Episode 4 - Empat


Lutut kanan Mpu Gemana mengarah masuk ke tulang rusuk kiri Bondan, Bondan segera menarik tubuhnya kebelakang namun itu sebuah gerak tipu Mpu Gemana. Ketika Bondan mengarahkan perhatiannya untuk melindungi tulang rusuknya, Mpu Gemana melemparkan ujung rantai yang lain ke pelipis Bondan. Dia terpaksa harus melepaskan keris yang diselipkannya pada lubang rantai untuk menghindari serangan maut yang menuju kepalanya.

Sebuah tendangan Mpu Gemana telak mendarat di dada Bondan. Dia terjungkal roboh, sedikit lelehan darah mengalir dari bibirnya.

Sambil melirik pertarungan Ken Banawa dengan Sampar yang telah usai, dia mengusap darah di bibirnya. Sambil berdiri tegak kini dirinya mengambil sikap baru, dia mencondongkan sedikit badannya kedepan. Dia menunggu serangan berikutnya dari Mpu Gemana.

Mpu Gemana tidak mau terpancing dengan kuda-kuda Bondan. Dalam jarak seukuran empat anak panah, sangat riskan baginya untuk memulai serangan. Kecepatan Bondan akan menamatkan riwayat hidupnya. 

Melihat persiapan yang dilakukan Mpu Gemana, Bondan mengerti jika lawannya tidak akan menyerang lebih dahulu. Dia merasa harus segera mengambil satu keputusan. Dengan ikat kepala yang terjuntai dia menggerak-gerakkan tangannya kedepan dan belakang seolah mendayung perahu dengan menggeser langkah mendekati lawannya.

Kematangan Mpu Gemana dalam pertarungan menjadikan dirinya lebih tenang mengamati gerakan Bondan. Karena merasa lebih berpengalaman dari lawannya, Mpu Gemana telah kehilangan kewaspadaan. Bondan melompat ke kiri dan kanan, lalu berguling dengan cepat dan secara mengejutkan menyambar dari bawah. Mpu Gemana terkesiap dengan perubahan gerakan Bondan dan keris Bondan sudah mendekati lehernya.

Tiba-tiba diluar perkiraan Mpu Gemana, Bondan melesat dengan kecepatan yang sulit dipercaya. Tusukan yang sangat cepat ibarat anak panah lepas dari busurnya memaksa lawannya melentingkan tubuh ke belakang, Mpu Gemana melemparkan ujung rantai ke arah Bondan yang kini melayang tinggi. Bondan dengan sigap menangkap mata tombak itu, dan dia menariknya keatas. Mpu Gemana menarik ke bawah lebih kuat. Tarikan itu dimanfaatkan Bondan meluncur ke arah Mpu Gemana lebih cepat. Jarak kurang dari sedepa dan dengan kecepatan dahsyat itu sangat mustahil serangan Bondan dapat dihindarinya. Telapak kanan Mpu Gemana menjadi perisai agar lehernya lolos dari malaikat maut yang dikirim Bondan.

Bondan dengan cepat menarik keris lalu memutarnya ke bagian pinggang Mpu Gemana. Dua sabetan kerisnya mengakhiri hidup Mpu Gemana. 

Menyaksikan itu, Ken Banawa sedikit berlega hati karena orang yang cukup mengkhawatirkan itu kini telah tak berdaya. Meskipun begitu ada sedikit rasa penyesalan dalam diri Ken Banawa. Betapapun juga Mpu Gemana adalah orang yang juga dia harapkan dapat membantunya menuntaskan beberapa persoalan yang terjadi di wilayah utara Brantas.  

“Mpu Gemana adalah orang yang hebat, Paman. Namun sayang sekali jika dia harus tewas dengan cara seperti ini,” Bondan bergumam sambil memandangi raut wajah Mpu Gemana. Melihat kejadian itu, Ken Banawa segera menghampiri Bondan dan segera mengajaknya kembali ke Trowulan..

Sesaat Bondan merenungi bahwa memang manusia diciptakan hidup di dunia dengan sempurna. Selain kedua tangan dan kedua kaki, manusia juga dibekali perasaan serta kemampuan berpikir. Kemampuan ini jelas membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lain. Kemampuan itu bukanlah diberikan tanpa ada tujuan. Sudah pasti Tuhan memberikan kemampuan itu agar manusia dapat menikmati kehidupan. Dan untuk dapat menikmati ini di sebut rasa yang biasanya diberi istilah nafsu.

Kehebatan Mpu Gemana yang dahsyat itu disesalkan Bondan karena menurut Bondan kemampuan luar biasa itu semestinya digunakan untuk kebaikan. Akan tetapi karena setiap orang telah menentukan jalan hidupnya sendiri, maka keadaan sering kali terjadi diluar harapan dan dugaan. 

“Namun peristiwa ini menjadikan diriku merasa berdosa, Paman. Aku telah membunuh seorang lelaki tua,” Bondan menghela nafas panjang sembari menyarungkan keris ke warangkanya. 

Ken Banawa yang mendengar ucapan Bondan terdiam sesaat.

“Bagaimanapun juga kematian seperti ini adalah sebuah akibat yang tentu telah dipikirkan oleh Mpu Gemana, wahai Bondan.” Ken Banawa mencoba memberi penjelasan kepada Bondan yang merasa gugup dan gelisah atas kematian Mpu Gemana.

“Marilah kita kembali ke Trowulan. Dan tenangkan dirimu di sana,” ujar Ken Banawa sambil meraih tangan Bondan untuk segera berdiri.

Selang beberapa lama, di Kademangan Sumur Welut digegerkan dengan terjadinya perampokan yang terjadi beberapa kali di sebuah padukuhan yang terletak di lereng bukit kecil. Ki Guritno sebagai Lurah prajurit di Kademangan Sumur Welut pun sudah menambah jumlah pengawal untuk menjaga keamanan di wilayahnya. Namun pencurian itu tampaknya tidak dilakukan oleh satu atau dua orang. Beberapa kali lurah prajurit sampai harus turun tangan sendiri dalam sejumlah pertarungan dengan gerombolan pencuri.

Keadaan yang terjadi di Sumur Welut telah menjadi pembicaraan di Trowulan. Rupanya para pemimpin di Trowulan telah mengadakan pembicaraan khusus untuk itu. Mereka sepakat berpendapat bahwa kejahatan yang terjadi berulang kali di Sumur Welut merupakan pertanda bahaya bagi orang-orang yang berencana meng-adakan hubungan baik dengan Majapahit. Oleh karena itu Patih Mpu Nambi menunjuk Ken Banawa untuk membentuk satuan khusus prajurit yang akan mengatasi keadaan di Sumur Welut.

“Ki Banawa, aku memintamu untuk membawa sekelompok prajurit untuk berangkat ke Sumur Welut dalam waktu dekat. Dan aku juga minta kepadamu untuk merahasiakan hal ini.”

“Siap melakukan perintah, Ki Patih.”

Menjelang senja Ken Banawa mengajak berbincang dengan seorang perwira di tempat dia bertugas. 

“Ra Caksana, kita harus mengadakan beberapa persiapan untuk penyergapan.”

“Baik Ki Banawa. Kapan perintah itu kita laksanakan?”

“Tidak dalam waktu dekat. Karena aku sedang menunggu keterangan dari Ki Lurah Guritno. Sementara ini aku sudah meminta Bondan untuk membantu pergerakan kita. ”

“Apakah Bondan akan dilibatkan,Ki? Bukankah anak itu masih belum berpengalaman?”

“Aku tahu hal itu akan engkau tanyakan,” Ken Banawa melanjutkan,” tapi dia perlu mempelajari hal mendasar dari tugas-tugas sandi.”

“Kira-kira berapa orang kekuatan mereka, Ki Banawa?”

“Ki Lurah belum memberikan keterangan yang mendekati. Mereka kesulitan mendekati pemukiman para penyamun itu. Menurut pengamatan yang dilakukan petugas telik sandi bahwa lokasi para penyamun ini jauh di dalam hutan randu.”

“Meski begitu, bukankah lebih baik kita berangkat sesegera mungkin Ki?” 

“Apa yang engkau rencanakan?”

“Maafkan aku,Ki. Menurutku sebaiknya kita berangkat menjelang tengah malam dengan beberapa kelompok agar tidak memancing perhatian orang dan Ki Banawa tentukan titik berkumpul.”

“Baik. Kita berangkat malam ini dan kemungkinan kita akan tiba di Wedoroanom besok siang. Segera siapkan pengawal berkuda. Mungkin kita akan berangkat tengah malam nanti. Mungkin kita akan bertemu dengan Bondan, Ra Caksana. Beberapa hari kemarin dia telah aku minta untuk mengamati situasi di Sumur Welut. Aku juga sudah memberitahu dia tentang tempat berkumpul di Wedoroanom. Meski begitu aku juga mencemaskan dirinya akan hanyut dalam situasi dan bergerak sendiri. Semoga saja itu tidak terjadi dan dia bersedia sabar menunggu kedatangan kita.”

“Iya, Ki. Bagaimanapun juga Bondan masih sering gagal mengendalikan diri.”

“Baiklah, segera siapkan pasukanmu. Kita berangkat tengah malam nanti. Sementara itu aku perintahkan dua penghubung untuk menyampaikan pesan ini pada Ki Guritno. Supaya dia segera menyesuaikan diri.”

“Baik, Ki Banawa.”

Keduanya lantas berpisah dan mengadakan beberapa persiapan yang akan diperlukan hingga saat penyergapan ditentukan.

Sementara itu di tempat lain seorang pemuda berbadan ramping dan berisi tampak sedang menyimak perbincangan di sebuah kedai. Pemuda ini duduk di pojok satu sudut dalam kedai. Mengenakan ikat kepala bermotif lurik, dia terlihat sangat menikmati suasana pagi padukuhan Sumur Welut.

”Dua malam kemarin Ki Lurah tergores pedang waktu mengejar gerombolan penyamun di tepi hutan randu. Sejak saat itu kelihatannya para prajurit sekarang lebih banyak berkeliling dengan jumlah lebih banyak dari yang sudah-sudah,” kata seseorang.

”Iya, benar. Ki Lurah Guritno saja bisa terluka dengan 5 orang prajurit. Tadi pagi anakku bilang semalam terdengar banyak teriakan ketika dia naik dari sungai,” seseorang menimpali. 

Bondan masih mendengarkan dengan seksama dan berharap agar ada sedikit warta arah gerombolan itu menyembunyikan diri. 

Ki Lurah Guritno yang telah mengetahui tempat persembunyian gerombolan Ubandhana sudah memutuskan untuk menyerbu gerombolan sebelum cakrawala merekah. Padahal dia sedang terluka saat berusaha menyergap gerombolan pencuri itu.  

Ki Lurah Guritno mendapatkan keterangan bahwa perampokan yang terjadi di daerahnya juga terkait dengan penggalangan dana besar-besaran untuk membentuk sebuah pasukan. 

Meski demikian dirinya belum dapat membuktikan keberadaan pasukan yang dimaksudkan. Akan tetapi Ki Lurah Guritno telah mengirimkan berita rahasia ini kepada Ken Banawa. 

Bondan mendengarkan rencana ki lurah prajurit dari percakapan beberapa orang prajurit yang sedang berkeliling desa. Dia menetapkan hati untuk menginap di kedai sambil berencana untuk mengikuti para prajurit dalam penyergapan itu. Sebenarnya ada kebimbangan dalam hati Bondan. Menunggu kedatangan Ken Banawa di Wedoroanom atau menyertai penyergapan yang dilakukan Ki Lurah Guritno secara diam-diam. 

Di dalam bilik kecil yang disediakan oleh pemilik kedai itu, Bondan mengenang Mpu Gemana. Betapapun juga membunuh seorang penjahat seperti Mpu Gemana adalah yang pertama kali dilakukan Bondan Lelana. Bayang-bayang wajah Mpu Gemana masih menghantui dirinya selama beberapa malam terakhir. Sebuah pertarungan antara hidup dan mati memang akan selalu menjadikan nyawa sebagai hasil akhir dari sebuah pertarungan. Siapapun orangnya dan dengan latar belakang apa saja tentu juga akan selalu merasa gugup dalam pelaksanaan untuk pertama kali. Sekalipun begitu membunuh juga tidak dapat dijadikan suatu ritual atau kebiasaan. 

Manusia sering berhadapan dengan situasi yang pelik dan situasi itu hanya menawarkan dua pilihan baginya yaitu membunuh atau terbunuh. Mungkin membunuh seorang penjahat merupakan dharma atau kewajiban karena selain untuk menjaga perdamaian, hilangnya seorang penjahat akan menjadikan hidup masyarakat semakin tenang. Tetapi di sisi lain, kematian seseorang akan juga meninggalkan rasa malu dan duka mendalam terutama bagi yang mempunyai hubungan batin erat.

Malam itu Bondan termenung dalam bimbang tentang niat yang belum dia putuskan. Turut serta menyerang perkampungan penyamun adalah keputusan yang sangat beresiko untuk dilakukan. Ini sama dengan bunuh diri karena bisa saja justru dia ditangkap dan dihukum oleh pengawal Sumur Welut yang dipimpin Ki Lurah Guritno karena wajahnya yang masih asing bagi para prajurit dan hampir seluruh perwira di Trowulan juga belum mengenal dirinya..