu yang sedang Kum Kecho dan Paguyuban Kembang Kuntum tumpangi saat ini, adalah sebuah pulau kecil di perairan antara Pulau Jumawa Selatan dan Pulau Belantara Pusat. Sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Putri. (3)


===


Bintang Tenggara sedang berlatih giat di dalam benteng milik Maha Guru Keempat. Dengan Kasta Perunggu Tingkat 9, ia mampu merapal ketiga bentuk dari kesaktian unsur petir dalam waktu yang lebih panjang. 

“Hm…? Sudah sejak beberapa waktu ini diriku cermati…,” tetiba Ginseng Perkasa berujar. “Nak Bintang mengenakan sebentuk cincin sebagai pemicu kesaktian unsur petir, mengapakah demikian? Apakah unsur kesaktian sesungguhnya tiada dapat dikerahkan?” 

“Kau tak perlu tahu!” sambut Komodo Nagaradja cepat.

“Unsur hitam, bukan…?” balas Ginseng Perkasa. 

“Kau…,” gerutu sang Super Guru.

“Dikau tentu masih mengingat bahwa adalah ramuan dari Sang Maha Maha Tabib Surgawi ini, yang memungkinkan Sang Maha Patih merapal Segel Hitam.” (4) 

Bintang Tenggara berhenti sejenak dari latihannya. Pembincangan antara Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa kali ini sangat menarik untuk dicermati. Rupanya, Sang Maha Patih benar-benar dapat mengerahkan kesaktian unsur hitam. Apakah itu Segel Hitam…?

“Janganlah sesumbar!” sergah Komodo Nagaradja. “Ramuanmu hanya membantu meningkatkan daya tahan tubuh agar tak mencelakai diri sendiri saat unsur itu dikerahkan.” 

“Berkat ramuanku.”

“Bocah jangan menguping!” sergah Komodo Nagaradja ke arah Bintang Tenggara. “Lanjutkan latihanmu!”  

Anak remaja itu memang tak dapat berleha-leha di kala menanti akhir tahun ajaran, yang akan rampung dalam beberapa hari ke depan. Berdasarkan informasi yang dirinya peroleh, pada setiap akhir tahun ajaran akan diselenggarakan sebuah upacara resmi. 

Bila sekedar upacara resmi, maka Bintang Tenggara tiada akan terlalu mempermasalahkan. Secara definisi, upacara berarti perbuatan atau perayaan yang dilakukan atau diadakan sehubungan dengan peristiwa penting. Pada kenyataanya, upacara akhir tahun ajaran di Perguruam Gunung Agung membuka kesempatan kepada murid-murid untuk menguji pengetahuan dan latihan yang selama setahun terakhir mereka geluti. Walhasil, akan berlangsung kejuaraan kecil di antara murid-murid di dalam perguruan!

Luar biasanya, pertarungan terbagi ke dalam tiap angkatan. Para murid dapat mendaftarkan diri dan ikut serta di dalam kejuaraan tersebut. Bintang Tenggara tentu saja tak akan mendaftarkan diri. Bagi yang ikut serta, mereka akan berjuang demi menjadi lima murid yang terbaik. Nantinya, kelima murid terbaik ini berhak menantang lima Murid Utama yang berada pada urutan teratas. Di dalam angkatan murid yang masuk berbarengan dengan Bintang Tenggara, kelima Murid Utama pada posisi teratas secara berurutan adalah: Canting Emas, Panglima Segantang, Aji Pamungkas, Kuau Kakimerah, serta… dirinya sendiri!

Dengan kata lain, suka atau tak suka, ikut serta atau pun tidak, Bintang Tenggara dipastikan akan menjadi ‘hadiah’ bagi pemenang kejuaran di dalam angkatan tersebut! 

Selain itu, di dalam setiap upacara akhir tahun, para pimpinan perguruan yang dikenal sebagai Tri Baghawan Agung akan turut menyaksikan kiprah murid-murid. Ketiganya sudah sangat jarang terlihat, karena telah mengasingkan diri untuk mencapai pencerahan dalam keahlian. Jadi, kemunculan mereka hanyalah berlangsung sekali dalam setahun. Suatu kesempatan yang selalu dinanti.

Tri Baghawan Agung terdiri dari Sesepuh Kedua, Sesepuh Ketiga dan Sesepuh Keempat. Kemudian, dan yang paling utama, bahwasanya masing-masing dari Tri Baghawan Agung tersebut akan ‘memilih’ satu murid dari seluruh angkatan yang ada, sebagai anak didik!

Bagi kebanyakan murid, terpilih menjadi anak didik langsung dari salah satu Tri Baghawan Agung merupakan cita-cita, sebuah mimpi yang demikian sulit diraih. Oleh karena itu, kejuaran ini menjadi satu-satunya kesempatan bagi murid-murid yang berambisi menjadi yang terbaik. Malangnya, batu sandungan bagi mereka adalah kelima Murid Utama teratas. Di saat yang sama, mengungguli Murid Utama tersebut dapat menjadi batu loncatan menuju kesempatan menjadi anak didik dari salah satu Tri Baghawan Agung.

Sungguh sebuah sistem yang menggalakkan tidak kekerasan, keluh Bintang Tenggara.  



Catatan:

(1) Episode 168.

(2) Dalam Episode 66, Melati Dara menyebut diri sebagai Dayang Kuntum dan merapal jurus yang bernama sama. 

(3) Di dunia lain, pada suatu waktu, banyak lelaki muda dari Pulau Bawean yang pergi merantau, maka yang tersisa kebanyakan adalah kaum perempuan. 

(4) Tri Baghawan Agung pernah dibahas dalam Episode 60.


Cuap-cuap:

Dan berikut adalah, ilustrasi… Perancang Busana!