Episode 439 - “Masih ada dia…”



Malam semakin larut namun keberadaannya tiada dirasa. Di dalam wilayah formasi Segel Cahaya Gemilang, suasana terang benderang selayaknya tengah hari bolong. Kesejukan tak berani hinggap, larut dalam aura panas yang menyibak dari ketegangan yang memuncak.

Karna Raja Angga mengangkat busur dan meraih sebilah anak panah. Ia membidik. Sesaat kemudian, anak panah yang berbalut Astra melesat dan tubuh Karna Raja Angga pun menghilang dari tempat di mana ia berdiri. Teleportasi jarak dekat!

Iblis Leraje berkelit ke samping. Di saat yang bersamaan, tubuh Karna Raja Angga muncul sekira sepuluh langkah di belakangnya. Bersamaan dengan kemunculannya itu, sebilah anak panah kembali melesat meninggalkan busur! 

Pertarungan satu lawan satu bergulir. Iblis Leraje membalas tembakan anak panah Astra dengan halilintar merah yang menggelegar. Selain itu, setiap kali melepaskan tembakan, halilintar merah senantiasa membelah diri dan berpencar mengejar mangsa-mangsa lain di dalam wilayah formasi segel. Dengan kata lain, Iblis Leraje tak memberi kesempatan bagi yang lain untuk diam-diam membokong!

“Duar!” 

Halilintar merah dan panah Astra beradu, sehingga ledakan membahana mengguncang bumi. Seketika benturan ledakan terjadi, tubuh sang iblis pun menghilang dan muncul di tempat lain dalam keadaan siap menembak. 

Sementara itu, keempat tokoh berdarah Wangsa Syailendra dari Trah Balaputera tak dapat menyembunyikan kecemasan pada raut wajah mereka. Walau hanya sejenak, gelombang ledakan yang tercipta sedikit meredupkan pilar cahaya yang mereka bangun. Sontak mereka memperkuat rapalan formasi segel.

Pertukaran serangan berlangsung sengit. Karna Raja Angga dan Iblis Leraje menghilang dan muncul silih berganti. Sangat sulit untuk mengikuti pergerakan mereka bila hanya mengandalkan pandangan mata telanjang. Selain terus bergerak demi menghindar dari halilintar, para penonton dipaksa memusatkan perhatian membaca keberadaan aura. Hal ini bertambah sulit karena Iblis Leraje hanya menampilkan aura keberadaan nan mencekam di saat melepaskan serangan. 

Entah bagaimana Karna Raja Angga dapat mengimbangi, yang jelas dia mampu membaca arah menghilang dan munculnya musuh secara akurat. 

“Psst… psst…” Tetiba, dari balik salah satu pilar cahaya seorang tokoh mendesis. 

Putri Duhsala menatap kepada Sangkuni Raja Gandhara di dalam pilar cahaya. Sungguh tokoh tersebut terlampau mencurigakan. Mengapa dia harus berbisik…?

“Kemarilah… Kemari…” lanjut Sangkuni Raja Gandhara. Raut wajahnya mirip seorang penculik yang sedang berupaya memancing korban.

Tertarik perhatiannya, Putri Duhsala diam-diam menghampiri. Setiap menghindar dari halilintar merah, maka ia akan bergerak semakin mendekat. Gelagatnya kini berubah mirip dengan kaki-tangan penculik yang sedang merumuskan siasat.

“Kau lihat roda kereta perangku…?”

Putri Duhsala lantas menoleh kepada kereta perang yang berada tak jauh dari tempat di mana dirinya berada. Sebelumnya, tak ada yang mencermati kereta perang mewah tersebut karena berpandangan bahwa kereta perang hanya berfungsi sebagai sarana angkutan saja. Akan tetapi, bila kereta perang tersebut diperhatikan dengan lebih saksama, maka antara roda kiri dan roda kanan terdapat perbedaan. Ukuran besar dan lingkar pada kedua roda adalah sama, namun terlihat perbedaan bentuk. Yang kiri merupakan roda dengan jari-jari keemasan, sedangkan yang kanan lebih mirip dengan sebentuk perisai nan berukuran sangat besar. 

“Ambil roda yang kanan…,” lanjut Sangkuni Raja Gandhara. 

“Untuk apa…?” tukas Putri Duhsala. 

“Untuk memperpanjang harapan hidup kalian…”

Di sisi yang berseberangan, Putri Rukmini mengamati keanehan pada pedang besar melengkung di dalam genggaman tangannya. Sebagaimana diketahui, sebelumnya pedang tersebut merupakan milik Pangeran Vrihatkshatra. Dalam pertarungan menghadapi Tuan Kekar, pedang tersebut terlepas lalu dipungut untuk digunakan dalam pertarungan menghadapi Putri Duhsala. 

Tak terlalu jauh terpisah, Putri Shikhandi sedang mengalami pengalaman yang senada. Busur yang selama ini ia gunakan menunjukkan gelagat tak biasa. 

“DUAR!” 

Ledakan tetiba menggema. Tak terbilang berapa banyak jual-beli serangan di antara kedua pihak yang terlibat dalam pertarungan sengit, yang mana ikut melibatkan penonton. Namun demikian, tampaknya serangan yang baru saja terjadi akan menentukan siapa yang lebih unggul. Di satu pihak, Iblis Leraje masih berdiri tegap, namun raut wajah yang sebelumnya dingin tampak dibalut amarah. Pandangan matanya tak lepas mengawasi lawan. 

Di pihak lain, dari balik kepulan debu yang membumbung mulai menampilkan sosok Karna Raja Angga. Napas terengah dan sekujur tubuhnya bersimbah keringat. Selintas pandang saja, dapat disimpulkan bahwa dia sudah sangat kelelahan karena banyak mengerahkan tenaga untuk melakukan teleportasi jarak dekat dan menembakkan panah berbalut Astra.

Iblis Leraje melepaskan tembakan halilintar merah lurus ke arah Karna Raja Angga. Setengah perjalanan, serangan tersebut membelah diri seperti biasa. Akan tetapi kali ini berbeda, belasan halilintar merah berpencar sejenak seolah mengincar tokoh-tokoh lain, namun tetiba berbalik arah dan menuju kepada Karna Raja Angga seorang!

Akibat perubahan serangan secara mendadak dan tubuh yang lelah, Karna Raja Angga hanya berhasil menghindar dari beberapa halilintar saja. Sejumlah halilintar mendarat telak! Ledakan beruntun mendarat pada satu titik yang sama. Namun demikian, dari balik kepulan debu tetiba melesat sebilah anak panah. Atas serangan mendadak yang datang, Iblis Leraje terlambat berkelit sehingga anak panah berhasil menggores di bahu kanannya. Hitam adalah warna darah yang mengalir walau hanya setetes.  

Segenap yang menyaksikan terpana. Bukan pada cedera yang dialami musuh, melainkan pada kemampuan Karna Raja Angga. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa serangan Iblis Leraje mendarat telak di tubuh sasarannya. Yang sulit dijelaskan, mengapa Karna Raja Angga masih sanggup bertahan, bahkan membalas serangan!?

Baju zirah yang membalut dada sampai ke punggung dan anting yang menggantung di kedua belah telinga tokoh itu terlihat mengkilap tanpa cela. Pusaka yang dikenal sebagai Kavacha dan Kundala anugerah Dewa Surya, memiliki kemampuan melindungi pemiliknya dari kematian. Bila bangsa iblis adalah abadi, maka Karna Raja Angga yang mengenakan Kavacha dan Kundala pun tak dapat dibunuh. Kendatipun demikian, perbedaan mencolok di antara keduanya terletak pada kekuatan dan daya tahan dalam bertarung.

“Trak! Trak! Trak!” 

Iblis Leraje kembali melepaskan tembakan, tapi kali ini ia tak melepaskan serangan halilintar merah melainkan panah-panah biasa. Anak-anak panah secara bertubi menghujani baju zirah yang dikenakan Karna Raja Angga. Karena tak lagi memiliki kecepatan untuk menghindar, tokoh tersebut pasrah ibarat layang-layang yang limbung dimainkan angin. 

“Trak!” 

Putri Vrushali tetiba melompat dan tiba di hadapan tubuh Karna Raja Angga. Memutar bilah tombak trisula, Kuau Kakimerah menangkis setiap satu anak panah yang menghujani. Serius sekali wajahnya tatkala mencegah upaya sang iblis.

Putri Duhsala memicingkan mata. Ia pun mengetahui bahwa melalui serangan anak panah biasa, sang iblis berupaya melepas paksa baju zirah yang dikenakan oleh lawannya. Selain itu, kecurigaan Putri Duhsala terbukti benar. Kuau Kakimerah mengenal jati diri siapa pun itu yang menumpang di tubuh Karna Raja Angga. Pertanyaan berikutnya, mengapa masih saja dirahasiakan…?

Menyaksikan tindakan Putri Vrushali melindungi mangsanya, Iblis Leraje kembali menembakkan halilintar merah yang berpencar dan mengincar semua. Tak ada yang luput dari pengamatannya, seolah ia memiliki sepasang mata di atas langit sehingga dengan akurat dapat menentukan posisi masing-masing sasaran! 

Ledakan beruntun yang disebabkan sambaran halilitar merah kembali terjadi, namun pada detik-detik terakhir setiap satu dari mereka berhasil menyelamatkan diri. Tampaknya mereka sudah mulai terbiasa diincar dan menghindar.

“Kau cari mati!” sergah Karna Raja Angga kepada Putri Vrushali yang menghadang anak panah. Secara teknis, kedua tokoh ini adalah suami dan istri. 

“Kau tak bisa bertarung seorang diri!” tegas Putri Duhsala yang ikut mendekat. Dia kini membawa roda raksasa yang bentuknya lebih mirip dengan sebuah perisai besar.

“Tetapi kau sangat cocok sebagai umpan…” Putri Rukmini datang menenteng pedang. Kata-katanya ditujukan kepada Karna Raja Angga. 

“Aku sudah membiasakan diri dengan Gada Kaumodaki!” ujar Pangeran Vrihatkshatra. 

“Pola serangannya pun sudah terbaca…,” tambah Jayadratha Raja Sindhu. 

Tanpa mengumbar kata, Putri Shikhandi pun sudah berdiri di antara mereka. Raut wajahnya mencerminkan kesiapan. 

Pada kenyataannya, selagi Iblis Leraje dan Karna Raja Angga bertarung, tokoh-tokoh lain memanfaatkan kesempatan untuk mempersiapkan diri. Di saat menghindar dari serangan halilitar merah, kesemuanya mencermati dan mempelajari. Pun mereka saling berbagi pengetahuan dan menyusun siasat. Sangkuni Raja Gandhara yang mengambil-alih peran sebagai dalang.

“Kurang seorang…,” ujar Putri Rukmini mencari-cari.

“Ke mana perginya Wyudharu…?” sahut Putri Duhsala mengamati sekeliling. Tiada ditemukan batang hidung sosok yang dicari. 

“Kita saja sudah cukup…” Pangeran Vrihatkshatra berujar penuh percaya diri. 

Iblis Leraje menarik busur dan membidik…

“Berpencar!” teriak Putri Duhsala dan Putri Rukmini berbarengan. Tampaknya kedua perempuan dewasa muda itu sudah mengenyampingkan persaingan antara satu sama lain demi bersatu menumbangkan bangsa iblis! 

Selain Karna Raja Angga, yang lain serempak memisahkan diri. Sang iblis melakukan teleportasi jarak dekat dan tetiba muncul tepat di atas tubuh Karna Raja Angga. Sesuai perkiraan, Iblis Leraje sangat penasaran karena tak kunjung dapat menjagal mangsanya. 

“Roda Narayana!” teriak Putri Duhsala yang melesat sembari melempar perisai besar yang sebelumnya digunakan sebagai roda kanan kereta perang Sangkuni Raja Gandhara. 

Logam melingkar berwarna keemasan itu mengangkasa lalu melayang di ketinggian. Benda itu lantas berputar deras. Senjata ini sesungguhnya digunakan oleh Maha Guru Drona pada hari ke-15 Perang Kurukshetra nanti. Kala itu terjadi, jutaan anggota pasukan Pandawa meregang nyawa!

Dari sisi Roda Narayana yang menghadap ke bawah tetiba menghadirkan hujan. Bukan hujan biasa, melainkan hujan senjata tajam! Ribuan lembing, tombak, trisula, pedang, belati, pisau… berbagai jenis senjata tajam menyebar dan berjatuhan deras mendera bumi. Gilanya lagi, setiap satu senjata tajam yang berjatuhan sudah berbalut tenaga dalam murni Astra! 

Iblis Leraje melakukan beberapa teleportasi jarak dekat, namun kesulitan menemukan ruang aman di dalam wilayah formasi Segel Cahaya Gemilang! Tubuhnya berupaya berkelit, namun senjata tajam yang terus berjatuhan tertancap di pundak, bahu, lengan, pinggang dan paha!

Sebaliknya, berkat arahan Sangkuni Raja Gandhara tokoh-tokoh Pandawa dan Kurawa dapat memperkirakan titik-titik mana yang berada di luar jangkauan hujan senjata tajam. Sebagaimana diketahui, wilayah formasi segel di mana mereka berada berbentuk empat persegi yang tiada beraturan. Demikian, hanya sudut-sudut di dekat keempat perapal formasi segel berada, adalah tempat yang tak terjangkau hujan senjata tajam!

Meski dalam keadaan terluka, Iblis Leraje menyadari akan hal tersebut. Segera ia melakukan teleportasi jarak dekat ke salah satu sudut dimaksud. Di saat dia muncul, maka di sana pula Pangeran Vrihatkshatra sedang mengayunkan senjata pusaka di tangan. Secepat kilat sang iblis menembakkan panah halilintar merah, namun Gada Kaumodaki dengan mudahnya menyerap serangan. 

Sesungguhnya Iblis Leraje telah memperkirakan kemampuan senjata pusaka tersebut. Di balik halilintar merah, dia menyelipkan sejumlah anak panah untuk mengincar tubuh Vrihatkshatra. Akan tetapi, anak-anak panah tersebut dihadang oleh Putri Vrushali memanfaatkan tombak trisula. Memiliki pelindung, Pangeran Vrihatkshatra merangsek membabi-buta mengayunkan Gada Kaumodaki!

Tak memiliki peluang menyerang dan tak hendak berlama-lama berurusan dengan senjata pusaka dimaksud, maka Iblis Leraje memilih untuk menarik diri. 

Teleportasi jarak pendek berikutnya memindahkan tubuh sang iblis ke sudut lain. Di saat dia muncul, maka giliran Putri Rukmini sedia menanti. Bilah pedang yang sebelumnya biasa-biasa saja, kini menampilkan ukiran yang sangat indah berwarna keemasan. Pedang tersebut pernah digunakan untuk mencincang Rakshasa Lohasuka. Pedang itu pula yang dikatakan dapat mengiris segala jenis logam semudah mengiris kentang. Pedang Nandaka! 

“Srash!” 

Putri Rukmini menebas dengan segenap tenaga. Seketika itu pula Iblis Leraje merasakan ancaman yang teramat nyata. Ia menyadari bahwa tebasan pedang itu dapat mengakhiri penantian panjang dan menggagalkan upayanya datang ke dunia itu. Dia memutuskan untuk segera menghabisi Putri Rukmini. Namun demikian, dari balik tubuh perempuan dewasa muda itu kemudian melesat panah berbalut Astra milik Jayadratha Raja Sindhu! 

Iblih Leraje kesulitan mendekat sekaligus merasa terancam, sehingga memutuskan untuk melakukan teleportasi jarak dekat ke sudut lain!

Sudut berikutnya adalah tempat terjauh dan tak ada yang menanti di sana. Akan tetapi, Iblis Leraje sontak menyadari akan ancaman yang mengicar. Di sudut yang lain, Putri Shikhandi telah menarik busur besar berwarna keemasan… 

Suatu ketika di dunia para dewa, Sang Brahma hendak mengetahui siapa di antara Sang Vishnu dan Sang Shiva yang lebih tangguh. Beliau lantas memupuk perselihan di antara kedua tokoh maha perkasa agar mereka berduel. Duel baru berlangsung sejenak namun malabencana yang ditimbulkan demikian besar, sehingga Sang Brahma sampai memohon agar duel dihentikan. Tak ada pemenang, namun Sang Vishnu yang menggunakan Busur Sharanga sedikit lebih unggul atas Sang Shiva yang menggunakan Busur Pinaka. 

Saat ini di tangan Putri Shikhandi, tak lain dan tak bukan adalah Busur Sharanga milik Sang Vishnu. Ribuan anak panah berbalut Astra melesat hanya dengan sekali tembakan! Sang Iblis terpaksa mengimbangi dengan melepaskan tembakan halilintar merah berkali-kali!

Iblis Leraje terjepit. Hujan senjata tajam masih berlangsung, sementara tempat yang tak terjangkau hujan tersebut berisikan oleh tokoh-tokoh yang membawa senjata pusaka berbahaya. Sesungguhnya bukan sembarang senjata pusaka. Selain Chakra Sudharsana, maka Basudewa Krishna dikenal sebagai pemilik Gada Kaumodaki, Roda Narayana, Pedang Nandaka serta Busur Sharanga!

“Hujan…?” gumam sang iblis sembari mendongak. Sesaat kemudian, tubuhnya menghilang dan kembali muncul di… sisi atas Roda Narayana! 

“Cih!” Putri Duhsala mendecak. Inilah dia kelemahan dari siasat menyudutkan sang iblis. Tempat paling aman dari hujan senjata tajam, tentu saja di sisi atas Roda Narayana! 

Melayang tepat di atas Roda Narayana, sang iblis terlihat mencabuti satu persatu senjata tajam yang menancap di sekujur tubuhnya. Gerakannya tak terburu-buru, namun sorot matanya dipenuhi amarah. Tersudut sampai sedemikian rupa merupakan sebuah penghinaan yang teramat besar!

“Batalkan Roda Narayana!” teriak Putri Rukmini dari kejauhan. 

Gemuruh halilintar menggelegar di saat sang iblis menarik busur. Aura mencekam bergelora dan tubuhnya seolah menjadi pusat dari badai halilintar. Tak diragukan lagi, Iblis Leraje sedang mempersiapkan tembakan yang memiliki kekuatan berkali lipat lebih mematikan! Sementara itu, tokoh-tokoh di bawah sana tak bisa bergerak bebas karena hujan senjata tajam masih mengguyur. Ibarat pedang bermata dua, siasat menyudutkan malah membuat diri mereka tersudut! 

Tanpa diperingatkan pun Putri Duhsala sebenarnya sudah membatalkan Roda Narayana. Namun demikian, diperlukan sedikit waktu sebelum hujan senjata tajam reda. Di saat itu pula, kilatan halilintar merah melecut berkali lipat lebih cepat daripada hujan senjata tajam! 

“BELEDAR!” 

Maha halilintar merah memangsa! 

Tak seorang pun yang cukup cepat untuk berkelit! Putri Duhsala, Putri Rukmini, Putri Shikhandi, Putri Vrushali serta Jayadratha Raja Sindhu disambar telak. Bahkan Pangeran Vrihatkshatra yang memegang Gada Kaumodaki, terkapar dengan tubuh ditancap puluhan anak panah!

“Sepertinya kita terpaksa turun tangan,” ujar Sangkuni Raja Gandhara bersiap membatalkan formasi Segel Cahaya Gemilang. 

“Tindakan itu hanya akan membuat Iblis Leraje memperoleh kekuatan sejatinya. Kita bukan tandingannya…,” tanggap Putra Mahkota Duryudhana. 

“Formasi segel ini pun ada batas waktunya. Cepat atau lambat, dia akan memperoleh kembali kekuatan sejatinya…” 

“Bersabarlah sejenak…” 

“Jadi, apakah engkau masih memiliki jurus simpanan, wahai murid Balaputera Ragrawira nan cerdik…?” sindir Sangkuni Raja Gandhara. 

“Masih ada dia…” Putra Mahkota Duryudhana menunjuk ke wilayah tengah formasi segel.

“Srek!” 

Dari tumpukan ribuan senjata tajam di permukaan tanah, sesosok tubuh tertatih tatkala bangkit berdiri. Hujan senjata tajam tiada mencederai dirinya, karena dia adalah Karna Raja Angga yang kebal tak bisa dibunuh!

Iblis Leraje mendarat tak jauh di hadapan tokoh yang akhirnya berdiri tegak. Ia lantas membidik. Sungguh sang iblis ingin menguji sampai setangguh mana kesaktian baju zirah yang dimiliki lawan…

Akan tetapi, sesaat sebelum anak panah melesat, terlihat tokoh lain datang mendekati Karna Raja Angga. Dia adalah seorang lelaki dewasa muda berwajah tampan dan berbadan tegap, dengan kumis tipis di atas bibir. Sorot matanya dipenuhi nuansa kehidupan. Bibirnya bergerak pelan lalu bergumam, “Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara…”