Episode 13 - Jangan Kau Persulit Hidupmu



 Suasana siang hari ketika anak-anak IPA tujuh sudah selesai dari masa tugasnya dari belajar di kelas. Mereka yang bersiap-siap untuk pulang kembali ke alam masing-masing, tiba-tiba hanya bisa bengong di depan ruang kelas sambil melihat fenomena alam yang sangat luar biasa. Langit yang tadinya cerah menjadi mendung. Suasana menjadi lebih dingin dari biasanya.

 “Apa tuh?” tunjuk Tiar.

 “Sepertinya ada yang turun dari langit,” jawab Coklat.

 “Mungkinkah itu dewa?” kata Ival.

 “Ah bukan,” jawab Coklat.

 “Lalu itu apa?” tanya Tiar.

 Coklat berjalan mendekati sesuatu yang turun dari langit itu. 

 “Hati-hati!” Tiar dan Ival memperingatkan.

 “Ya, aku akan hati-hati.” Coklat pun menyentuh sesuatu yang turun dari langit itu dengan jarinya, “basah! Lihat jari aku, padahal aku hanya menyentuhnya dan akibatnya jariku basah.”

 “Wah gawat, Coklat, jangan kau dekatin lagi itu bahaya,” kata Ival.

 “Betul itu, lihat orang-orang yang ada di lapangan berlari ketakutan!” seru Tiar dengan tampang takutnya.

 “Jangan-jangan ini adalah racun yang akan membunuh seluruh umat manusia yang ada di muka bumi,” ujar Coklat.

 “Wah ini gawat!” teriak Ival dan Tiar.

 Sementara Sweety yang ditemani Wakamiya hanya melongo melihat kelakuan mereka bertiga yang tampak oon.

 “Tuh lihat mereka, kayak enggak pernah lihat yang namanya hujan aja,” keluh Sweety.

 “Udah biarin, mungkin obatnya habis,” kata Wakamiya.

 Mereka bertiga kemudian mendekati Sweety dan Wakamiya yang sedang berteduh di depan kelas. Dengan wajah seriusnya, mereka bertiga mewanti-wanti kepada Wakamiya dan Sweety tentang fenomena alam ini.

 “Sweety, aku harap kamu tidak menyentuh benda yang seperti air itu. Kamu tahu kan akibatnya? Mereka saja yang ada di lapangan pada lari ketakutan, itu berarti yang turun dari langit itu sangat berbahaya,” kata Coklat.

 “Iya deh, apa kata lo aja.”

 Muka Sweety cemberut mendengar hal yang enggak berbobot kayak itu. Sementara Ival kini mewanti-wanti Wakamiya yang ada di samping Sweety.

 “Wakamiya, jangan kamu dekati benda aneh itu, bahaya!” seru Ival.

 “Itu kan hujan, Ival.”

 “Oh iya, itukan hujan. Aku enggak kepikiran loh sebelumnya, untung aja kamu kasih tau. Kamu tahu enggak kenapa bisa turun hujan di sini?”

 “Aku enggak tahu, memangnya kenapa?” Wakamiya sambil senyum-senyum berharap digombalin sama Ival.

 “Kamu enggak tahu? Soalnya hari ini kamu enggak mandi makanya turun hujan.”

 “Ada benarnya juga sih, mending lo tiap hari enggak usah mandi Miya, biar adem terus biar hujan terus.” Coklat langsung nyerocos gitu aja.

 Wakamiya hanya tersenyum kepada mereka berdua sambil mengambil kertas dari dalam tasnya.

 “Nih makan nih enggak mandi!” Wakaminya langsung menyumpalkan kertas ke mulut Ival.

 “Moh … moh .…”

 “Hahahaha, makanya, Val, hati-hati kalau ngomong sama dia.”

 “Kamu juga, makan nih!” Wakaminya menyumpalkan kertas juga ke mulut Coklat.

 “Moh … moh …”

 Semua siswa yang pada melihat mereka disumpel pakai kertas sama Wakamiya kompak tertawa berjamaah.

 “Wkwkwkwkwkwk.”

 ***

 Coklat ceritanya sudah sampai nih di rumahnya. Dia lagi duduk-duduk di bangku ruang tamu, mukanya manyun memikirkan bayaran. Mukanya kusut banget sebab kalau enggak bayaran dia enggak bisa bakal ikut ujian. Padahalkan ujiannya engga pergi kemana-mana. Enggak berapa lama, bapaknya datang dengan penuh tanda tanya di kepalanya.

 Alis Bapaknya Coklat naik turun naik turun, dia senyum-senyum sama Coklat. Bapaknya Coklat kemudian duduk di samping Coklat. Dia lalu memegangi pundak Coklat. Coklat terkejut, lalu Coklat menoleh ke bapaknya. Pandangan Bapak Coklat berkaca-kaca begitu pula dengan Coklat. Coklat ingin mulai bicara. Jari telunjuk Bapaknya Coklat ditaruh di depan bibir Coklat. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bapaknya Coklat kemudian mengajak Coklat berdiri dan Coklat pun mengikutinya. Bapaknya Coklat kemudian duduk kembali dan Coklat pun mengikutinya. Bapaknya Coklat lalu berbaring di atas lantai dan Coklat pun mengikutinya. Nah itu dia kisah yang enggak jelas dari ayah dan anak yang bernama Coklat.

 “Beh.”

 “Apa Coklat?”

 “Ini, sekolah nagih uang SPP Beh.”

 “Coklat, kalau bayar pakai dollar bisa kan?”

 Nah ini, ini gaya mereka yang tengil, sok-sok’an bayar SPP pakai dollar, biasanya juga pakai receh. Emang ya enggak anak, enggak bapak lagunya sebakul.

 “Bisa bisa. Emang Babeh punya dollar?”

 “Lah enggak punya, kata siapa punya?”

 “Hadeh.”

 “Tenang, besok pagi babeh yang ke sekolahan buat .…”

 “Buat bayaran, Beh?” 

 “Buat ketemu Bu Riny, babeh kangen sama dia.”

 Tiba-tiba terdengar suara geraman dari belakang mereka. Seketika Bapaknya Coklat menoleh ke belakang.

 “Astagfirullah!”

 Coba tebak, apa yang dilihat Bapaknya Coklat barusan sehinggga dia terkejut luar biasa? Hayo tebak,ditunggu satu jam nih mulai dari sekarang. Tapi jangan deh. Sosok itu berwajah seram. Di hadapan Bapaknya Coklat, dia menjetik-jetikkan jemarinya. 

 Kretek … kretek… 

 “Paaaah!” kesal Ibunya Coklat.

 “Ampun, Maaah.”

 Bletagh! Plentang! Plentung! 

 Yang jelas ketika suara itu bergemuruh ada guncangan dahsyat yang menghampiri bumi ini. Getaran guncangan itu pun sampai ke Amerika, bahkan kantor FBI yang masih dihuni oleh Jono dan Joni pun merasakan getarannya. Saat mereka berdua duduk di bangku, tiba-tiba ada gempa bumi berskala 4,4 SR. Semua barang-barang yang ada di kantor mereka pun pada terjatuh dari tempatnya.

 “What happen aya naon ini teh?” tanya Jono yang sok-sok’an Bahasa Sunda.

 “Entahlah, aing teu nyaho,” jawab Joni.

 “Bereskeun barang-barang, cepat. Kita balik ka imah!”

 “Ok siap, Dan!”

 Dan cerita pun semakin enggak jelas, kacau pula.

 ***

 Sore harinya, ketika Bu Riny sedang ada lagi di kamar seusai beres-beres rumah. Dia tergeletak tak berdaya di atas tempat tidurnya, rasa lelah menghampirinya. Kamar Bu Riny itu berwarna merah jambu, biasalah perempuan warna kamarnya itu merah jambu, enggak mungkinkan kalau warna kamarnya hitam. Di kamar Bu Riny juga terpampang beberapa boneka, salah satunya adalah boneka Barbie. Boneka Barbie itu adalah hadiah yang dia dapat dari cowoknya yang bernama Vanila ketika Bu Riny berulang tahun ke dua puluh tiga. Boneka Barbie yang terpampang di kamarnya itu ganteng sekali, bajunya rapih, memakai peci dan sarung. Lah itu boneka apa pak haji yang lagi mau berangkat ke masjid? Pembaca pun kemudian cengo, suasana menjadi hening. Boneka Barbienya itu imut, lucu kayak yang punya.

 Selain ada boneka Barbie di kamar Bu Riny, terpampang juga foto dia bersama cowoknya itu. Cowoknya itu ganteng banget, ah tapi masih kalah gantengnya sama petugas TU sekolah yang namanya Niki. Selagi melepas lelah sehabis beres-beres kamar, Bu Riny pun ingin melepas kerinduan terhadap kekasihnya itu. Dia mengambil handphone yang ada di konter handphone, eh terus ketahuan. Akibatnya dia digebukin sama orang-orang, mukanya pada penyok. Matanya yang tadi di atas eh berpindah tempat ke tempat mulut, mulutnya naik ke tempat hidung, nah si hidung kasihan dia enggak diterima di tempat yang lain, akhirnya pun si hidung merana kesepian sendiri. Kacau nih ceritanya. Enggak benar tuh cerita yang tadi. Yang benar itu Bu Riny mengambil handpone miliknya sendiri, lalu menelepon Vanila. 

 Tuuut… tuuuut… tuuuut… 

 “Hallo,” ucap Bu Riny berharap teleponnya di angkat.

 “Maaf pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, makanya kalau mau telepon cek dulu pulsanya!” kata operator.

 “Iye, bawel amat jadi operator!”

 Bu Riny pun galau, dia tidak bisa menelpon kekasihnya itu karena enggak punya pulsa. Dia korek-korek kantung celananya, eh enggak ada duit. Dia korek-korek kantung bajunya, juga enggak ada duit. Akhirnya setelah tidak mendapatkan hasil atas dua kali mengorek-ngorek, Bu Riny pun mengorek-ngorek lubang hidungnya, anehnya itu ketika dia mengorek-ngorek hidungnya, ternyata dia dapat. Dapat duit? Bukan, tapi dapat upil. Masa iya dapat duit di dalam hidung. Bu Riny pun berpikir sejenak, bagaimana caranya agar dia bisa menelepon kekasihnya itu. Ting… ting… ting… muncul sebuah ide dalam kepalanya.

 “Hmmm, gimana aku SMS dia aja ya?”

 Pasti pembaca bertanya-tanya, kan tadi enggak bisa nelepon mana bisa SMS-an? Nah ini, makanya lihat kalimat yang barusan diucapin operatornya, tadi kan dia bilang pulsanya tidak mencukupi untuk melakukan panggilan, berarti buat SMS-an mencukupi.

 “Yank, palalo peyang.” Bu Riny SMS seperti itu, ya enggaklah, “Sayang, phone aku dong. Aku kangen loh sama kamu.” SMS terkirim.

 Sementara itu di kediaman Vanila. Vanila itu cowok tampan yang mukanya itu mirip Shaheer Sheikh. Tapi enggak mirip-mirip amat sih, kalau mereka berdua itu mirip bisa gawat soalnya. Kenapa bisa gawat? Iyalah bisa gawat, soalnya sekarang Vanila lagi buang air besar di WC dan handphone-nya itu ada di tangannya. Ada orang lagi buang air masih sempat-sempat pegang handphone, bukan pegang gayung atau pegang yang lain kek. Dreeet, handphone-nya bergetar, ada SMS masuk. Dia lihat ada SMS dari Bu Riny, dan sempat-sempatnya dia membalas SMS Bu Riny.

 “Bentar, aku lagi boker.” SMS terkirim.

 Bu Riny dalam sekejap saja menerima SMS itu.

 “Haduh, iya-iya tapi jangan lama-lama ya bokernya.”

 Setelah menunggu kekasihnya itu selesai buang air, handphone yang ada di tangan Bu Riny bergetar. Dia melihat panggilan dari kekasihnya itu masuk, dan karena pintu gerbang itu sudah terkunci, maka panggilan yang tadi berniat masuk, akhirnya pulang kembali ke rumah, dia ternyata terlambat masuk. 

 “Halo, Bebeb,” sapa Vanila.

 “Halo, Bebeb juga, lagi apa?”

 “Aku lagi nelpon kamu nih, masa gitu aja kamu enggak tahu sih? Kebangetan dah.”

 “Hah, itu mah aku tahu. Maksudku kegiatan kamu sekarang apa?”

 “Oh kegiatanku sekarang. Aku sekarang lagi napas, tahu kenapa aku napas? Kalau aku enggak napas nanti aku mati lho, terus bebeb sedih.”

 Ya ampun jawaban dari cowoknya Bu Riny enggak bermutu banget. Ya iyalah anak TK juga tahu, kalau orang itu emang bernapas. Wajah Bu Riny pun manyun. 

 “Oh iya!”

 “Iya, suer, sumpah dah.”

 “Kamu udah makan, Beb?”

 “Emang kamu mau beliin aku makanan, nanyain aku makan segala?”

 “Enggak, cuma nanya aja.”

 “Dih iseng banget, nanya-nanya yang enggak penting!”

 Wajah Bu Riny kembali manyun.

 “Beeeb.” Suara manis Bu Riny.

 “Apa?”

 “Kita putus!” Bu Riny lalu membanting handphone-nya. Plentang!

 Handphone Bu Riny melayang terbanting. Raganya hancur seketika, keypad-nya dan layarnya terpisah dari badan handphone. Sementara baterainya terpental jauh entah kemana. Kini handphone Bu Riny pingsan dalam keadaan sekarat. Bu Riny menyesal telah membanting handphone-nya. Dia berlutut dan menangis-nangis penuh derai air mata.

 “Maafin aku, aku tahu aku emosi, namun tak seharusnya aku meluapkan amarahku padamu, maafin aku. Yang lebih menyakitkan dari semua ini adalah kamu masih dalam keadaan kredit alias belum kulunasi. Uh uh uh.”

 Bu Riny akhirnya membawa handphone-nya itu ke rumah sakit terdekat. Dia segera memanggil ambulan. Di dalam ambulan ini sang handphone hanya tergeletak tak sadarkan diri di depan Bu Riny, namun ketika dalam perjalanan si handphone menghembuskan napas terakhirnya, dia tewas sebelum sampai di rumah sakit.

 “Handphone-kuuu!” teriak Bu Riny sambil memeluk si handphone, “kalau saja kamu sudah lunas, aku ikhlas kamu mati tapi ini kamu belum lunas. Uh uh uh.”

 ***

 Di kediaman Vanila tepatnya di kamar, dia cuma bisa menangis setelah hubungannya kandas sama Bu Riny.

 “Uh uh uh, sedih deh diputusin begitu aja. Ini pasti gara-gara mereka berdua yang udah nularin virus orang ngeselin ke gue, tidaaaaak!”

 Setelah berteriak, cowoknya Bu Riny ini langsung meminta maaf dan berniat mengajak Bu Riny makan-makan di hari ulangtahunnya nanti. Awalnya Bu Riny sempat menolak, namun penolakan itu seakan pupus kala cowoknya Bu Riny berjanji untuk menyediakan semur jengkol yang merupakan makanan kesukaannya.

 ***

 Hari minggu sekitar jam 7 pagi, Coklat sudah ganteng pakai kemeja merah sama celana merah jambu. Kegantengan Coklat itu sudah terbukti dalam survey yang dia lakukan satu hari sebelumnya. Dari 100 orang yang dia tanyakan, 60 orang menjawab dia ganteng dan 40 orang menjawab tampan. Loh kok bisa orang-orang pada bilang dia ganteng dan tampan? Bisa lah, setelah diselidiki dia menanyakan kepada orang-orang seperti ini.

 “Menurut kalian, aku ini ganteng apa tampan sih?”

 Hari ini ya hari ini adalah hari ulangtahun Bu Riny. Enggak mau ketinggalan, Coklat juga mau memberi kado special untuk orang yang dia kagumi, yaitu Bu Riny. Tabah ya, Bu Riny.

 Jam 8 pagi, Coklat sudah melangkahkan kakinya dari rumah. Dia sengaja berjalan-jalan kaki ria menuju rumah Bu Riny, dengan tujuan bahwa sesuatu itu butuh yang namanya pengorbanan, dan pengorbanan dia itu adalah jalan kaki. Namun ada alasan utama yang membuat Coklat jalan kaki, yaitu dia enggak punya ongkos buat naik angkot dan juga enggak punya motor.

 Lalu apa yang dibawa Coklat untuk Bu Riny di hari ulangtahunnya ini? Ya tentu saja dia membawa dirinya sendiri, dia menyerahkan diri untuk Bu Riny.

 Dalam perjalannya menuju rumah Bu Riny, tanpa diduga dia dihadang oleh kawanan UFO yang sedang menginvasi bumi. Coklat melihat dengan mata kepalanya sendiri, para warga lari berhamburan untuk menyelamatkan diri. Teriakan-teriakan minta tolong terdengar di telinga Coklat, selain itu pula gedung-gedung tinggi hancur ditembaki oleh UFO tersebut. Lalu apa yang dilakukan Coklat? Ya dia terus berjalan tanpa ragu ke rumah Bu Riny seraya tak terjadi apa-apa. Coklat tak menduga, tiba-tiba di hadapannya muncul satu sosok alien besar dan tinggi. 

 “Hey manusia, kenapa kamu tidak lari?”

 “Capek kalau lari, lagian kenapa sih buru-buru ke rumah Bu Riny? Buru-buru itu perbuatan setan, dan pasti hasil yang dilakukan jika terburu-buru itu tidak baik.”

 “Masa sih?”

 “Iya.”

 Seketika mendengar ceramah singkat dari Coklat, alien itu pun tobat dan jadi mualaf. 

 Walau berhasil membuat salah satu alien jadi mualaf, invasi UFO belum berakhir, karena masih banyak UFO-UFO yang beterbangan di atas langit. Satu persatu UFO-UFO tersebut menembaki Coklat yang tengah asik melihat UFO yang dikiranya itu adalah sebuah layangan.

 “Ih keren layangannya bisa nembak, udah gitu mirip UFO lagi, pasti mahal tuh layangannya. Kira-kira itu layangannya dijual enggak ya?” tanya Coklat.

 Akibat banyaknya tembakan yang dibuat oleh UFO-UFO tersebut membuat banyaknya debu beterbangan di udara. Salah satu dari debu tersebut masuk ke dalam lubang hidung Coklat.

 “Aku dimana? Wah gelap sekali di sini,” kata debu yang kesasar di hidung Coklat.

 Coklat tak bisa menahan gatalnya debu yang masuk ke dalam lubang hidungnya, alhasil dia menggaruk-garukkan hidungnya dengan jari-jemarinya. Seketika Coklat pun langsung bersin.

 “Hatciiiiiih!”

 Tanpa diduga, angin yang dibuat dari hasil bersinnya mampu menyapu UFO-UFO yang beterbangan di atas langit. Ya, UFO-UFO tersebut mental hingga menuju luar angkasa, dan terdampar di luar galaxy planet bumi.

 Setelah berhasil mengusir UFO-UFO tersebut, Coklat melanjutkan perjalannya menuju rumah Bu Riny. Singkat cerita, Coklat sudah sampai di depan halaman rumah Bu Riny. Namun apa yang terjadi saudara-saudara? Yang terjadi adalah Coklat bersedih, wajahnya yang ceria ketika ingin ke rumah Bu Riny harus dibalas dengan kesedihan. Apa yang membuat Coklat bersedih? Yang membuat Coklat bersedih adalah dia melihat Bu Riny dikawal oleh dua lelaki menaiki helicopter. Perlu anda ketahui, dua lelaki itu adalah orang suruhan cowoknya Bu Riny, cowoknya Bu Riny hari ini berniat untuk mengajak Bu Riny makan-makan bersama. Melihat hal itu Coklat memutuskan untuk kembali pulang dengan tangan hampa.

 ***

 Bu Riny sekarang ada di dalam heli bersama dua orang pengawal menuju istana cowoknya. Dengan ketinggian 800 meter dari tanah, tiba-tiba dalam perjalanan itu helinya berhenti di tengah udara.

 “Pir, kok berhenti kenapa?” tanya Bu Riny sama sopir heli.

 “Oh maaf, Nyonya, ini helinya keabisan bensin.”

 “Terus, nasib kita gimana?”

 “Sebenarnya ada dua pilihan loh. Pilihan pertama yaitu tetap berada di dalam heli nungguin helinya jatuh.”

 “Oh gitu ya, berarti kita akan mati dong?”

 “Tepat sekali, Nyonya.”

 “Lalu pilihan kedua apa?”

 “Pilihan kedua, kita lompat dari heli.”

 “Oh, kita akan selamat?”

 “Mati juga, ya paling banter tulang pada patah.”

 Bu Riny bingung, dia harus memilih diantara kedua pilihan tersebut yang dimana kedua pilihan itu sama-sama ujungnya mati. Setelah dipikir-pikir, Bu Riny akhirnya memilih lompat dari heli.

 Tuiiiiing.

 Bu Riny lompat lalu diikuti jatuhnya heli yang sempat berhenti sejenak dulu di udara. 

 Sementara itu di tempat lain. Tetot tetot tetot bunyi alarm dari insting Coklat yang mengatakan bahwa Bu Riny sedang dalam bahaya. 

 Wah gawat Bu Riny dalam bahaya! ujar dalam hati Coklat.

 Coklat pun bergegas mencari telepon umum buat berubah jadi Super Coklat. Setelah dicari-cari keliling kota, akhirnya Coklat tidak menemukan yang namanya telepon umum.

 “Gawat! Gue enggak nemuin telepon umum, gimana ini mau berubah susah amat? Oh iya, gue cari wartel aja dah.”

 Coklat tak menyerah, dia segera mencari wartel buat berubah.

 ***

 Kembali ke Bu Riny, dengan ketinggian 800 meter Bu Riny terpaksa melompat. Dia sudah pasrah dengan keadaannya sekarang ini. Yang dia kira hari ini adalah hari romantis bersama kekasihnya ternyata adalah hari berujung maut. Tak mau melihat keadaan ketika jatuh dari atas, Bu Riny memejamkan matanya.

 Set! Secepat kilat, ada seseorang yang menyelamatkan Bu Riny. Orang tersebut terbang menggendong Bu Riny. Orang misterius itu membawa Bu Riny ke sebuah pohon, tepatnya pohon rambutan. Di batang yang menjadi tempat pijakan, keduanya pun berdiri.

 “Kamu tidak apa-apakan?” tanya orang itu.

 “Iya, aku tidak apa-apa. Terima kasih ya, sudah menyelamatkan aku.”

 “Sama-sama. Ya sudah, aku pergi dulu, masih banyak misi yang harus kukerjakan.” Seketika orang itu pun lompat kembali meninggalkan Bu Riny.

 “Oh, siapa nama kamuuuu?!”

 “Uchiha Susukue.”

 Pipi Bu Riny pun merah merona, dia kesemsem melihat ketampanan Uchiha Susukue yang menolongnya barusan, namun …

 “Tolooong, aku engga bisa turuuuun!”

 Sementara itu di istana cowoknya Bu Riny. Hidangan semua jengkol mewah sudah tersedia untuk menjamu Bu Riny, cowoknya Bu Riny kini duduk manis di atas kursi dengan menghadap kursi kosong yang nanti sedianya untuk ditempati Bu Riny.

 “Aku udah enggak sabar loh pengen makan bareng sama kamu, aku harap kamu cepat datang.”

 Sementara Coklat masih sibuk mencari wartel.

 “Aduuuh, mana sih wartel? Susah banget dicarinya, emang yah jaman sekarang orang udah punya smartphone, wartel jadi langka bahkan menghilang dari muka bumi.”

 3 jam kemudian …

 Di istana cowoknya Bu Riny. Cowoknya Bu Riny masih menunggu kedatangan Bu Riny.

 “Aduh, lama amat sih cewek gue datang. Set dah udah 3 jam enggak nongol-nongol.”

 Seketika cowoknya Bu Riny melihat handphone yang tergeletak di atas meja.

 “Kan ada handphone ya? Kenapa gue enggak telepon dia aja ya?”

 Dari apa yang dialami sama cowoknya Bu Riny, kita dapat mengambil sebuah pelajaran. Jika kita punya handphone, maka sebaiknya handphone-nya digunakan jangan diletakkan begitu saja. 

 Sementara Coklat masih sibuk mencari-cari wartel. Tiba-tiba …

 “Oh iya, kenapa gue enggak berubah langsung aja ya, kenapa mesti harus nyari wartel segala sih? Oh nooooooooo!”

 Setelah memikirkan bagaimana caranya untuk turun dari pohon rambutan, akhirnya Bu Riny menyerah, dia pasrah jika hidupnya harus dihabiskan di atas pohon rambutan.

 “Huh, ini udah takdir aku mungkin tinggal di pohon rambutan,” keluh Bu Riny.

 Seketika Bu Riny melihat ke bawah pohon rambutan. Dilihatnya jarak antara tanah dan batang pohon yang dia injak ternyata tak sampai dari 1 meter.

 “Eh, ini kan rendah banget ya? Kenapa aku enggak turun dari dulu aja, tinggal lompat doang udah sampai ke tanah, ya ampun jadi selama 3 jam cuma mikirin gimana caranya turun tuh sia-sia dong? Tidaaaaaak!” teriak Bu Riny.

 Dari apa yang dialami oleh Coklat dan Bu Riny, kita dapat mengambil sebuah pelajaran, yaitu hidup itu jangan dipersulit.