Episode 123 - Pembahasan



Ada beberapa hal yang telah kita usahakan, tapi tidak pernah terwujud. 

Bukan karena usaha kita yang kurang, tapi karena itu memang sudah ditakdirkan.

°°°

Kembali ke gedung MA.

Riuh sorak-sorai penonton memanaskan suasana di sana, beberapa spanduk dengan gambar wajah para peserta menghiasi di beberapa sisi, dan dua komentator masih melakukan tugasnya untuk memandu pertandingan, yaitu Pan Tong dan Irwan.

"Sungguh penampilan yang indah." Puji Irwan dengan jujur, wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

"Setuju, sangat indah dan tanpa gerakan yang sia-sia, jika itu adalah pertarungan yang sebenarnya pasti musuh akan kalah dalam beberapa gerakan saja. Sungguh hebat bisa memadukan gerakan yang indah sekaligus mematikan." Balas Pan Tong sambil mengangguk menyetujui pujian Irwan.

"Seperti yang diduga, itulah kenapa tidak ada penggunaan senjata dalam kompetisi, kan? Terlalu berbahaya untuk para peserta." Ucap Irwan setelah mengambil salah satu poin dari ucapan Pan Tong yang membuatnya sedikit tertarik.

"Tentu saja, lagipula bela diri bukan hanya untuk membela diri, tapi juga alat untuk melukai musuh. Dulu pernah diusulkan untuk diadakan turnamen yang dikhususkan untuk pengguna senjata, tapi langsung ditentang banyak pihak, salah satunya adalah aku." Jawab Pan Tong sambil mengingat masa lalu.

Saat itu, perguruan bela diri pedang suci dengan keras menekankan bahwa harus ada turnamen khusus untuk mereka yang mengkhususkan dalam penggunaan senjata, tapi itu ditentang oleh asosiasi karena alasan keamanan. Setelah banyak saling serang, akhirnya diputuskan bahwa tidak diperbolehkan turnamen khusus senjata karena alasan keselamatan, tapi untuk menghormati perguruan bela diri pedang suci maka asosiasi memutuskan bahwa di setiap turnamen, penyelenggara harus memanggil perguruan bela diri pedang suci untuk mempertunjukkan kemampuannya. 

Meskipun ada beberapa pihak yang sedikit tidak senang dengan keputusan tersebut, tapi asosiasi dengan tegas tidak akan mengubah keputusan tersebut.

Karena itu, meskipun perguruan bela diri pedang suci tidak berpartisipasi di dalam turnamen, tapi mereka selalu ada dalam turnamen 

"Haha, lagipula tidak akan lulus sensor jika terlalu banyak adegan berdarah dalam kompetisi. Baiklah, kita hentikan basa-basinya dan langsung saja membahas tentang pertandingan berikutnya." Setelah merasa bahwa pembahasan mengarah ke arah yang sensitif, Irwan segera merubah arah pembicaraan pada pertandingan berikutnya.

"Ini adalah pertarungan yang cukup menarik, karena salah satu pesertanya adalah Gerral, orang yang telah mengalahkan semua musuhnya hanya dengan satu pukulan, seperti Lin Fan."

Persis seperti yang Pan Tong katakan, Gerral juga mengalahkan semua musuhnya hanya dengan satu pukulan sama seperti Lin Fan, kejadian yang sangat langka ini terjadi terus-menerus dan membuat turnamen ini menjadi sedikit lebih menarik bagi para penggemar untuk menunggu momen dimana ada yang bisa mematahkan tren positif mereka berdua.

"Ya, aku juga bertanya-tanya, kenapa bisa seperti itu?" Irwan menanyakan pertanyaan yang paling banyak ditanyakan oleh para penonton. 

Situasi di mana musuh bahkan tidak mampu menahan satu pukulan itu terlalu tidak masuk akal.

"Ketika perbedaan kekuatan antara peserta terlalu jauh maka wajar adegan seperti itu muncul, seperti seekor buaya yang dapat dengan mudah menghancurkan ayam." Balas Pan Tong sederhana.

Sebenarnya Pan Tong juga belum pernah melihat situasi seperti ini, selemah apapun musuhnya tidak mungkin akan kalah hanya dengan satu pukulan, selain itu tidak ada peserta lemah yang mampu bertahan hingga tahap ini, sebagian besar sudah disingkirkan bahkan sebelum menginjakkan kaki ke gedung MA. Usia mereka juga tidak jauh berbeda, jadi tidak mungkin perbedaan kekuatan di antara para peserta sejauh ini. 

Kecuali, jika dua orang itu bukan manusia, pikir Pan Tong diam-diam. 

Tebakan asal-asalan Pan Tong cukup tepat sasaran, mungkin tidak benar jika dikatakan bahwa Lin Fan dan Gerral bukan manusia, tapi mereka mendapatkan kekuatan yang bukan manusia. 

Untuk Lin Fan, dia memperoleh kepingan pedang gram yang membuat dia menjadi sangat kuat, sedangkan untuk Gerral, dia mendapatkan 'suntikan' energi iblis dari kakaknya yang telah diambil alih oleh goh.

"Jadi seperti itu, lalu apakah Angel, lawannya di babak ini juga akan berbagi nasib dengan kontestan lain yang telah Gerral kalahkan?" tanya Irwan penasaran.

"Aku tidak terlalu yakin, lebih baik kita saksikan saja bagaimana pertarungan antara mereka yang akan segera dimulai."

Tentu saja Pan Tong tidak akan mengatakan yang sebenarnya, meskipun di dalam hatinya sudah ada jawaban pasti, sebagai komentar dengan pengalaman yang kaya, dia tidak akan membuang pot air untuk memadamkan panas pertandingan, jadi dia hanya mengatakan jawaban yang samar seperti itu.

Irwan juga mengerti hal ini dan kemudian menanggapi, "Baiklah, jawaban dari pertanyaan itu akan segera kita dapatkan beberapa saat lagi."

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, dua peserta dengan wajah percaya diri berjalan perlahan menuju arena di tengah. Sorak-sorai dan tepuk tangan penonton mengiringi setiap langkah mereka berdua. 

Angel dengan sosoknya yang panas menatap musuhnya dengan dalam, sebenarnya dibalik wajah percaya dirinya, Angel memiliki sedikit ketakutan pada Gerral. Bagaimana tidak, setiap musuh yang dia hadapi akan kalah hanya dengan satu tinju, itu tidak manusiawi, sangat tidak masuk akal.

Sebaliknya, kepercayaan diri di wajah Gerral murni karena kepercayaannya tentang kemenangan yang pasti ada di depan wajahnya. Dia percaya bahwa dengan tinju tirani, tidak ada musuh yang bisa bertahan, apalagi lawannya kali ini adalah perempuan.

Karena itu, tidak ada keraguan tentang siapa yang akan memenangkan babak ini dan melaju ke semifinal.

Pertarungan dimulai, Angel berlari kencang untuk membuat serangan pertama, tidak membiarkan Gerral untuk menyerang terlebih dahulu. Tapi sayangnya rencana itu langsung gagal, tinju Gerral tiba di depan wajahnya dan kemudian menghantam Angel dengan keras hingga membuat dia terlempar keluar dari arena dan kehilangan kesadaran.

Sorak-sorai penonton bergemuruh setelah melihat Gerral masih terus melanjutkan dominasinya, tapi kali ini ada sebagian besar penonton yang mencaci Gerral karena tidak ragu-ragu sedikit pun untuk memukul wajah dari Angel. 

Namun, semua itu tidak ada hubungannya dengan Gerral, dengan langkah yang tegas dia langsung meninggalkan arena setelah diumumkan sebagai pemenang babak ini dan berhasil lolos ke babak selanjutnya.

"Sungguh luar biasa, Gerral masih terus mengalahkan musuhnya dengan satu pukulan seperti sebelumnya." Puji Irwan.

"Ya, tapi aku sedikit khawatir dengan kondisi lawannya, apakah dia akan baik-baik saja." Ucap Pan Tong khawatir.

"Oh, aku sudah mendapatkan informasi, sepertinya dia baik-baik saja, tidak ada cidera yang serius dan hanya memar saja." Balas Irwan atas kekhawatiran Pan Tong.

"Oh, baguslah kalau begitu." 

"Baiklah, bagaimana tanggapanmu tentang pertarungan sebelumnya, Pelatih Pan?"

"Ini sangat luar biasa, kita telah melihatnya sebelumnya bahwa Angel dengan keras kepala bisa mengalahkan musuh-musuhnya dan akhirnya melaju sampai babak ini, tapi sayangnya dia harus bertemu dengan Gerral yang terlalu kuat untuk anak seusianya."

Ya, anggapan Pan Tong tentang Gerral adalah terlalu kuat untuk anak seusianya hingga mungkin tidak akan ada yang bisa menghentikannya selain Lin Fan yang juga terlalu kuat.

Menurutnya, dua peserta untuk babak final sudah pasti adalah mereka berdua.

"Angel telah bermain pintar untuk mengambil inisiatif serangan untuk mencegah Gerral menyerang terlebih dahulu, tapi sayangnya Gerral tidak bisa diukur dengan akal sehat biasa, dia dengan luar biasa bisa mengerahkan kemampuan dalam serangan cepat Angel."

"Sungguh penilaian yang tinggi. Lalu bagaimana menurut Pelatih Pan jika musuhnya kali ini adalah Lin Fan, bukan Angel?" tanya Irwan.

"Hoho, pertanyaan yang menarik, jika mereka berdua berada di arena yang sama maka pertarungan yang terjadi pasti akan sangat menakjubkan. Mereka berdua sama-sama kuat hingga tidak ada yang bisa menyamai, tapi mungkin jika dua orang kuat bertemu, maka akan seimbang dan menjadi menarik, tapi untuk siapa yang menang, kita tunggu saja ketika saat itu tiba." Ucap Pan Tong dengan senyum simpul.

"Benar, pasti itu akan menarik. Lalu kita beranjak ke pertarungan berikutnya dan sekaligus pertarungan terakhir hari ini, yaitu sang selebritis Dafi melawan satu-satunya peserta wanita yang tersisa, Dina." Ucap Irwan dengan semangat.

"Ya, ini pertarungan yang cukup menarik." Ucap Pan Tong seraya menganggukan kepalanya.

"Saya setuju, tidak ada yang menduga seorang selebritis bisa sampai ke tahap ini. Mungkin karena dukungan semua penggemarnya hingga akhirnya Dafi bisa lolos, kan?" 

"Tentu saja, sorakan para penggemar akan membuat peserta menjadi lebih bersemangat, semangat itu bisa menjadikan peserta lebih kuat." Ucap Pan Tong sembari tersenyum penuh arti.

"Jadi begitu, nah, untuk kalian yang belum sempat hadir, segera datang dan dukung peserta favorit kalian agar bisa memenangkan turnamen ini." 

Tentu saja, ini adalah propaganda agar lebih banyak penonton yang datang secara langsung ke gedung MA. Meskipun memang benar sudah banyak pemasukan dari sponsor dan lainnya, seorang kapitalis sejati tidak akan menyerah untuk meraup untung lebih banyak dari pendapatan tiket dan aksesoris.

Lagipula turnamen bela diri ini bukan hanya ajang untuk mencari yang terkuat, tapi juga hiburan yang menguntungkan.

"Kemudian untuk lawannya adalah peserta wanita terakhir, Dina, meskipun dia sempat tidak hadir ketika pertandingan melawan Gerral, tapi dia mampu menyapu bersih semua poin melawan peserta lainnya. Bagaimana tanggapan Pelatih Pan tentang ketidakhadiran Dina saat melawan Gerral, apakah mungkin dia takut?" tanya Irwan sedikit provokatif.

Meskipun pertanyaan seperti ini bisa menjadi kontroversi dan kemungkinan bisa membuatnya dibenci oleh orang banyak, tapi bagaimana pun ini adalah pekerjaannya, agar penonton lebih banyak membicarakan tentang turnamen dan membuat api semakin panas.

"Aku tidak terlalu tahu, tapi kemungkinan dia sudah menyadari kekuatan Gerral dan akhirnya memilih untuk tidak hadir agar tidak mengalami cidera untuk lawan dibabak selanjutnya." Ucap Pan Tong.

"Haha, tapi dia benar-benar sial, jika dia berhasil mengalahkan Dafi, maka Dina mau tidak mau harus melawan Gerral agar bisa lolos ke babak final." Balas Irwan dengan senyum lebar.

"Kita lihat saja nanti, itu pun jika Dina mampu mengalahkan Dafi di babak ini." Ucap Pan Tong lagi.