Episode 15 - Rembuk Warga dan Peristiwa yang Mencerahkan

Pagi belum sempurna mekar, tapi kami—aku, Laksmi, Baskara, Adi, Mas Sukri, dan Bung Atma—dan Pak Ahmad—Kepala Proyek Pembangunan Dusun Tahan Gempa—serta beberapa perwakilan ACT sudah bersila dalam posisi melingkar di atas tikar, di dalam tenda kantor ACT.

Suasana sedikit tegang, dan kami masih menunggu perwakilan warga datang. Ada perasaan ragu sebab kami punya ketakutan perihal adil atau tidaknya keputusan kami nanti. Udara seolah memberat, dan camilan yang berada di tengah kami terasa tidak memikat. Tak satu pun kami menjamahnya. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Kuperhatikan wajah Mas Sukri dan Pak Ahmad sedikit pucat, hanya cahaya yang menembus dari celah tenda memberikan sedikit warna.

“Mas Sukri, nanti harus dipikirkan keputusan yang seadil-adilnya. Jangan sampai apa yang adil buat kita, nggak adil bagi sebagian orang,” kata Baskara, memecah kebisuan.

“Ya, Bas, makanya aku undang kalian dan perwakilan warga. Pak Sofyan dan Pak Sugio yang rencananya akan datang. Mereka berdua sosok yang dihormati, dipercaya, dan dituakan di sini. Insya Allah, kita bisa memberikan keputusan yang adil menyeluruh.”

Terdengar ucapan “amin” dari sebagian besar orang di ruangan di ujung perkataan Mas Sukri.

Tak berjeda waktu lama, masuk dua orang ke dalam tenda. Mengucapkan salam, menjabat tangan satu per satu kami dan, akhirnya, duduk di samping Mas Sukri. Satu pria—yang berkopiah hitam—terlihat cukup berumur dengan gurat waktu yang dalam di banyak bagian wajahnya. Sedangkan satu pria lagi—yang berkoko merah darah—terlihat lebih muda dengan kumis gelap-lebat dan senyum ramah.

“Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,” sapa Mas Sukri, yang dijawab oleh hampir semua orang di dalam tenda.

“Saudara-saudara sekalian, sebelumnya saya ingin memperkenalkan terlebih dahulu Pak Sugio—ditunjuknya pria berkopiah hitam—dan Pak Sofyan—ditunjuknya yang berkumis lebat. Beliau-beliau ini perwakilan warga Dusun Kedaton Kidul yang Insya Allah bisa membantu kita untuk memberikan keputusan yang adil, bagi 37 keluarga yang paling berhak menerima 37 rumah tahan gempa pembangunan tahap awal,” kata Mas Sukri, yang disambut “amin” oleh sebagian besar orang.

“Sebelumnya, saya mewakili warga Dusun Kedaton Kidul ingin mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada ACT dan teman-teman relawan, yang sudah sepenuh ketulusan dan seluas keikhlasan membantu kami. Tidak ada yang dapat kami balas, kecuali dengan doa semoga Tuhan Yang Maha Esa, membalas segala kebaikan saudara-saudara sekalian dengan kebaikan yang berlipat ganda,” kata Pak Sofyan.

“Terima kasih, Pak Sofyan, atas doanya. Pun kami, ACT dan tim relawan, mengucapkan terima kasih atas sambutan dan kehangatan dari warga Dusun Kedaton Kidul,” kata Pak Ahmad.

“Sama-sama, Pak. Terkait 37 keluarga, saya dan Pak Sugio sudah sempat membuka ruang diskusi selepas kegiatan di musala. Sampai akhirnya, kami memutuskan secara musyawarah mengenai 37 nama keluarga yang paling berhak. Nama-nama tersebut, dipilih berdasarkan beberapa hal. Seperti keluarga yang salah satu atau lebih anggotanya meninggal dunia, yang rumahnya paling hancur, atau yang paling memprihatinkan secara ekonomi sebelum gempa,” kata Pak Sofyan.

“Wah, terima kasih banyak Pak Sofyan dan Pak Sugio. Kalau memang dari warga sendiri yang sudah menentukan, kami merasa sangat lega,” kata Pak Ahmad.

“Pak, mohon maaf sebelumnya. Tanpa bermaksud berpikiran negatif, saya ingin bertanya: apakah musyawarah dihadiri oleh seluruh perwakilan keluarga? Karena ada ketakutan saya, apabila tidak dihadiri oleh keseluruhan perwakilan keluarga, nantinya akan ada pernyataan protes dan kecewa,” kata Baskara.

“Sebenarnya, kami sudah mengundang seluruh perwakilan keluarga, Pak. Dan sebagai tambahan informasi, musyawarah yang kami lakukan di musala juga dihadiri warga yang beragama bukan Islam. Namun, karena satu dan lain hal, tidak semua perwakilan dapat hadir. Tapi, jika memang ada pernyataan protes atau rasa-rasanya keputusan tidak adil bagi sebagian warga yang tidak hadir ketika proses musyawarah, kami akan melaksanakan musyawarah ulang. Dan sebelum itu, kami juga meminta bantuan kepada ACT dan teman-teman relawan, untuk sekiranya dapat membuatkan selebaran pengumuman 37 nama keluarga terpilih, sekaligus undangan bagi warga untuk berpartisipasi dalam pembangunan,” kata Pak Sofyan.

“Terima kasih sebelumnya, Pak Sofyan. Dan terima kasih juga untuk Baskara atas pertimbangannya, yang pastinya didasari pada kepeduliannya terhadap warga,” Mas Sukri menarik napas sebentar, “saya kira, sudah kewajiban ACT dan teman-teman relawan dalam memberikan bantuan pembuatan serta penyebaran selebaran kepada seluruh warga agar informasi mengenai hal yang kita bicarakan bisa diketahui oleh seluruh warga. Dan, karena warga sendiri sudah memutuskan soal tiga puluh tujuh keluarga yang akan menempati rumah tahan gempa tahap awal, maka diskusi ini sudah bisa kita akhiri agar teman-teman dapat kembali bekerja.”

Diskusi selesai dengan penyerahan 37 nama keluarga yang telah dicatat oleh Pak Sofyan. Kemudian, Mas Sukri meminta kami untuk membuat desain selebaran sederhana untuk dicetak dan nanti sore dibagikan kepada seluruh warga.

**

Membagikan selebaran di tenda pengungsi lelaki menjadi tugasku dan Laksmi, sementara di tenda pengungsi perempuan menjadi tugas Bung Atma dan Baskara. Dalam selebaran yang kami buat dan bagikan, terdapat informasi mengenai tiga puluh tujuh nama keluarga terpilih, tanggal peletakan batu pertama sekaligus peresmian pembangunan Dusun Tahan Gempa, waktu pembangunan tahap berikutnya, serta undangan bagi warga yang hendak berpartisipasi. Aku dan Laksmi berpencar agar pembagian selebaran dapat cepat terselesaikan.

Sambil membagikan selebaran dari tangan ke tangan, aku dihinggapi kecemasan. Seolah aku menangkap sorot kecewa dari mata para pengungsi. Aku menjadi tak begitu yakin soal adil atau tidaknya keputusan yang ditentukan. Meski sudah tertulis jelas di selebaran, kalau pada akhirnya, semua pengungsi akan mendapatkan hak yang sama. Tapi, aku tahu benar dalam penantian, orang begitu rawan dihinggapi kecemasan dan ketakutan atas kekecewaan.

Selesai selebaran kami—aku dan Laksmi—habis, kami langsung beranjak menemui Bung Atma dan Baskara di dekat lokasi kegiatan dongeng biasa diselenggarakan. Dari kejauhan, kulihat Baskara dengan wajah rusuh, berdiri di bawah pohon yang daunnya tak lagi sanggup memberi teduh.

“Gam, dari mata para pengungsi ketika aku membagikan selebaran, aku bisa melihat bahwa keputusan kita belum cukup adil. Masih ada kekecewaan terlihat jelas!” Baskara menyambut kedatanganku dengan ungkapan protes salah sasaran. Namun, aku berusaha tidak terpancing dengan perkataannya. Terlalu kekanak-kanakan jika aku bertengkar dengannya di tengah kondisi prihatin orang banyak.

“Terus, yang adil menurutmu seperti apa, Bas?” Bung Atma bertanya sinis.

“Ya ...,” Baskara memasukkan kedua tangannya ke saku, “ya, yang adil kalau semua menerima hak yang sama! Jangan dibeda-bedakan atau dibuat skala prioritas, Bung!” bentak Baskara.

“Terus, maksudmu gimana, Bas? Tiga puluh tujuh rumah dipaksakan untuk empat ratus sebelas orang gitu!? Atau atas dasar alasanmu, lebih baik tiga puluh tujuh rumah itu ditunda diberikan, sampai semua rumah selesai dibangun!?” bentak Laksmi. “Bas, keadilan dalam pemberian hak itu mesti dilihat secara menyeluruh, bukan secara individu!”

Aku mengusap pundak Laksmi, mencoba merendahkan nada suara dan emosinya yang meninggi.

“Bas, menurutku benar apa yang dikatakan Laksmi. Lagi pula, kita bukan menghilangkan hak yang lain. Kita cuma menunda, karena memang kondisinya nggak memungkinkan. Itu saja,” jawabku, mencoba menengahi.

“Sudah deh, Bas. Daripada kita debat nggak jelas, mending kita lihat saja nanti. Apa benar dugaanmu soal kekecewaan warga? Terus, gini. Terkait skala prioritas, apa kamu nggak mikir, di antara mereka memang siapa yang mau kehilangan anggota keluarga atau rumahnya paling hancur karena gempa? Nggak ada, Bas! Semua terjadi di luar kuasa mereka!” kata Bung Atma, membuat Baskara kehilangan kata-kata.

**

Ini pagi yang tidak begitu cerah. Langit muram, seperti hendak menjatuhkan hujan. Tapi, hampir semua orang di Dusun Kedaton Kidul membawa cuaca cerah dalam dirinya. Kami—aku, Laksmi, Bung Atma, Baskara dan Adi—berjalan beriringan bersama para pengungsi, menuju lokasi pembangunan Dusun Tahan Gempa—sekaligus lokasi peletakan batu pertama.

Melewati dapur umum, suasana semakin hiruk pikuk. Semua orang seakan ingin ambil bagian dari peristiwa bahagia hari ini. Api kokoh menopang pantat panci yang mendidihkan kopi, aroma daging semur menyebar dan membangunkan gairah bekerja, relawan serta korban saling bertukar kemesraan.

Di sampingku, para pengungsi memanggul cangkul dan peralatan kebersihan. Berjalan bangga. Hendak menjemput kehidupan baru.

Hari ini, lengan kebahagiaan terasa cukup panjang untuk dapat merangkul semua yang ada di sini; yang berduka; yang putus asa; yang kehabisan alasan mencintai kehidupan. Tapi, di antara semua, yang paling berbahagia, barangkali, adalah Baskara. Aku tahu, perkataannya yang lalu, didasari pada kepedulian dan kecintaannya terhadap sesama. Sehingga, hari ini, senyum terpasang sempurna di wajahnya.

Kami terus berjalan, sekitar 150 meter menjauhi tempat pengungsian, ke tempat di mana kehidupan pernah dibangun. Hancur. Dan sekarang hendak dibangun kembali. Sampai di lokasi reruntuhan rumah penduduk, kami segera menyebar, bergabung bersama warga yang sudah tiba jauh lebih pagi.

Aku dan Laskmi segera memburu reruntuhan masa lalu: kayu-kayu tua yang berserakan, pecahan genteng kusam kehitaman, tumpukan batu bata terbelah, atau segala benda yang sekiranya telah menjadi sampah. Laksmi cukup cekatan. Dengan segera, karung kami separuh terisi.

Sambil bekerja, aku melirik di kejauhan. Para perempuan datang dengan piring-piring berisi camilan dan teko-teko berisi es teh dan hangat kopi. Sungguh tenteram rasanya melihat segala yang tersaji di hadapanku. Di atas tanah dengan puing-puing masa lalu, mereka berdiri ditopang senyum dan harapan. Namun, ketika kutengok ke arah kiri, di seberang pandang, Bung Atma dan Baskara tengah asyik berdebat. Dari wajah Baskara yang jengkel, aku menduga sebabnya ia menganggap serius gurauan Bung Atma soal kalkulasi pahala.

Aku tertawa.