Episode 21 - 21 : Just Give Up


Sahut komentator. "Ti-tidak disangka-sangka, pertandingan usai dalam sekejap! Pemenangnya Hael dari Umbra!"

"Tuh kan, si biksu itu yang menang. Semoga gak ada siksa-siksaan lagi deh." ucap Alzen sembari berjalan turun. "Tunggu dulu... Hael dari Umbra!? Bukannya..."

Lalu Alzen kembali naik dan menonton kembali. Ia mendapati Hael menahan tubuhnya dengan kedua tangan, sambil terus batuk-batuk, gemetar, terlihat lelah, dan pucat sekali. Sedang Bartell yang besar itu sudah terkapar pingsan, tengkurap di lantai dengan darah keluar dari perutnya di lantai tempat ia terbaring jatuh.

"Apa yang terjadi!?" Alzen benar-benar tak mengerti. "Guru! Lio! Ranni! Jelaskan padaku... apa yang sebenarnya terjadi?!"

Lasius dengan serius menghadap Lio. "Lio... kau yakin akan melawannya nanti?"

"Entahlah..." balas Lio yang terlihat pucat ketakutan. “Aku juga tak tahu...”

"Hei... kalian kenapa? Jelaskan padaku apa yang barusan terjadi?"

Jawab Lasius. "Tidak... Bukan apa-apa."

Lalu kata mereka bertiga bersamaan. “Hanya mimpi buruk saja.”

***

"Panggil Lunea! Anak ini sekarat!" seluruh kru panitia menjadi panik. "Kita harus sembuhkan anak ini segera!" serunya.

"Bawa! Bawa! Bawa anak itu ke Healer secepatnya! Ia masih bernafas, harus segera disembuhkan!"

Dan tim medis, mengangkut Bartell keluar Arena untuk menyembuhkannya.

"Mohon maaf ada sedikit masalah disini.” kata komentator dengan nada bersalah. “Tapi pertandingan harus terus berjalan..."

“HUUUUUUU !!” sahut seluruh penonton sambil terus mengolok-olok Hael. Kecuali para peserta yang cenderung masih tidak percaya, hasilnya akan secepat ini.

“Dasar pembunuh!” 

“Hei ini kan hanya turnamen kenapa harus sampai seperti itu.”

Sementara Hael hanya berdiri diatas lututnya melihat sekitarnya yang terasa begitu membencinya. Menutup telinga dan memaksakan diri untuk keluar Arena.

“Kenapa? Kenapa? Aku kan sudah menang, tapi kalian tetap saja membenciku,” kata Hael berlari dengan menutup telinganya. “Apa? Kenapa aku tak mengerti.”

***

Hael kembali ke bangku penonton Umbra. Sesampainya disana... 

"Dasar anak goblok!" Volric menampar Hael keras-keras. "Hampir saja kau bunuh orang. Kau mau jadi kriminal! Hah!?"

“Huh? Kenapa aku kan men-“

“Diam kamu!” Tamparnya sekali lagi lalu ditarik paksa oleh Volric dan dibawanya ke tempat sepi di tempat seperti ruang garasi dan berbicara di ruangan tertutup seperti ruang ganti pakaian.

"Tapi, kau bilang..." Hael terlihat menahan air mata.

"Gak ada tapi-tapi! Dan jangan jawab aku! Dengarkan saja!"

"Kau bilang aku tak bisa menang... tapi nyatanya aku bisa kan!"

"Grrr... sekarang kau sudah berani lancang pada gurumu ini ya!"

"Hiks..." Hael tak mampu berpura-pura lagi. Ia menangis.

"Halah... malah nangis." ejek Volric. "Kau sebaiknya tunggu disini saja! Untuk merenungi kesalahanmu."

“Tapi aku salah apa? Kau ingin aku menang kan? Aku sud-“

“Diam!” bentak Volric. 

“Ke-kenapa?” ucap Hael dengan mulut gemetar.

“Pikir saja sendiri padahal sudah jelas-jelas.” Volric berjalan keluar dan mengunci pintu. "Aku akan kembali setelah pertandingan hari ini selesai. Jadi kemungkinan bisa sampai malam kau disini."

"Volric,” Hael dengan kepala tertunduk, mengepal tangannya. “Aku benci kau!"

"Kau cuma mau ngomong itu? Haha! Memangnya aku peduli.”

BRAAGHHH !! Cklek!

Volric menutup pintu dan menguncinya dengan kasar. 

“Diam disana, nanti malam aku kembali.”

Sementara jam di ruangan itu masih menunjukan pukul 2 siang.

Hael hanya bisa menerimanya, ya dia mengalami banyak hal untuk menerima itu. Ia berjalan ke pinggir ruang ganti baju itu, yang banyak terdapat loker-loker. Ia duduk di atas lantai, menutupi kepalanya dengan topi yang ditariknya kuat-kuat ke bawah.

“Kenapa selalu begini.” ucapnya dengan murung dengan tatapan hampa.  

***

Pertandingan selanjutnya... "Ranni dari kelas Ignis Vs Sever dari kelas Ventus!"

“Yes! Sekarang giliranku! Kalian berdua nonton ya...” Ranni tidak turun lewat tangga, ia langsung melompat untuk mendarat langsung di Arena.

“Ehh awas!”

BRUGGHHH !!

“Adududduh...” Ranni tertabrak di atas dinding barrier tak terlihat, ia seolah terbang disana. “Aku lupa ada Barrier ini.”

“Makanya pakai cara yang normal saja.” kata Lio dengan tatapan datar.

“Wahahahaha.” Alzen malah tertawa sekalipun ia coba menahannya.

“Huu! Awas ya Alzen,” katanya dengan nada kesal, tapi raut wajahnya ikut tertawa. 

***

Di atas Arena. Ranni baru berdiri disana setelah semenit Sever tiba lebih dulu.

"Ohh! Halo cantik..." sapa Sever, yang adalah seorang pria cantik. Ia berambut panjang pirang dan menggunakan sebuah pisau belati sebagai senjatanya. Ia mengenakan jubah hijau bercorak garis-garis emas dan kemeja putih berdasi merah, serta celana panjang dengan warna yang hijau gelap. Baju yang dikenakannya bisa dibilang, baju yang terlalu formal untuk sebuah turnamen.

"Ha... ha-hai…,” balas Ranni canggung. Meski dalam hati Ranni bilang. "Wow! Dia tampan! Tapi... Tidak-Tidak! Aku harus fokus!"

Ranni adalah pelajar Ignis yang telat masuk cukup lama, Setelah belajar dan berlatih. Dengan kerja kerasnya, Ranni mampu mengungguli yang lain, bahkan yang lebih dulu masuk. Ranni mengambil gaya bertarung seorang battlemage, dibantu dengan senjatanya yang adalah tongkat kayu berwarna merah yang immune terhadap api. 

Bahan kayunya berasal dari pepohonan di Sleeping Forest, Area perbatasan antar Valencia Kingdom dan Republic of Greenhill. Sekalipun ia tidak berasal dari Azuria. Tapi senjata yang dipakai menggunakan bahan bakut tersebut. Bentuk tongkatnya bisa dibayangkan seperti tongkat kera sakti. Dengan pahatan-pahatan logam emas menghiasi tongkatnya.

"Ohh... halo gadis manis? Aku jadi tak enak hati melawan gadis manis sepertimu." ucap Sever dengan gaya seperti pangeran yang mengibaskan rambut panjangnya.

"Ahh dia merayuku...senangnya... tapi hal itu tidak akan mempan! Tapi-tapi... dia ganteng..." sibuk Ranni dalam imajinasinya sendiri.

"Tidak-tidak!" Ia menggelengkan kepalanya. "Aku harus fokus! Fokus!"

Lalu, sahut Ranni. "Gombalmu itu takkan mempan! Tak akan!"

"Ahh..." Sever mengibaskan rambut panjangnya dengan anggun, sekali lagi. "Aku tidak sedang merayu... aku berkata yang sejujurnya. Nona cantik..."

"Pembohong... semua laki-laki itu penipu!"

"Sayang sekali aku mendapat lawan gadis secantik dirimu. Tapi duel tetaplah duel... "

Sever menggunakan sihir anginnya.

"Wind... Blade..." 

ucapnya halus dengan sedikit feminisme dalam pelafalannya.

Pisau pendeknya itu seketika menjadi pedang, yang mata pedangnya terbuat dari angin yang berputar kencang. Siap menyayat apapun yang disentuhnya seperti gergaji mesin. Meski begitu berat senjatanya, hanya seringan sebuah pisau biasa.

"Aduh... aku lupa!? Yang begitu namanya apa sih?" Ranni mencoba mengingat-ingat teori selama dikelas.

"Pierce !!" 

Sever mencondongkan badannya ke depan dan langsung menembak proyektil angin tepat ke arah Ranni.

"Cepatnya!?" Ranni reflek menangkisnya dengan dinding api di depannya.

Namun dinding apinya terhempas begitu saja, tetap menembus sebagai sebuah proyektil angin. Serangan Sever membuat Ranni tergeser sedikit dan seperti ditikam sebuah benda tajam.

"Kecil sih... tapi cepat dan mematikan. Meski ia terlihat seperti seorang pria manja ... dia kuat!" Ranni langsung dengan cekatan, bergegas maju untuk berbalik menyerang dengan tongkatnya.

Tranggg!

Mereka berdua beradu senjata. Sebuah tongkat kayu beradu dengan pedang angin yang bergerak cepat layaknya gergaji mesin. Alhasil... tongkat Ranni dipatahkan oleh karena goresan angin yang begitu cepat menyayat senjata Ranni sedikit demi sedikit.

"Apa!? Tongkatku!?" Ranni terlihat menyesal sekali. "Kau tahu seberapa berharganya barang ini! Dan sekarang kau memotongnya!"

"Maaf nona, tapi aku hanya mempertahankan diri, tak lebih…,” balasnya dengan tenang dan tak peduli dengan nada-nada feminisme. "Kalau tongkatmu patah.. mohon maaf dariku."

"Dasar cowok brengsek! Tampangmu saja imut, hatimu ternyata busuk!"

"Sebuah pujian untukku," bungkuk Sever memberi hormat. "Wahai... Nona cantik."

"Hehh... kamu pikir, karena sudah patah. Kau sudah merusak tongkatku secara permanen?"

"Huh?"

Kedua belahan tongkat Ranni yang patah ditancapkan kembali dan setelah terbungkus sihir api yang Ranni gunakan. Tongkat itu terhubung kembali seperti semula.

"Belum tentu..."

"...!?" Sever terlihat sedikit terkejut, meski tak mau diungkapkan secara terus terang. “Wow, hebat sekali senjatamu,” pujinya, tapi sekaligus ia khawatir.

Ranni kini mundur dan memutuskan menyerang dengan jarak jauh. Ia mengibas-ibaskan tongkatnya ke kiri, ke kanan, juga dihentakan ke bawah untuk menyerang Sever dari banyak sisi. Setiap gerakkan tongkat yang ia lakukan seperti mengeluarkan semburan api Flamethrower. Saking marahnya... Ranni menyerang secara membabi buta.

Setelah serangan itu selesai. Ranni mendapati Sever tengah melindungi diri dari segala sisi dengan pusaran tornado kecil berputar mengelilinginya, sehingga setiap api yang menerjang masuk langsung dihempaskan dan diubah haluannya saat itu juga.

"Kau menyia-nyiakan Auramu, nona cantik…,” balasnya dengan nada feminim di tengah pusaran tornado.

"Sial... hosh... hosh... sudah ganteng, kuat banget lagi. Hosh... hosh... capek sekali! Sihir seperti tadi itu, betul-betul menguras banyak Aura dan kabar buruknya.” Ranni yang kelelahan masih melihat Sever berdiri tenang di tengah-tengah tornado. “Dia tidak terserang sedikitpun."

"Kenapa nona? Kau terlihat bingung begitu…,” sindirnya.

"Kenapa? Kau bisa tidak lelah sedikitpun?! Pa-padah-“

Syussshhh... CRASSHHHTT !!

“Ughh!?" Ranni tertebas oleh sayatan jarak jauh dari pedang Sever dan sayatannya menyebabkan luka dan darah di tubuhnya.

"Oops... maaf, aku gak sengaja." Sever terus bersarkasme.

"Kurang hajar!" Ranni geram dengan sindiran-sindiran tak langsung dari Sever.

"Vulcanic Hammer !!" Ranni melompat dan mengeluarkan sejumlah besar api dari tongkatnya, memanipulasinya hingga menjadi sebuah palu api raksasa. Lalu membantingkannya ke langsung ke arah Sever untuk membuat efek hentakan api yang dahsyat.

"Woo...! Sihir dengan seluruh tenaga,” ucap Sever santai, sambil terus berlindung di dalam tornadonya. "Kalau begini sih..."

Sever mempercepat dan memperbesar pusaran tornado yang melindunginya. Makin luas dan makin kencang anginnya.

"Hehe... kau bisa tangkis ini atau tidak?" Ranni sudah mati-matian untuk jurus ini.

Sihir terbaik yang mereka berdua keluarkan sungguh sangat menghabiskan Aura masing-masing pihak. Ranni terus menekan palu api raksasanya itu untuk menembus tornado yang melindungi Sever. Yang kian lama kian kencang berputarnya. Bahkan, kolam air di pinggir arena-pun jadi bergelombang.

Palu Api Ranni menghentak Sever terus-terus dan terus. Sever-pun mulai terlihat gelisah dan berkeringat. Bukan karena dia takut tornadonya tak cukup kuat menahan serangan, melainkan... Tornado di sekelilingnya kini diselimuti api juga. Secara tak langsung kedua elemen itu bergabung jadi satu dan membentuk sebuah Fire Tornado.

"Ohhh... ini begitu luar biasa!" Sever terlihat senang sekali berada dalam pusaran api tersebut. Meski ia sesungguhnya terus bersusah payah untuk bisa mengendalikan Fire Tornado-nya itu.

"Celaka!? Aku gak habis pikir akan jadi bercampur begini!" Ranni panik dan takut. "Kalau dia bisa kontrol arah Fire Tornado-nya... Bisa-bisa aku diblender dalam api ini."

Fire Tornado itu perlahan membesar dan sudah jadi sangat besar. Jika tak ada Barrier System dalam Arena. Mungkin penonton sudah berlarian kabur. Bahkan sudah di lindungi dengan baik-pun masih cukup banyak penonton yang memilih keluar. 

Ujung Tornadonya seperti tertahan kaca transparan yang tak terlihat, namun betul-betul menghalangi Tornado menjadi lebih tinggi lagi. Yang malah membuat tornadonya menyebar seperti api kompor mengenai wajan. Dan perlahan-lahan terlihat keretakan di langit. Seperti Barrier tak mampu menahannya lagi.

Penonton mulai gelisah dan semakin banyak yang meninggalkan Arena.

"Waaa!? Lihat tuh, pelindungnya seperit mau pecah."

"Kabur! Aku gak mau mati di tempat ini."

"Cepat selamatkan diri kalian sebelum semuanya terlambat!"

***

Hampir separuh Arena terkibas oleh pusaran Fire Tornado ini dan Sever, berada di tengah-tengah pusaran tersebut.

"Celaka!? Aku tak sanggup lagi! Aku tak bisa kendalikan secara penuh Fire Tornado ini!" Sever berkeringat luar biasa. "Panas! Di dalam sini. sangat panas! Tolong! Tolong aku!"

Jelas saja, sebuah pusaran api yang sangat besar dan masih membesar, berputar-putar mengelilingi dirinya. Komentator-pun dibuat tegang, karena berada di tempat yang cukup dekat dengan Arena.

Lalu...

Prang!

"Hua!? Barriernya hancur!"

"Apinya!? Apinya bisa menyebar kesini!"

"Mama! Aku takut!"

“Cepat selamatkan diri kalian!”

***