Episode 17 - Shinta dari Lembu Ireng


“Kompetisi dengan Perguruan Kelelawar Merah dan Perguruan Lembu Ireng?” Aku bertanya pada Anto yang sedang minum air kemasan di sebelahku.

“Setiap enam bulan sekali, Perguruan Gagak Putih mengadakan pertandingan persahabatan dengan Perguruan Kelelawar Merah dan Perguruan Lembu Ireng,” jawab Anto dengan moncong minuman kemasan di mulutnya

“Oh… gue baru tau.”

“Wajarlah, ‘kan lu murid baru. Tapi kompetisi ini cuma kompetisi persahabatan, karena kita berteman baik dengan Perguruan Kelelawar Merah dan Perguruan Lembu Ireng. Malah kita diwajibkan saling membantu kalau salah satunya ada yang mengalami kesulitan.” 

“Ooo…”

Aku baru tahu kalau Perguruan Gagak Putih memiliki sekutu. Mungkin karena aku baru masuk dalam perguruan ini jadi informasi ini belum sampai ke telingaku. 

Menyenangkan juga memiliki lawan sparring, kita jadi mengetahui seberapa jauh kemampuan yang kita miliki. Hanya saja, kemampuanku yang sebenarnya tidak akan terlihat jika melawan pendekar silat dari dunia awam. Jadi aku tidak terlalu kecewa saat bang Ardi tidak memilihku. Lagipula, selama latihan dengan Perguruan Gagak Putih aku lebih fokus mengasah gerakan-gerakan dasar sebagai pondasi Jurus Iblis Sesat. Jadi wajar saja jika dalam latihan aku tidak terlihat menonjol. 

“Selama kompetisi berlangsung, latihan akan diliburkan sementara. Oh iya, Riki, Dimas, Anto, Iwan, kalian juga ikut kompetisi sebagai tim logistik, ya.”

“Siap, Bang.” Aku, Dimas, Anto, dan Iwan menjawab bersamaan. Aku langsung setuju ikut terlibat dalam kompetisi tersebut, karena waktunya bersamaan dengan libur tengah semester. Jadi tidak masalah bagiku jika harus pergi berhari-hari.

“Bagus, ada yang perlu ditanyakan?”

Aku celingak-celinguk mencari apakah ada yang mengajukan pertanyaan. Namun setelah beberapa saat tak ada satupun yang mengangkat tangannya dan mengajukan pertanyaan. Mungkin karena rata-rata di kelompok ini adalah murid-murid yang sudah cukup senior, jadi mereka sudah tak asing lagi dengan kompetisi tiga perguruan ini. Akhirnya aku mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan.

“Ada, Bang… Tim logistik nanti kerjaan spesifiknya apa ya bang?” tanyaku perlahan sambil cengar-cengir.

“Oh, tim logistik nanti yang menyediakan kebutuhan selama pertandingan. Kayak handuk, minum, dan lain-lain. Nanti kamu stand by di tepi arena,” jelas bang Ardi.

“Ooo…. siap bang kalo gitu,” kataku lagi.

“Oke, kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi. Kita mulai latihan hari ini. Semangat!”

Setelah sedikit mendiskusikan tentang rencana kompetisi minggu depan, kami memulai latihan rutin. Berlatih berbagai kuda-kuda dan gerakan-gerakan dasar seperti biasanya. Setiap kali aku berlatih bersama dengan Perguruan Gagak Putih, pemahamanku terhadap pengolahan tenaga luar semakin mendalam. Selain itu, aku juga memiliki beberapa jurus yang bisa ku eksekusi tanpa menggunakan aliran tenaga dalam sebagaimana Jurus Iblis Darah. Jurus-jurus ini dapat menjadi cadangan pada saat-saat genting ketika aku tak bisa menggunakan tenaga dalam.

Seminggu kemudian, kompetisi tiga perguruan dilaksanakan di markas Perguruan Lembu Ireng. Lokasi perguruan ini berada jauh di luar kota Jakarta, meskipun bukan berada di kawasan pegunungan.

Kami berangkat pagi-pagi sekali setelah berkumpul di markas Perguruan Gagak Putih dengan menggunakan dua bus berukuran sedang. Jumlah peserta dari Perguruan Gagak Putih yang ikut dalam kompetisi ini mencapai hampir tiga puluh orang termasuk para guru utama, pemimpin kelompok, murid-murid yang ikut berkompetisi dan para penggembira seperti diriku.

Karena jarak yang cukup jauh, perjalanan memakan waktu hingga beberapa jam. Suasana di dalam bis seakan kami hendak pergi berwisata daripada hendak pergi berkompetisi. Mungkin karena memang kompetisi ini hanya kompetisi persahabatan yang sudah rutin dilakukan selama bertahun-tahun lamanya. Meskipun ada unsur persaingan, namun tidak seserius itu. 

Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan dari markas Perguruan Gagak Putih di pinggir kota Jakarta, akhirnya kami sampai di markas Perguruan Lembu Ireng. Lokasi markas Perguruan Lembu Ireng terletak di tempat terpencil yang masih banyak ditumbuhi rindang pepohonan. Meskipun tidak berada di pegunungan, namun suasananya nyaris seperti berada di tengah hutan. Bahkan bus kami harus berjalan pelan dan berguncang-guncang karena jalan tanah yang tidak rata. 

Begitu sampai di depan gerbang Perguruan Lembu Ireng, kami segera disambut oleh murid-murid perguruan yang bertugas menerima tamu. 

“Selamat datang di Perguruan Lembu Ireng kawan-kawan Perguruan Gagak Putih, silahkan…”

Salah satu murid yang bertugas menerima tamu segera mengarahkan kami ke dalam markas Perguruan Lembu Ireng. Sikapnya ramah dan sopan, tapi jelas ada nuansa sombong yang sama sekali tidak dia sembunyikan disitu. Dan tampaknya bukan hanya diriku yang menyadari sikapnya itu. Murid-murid Perguruan Gagak Putih yang lain sepertinya juga menyadarinya, namun tampaknya mereka tidak terlalu memperdulikannya. 

Mungkin sikapnya seperti itu karena dia merasa Perguruan Lembu Ireng lebih kuat dibandingkan Perguruan Gagak Putih. Sedangkan murid-murid Gagak Putih tidak terlalu perduli karena mereka sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu. 

Sesampainya rombongan kami di dalam Perguruan Lembu Ireng, murid penerima tamu segera menunjukkan lokasi penginapan kami. Mengingat kompetisi berlangsung selama beberapa hari, sehingga pihak Perguruan Lembu Ireng mempersiapkan lokasi penginapan untuk kami. 

Markas Perguruan Lembu Ireng jauh lebih luas dibandingkan dengan markas Perguruan Gagak Putih. Dalam kompleks markas tersebut, terdapat belasan bangunan rumah gedek cukup besar yang dibangun berkeliling mengelilingi sebuah lapangan besar yang luasnya hampir seluas lapangan bola. Kami ditempatkan pada empat bangunan rumah gedek yang terpisah untuk para murid, pemimpin kelompok, dan guru utama. Jelas rumah penginapan untuk para guru utama jauh lebih bagus dibandingkan dengan rumah penginapan yang diperuntukkan bagi para guru utama. 

Setelah menunjukkan lokasi penginapan pada kami, murid yang bertugas menerima kami langsung mohon diri setelah sebelumnya memberi penghormatan pada para guru utama Perguruan Gagak Putih. Setelah itu, para pemimpin kelompok segera membagi-bagi tempat penginapan kami. Otomatis, aku berada satu rumah dengan Rahman, Yayan, Anto, Iwan, dan Dimas, termasuk dengan bang Ardi.

Setelah selesai merapihkan barang bawaan kami di dalam rumah penginapan, kami dibawa menuju arena utama yang terletak di tengah-tengah perguruan untuk mengikuti acara pembukaan kompetisi. Aku melihat murid-murid Perguruan Lembu Ireng menggunakan seragam berlatih berwarna hitam, berbaris rapih menghadap arena. Di sebelah kiri mereka, aku melihat barisan orang-orang bertampang sangar mengenakan pakaian latihan berwarna merah. Mereka lebih mirip sekumpulan preman daripada murid perguruan silat. 

Setelah kutanyakan pada Iwan, baru kutahu kalau mereka murid-murid dari Perguruan Kelelawar Merah. 

Acara pembukaan kompetisi dilakukan oleh ketiga ketua perguruan, setelah itu acara langsung dilanjutkan dengan pelaksanaan pertandingan. Awalnya kupikir pola kompetisinya akan sama seperti pertandingan-pertandingan silat resmi, ternyata dugaanku salah. Pola kompetisi tiga perguruan ini fokus pada pertarungan satu lawan satu.

Ketiga perguruan memperkenalkan murid-murid yang ikut dalam kompetisi, kemudian mereka boleh saling menantang satu sama lain. Pertandingan pertama dimulai oleh Perguruan Lembu Ireng, salah satu muridnya yang bernama Nanda menantang murid Perguruan Gagak Putih, Erwan. 

Erwan bukan berasal dari kelompok yang sama denganku, jadi aku tidak terlalu tahu tingkat kemampuannya. Tapi aku sempat mendengar dia salah satu murid dengan kemampuan tertinggi di perguruan kami. Dan benar saja, pertarungan antar keduanya berlangsung sengit. Penguasaan tenaga luar mereka sudah mencapai tahap yang cukup tinggi. Pertandingan berakhir setelah dua kali pukulan telak mendarat berturut-turut di perut dan dada Erwan. 

Pertarungan selanjutnya segera dimulai setelah salah satu murid Perguruan Kelelawar Merah menantang murid Perguruan Lembu Ireng. Pantas saja kawan-kawanku sesama murid Perguruan Gagak Putih tampak santai saja menghadapi kompetisi tiga perguruan. Karena kompetisi ini tidak mencari perguruan mana yang menjadi juara, tapi menjadi ajang bagi para murid untuk mengetes batas kemampuan mereka. Tapi karena waktu yang terbatas, setiap perguruan telah lebih dulu memilah murid-murid yang bisa ikut serta dalam kompetisi ini. 

Sedangkan tugasku sebagai tim logistik hanya sekedar nama saja. Kenyataannya kami hampir tak mengerjakan apa-apa selain melemparkan minuman dan handuk pada murid-murid yang selesai bertanding. Kami lebih sering menonton pertandingan demi pertandingan antar murid ketiga perguruan. Sepertinya memang itulah tujuan kedatangan kami, menonton pertandingan antar murid perguruan dan mengambil pelajaran dari pertandingan tersebut. 

Jujur saja, melihat para murid perguruan saling bertarung satu sama lain telah membangkitkan semangat bertarung dalam diriku. Sayangnya aku bukan peserta kompetisi ini sehingga tak dapat ikut bertanding. Akhirnya aku hanya bisa memendam gejolak pentarung dalam diriku.

Tiba-tiba semua keramaian dalam kompetisi tersebut menghilang bersamaan dengan masuknya seorang perempuan ke tengah arena. Perempuan itu mengenakan seragam latihan Perguruan Lembu Ireng, kutaksir umurnya kurang lebih sekitar enam belas atau tujuh belas tahun, seumuran denganku. Wajahnya terlihat ceria menggemaskan dan tubuhnya padat berisi dengan bentuk yang mengundang khayalan mesum kaum lelaki. 

“Shinta…” 

Iwan bergumam pelan disampingku.

“Lu kenal tuh cewek, Wan?” tanyaku penasaran. 

“Shinta, julukannya si Banteng Betina. Pukulannya keras seperti serudukan banteng.”

Ternyata perempuan itu sampai memiliki julukan, mengindikasikan kalau kemampuan perempuan ini tidak bisa dianggap remeh. Apalagi nama julukannya ‘Banteng Betina’. Mau tak mau aku meleletkan lidah mendengar nama julkan yang terlampau eksotis itu.

“Emang dia kuat banget, ya?” Aku semakin tertarik pada perempuan tersebut.

“Dia juara selama dua tahun terakhir,” sahut Iwan sambil menggerakkan dagunya ke arah arena. 

“Wow…” Aku cukup terkejut mengetahui kenyataan kalau perempuan berbadan menggiurkan itu ternyata juara kompetisi selama dua tahun terakhir.

Selama beberapa saat, perempuan itu berdiri di tengah arena dengan sebelah tangan berkecak pinggang. Tampaknya dia menunggu seseorang maju menantang dirinya, tapi tak satupun murid-murid dari Perguruan Gagak Putih dan Perguruan Kelelawar Merah yang maju. 

“Man…”

Dimas mendesis pelan sambil memandang ke arah Rahman, karena pada saat itu Rahman tanpa mengatakan sepatah katapun berjalan maju menuju arena. Aku dan anggota kelompok yang lain juga menatap terpana pada Rahman. Apa yang ada dipikiran lelaki cepak bergigi mancung ini? Kemampuannya memang oke, tapi setelah melihat pertarungan demi pertarungan di tengah arena, aku dapat menilai kemampuan Rahman hanya rata-rata saja di antara para peserta kompetisi. Jelas dia bukan tandingan Shinta si Banteng Betina yang sudah menjadi juara selama dua tahun berturut-turut. 

“Nafsu lu, Man?” Dimas nyeletuk sambil terkekeh pelan. Menyebabkan langkah Rahman sedikit tertahan. Namun, dia tak mengatakan apa-apa dan kembali berjalan menuju arena meskipun sempat kulihat dia nyengir sekejap. Serentak kami yang berdiri di dekat Rahman dan Dimas menggigil menahan tawa.