Episode 438 - Gada Kaumodaki



Wilayah yang dinaungi Formasi Segel Cahaya Gemilang kali ini bukanlah persegi sembilan sebagaimana dirapal oleh sembilan Datu Besar di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, melainkan persegi empat. Bahkan, karena keterburu-buruan para perapalnya mengambil tempat, bentuk wilayah formasi segel tersebut lebih mirip dengan belah ketupat, atau mungkin jajaran genjang. Entahlah yang mana satu, ahli karang dahulu kurang memahami mata ajaran tentang bangun datar. Panjang kali lebar, apakah menghitung besar…?

“Sebentar lagi makhluk itu keluar…,” ujar Putra Mahkota Duryudhana yang melayang di balik salah satu pilar raksasa nan menyala terang. “Kami akan mengurung dirinya dan melemahkan kekuatan sejatinya. Malangnya, demi menjaga keutuhan formasi segel ini, kami tak dapat ikut bertarung…”

Melayang di dalam pilar cahaya yang lain, raut wajah Sangkuni Raja Gandhara terlihat setengah kesal dan setengah tak percaya. Ia memasuki dan menjalani dunia ilusi Mahabharata karena mengetahui perihal keikutsertaan Balaputera Khandra, namun tiada menyangka apa yang terjadi. Dengan kata lain, sejak awal Lintang Tenggara mencurigai ada sesuatu yang perlu dikerjakan oleh saudara sepupunya itu. Di luar dugaan, ternyata dirinya pun terjebak di dalam sebuah maha muslihat yang tersusun rapi. 

Sungguh sulit ditakar kepiawaian Guru Muda dari Perguruan Gunung Agung itu dalam menyusun siasat. Ralat. Bila ditelisik lebih jauh, maka kemungkinan besar semua kejadian yang berlangsung sampai dengan titik ini merupakan rencana matang tokoh lain. Siapa lagi jikalau bukan dalang dari segala dalang, sang ayahanda, Balaputera Ragrawira? Terus-menerus diperdaya, Lintang Tenggara merasa sangat terhina! 

Ghatotkatcha Putra Bhima dongkol. Merapal formasi Segel Cahaya Gemilang berarti melepas kesempatan bertarung. Akan tetapi, sebagai keturunan Wangsa Syailendra dari Trah Balaputera, ia mengetahui akan tanggung jawab yang dipikul dalam situasi ini. Hajatan akbar pewaris takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan sarana memperkenalkan tanggung jawab tersebut. Oleh sebab itu, walau memiliki kecenderungan untuk berbuat sekehendak hati, Balaputera Naga tetap menjunjung tinggi kewajiban yang mengalir bersama dengan darah di dalam nadi. 

Ulupi Nagaradja sepenuhnya memusatkan perhatian dalam menjaga kelangsungan formasi segel. Sebenarnya, ini adalah kali pertama bagi Balaputera Saratungga merapal formasi Segel Cahaya Gemilang. Kebetulan, saat mata ajaran tentang formasi segel ini disampaikan di Perguruan Svarnadwipa, dia membolos. Untung saja ia memiliki bakat merapal formasi segel di atas rata-rata sehingga dapat meniru gerakan Balaputera Naga dengan sangat cepat. 

“Makhluk apakah yang berdiam di atas sana!?” sergah Putri Duhsala. 

“Mengapa kami harus menghadapinya!?” tambah Putri Rukmini. 

Kedua tokoh ini sebelumnya tampil mencolok, bahkan terlibat dalam persaingan ketat. Keduanya menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata dan kemampuan mempimpin yang terbukti dapat diandalkan. Sampai batasan tertentu, keduanya sudah dapat memperkirakan apa yang sedang berlangsung. Mereka hanya memerlukan penegasan.

“Makhluk pelahap dunia. Jikalau tak dicegah di dunia ilusi ini, maka dia akan menjajah dunia kita, menanam perselisihan dan menyemai peperangan,” ujar Putra Mahkota Duryudhana. “Bila hal itu terjadi, maka keputusasaan dan kebinasaanlah yang menanti…”

“Jadi, kita perlu membunuhnya di sini!?” aju Pangeran Vrihatkshatra. 

“Malangnya, makhluk yang akan kita hadapi itu adalah abadi,” jawab Putra Mahkota Duryudhana. “Tujuan kalian hanyalah membuat dia lemah sampai tak bisa bertarung lagi. Nanti kami yang akan mengirimkan dia kembali ke dunianya. Sederhana bukan…?”

Karna Raja Angga menggeretakkan gigi. Tak ada yang sederhana bila dihadapkan dengan makhluk yang demikian mengerikan. Dalam kaitan ini, Kum Kecho mungkin adalah segelintir tokoh yang pernah berhadapan langsung dengan makhluk sejenis. Bahkan, dia menyegel salah satu makhluk tersebut di dalam sebentuk cincin pemberian seorang tokoh misterius. (1) 

“Oleh karena itu,” lanjut Putra Mahkota Duryudhana. “Berpencarlah. Kepung dia dari segala arah…”

Putri Vrushali dan Abhimanyu Putra Arjuna saling mendekat. Terlepas dari mereka berasal dari kubu Kurawa dan Pandawa, Kuau Kakimerah dan Puyuh Kakimerah akan senantiasa menjaga satu sama lain. 

Jayadratha Raja Sindhu mencari pasangan. Dia menoleh kepada Putri Satyabhama lalu kepada Putri Shikhandi, kembali kepada Putri Satyabhama, kemudian kepada Putri Shikhandi lagi. Tampaknya Aji Pamungkas kesulitan mengambil keputusan antara mendekati Lampir Marapi atau Embun Kahyangan. Benaknya sedang menimbang-nimbang dan membayang-bayangkan yang mana yang lebih baik. Pada akhirnya, karena larut dalam angan-angan, Jayadratha Raja Sindhu malah hanya berdiri seorang diri.

Di tempat lain masih di dalam wilayah formasi Segel Cahaya Gemilang, Pangeran Wyudharu bertumpu pada satu lutut. Perhatiannya terpusat untuk memberikan perawatan kepada Si Kumal. Meski tak tahu persis apa alasan Tuan Kekar melindungi Si Kumal, namun ia hendak menyia-menyiakan pengorbanan tokoh tersebut. 

“Bersiaplah semua!” teriak Putra Mahkota Duryudhana. Raut wajah yang sedianya tenang, kini tiada dapat menyembunyikan ketegangan. Sungguh beban yang dipikulnya cukup berat. “Dia akan keluar!”

“Srak!”

Sebuah lubang besar tetiba menganga pada permukaan sang rembulan merah. Hampir semua yang hadir mendongak ke atas, mereka merasakan hawa membunuh yang demikian kental dan menantikan keluarnya makhluk yang sangat mengerikan. 

“Jangan bengong!” tetiba Karna Raja Angga berteriak lantang. Hanya dia seorang yang kiranya menyadari dan waspada terhadap sesuatu yang sudah berdiri tepat di tengah wilayah formasi Segel Cahaya Gemilang! 

Segenap pandangan mata sontak beralih ke lurus ke hadapan. Betapa mereka takjub menyaksikan kehadiran seseorang. Bertolak belakang dengan bayangan mengerikan di dalam benak, sedang berdiri di hadapan mereka adalah seorang lelaki dewasa muda. Raut wajahnya sangat tampan, dengan rambut keperakan yang tergerai panjang dan kulit tubuh berwarna terang. Daun telinganya lancip panjang ke atas, dan keningnya menyangga sebentuk mahkota yang melingkari kepala. 

Dia melirik ke kiri dan ke kanan, lantas menoleh mencermati sekeliling. Tatapan matanya dingin, namun tajam seolah menusuk langsung ke dalam jiwa. Yang juga unik, adalah tiada terasa aura yang menyibak dari tokoh tersebut, sehingga wajar bila keberadaanya terlambat disadari. 

Mencermati lebih jauh, baju zirah yang ia kenakan megah dengan nuansa hijau gelap, yang mana dilengkapi jubah senada. Di tangan kiri ia memegang sebentuk busur yang besar dan indah. Tempat menampung anak panahnya tidak menyoren di pundak, melainkan menempel di belakang pinggang. 

Selintas pandang, tampilan sosok tersebut lebih layak disebut sebagai seorang Putra Mahkota dari suatu negeri di dalam dongeng pengantar tidur. (2)

“Selamat datang, wahai Iblis Leraje,” sapa Putra Mahkota Duryudhana. “Semoga sambutan kami tiada terlalu mengecewakan…” 

Iblis Leraje mengamati sekali lagi. “Ke mana lelaki yang biasanya…?” ajunya pelan. Suara yang keluar dari mulutnya demikian lembut, sama sekali tiada memberikan kesan mengancam. 

“Mohon maaf, tapi beliau sedang berhalangan…,” tanggap Putra Mahkota Duryudhana berupaya menyunggingkan senyuman.

Sang iblis tiada menanggapi. Jemari tangan kanannya mengayun gemulai tatkala meraih sebilah anak panah. Ia tarik busur sembari membidik. Saat dilepaskan, anak panah tersebut seketika berubah menjadi kilatan halilintar berwarna merah. Ketika ini terjadi, aura mencekam yang sempat menghilang tiba-tiba menyeruak tanpa kendali!

Sasaran serangan tersebut adalah Putra Mahkota Duryudhana di balik pilar cahaya nan terang benderang! 

“SRASH!”

Kecepatan dan daya hancur halilintar merah demikian membahana. Serangan tersebut serta-merta menggetarkan pilar cahaya dan membuat sosok di dalamnya seolah hilang keseimbangan. Walau tak terlihat membahayakan, setiap satu yang menyaksikan unjuk kebolehan tersebut menyadari bahwa sang iblis sedang menguji kekuatannya sendiri, sembari mempertontonkan betapa mengerikannya dia. 

Di lain pihak, Putra Mahkota Duryudhana dan Sangkuni Raja Ghandara sama-sama menyadari bahwa formasi Segel Cahaya Gemilang yang mereka bangun sangatlah lemah. Hanya dengan empat keturunan Wangsa Syailendra Trah Balaputera tentu kurang memadai. Seandainya tokoh kelima dapat diandalkan, kemungkinan keduanya tak akan terlalu meragu. 

“Tampaknya kami menggantungkan harapan kepada dikau seorang…,” ujar Sangkuni Raja Gandhara kepada Karna Raja Angga alias Kum Kecho alias Elang Wuruk Sanjaya. “Hanya Wangsa Syailendra Trah Sanjaya yang memiliki jiwa dan raga nan cukup tangguh untuk menghadapi bangsa iblis.”

“Apakah engkau lupa bahwa ini bukan raga milikku…?” 

“Sebaliknya, dikau yang melupakan bahwa jiwamu berada di dalam raga Vasusena Karna, yang merupakan putra Dewa Surya. Selama sepasang anting dan dan pakaian zirah pemberian sang dewa masih melekat di raga, maka dikau adidaya.”

Iblis Leraje kini membidik lurus tinggi ke angkasa. Sebilah anak panah melecut, dan di atas sana terlihat membelah diri menjadi sebelas bagian, lantas berubah menjadi halilintar merah yang menyambar ke bawah. Sebelas adalah jumlah tokoh yang masih bernyawa di dalam wilayah formasi Segel Cahaya Gemilang!

Kesemua tokoh sontak menghindar. Kocar-kacir mereka dibuat oleh halilintar merah yang menyambar. Ledakan beruntun pun terjadi saat serangan halilintar merah mendarat. Kawah-kawah besar menyeruak pada permukaan tanah! 

“Swush!” 

Tembakan panah yang dibalut tenaga dalam murni datang dari dua arah. Adalah Abhimanyu Putra Arjuna dan Putri Satyabhama yang memanfaatkan kesempatan segera setelah menghindar! 

Iblis Leraje hanya berdiri diam, akan tetapi pada detik-detik terakhir sebelum kedua panah mengena, tetiba sosok tubuhnya menghilang! Sesaat kemudian, dia terlihat berada di ketinggian… Dengan mudahnya ia melakukan teleportasi jarak dekat!  

Di udara, sang iblis kembali melepaskan tembakan yang berpencar menjadi dua halilintar merah. Serangan kali ini khusus bertujuan membalas tindakan Abhimanyu Putra Arjuna dan Putri Satyabhama! 

Serangan datang secara tiba-tiba dan dari arah atas. Sigap, masing-masing melompat menyelamatkan diri. Dua ledakan halilintar merah menggema, namun kedua sasaran berhasil menyelamatkan diri…

“Jleb!” 

Sebilah anak panah menancap tepat di dada Abhimanyu Putra Arjuna dan sebilah lagi tertanam di dada Putri Satyabhama! Keduanya terkecoh. Mereka terlalu memusatkan perhatian untuk menghindar dari sambaran halilintar merah, sehingga tak menyadari keberadaan anak-anak panah biasa yang melesat di balik halilintar tersebut. Kedua tokoh gugur seketika. Jiwa Puyuh Kakimerah serta Lampir Marapi kembali ke tubuh masing-masing di geladak Lancang Kuning. 

Rangkaian kejadian yang berlangsung terkesan lambat ketika digambarkan dengan kata-kata, namun pada kejadian sebenarnya berkutat singkat. Sang iblis memangsa tanpa jeda dengan serangan yang sangat terencana. 

Di lain pihak, tepat di saat Iblis Leraje mendarat, Putri Duhsala dan Putri Rukmini memanfaatkan peluang yang terbuka. Mereka menyambut sang iblis dengan tebasan luwes kain sari dan tusukan deras sepasang katar. Walau tak pernah berlatih atau bertarung bersama-sama, gerakan keduanya padu bahkan sangat kompak. Agaknya ketika mereka bertarung menghadapi satu sama lain, kedua perempuan dewasa muda itu sudah dapat menakar kemampuan masing-masing. Tak memberi ruang, keduanya terus merangsek dan mengisi celah satu sama lain. 

Tubuh sang iblis meliuk-liuk ringan. Serangan demi serangan jarak dekat dan menengah tak satu pun yang berhasil mendarat! 

“Duar!”

Hantaman gada hitam berduri tetiba datang dari arah sudut mati, namun hanya mampu membuat lubang pada permukaan tanah. Pada detik-detik terakhir sebelum senjata tersebut mendarat, tubuh sang iblis kembali menghilang memanfaatkan teleportasi jarak dekat. Dengan kata lain, upaya Putri Duhsala dan Putri Rukmini menggiring sasaran ke arah Pangeran Vrihatkshatra nyatanya tak membuahkan hasil! 

“Awas!” Dari balik pilar nan menyala terang, Putra Mahkota Duryudhana berteriak cemas. Tiada ia menyangka bahwa dua tokoh akan meregang nyawa demikian cepatnya. Mungkinkah dirinya salah perhitungan!?

Sang iblis muncul tak jauh dari tempat di mana ketiga tokoh berada, dan di saat itu pula tiga halilintar merah melesat! 

“Duar! Duar!”

Dua anak panah berkekuatan Astra meledakkan dua dari tiga halilintar yang menyambar. Masing-masing anak panah berasal dari Jayadratha Raja Sindhu dan Putri Shikhandi di kejauhan. Keduanya berhasil menyelamatkan Putri Duhsala dan Putri Rukmini! 

“Plop!” 

Oleh sebab tak mendapat dukungan, Pangeran Vrihatkshatra yang terdesak mamasang gada hitam berduri di depan dada. Namun demikian, kejadian yang berlangsung berikutnya membuat segenap yang menyaksikan tertegun. Ketika bersentuhan dengan gada, serangan halilintar merah hilang tak berbekas seolah air yang diserap oleh sebentuk serabut raksasa! Penampilan gada tersebut pun telah berubah, di mana kini permukaannya mulus tanpa duri dan berbentuk selayaknya labu bulat maha besar nan berwarna keemasan.

“Jangan diam saja!” teriak Putri Rukmini sembari menghampiri. Adalah dirinya yang dititipkan dan membawa senjata pusaka tersebut oleh Basudewa Krishna. “Gada Kaumodaki sudah terbangun!” 

Alkisah, empat lengan Dewa Vishmu masing-masing memegang empat pusaka, yaitu: cakram, kulit kerang, bunga teratai, dan gada. Pusaka keempat tersebut bernama Gada Kaumodaki yang memiliki kesaktian maha digdaya. Siapa menyangka bahwa gada tersebut tetiba mengemuka!?

Sebelah lengan Pangeran Vrihatkshatra memutar-mutar gada ke atas dan bawah dengan entengnya. Senjata yang tadinya teramat berat, kini seolah merupakan bagian dari lengan. Ia pun merasakan aliran tenaga dalam murni yang berasal dari senjata besar tersebut. Shastra!

“Mundur!” perintah Putra Mahkota Duryudhana. “Bertahan!” 

Putri Duhsala mematuhi. Ia melirik kepada Putri Vrushali lantas keduanya melompat ke arah sekutu terdekat, yaitu Karna Raja Angga. Jayadratha Raja Sindhu pun mengikuti. 

Di sisi yang berseberangan, Putri Rukmini bersama Putri Shikhandi tiba di sisi Pangeran Vrihatkshatra. Sudut mata Putri Rukmini melirik kepada jasad Abhimanyu Putra Arjuna dan Putri Satyabhama. Lengah sedikit saja, maka nyawa menjadi taruhannya. 

Iblis Leraje kembali berada di tengah-tengah. Raut wajahnya tetap dingin setelah memangsa dengan mudah. Pun ia tak menunjukkan kekhawatiran sama sekali terhadap senjata pusaka Gada Kaumodaki yang dapat menyerap serangan halilintar merah miliknya. Demikian adalah keberadaan bangsa abadi yang dikenal sebagai iblis. Tak ada apa pun yang membuat mereka gentar!

“Aku akan menghadapinya seorang diri…,” Karna Raja Angga berujar masih menyilangkan lengan di depan dada. 

“Kau cari mati!” cibir Putri Duhsala.

“Penampilan kalian sangat menyedihkan. Menyingkirlah!” 

Langkahnya tegap mencerminkan tingkat percaya diri percaya diri nan tinggi. Perisai yang membungkus dadanya dan anting yang menggantung di kedua belah telinga cemerlang memantulkan berkas cahaya dari formasi segel yang menaungi wilayah. Waktunya tiba bagi Karna Raja Angga unjuk kebolehan! 


Catatan:

(1) Episode 65 dan Episode 256

(2) Ilustrasi Iblis Leraje adalah sebagaimana berikut ini. Versi ini diambil dari suatu tempat di dunia maya…