Episode 440 - Tamat…



Di tempat sama, beberapa saat lalu, dari sudut pandang berbeda. 

Maha Maha Tabib Ginseng Perkasa di dalam tubuh Pangeran Wyudharu belum hendak menyerah. Walau mengetahui bahwa Si Kumal sudah sekarat, ia tetap bergegas membawa tubuh yang sudah kehilangan kesadaran menuju kereta perang milik Jayadratha Raja Sindhu dan Karna Raja Angga. Kereta perang kosong itu terparkir cukup jauh. Dengan menumpangi kereta perang tersebut, Pangeran Wyudharu berniat membawa pergi tubuh Si Kumal ke tempat aman untuk melakukan perawatan. 

“Kau hendak ke mana…?” cegat Putra Mahkota Duryudhana yang tetiba muncul di antara Pangeran Wyudharu dengan kereta. “Aku membutuhkanmu… Biarkan saja tokoh bukan siapa-siapa itu mati. Toh, sesungguhnya dia baik-baik saja. Jiwanya akan kembali ke tubuh asli di geladak Lancang Kuning.”

“Hrraaagghhh….”

Tetiba suara mengerang terdengar menyanyat jiwa. Datangnya dari sang rembulan palsu, yang mana keseluruhan permukaannya sudah berubah semerah darah. Permukaan rembulan merah terlihat berlubang kecil tepat di bagian tengah!

Pangeran Wyudharu mendongak, dan segera menyadari apa sesungguhnya yang berada nun jauh di atas sana, serta memaksa menerobos gerbang dimensi antar dunia. Keadaan darurat berubah genting. Bila tak segera menyingkir, maka Si Kumal akan masuk ke dalam pusaran pertempuran. Jangankan sebilah anak panah nyasar, goncangan sedikit saja dapat merenggut jiwanya. 

“Ghatotkatcha, Ulupi, Sangkuni, Wyudharu… berpencar sejauh mungkin!” teriak Putra Mahkota Duryudhana sembari melesat. Kedua tangannya terlihat lincah merapal formasi segel. 

Satu per satu bangsawan Wangsa Syailendra Trah Balaputera mengenali setiap simbol dan susunan formasi segel yang sedang dirapal, terkecuali Pangeran Wyudharu. Walaupun tak mengenali, sesungguhnya dia dapat melihat keberadaan formasi segel dengan sangat jelas. Sebagaimana diketahui, formasi segel dapat dirapal oleh sesiapa saja, meski keampuhannya terbatas. Dengan kata lain, walaupun konsep formasi segel belum dikenal di dalam dunia ilusi ini, sepanjang memiliki pengetahuan yang memadai maka merapal formasi segel bukanlah sesuatu yang tak mungkin. 

Kendatipun demikian, Pangeran Wyudharu juga mengetahui bahwa hanya mereka keturunan Wangsa Syailendra Trah Balaputera yang dapat mengerahkan formasi segel sampai ke tahap lanjut. Nah, yang pelik adalah secara nyata mereka dapat merapal formasi segel tingkat tinggi seperti Segel Cahaya Gemilang kendati tak berada di tubuh asli mereka! Bagaimana mungkin!? 

Terlepas dari pertanyaan yang menggelitik di dalam benak, Pangeran Wyudharu tiada mengindahkan panggilan. Baginya ada urusan lain yang lebih penting, yaitu berusaha menyelamatkan Si Kumal. 

Perlahan, lubang pada permukaan rembulan merah membuka semakin lebar, sementara empat pilar cahaya yang berwarna putih membumbung tinggi ke angkasa. Suasana malam berubah benderang, ibarat siang hari tatkala sang mentari bersinar terik. 

Pangeran Wyudharu melesat sembari menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia menyaksikan betapa di dalam setiap pilar cahaya, keempat tokoh melayang ringan dan terus menjaga kelangsungan formasi segel. Di antara pilar-pilar tersebut, kemudian terbentuk pula dinding cahaya yang membatasi wilayah. Menyadari apa yang akan berlangsung berikutnya, ia menambah kecepatan… namun terlambat!

Langkah Pangeran Wyudharu terhenti. Dirinya yang sedang membawa Si Kumal dihadang dan tak dapat keluar dari formasi Segel Cahaya Gemilang. Walhasil, dia bertumpu pada satu lutut dan meletakkan tubuh Si Kumal. Perhatiannya kini terpusat untuk memberikan perawatan. Meski belum tahu persis apa alasan Tuan Kekar melindungi Si Kumal yang sekarat, namun ia tak hendak menyia-menyiakan pengorbanan tokoh tersebut.

“Srak!”

Sebuah lubang besar menganga pada permukaan sang rembulan merah. Hawa membunuh terasa demikian kental dan hampir semua yang hadir mendongak ke atas demi menantikan keluarnya makhluk yang sangat mengerikan. Sebaliknya, Pangeran Wyudharu tercenung. Ia sedang menyaksikan sosok yang dinanti-nanti sudah berada di bawah! Ketika Karna Raja Angga memberikan peringatan kepada yang lain, Pangeran Wyudharu sigap menjaga jarak!

Iblis Leraje membidik lurus tinggi ke angkasa. Sebilah anak panah melecut, dan di atas sana terlihat membelah diri menjadi sebelas bagian, lantas berubah menjadi halilintar merah yang menyambar ke bawah. Sebelas adalah jumlah tokoh yang masih bernyawa di dalam wilayah formasi Segel Cahaya Gemilang!

Ibarat memiliki kesadaran, dua dari sebelas halilintar merah mengincar ke satu arah. Pangeran Wyudharu yang sedang merawat tubuh Si Kumal sontak siaga. Tepat pada detik-detik akhir sebelum halilintar merah menghantam, ia mengelak cepat! 

Akibat dari hantaman dua halilintar merah pada satu titik, sebuah kawah tercipta pada permukaan tanah. Kedalamannya lebih dibandingkan kawah-kawah lain. Pangeran Wyudharu lantas melompat masuk ke dalam kawah tersebut dan mulai menggali tanah gembur dengan tangan kosong. Sungguh piawai tekniknya dalam membuat lubang. Jikalau melarikan diri sudah tiada memungkinkan, maka bersembunyi adalah pilihan berikutnya!

Selanjutnya, Pangeran Wyudharu tiada ambil pusing perihal pertarungan yang berlangsung di luar sana. Di dalam lubang sempit dan gelap di bawah tanah ia memusatkan perhatian untuk memberikan perawatan. Meski tak memiliki keterampilan khusus sebagaimana biasa, tokoh ini tetap memiliki pengetahuan memadai dalam melakukan pemeriksaan. 

Waktu berjalan. Ledakan demi ledakan menggema sampai menggetarkan tanah. Berlindung di dalam lubang tampaknya merupakan pilihan tepat. Pangeran Wyudharu telah menemukan cara penanganan sementara serta mengira-ngira jawaban yang menggelitik di dalam benak. Ia kumpulkan tenaga dalam murni di kedua telapak tangan dan mulai mengalirkan kepada tubuh Si Kumal yang sekarat. 

Agaknya, tindakan ini adalah kali pertama di mana tenaga dalam murni diperuntukkan untuk menyembuhkan ketimbang membinasakan.

“Uhuk!” Tak lama kemudian, si kumal membatukkan darah. Namun lebih dari itu, dia siuman. 

“Dengarkan, waktu kita tak banyak,” bisik Pangeran Wyudharu. Ia menyadari bahwa pertolongan yang diberikan hanya bersidat sementara. Keadaan tubuh Si Kumal sudah terlampau kritis. 

“Urrgghhh…” Jawaban yang terdengar dari Si Kumal hanya rintihan. Tiada terbayangkan rasa sakit yang dia alami atas cedera yang mendera tubuh.

“Kalian Wangsa Syailendra adalah keturunan langsung dari Anak Benua. Walaupun tak berada di dalam tubuh asli, kalian dapat mengerahkan formasi segel dengan leluasa.” Demikian adalah kesimpulan yang Pangeran Wyudharu dapatkan dari hasil pengamatannya baru-baru ini. 

“Urrgghhh…” Meski hanya merintih, sinar mata Si Kumal mengisyaratkan bahwa dia mengerti. 

Pangeran Wyudharu meraih dan mengangkat tangan kanan Si Kumal. Ia berujar pelan, “Raga ini merupakan wadah yang ditempati oleh jiwa.” 

Ginseng Perkasa sudah memahami maksud dan tujuan Komodo Nagaradja menyelamatkan muridnya. Tampaknya Tuan Kekar telah terlebih dahulu mengetahui hal penting yang baru Pangeran Wyudharu sadari. Malu rasanya, namun belum terlambat. Bila ditelusuri kembali, maka hal pertama yang dilakukan saat tiba di dalam dunia ilusi ini adalah memilih wadah. Bintang Tenggara kurang beruntung sehingga jiwanya menumpang di dalam raga lemah milik Si Kumal. 

Pangeran Wyudharu lantas mengarahkan dan menempelkan telapak tangan Si Kumal ke dadanya nan bidang berotot. “Tindakan Balaputera Dewa menyegel kemampuanmu tak berlaku, karena dikau tak berada di tubuh asli.”

Sorot mata Si Kumal yang sekarat, sejenak berpendar. 

“Lakukan!” 

Formasi segel seketika berpendar dari telapak tangan Si Kumal. Meski suasana gelap, samar-samar terlihat jiwa seorang pemuda dan seorang lelaki setengah baya mengambang keluar dari raga. Kedua jiwa tersebut kemudian bertukar wadah. Formasi Segel Memutarbalikkan Fakta!


“Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara!” 

Sebuah formasi segel berbentuk limas dengan dasar persegi membangun wujud. Merangkai dengan sangat cepat. Dimulai dari bagian paling dasar, yang mana terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar, lalu membangun naik ke tiga pelataran melingkar. Pada permukaan dinding-dindingnya, dihiasi pula dengan panel-panel ukiran dan arca yang teramat rinci. Terakhir, adalah sebuah stupa utama sebagai yang terbesar dan teletak di tengah, sekaligus memahkotai struktur bangunan tersebut. 

Jika diperhatikan dengan lebih seksama, maka akan terlihat arca-arca tokoh mulia yang sedang duduk bersila di dalam posisi teratai sempurna. Arca-arca tersebut sedang menerapkan mudra (sikap tangan) yang dikenal sebagai dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara kali ini berukuran setengah dari ukuran bangunan aslinya. Dengan kata lain, lebih besar dua kali lipat dari saat pertama dirapal.

“DUAR!” 

Panah melesat dan halilintar merah menyambar permukaan formasi segel yang baru saja rampung. Serta-merta serangan tersebut berbalik arah dan mendarat telak di tubuh empunya. Iblis Leraje tak menyangka Bahwa serangannya dipantulkan, sehingga terlambat menghindar. Dia merasakan sengatan yang biasa dikerahkan terhadap pihak lain!

Karna Raja Angga menoleh kepada lelaki dewasa muda berwajah tampan, berbadan tegap, dan berkumis tipis di atas bibir. “Aku tak perlu bantuan!” sergahnya. Pada kenyataannya, walau tak bisa dibunuh tokoh ini sudah tak lagi memiliki tenaga untuk bertarung. 

Di lain pihak, Bintang Tenggara di dalam tubuh Pangeran Wyudharu tiada menghiraukan. Ia sedang membiasakan diri dengan tubuh baru tersebut. Setiap gerakan yang ia lakukan terasa jauh lebih ringan, pun kekuatan bertambah berkali-kali lipat. Kendatipun demikian, di dalam batin dia sedang meringis. Mengapa baru sekarang!? Mengapa sengaja membuat dirinya menderita!? Mengapa mengulur-ulur waktu jika sudah mengetahui bahwa bertukar jiwa dan raga adalah tindakan yang memungkinkan!? 

Di dalam benak Bintang Tenggara membayangkan wajah buruk Komodo Nagaradja di geladak Lancang Kuning. Tokoh tersebut digambarkan sedang bersandar di anjungan, menatap lautan lepas, dan tertawa puas atas keberhasilan mengerjai muridnya sendiri. Super Guru yang tak tahu diuntung! 

Pangeran Wyudharu versi Bintang Tenggara kemudian memantau sekeliling. Ia merasakan bahwa tubuh-tubuh yang bergeletakan di semerata tempat masih bernyawa. Ia melompat ringan, lantas tubuhnya menjadi kabur dan seketika menghilang. Sejumlah teleportasi jarak dekat kemudian berlangsung semudah membalikkan telapak tangan! 

Sebagaimana diketahui, formasi Segel Cahaya Gemilang dan formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara memiliki sifat yang berbeda. Yang satu perlu dijaga terus keberlangsungannya, sedangkan yang satunya lagi akan bertahan selama jangka waktu tertentu setelah dirapal. Keduanya pun memiliki kegunaan yang berbeda.

Iblis Leraje menyaksikan betapa tokoh di hadapannya melenggang keluar-masuk formasi segel pertahanan. Dia melepaskan beberapa tembakan, namun sepenuhnya diabaikan. Pangeran Wyudharu versi Bintang Tenggara seolah tak menganggap kehadiran sang iblis. Jangankan memberikan perhatian kepada tokoh mengerikan itu, sekedar melirik pun dia enggan.

“Jangan belagu, woi!” teriak Sangkuni Raja Gandhara dari dalam salah satu pilar cahaya. Raut wajahnya terlihat kesal bukan kepalang. Wibawa sebagai tokoh termahsyur luntur seketika. 

Dalam waktu singkat, Pangeran Wyudharu versi Bintang Tenggara sudah mengungsikan tubuh Putri Duhsala, Putri Rukmini, Putri Shikhandi, Putri Vrushali, Jayadratha Raja Sindhu serta Pangeran Vrihatkshatra ke dalam formasi segel pertahanan. Tidak hanya itu, dia juga menyempatkan diri memeriksa tubuh Putri Satyabhama dan Abhimanyu Putra Arjuna. Malangnya, sebagaimana Tuan Kekar dan Si Kumal, mereka sudah tak lagi bernyawa.

“Senjata-senjata itu adalah Gada Kaumodaki, Roda Narayana, Pedang Nandaka serta Busur Sharanga. Kesemuanya adalah pusaka milik Basudewa Krishna,” sela Putra Mahkota Duryudhana. “Gunakan untuk menghadapi iblis itu!”

Pangeran Wyudharu menatap kepada Putra Mahkota Duryudhana, sembari menyunggingkan senyum. Raut wajahnya acuh tak acuh. Gelagatnya mirip seperti seorang pahlawan super yang datang belakangan namun sakti mandraguna dalam menumpas kebatilan. 

“Ini serius!” Putra Mahkota Duryudhana pun berang dibuatnya.

Sesungguhnya bukanlah niat hati Bintang Tenggara menyepelekan. Akan tetapi, berhasil berpindah dari raga tokoh bukan siapa-siapa ke raga salah satu pangeran Kurawa merupakan kebanggaan. Dia yang belakangan ini didera perasaan rendah diri, berubah bahagia. Oleh sebab itu, wajar saja bila lagaknya terkesan angkuh. Lagipula, bukankah berkat formasi Segel Cahaya Gemilang sang iblis tiada memiliki kekuatan sejatinya…? Oleh sebab itu, tak ada yang perlu dikhawatirkan…

Iblis Leraje dan lawannya kini berdiri hadap-hadapan. Terpisah jarak sekira sepuluh langkah, Pangeran Wyudharu versi Bintang Tenggara dengan sengaja tidak berdiri di dalam formasi segel pertahanan Kamulan Bhumisambhara. 

“Serang, lalu segera kembali ke dalam!” Putra Mahkota Duryudhana mengingatkan. “Gunakan senjata-senjata itu untuk melemahkannya.” 

Lagi-lagi Pangeran Wyudharu versi Bintang Tenggara tiada mengindahkan nasehat. Ia sudah melihat senjata-senjata yang bergeletakan, namun baginya hanya satu pusaka Basudewa Krishna yang wajib untuk dikerahkan. Ia kini dipenuhi rasa percaya diri sehingga yakin dapat melakukan satu hal yang sebelumnya mustahil!

Kedua bola mata Iblis Leraje merah menatap. Ia mengikuti setiap gerakan lawan yang mengangkat lengan ke atas kepala dan mengacungkan jemari telunjuk lurus ke atas. Di saat itu pula, sebuah cincin seukuran piring nan berwarna lembayung mengemuka. Cincin tersebut terbuat dari tenaga dalam murni, alias chakra!

“Sebelumnya dia tak mengenakan cincin… Ya ‘kan…? Ya ‘kan…?” Ulupi Nagaradja kebingungan dan bertanya-tanya ke kiri dan ke kanan.

“Itu… itu…” Kata-kata Sangkuni Raja Gandhara tertahan di tenggorokan. Ia memutuskan untuk tak melanjutkan demi menjaga harga diri.

Di dua tempat berbeda, Ghatotkacha Putra Bhima dan Karna Raja Angga menyaksikan dalam diam. Ibarat dalam perlombaan lari, tatapan mata keduanya menunjukkan bahwa mereka sadar akan ketertinggalan.

Raut wajah Putra Mahkota Duryudhana yang sempat cemas kini berubah lega. Setelah melalui berbagai halang-rintang dan gejolak hati, akhirnya dia dapat bernapas plong. Beban berat yang ia pikul mewakili gurunya terasa ringan.

“Zingggg!” 

Dengan jemari telunjuk sebagai titik pusat, cincin chakra itu berdesing. Ukurannya cincin kemudian membesar sampai seukuran piring, atau lebih tepatnya cakram. Benda tersebut melayang ringan, demikian indah, di ujung jemari. Chakra Sudharsana!

Iblis Leraje menurunkan busur dan melonggarkan pertahanan. Ia berdiri tegap, namun kedua matanya menatap jernih sampai menembus ke dalam jiwa di dalam tubuh Pangeran Wyudharu. Dia melihat langsung jiwa seorang pemuda. Sangat jelas!

“Zingggg!” 

Sang iblis pasrah ketika sesaat kemudian kepala berpisah dari badan. Waktu seolah berhenti, namun waktu tak akan membuat Iblis Leraje melupakan wajah pemuda itu. Dalam waktu yang sangat singkat dan tanpa perlawanan, leher bangsa iblis dipenggal!

“Sekarang!” teriak Putra Mahkota Duryudhana. 

Tiga perapal formasi Segel Cahaya Gemilang yang sedang tertegun, serempak sadar dan bergerak. Formasi segel kemudian mengangkat dan membawa kepala yang terpisah dari badan tinggi mengangkasa. Keempatnya memanfaatkan kesempatan sebelum sang iblis menyembuhkan diri. Walau terpenggal, sang iblis masih bernyawa karena memanglah abadi.

Kepala beserta badan tersebut kembali masuk ke dalam rembulan palsu yang merupakan gerbang dimensi ruang antar dunia. Sejenak kemudian, sang rembulan yang bolong di tengah memperbaiki diri dan kembali utuh. Warnanya tak lagi merah, namun putih cemerlang memantulkan cahaya. 

“Kau…” Pilar cahaya sudah menghilang dan Sangkuni Raja Gandhara melangkah berang ke arah Pangeran Wyudharu. Dia ingin melampiaskan kekesalan!

“Swush!” 

Tetiba seluruh dunia ilusi itu seolah berputar deras. Siang dan malam berubah silih berganti. Aliran waktu berlangsung cepat. Jiwa-jiwa melayang meninggalkan raga yang ditumpangi…



Cuap-cuap: Akhirnya berakhir juga babak petualangan di dalam dunia ilusi Mahabharata. Tiada terasa tiga setengah tahun, 440 episode, sudah waktu berlalu. Demikian, berakhir pula petualangan Bintang Tenggara… 

TAMAT 












Tapi bo’ong…