Episode 5 - Empat

Putri Mega Sari (1)


Empat belas tahun kemudian... 

Sebuah kereta kuda berlambang kerajaan Mega Mendung dengan dikawal oleh puluhan pasukan khusus Balamati pengawal raja Nampak memasuki padepokan Sirna Raga, dua orang anak lelaki kecil yang sedang berlatih silat menghentikan latihan mereka menatap kedatangan tamu agung dari Rajamandala tersebut.

“Kakang Dharmadipa, lihatlah, tidak biasanya ada tamu dari kerajaan ke padepokan ini, dari manakah gerangan tamu agung itu?” Tanya seorang anak yang mengenakan ikat kepala bermotif batik pada kawan berlatihnya.

Anak laki-laki yang bernama Dharmadipa yang lebih tua satu tahun dari kawannya itu mengamati kereta dan bendera yang tamu itu “Hmm… Kalau dari kereta dan atribut tentaranya aku yakin kalau mereka dari Mega Mendung, Jaka” jawabnya pada kawannya yang bernama Jaka Lelana itu.

Seorang prajurit segera membukakan pintu kereta kuda itu dengan hati-hati, dari dalam kereta kuda keluarlah seorang pria berkumis melintang bertampang gagah yang tak lain adalah Prabu Kertapati lalu disusul oleh seorang gadis cilik yang cantik berkulit putih bersih mengenakan kebaya serba hijau dan kain batik cokelat sebagai kain sampingnya, rambutnya yang lurus bagus hitam panjang disanggulkan sedikit menyisakan sedikit rambutnya menjuntai menutupi kuduknya yang putih.

Meskipun Jaka Lelana dan Dharmadipa sering melihat santriwati di padepokan ini (yang tempatnya terpisah dari tempat para putera), mereka berdua sangat terpana melihat kecantikan gadis cilik yang baru saja turun dari kereta kuda itu, apalagi ketika mereka melihat kain si gadis itu sedikit tersingkap ketika turun dari kereta kudanya, pahanya yang putih mulus seakan bercahaya itu seperti menyilaukan mata mereka. Tumbuhlah suatu perasaan aneh yang hangat di hati mereka masing-masing yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, membuat jantung mereka berdegup kencang!

Si gadis cilik itu nampaknya merasa kalau dia sedang diperhatikan oleh dua orang anak lelaki yang berada tak jauh dari tempat ia berada. Ia lalu melirik pada mereka berdua dan melemparkan senyumnya yang manis, setelah itu ia kembali melangkah mengikuti ayahnya masuk kedalam balai riung padepokan.

“Jaka, kau lihat gadis itu? Bertapa cantik dirinya!” ucap Dharmadipa yang juga Kakak Seperguruan Jaka pada adik seperguruannya yang juga masih terbengong-bengong setelah melihat gadis itu tadi.

“Tentu saja aku melihatnya Kakang, tentunya dia seorang tuan puteri dari Mega Mendung. Ada apakah gerangan maksud kedatangannya kemari?” sahut Jaka Lelana.

“Kalau begitu mari lihat apa maksud mereka kemari!” usul Dharmadipa.

“Tapi bukankan ini pertemuan tertutup Kakang? Lihat, Kakak-kakak kita saja tidak diizinkan masuk kedalam oleh guru!” jawab Jaka.

“Ah sudahlah kalau kamu tidak mau ikut, aku akan melihatnya sendiri!” hardik Dharmadipa. Dharmadipa yang merupakan anak angkat dari Kyai Pamenang dan Nyai Mantili memang memiliki sifat yang keras kepala, kalau kemauannya tidak dituruti maka ia akan nekat melakukannya seorang diri.

Dharmadipa melompat keatas pohon, melihat Kakaknya berbuat nekat, maka Jaka juga mengikutinya, dia ikut melompat keatas pohon, setelah itu mereka berdua melompat keatas genting balairiung padepokan dan menguping pembicaraan didalam.

Di dalam ruangan, setelah saling mengucapkan salam. Prabu Kertapati pun membuka pembicaraan “Kyai, maksud kedatangan saya kemari adalah untuk menitipkan putri saya satu-satunya Mega Sari di padepokan ini untuk diajari ilmu agama dan ilmu pengetahuan”.

Kyai Pamenang dan Nyai Mantili terkejut dan terheran-heran mendengar maksud dari Prabu Kertapati sebab menurut adat kebiasaan, seorang putri keturunan raja harus berdiam di kaputren keraton, “Mohon maaf Gusti Prabu, mengapa gusti hendak menitipkan putri Gusti kepada kami?” tanya Kyai Pamenang.

Prabu Kertapati mafhum dengan maksud pertanyaan Kyai Pamenang, mengusap-usap dagunya sambil tersenyum “Aku ingin putriku ini menjadi seorang yang taat beragama dan mempunyai bekal ilmu agar ia dapat melindungi dirinya sendiri kelak, apalagi ia putri saya satu-satunya yang kelak akan mewarisi tahta Mega Mendung sebab saya tidak mempunyai anak lagi. Apakah Kyai keberatan?”

Kyai Pamenang termenung sejenak sambil menatap Mega Sari dengan perasaan tidak enak. Dia teringat ketika Mega Sari masih bayi dulu, waktu itu Kyai Pamenang diundang ke istana untuk mendoakan Mega Sari yang masih bayi, waktu itu ia melihat ada suatu tanda aneh di bawah pusar diatas kemaluan Mega Sari, tanda itu berupa tanda pusaran hitam. 

Menurut kepercayaan, tanda itu adalah tanda bahwa si pemiliknya memiliki perangai yang jahat serta pembawa malapetaka bagi siapa saja yang hidup bersama dengan si pemilik tanda tersebut. Namun karena ini adalah permintaan rajanya, maka ia tidak mempunyai kuasa untuk menolaknya, maka terpaksa ia menyanggupinya “Tentu saja tidak gusti prabu, hamba bersedia untuk mendidik putri paduka.”

Saat itu Prabu Kertapati, Kyai Pamenang, dan Nyai Mantili merasakan ada desiran angin dari atas atap. Maka berkatalah Kyai Pamenang dengan lantang “Siapa yang berani kurang ajar menguping pembicaraan orang?!”

Di atas genting, Dharmadipa dan Jaka terkejut bukan main! “Celaka! Jaka kita ketahuan!” keluh Dharmadipa. Mereka berdua pun langsung melompat ke pohon yang berada disebelahnya, lalu melompat lagi ke sebuah pohon yang lebih tinggi dan rimbun, kemudian bersembunyi di sana.

Kyai Pamenang, Nyai Mantili, Prabu Kertapati, dan Mega Sari segera keluar dari Balairiun padepokan. Kyai Pamenang lalu menatap keatas pohon tempat Dharmadipa dan Jaka bersembunyi, sang Kyai pun tersenyum “Dasar anak-anak nakal” ucapnya, lalu dia mendorongkan tangan kananya kearah pohon tersebut, tiba-tiba bertiuplah angin dahsyat yang menggocangkan pohon tersebut. Dua sosok tubuh anak kecil pun jatuh dari atas pohon tersebut.

“Dasar anak-anak nakal! Tidak tahu sopan satun dan adat budaya! Kalian harus dihukum karena telah melakukan kesalahan! Sekarang mohon ampunilah dulu pada Gusti Prabu!” semprot Kyai Pamenang pada Dharmadipa dan Jaka yang masih mengaduh-aduh kesakitan akibat terjatuh dari pohon yang tinggi tersebut, sementara Mega Sari hanya tertawa dengan menutup mulutnya melihat tingkah Dharmadipa dan Jaka.

Akan tetapi, lain halnya dengan Prabu Kertapati, dia terkejut ketika melihat Jaka, apalagi ketika ia memperhatikan kain batik yang diikat di kepala Jaka yang ia pakai untuk menutupi lukanya di kening sebelah kanan pas diatas mata kanannya. Sedang ia termenung seperti itu, Dharmadipa dan Jaka bersujud di bawah telapak kakinya “Maafkan hamba Gusti Prabu” ucap mereka berdua berbarengan.

Prabu Kertapati lalu membungkuk membangunkan Jaka, dia lalu memperhatikan wajah Jaka dengan seksama yang membuat Jaka dan semua yang ada di sana keheranan, “Siapa namamu Nak?” Tanya Prabu Kertapati.

“Nama hamba Jaka Lelana, Gusti” jawab Jaka sambil menundukan wajahnya ketika mendapati tatapan penuh selidik dari Prabu Kertapati.

Jawaban nama tersebut membuat hati Prabu Kertapati tersentak, dia lalu bertanya lagi “Siapakah orang tuamu?”

“Hamba tidak pernah bertemu dengan orang tua hamba, menurut cerita Guru, ayah hamba meninggal ketika menitipkan hamba kepada Guru, sedangkan hamba tidak pernah tahu tentang Ibu hamba” jawab Jaka perlahan sambil tetap menundukan kepalanya.

Kyai Pamenang yang merasa tidak enak dengan keanehan itu ikut bicara “Mohon ampun Gusti Prabu, ada apakah dengan murid saya yang bengal ini?”

Merasa tersadarkan oleh perkataan Kyai Pamenang, Prabu Kertapati segera menindih dan menekan perasaannya, dia lalu menoleh pada Kyai Pamenang “Tidak apa-apa Kyai, aku hanya melihat berdua memiliki bakat yang luar biasa, bila sudah dewasa izinkanlah mereka untuk mengabdi pada Mega Mendung!”.

“Daulat Gusti Prabu, tentu saja apabila bekal mereka telah cukup, hamba akan kirim mereka ke Rajamandala agar mereka bisa mengabdikan jiwa raganya pada negeri Mega Mendung” sahut Kyai Pamenang.

Setelah itu, Prabu Kertapati berangkat pulang ke Rajamandala meninggalkan Mega Sari putri semata wayangnya. Alangkah bahagianya Jaka Lelana dan Dharmadipa mengetahui bahwa Mega Sari akan tinggal menimba ilmu di Padepokan mereka, begitupula Mega Sari, ia merasa senang dapat melihat dunia luar, apalagi ketika ia mengetahui ada dua orang anak laki-laki yang menaruh perhatian padanya, ada suatu perasaan aneh yang terasa hangat di hatinya yang belum pernah ia rasakan selama ini, maklum ia adalah seorang putri raja yang selama ini harus tinggal di kaputren keraton, sekarang walaupun mereka tinggal di bangunan yang berbeda dan terpisah, tapi masih satu padepokan, diam-diam ia pun senang mencuri pandang pada Jaka Lelana dan Dharmadipa. Gejolak perasaan seorang gadis yang sedang mengalami masa pubernya telah dibangkitkan oleh perhatian kedua anak laki-laki saudara seperguruannya itu.


***


Tiga tahun kemudian… 

Seiring dengan waktu yang terus melaju, usia manusiapun bertambah, kini Jaka Lelana dan sahabat sekaligus Kakak seperguruannya yakni Dharmadipa telah beranjak dewasa. Mereka telah menjelma menjadi pemuda yang tampan dan gagah, terutama Jaka Lelana. Adanya bekas luka di kening Jaka yang selalu ia tutupi dengan kain batik yang ia gunakan untuk ikat kepalanya tidak mengurangi keelokan parasnya, perangainya yang baik, senang mengalah, tutur katanya yang halus, sangat menghormati guru dan Kakak-kakak seperguruannya, ditambah bagaimana ia menyanyangi adik-adik seperguruannya membuat para murid wanita atau santriwati di padepokan Sirna Raga juga gadis-gadis di desa-desa sekitar padepokan sangat menyukai bahkan tergila-gila pada Jaka. 

Sementara Dharmadipa, ia yang lebih tua satu tahun dari Jaka juga telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa serta tampan rupanya, namun sifatnya berbeda dengan Jaka, dia sangat keras kepala, egois, cepat naik darah, serta sedikit angkuh dan congkak, mungkin karena dia merupakan anak angkat dari Kyai Pamenang dan Nyai Mantili serta terlalu dimanja oleh orang tua angkatnya. 

Sebenarnya dia adalah seorang pangeran dari negeri Parakan Muncang, namun ketika ia berusia lima tahun, negerinya hancur oleh pasukan islam gabungan demak, Cirebon, dan banten sebab menolak untuk menerima Islam masuk ke daerahnya, kedua orang tuanya mati terbunuh didepan matanya sendiri, saat itulah Kyai Pamenang datang menolongnya dan membawanya ke padepokan Sirna Raga, sejak saat itu dendamnya terus bergolak didadanya membuatnya cepat naik pitam. Dendam itu pula yang membuatnya labil hingga sering tidak bisa mengambil keputusan atau mengambil tindakan yang salah. Bersama Jaka Lelana sahabat sekaligus adik seperguruannya, adalah murid kesayangan Kyai Pamenang. Dalam hal gerakan silat dia masih kalah setingkat oleh Jaka, namun dalam ilmu aji kesaktian serta tenaga dalam dia lebih unggul setingkat dari Jaka.

Adapun Mega Sari telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang sangat cantik, tubuhnya yang ramping, berkulit putih bersih, berambut hitam panjang lurus bagus, dihiasi dengan perangainya yang baik serta senang tersenyum pada siapapun, tutur katanya halus membuat dirinya menjadi idola di padepokan Sirna Raga, termasuk Jaka Lelana dan Dharmadipa yang tergila-gila padanya. 

Hanya saja mengingat bahwa dia adalah seorang putri kerajaan Mega Mendung, putri dari Prabu Kertapati yang termashyur kesaktiannya mereka tidak berani mendekati Mega Sari, hanya Jaka dan Dharmadipa yang sering nekat menemuinya secara diam-diam karena di Padepokan Sirna Raga, murid laki-laki dilarang untuk berdekatan dengan murid perempuan dengan alasan bukan muhrimnya. Paling sering Jaka dan Dharmadipa menemui Mega Sari dan menggodanya ketika Mega Sari mencuci pakaiannya di sungai setiap pagi, karena itulah kesempatan yang paling baik untuk menemui Mega Sari.

Pada suatu hari seusai sholat subuh, nampak dua orang pemuda sedang bersilat, berlatih tanding satu sama lain. Terdengar suara-suara bentakan nyaring yang mengiringi gerakan-gerakan silat mereka, mereka berdua tak lain adalah Jaka dan Dharmadipa yang sedang berlatih tanding. Diam-diam beberapa pasang mata para murid-murid gadis belia yang hendak berangkat untuk mencuci pakaian ke sungai menonton latihan mereka termasuk Mega Sari.

Latih tanding itu nampak seimbang, sulit diprediksi siapa yang lebih unggul di antara Jaka dengan Dharmadipa, pukulan demi pukulan serta tendangan demi tendangan saling berbalas satu sama lain. Pada suatu kesempatan, Dharmadipa mengirimkan satu tendangan keras, Jaka melompat ke atas menghindari tendangan tersebut, tubuhnya mencelat keatas dengan sangat ringan. 

Dharmadipa segera menyusulnya melompat ke atas, terjadilah jual beli pukulan dan tendangan diatas udara yang mengundang decak kagum dari para penontonnya. Hingga pada suatu saat, sebuah pukulan Dharmadipa meluncur secepat kilat, Jaka menggeserkan tubuhnya kesamping, namun ternyata itu adalah suatu tipuan, kaki kiri Dharmadipa menendang pipi Jaka!

Deshh! Jaka jatuh ke tanah, kepalanya terasa berkunang-kunang, semua yang menonton tertawa melihat Jaka yang jatuh dengan cara yang lucu, termasuk Dharmadipa yang nampaknya puas telah mengalahkan Jaka, hanya Mega Sari saja yang nampak khawatir pada keadaan Jaka sebab ia telah menyimpan hati pada pemuda itu.

Dhramadipa lalu menolong Jaka berdiri, “Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa Kakang” jawab Jaka sambil memegangi pipinya yang kena tendang Dharmadipa tadi.

Setelah Jaka berdiri, para murid gadis yang tadi menonton mereka segera pergi menuju ke sungai. Jaka sambil memegangi pipinya dan Dharmadipa menatap kepergian Mega Sari menuju ke sungai “Jaka apa kau mau ikut ke sungai?” Tanya Dharmadipa yang tersenyum menatap punggung Mega Sari.

Jaka menangguk “Tentu saja aku mau Kakang”, lalu dengan sembunyi-sembunyi mereka berdua pun mengikuti Mega Sari ke sungai.

Sesampainya di sungai, mereka berdua tidak langsung menghampiri Mega Sari yang sedang mencuci pakaian bersama kawan-kawannya, mereka bersembunyi di sebuah semak-semak. Dharmadipa memperhatikan cara Jaka menatap Mega Sari, dia pun menepuk pundak Jaka “Jaka, apakah kau menaruh hati pada Mega Sari?”

Jaka terkejut dengan dengan pertanyaan Kakaknya. Dia jadi salah tingkah sebab ia juga mengetahui kalau Dharmadipa juga menyukai Mega Sari tapi ia jadi salah tingkah sebab Kakaknya egois dan suka menang sendiri, melihat adiknya salah tingkah DHarmadipa tertawa “Hahaha… Jaka kau tidak usah menutupinya, aku juga tahu kalau kau menyukai Mega Sari!”

Jaka mengangguk “Benar Kakang… Aku memang menyukai Mega Sari… Lalu Bagaimana dengan Kakang?” Tanya balik Jaka yang sebenarnya pertanyaan yang tak penting sebab jawabannya sudah ia ketahui.

Dharmadipa lalu tersenyum sambil menatap Mega Sari “Ya aku menyukainya… Pria mana yang tidak akan menyukai Mega Sari?”

Jaka terdiam tidak menyahut, dia hanya menatap Mega Sari yang sedang asyik mencuci pakaiannya dan mengobrol bersama kawan-kawannya. Dharmadipa melirik sebentar pada Jaka lalu menatap Mega Sari lagi “Jaka bagaimana kalau berlomba?”

“Berlomba bagaimana Kakang?”

“Ya ,berlomba untuk mendapatkan cintanya Mega Sari!”

Jaka menggelengkan kepalanya, tentu saja ia tidak setuju dengan ide Kakaknya, apalagi kalau diingat bahwa Mega Sari adalah putri seorang raja, selain tentu saja karena dirinya yang hanya orang biasa tidak berhak untuk bersanding dengan Mega Sari, maka ia berkata “Maaf Kakang, aku tidak setuju sebab itu sangat tidak adil bagi Mega Sari, lagipula mengejar cinta Mega Sari bagaikan Punguk Merindukan Bulan bagiku. Mega Sari adalah putri Prabu Mega Mendung yang agung, aku yang hanya rakyat jelata yang tidak jelas asal-usulnya ini tidak pantas untuk mengharapkan cintanya!”

Dharmadipa terkejut mendengar jawaban Jaka tersebut, dia seolah baru ingat kalau Mega Sari adalah putri raja Mega Mendung, tapi sifat keras kepalanya dan rasa egoisnya membuatnya tidak bisa menerima fakta tersebut, apalagi kalau diingat bahwa ia juga merupakan seorang pangeran dari Parakan Muncang walaupun negeri tersebut sudah hancur belasan tahun yang lalu, “Itu sangat tidak adil Jaka! Cinta seharusnya tidak memandang status dan kedudukan! Akan tetapi mengingat bahwa aku sendiri juga adalah seorang Pangeran, darah biru trah Sang Hyang Prabu Niskala Wastu Kencana mengalir dalam tubuhku! Walaupun negeriku sudah hancur belasan tahun yang silam!”

Jaka menoleh dengan lemas pada Dharmadipa “Kalau begitu Kakang lebih berhak untuk mendekati Mega Sari daripada aku.”

Dharmadipa menyeringai kegirangan, “Kamu benar adikku,” sahutnya dengan gembira seolah ia tidak mempedulikan perasaan Jaka yang terluka dengan kenyataan pahit bahwa ia tidak akan bisa menggapai cintanya Mega Sari.

Pembicaraan mereka terputus ketika tiba-tiba gadis yang sedang mereka bicarakan sudah berdiri dihadapan mereka berdua “Hayo! Sedang apa kalian?! Kalian mengintip kami mandi ya?!” semprot Mega Sari.

Dharmadipa dan Jaka Lelana terkejut karena mereka tidak menyadari kehadiran Mega Sari dihadapan mereka, tentulah ini karena Mega Sari juga memiliki ilmu kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang sudah cukup tinggi hingga gerakan dan langkah kakinya sangat ringan dan tak bersuara membuat kehadirannya tak disadari oleh dua kakak seperguruannya itu, “Eh tidak, tadi kami hanya mau mandi, eh tak tahunya ada para gadis di sungai, jadi kami menunggu disini” jawab Dharmadipa, sedangkan Jaka terdiam salah tingkah.

“Huh! Alasan saja!” dengus Mega Sari sambil tersenyum genit, gadis belkulit putih mulus itu sengaja mengibaskan rambut indahnya dihadapan mereka berdua, lalu gadis itu melangkah berlenggang-lenggok meninggalkan mereka.

Dharmadipa dan Jaka segera mengejarnya “Mega Sari tunggu!” panggil Dharmadipa, lalu sambil tersenyum dia berjalan disebelah Mega Sari sementara Jaka berjalan dibelakang mereka dengan kepala tertunduk. 

“Mau apa?” tanya Mega Sari.

“Emh…” Dharmadipa berpikir sejenak, dia lalu mengambil keranjang berisi baju yang tadi dicuci oleh Mega Sari “Bagaimana kalau aku bawakan ini?”

Mega Sari tidak langsung menjawab, dia menoleh kebelakang pada Jaka, sebenarnya ia berharap Jaka yang mengambilkan keranjang cuciannya, tapi Jaka malah terrdiam sambil tertunduk lesu, maka sambil tersenyum ia membolehkan Dharmadipa mengambil keranjang cuciannya “Baiklah, Kakang. Tapi hanya sampai dekat padepokan saja, ya… Kalau sampai dilihat guru kita bisa dihukum.”

Mereka berjalan dengan pelan menuju ke padepokan, di sepanjang perjalanan Dharmadipa terus mengajak ngobrol Mega Sari. Mega Sari menanggapinya sambil tersenyum, ia memang suka pada Dharmadipa namun sejujurnya ia lebih menyukai Jaka Lelana, maka sebenarnya ia lebih senang kalau Jaka yang mengajaknya ngobrol, ia heran dengan sikap Jaka kali ini, biasanya kalau Dharmadipa mengajak dirinya mengobrol, Jaka tidak mau kalah dan ikut mengajaknya mengobrol, namun kali ini Jaka hanya diam saja, bahkan Jaka hanya berjalan di belakang mereka.