Episode 437 - Sang Dalang



Mentari petang hari itu bersembunyi di balik gugusan awan yang mengepul kelabu. Sinarnya sulit menerobos, namun semua tahu bahwa ia ada dan tak pernah ke mana-mana. Sebuah lorong dimensi ruang membuka dan rombongan tiga perempuan melompat keluar. Yang terdepan dan pertama mendarat adalah seorang perempuan setengah baya, disusul kemudian oleh dua perempuan dewasa. 

Sesungguhnya Mayang Tenggara masih malu hati kepada Balaputera Sukma. Anak menantu perempuan mana yang pada kesempatan pertama bertemu muka, malah menantang sang ibu mertua dalam pertarungan…? Akan tetapi, perasaan malu tersebut mengalahkan perasaan cemas yang mendera di lubuk hati. 

Tak membuang-buang waktu, setelah mengetahui jati diri masing-masing, Mayang Tenggara dan Balaputera Sukma yang didampingi Balaputera Samara menempuh perjalanan bersama-sama. Ketiga perempuan tersebut kini mengangkasa. Mereka lantas melesat cepat menuju puncak Gunung Siluman Perahu. Tak berselang lama, ketiganya memasuki wilayah sebuah kerajaan siluman. Hujan rintik-rintik menemani kedatangan mereka. 

“Selamat datang, wahai Yang Terhormat Balaputera Sukma dan Datu Tengah Balaputera Samara. Sungguh sebuah kehormatan bagi kami menerima kehadiran para pembesar dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” sambut seorang lelaki dewasa. Wajahnya tampan berseri, namun ukuran tubuhnya terbilang kecil sebagai siluman sempurna penguasa sebuah kerajaan. Kepada Mayang Tenggara yang berdiri di belakang, ia menatap lalu menganggukkan kepala. 

Bagi Kerajaan Siluman Gunung Perahu, Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan kekuatan yang teramat besar. Dari segi wilayah dan kekuatan tempur, dua pihak tersebut ibarat seekor kunang-kunang di hadapan sang rembulan.

“Adalah kami yang patut menghaturkan ungkapan terima kasih yang teramat besar kepada Yang Mulia Raja Bangkong IV. Tiada mampu kami membalas budi Yang Mulia Raja Bangkong IV karena sudah bersedia memberikan atap tempat bernaung kepada putra kami,” jawab Balaputera Sukma sembari menundukkan kepala. Balaputera Samara tersenyum ketika mengikuti tindakan sang ibunda. 

Raja Bangkong IV tersipu. 

Di lain sisi, Mayang Tenggara melotot kepada sahabatnya itu. Sorot matanya seolah meneriakkan perintah agar cepat sudahi basa-basi dan segera antarkan mereka. Seandainya saja tiba seorang diri, maka Mayang Tenggara tak akan membuang-buang waktu menyapa, apalagi menyanjung-nyanjung. 

Raja Bangkong IV tentu dapat membaca dengan akurat tabiat sang sahabat. “Silakan kepada Yang Terhormat Balaputera Sukma dan Datu Tengah Balaputera Samara,” Raja Bangkong IV merentangkan sebelah lengan, lalu melangkah berdampingan dengan Balaputera Sukma. Menyusul di belakang adalah Balaputera Samara dan Mayang Tenggara. 

“Yang Mulia Raja Bangkong IV sesungguhnya adalah sahabat Adinda Mayang Tenggara,” ujar Balaputera Samara. Sepertinya ia hendak mengangkat kebolehan adik iparnya. 

“Benarkah demikian…?” Balaputera Sukma seolah terkejut. Namun ia melanjutkan, “Kudengar bahwa Yang Mulia Raja Bangkong IV juga menempuh pendidikan di Ibukota Sastra Wulan. Akan tetapi, mengapakah kiranya berbeda adab…?”

Kedua alis Mayang Tenggara sontak berkedut. Kini terlihat seperti sepasang pedang yang siap menghunus. Suasana puncak gunung nan sejuk seketika berubah sedikit gerah. 

Mendengar sindiran sang ibunda, Balaputera Samara segera mengalihkan pembicaraan. “Wahai Yang Mulia Raja Bangkong IV, kakanda tertua kami Balaputera Ragrawira menyampaikan salam. Sungguh beliau hendak ikut bertandang, namun perihal di Kemaharajaan Cahaya Gemilang tiada bisa ditinggalkan.”

Raja Bangkong IV memutar tubuh dan menyibak senyum nan teramat lembut kepada Balaputera Samara. “Tiada mengapa, wahai Adinda…”

“Ehem…” Tetiba Mayang Tenggara berdehem sembari melotot. Baginya, gelagat Raja Bangkong IV di hadapan seorang janda cantik sungguh memuakkan. 

“Ti… Tiada mengapa, wahai Yang Mulia Datu Tengah Samara…,” ulang Raja Bangkong IV. “Pastilah menjaga keamanan wilayah seluas Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan tanggung jawab yang tak ringan.”

Keempat tokoh meneruskan langkah. Tak lama mereka tiba di hadapan sepasang daun pintu nan megah. Dua siluman sempurna Kasta Emas yang berjaga serempak membungkukkan tubuh lalu membukakan pintu. Di dalam ruang kamar nan terang dan luas, sebentuk tempat tidur kokoh berdiri di sisi jendela nan besar. Akan tetapi, seseorang yang terbaring di atas tempat tidur tersebut justru demikian lemah. Bahkan, aura kehidupan hanya samar terasa. 

Balaputera Sukma sontak memacu langkah. Ia segera duduk di sisi tempat tidur. Jemarinya nan lentik dan lembut tiada dapat menahan diri untuk tak menyeka rambut yang lebat. Tak ada berkas cedera pada tubuh, namun terbaring tak berdaya adalah putra bungsunya. Terakhir kali ia melihat sosok tersebut sudah sangat lama sekali, yaitu ketika dia masih sangat belia.

Balaputera Samara mengikuti. Kedua kelopak matanya lembab, dan sebulir air mata mengalir perlahan. 

Kedua bola mata Raja Bangkong IV terus menatap gerak-gerik Balaputera Samara sehingga wajahnya ikutan sendu, namun tetiba menyeringai kesakitan! Sikut Mayang Tenggara menohok di sisi lengan. Tak ayal dia sangat sebal karena harus menjaga adab, maka kepada Raja Bangkong IV kekesalan tersebut dilampiaskan. Di samping itu, ia tetap tak suka dengan cara Raja Bangkong IV menatap Balaputera Samara!

“Jangan macam-macam kau ya, Ceceb…,” bisik Mayang Tenggara dengan nada penuh ancaman. 

Balaputera Sukma perlahan bangkit berdiri, namun pandangan matanya tak lepas dari Balaputera Ragrawira yang tak sadarkan diri. Jemari di kedua tangannya bergerak tangkas saat merapal formasi segel yang serta-merta melingkupi tubuh sang ananda. Sungguh unik formasi segel tersebut. Andai saja Bintang Tenggara saat ini hadir di tempat itu, maka ia akan menemukan sebuah kebetulan yang langka di mana formasi segel tersebut sangatlah mirip dengan yang pernah dia ciptakan.

Balaputera Sukma mengamati formasi segel yang dirapal dan raut wajahnya sejenak menunjukkan keterkejutan. “Jiwanya sedang tak berada di dalam raga…,” tetiba ia berujar pelan. “Di tempat lain…”

“Apa!?” Mayang Tenggara yang sebelumnya berusaha keras untuk tampil semanis mungkin, sontak melangkah maju. Kata-kata Balaputera Sukma sungguh sulit dipercaya, namun di saat yang bersamaan memberikan petunjuk mengapa sang suami yang tak menderita cedera dalam bentuk apa pun, malah tergolek lemah dan tak sadarkan diri. 

Balaputera Sukma menghela napas panjang lalu menatap kepada Mayang Tenggara. “Apa yang terakhir kali Wira kerjakan…?”

“Dia melakukan apa yang biasa dia lakukan…,” jawab Mayang Tenggara. 

“Sebagai istri, dikau tiada mengetahui apa yang dia lakukan…?” Sebelah alis Balaputera Sukma meninggi. Menyadari tingkat keahlian Mayang Tenggara yang demikian perkasa, sulit baginya memahami jikalau menantunya itu tak mengetahui apa-apa.

Mayang Tenggara hanya diam. 

“Dikau benar,” lanjut Balaputera Sukma. “Kemungkinan besar Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa lebih mengetahui… namun beliau sedang bepergian…”

“Apakah tiada petunjuk lain…?” sela Raja Bangkong IV sembari melangkah mendekati Balaputera Samara. Raut wajahnya prihatin sangat.

Balaputera Sukma menggelengkan kepala. Pedih hatinya tak bisa melakukan apa-apa bagi sang ananda. “Jadi, menurut kalian Wira senantiasa melakukan sesuatu yang hanya dirinya ketahui…?” simpulnya pelan. 

Raja Bangkong IV mengangguk cepat. Namun seberkas keraguan terbersit dari raut wajah Mayang Tenggara. 

“Bila demikian adalah keadaannya, bukankah sesuatu sepantasnya terjadi karena Wira tak lagi menjalankan perannya…?”

“Tentang hal itu…” Mayang Tenggara masih terlihat ragu. Ia lantas menoleh kepada Balaputera Samara. “Mohon maafkan Wira, tetapi ia sempat mengembankan sebagian tugas kepada muridnya…”


===


“Plok… Plok… Plok… Tampaknya para bidak telah berkumpul semua…,” ujar Putra Mahkota Duryudhana alias Balaputera Khandra. Sang dalang telah tiba!

Ghatotkatcha Putra Bhima dan Putri Rukmini serempak menarik diri, demikian pula dengan yang lainnya. Kubu Pandawa yang tadinya berdiri terpencar-pencar, sontak berkumpul bersama. Ancaman yang datang teramat nyata!

Kubu Kurawa sontak menghampiri junjungan mereka. Hanya Karna Raja Angga yang mendekati Sangkuni Raja Gandhara. 

“Ada apa sebenarnya…?” bisik Karna Raja Angga. 

“Aku masih belum pasti. Tapi sebentar lagi akan terkuak…,” tanggap Sangkuni Raja Gandhara

Dari gelagat dua tokoh tersebut, maka sudah dapat diperkirakan siapa sesungguhnya jati diri mereka. 

Putra Mahkota Duryudhana menyentak perlahan tali kemudi kuda. Kereta perangnya bergerak dan kini berada tepat di antara kubu Pandawa dan Kurawa. Menjadi pusat perhatian, ia lantas mengangkat lengan perlahan ke depan wajah dengan jemari telunjuknya mengacung ke atas. Segenap yang hadir bertanya-tanya di dalam hati. 

“Cukup sudah pemanasan kalian. Sekarang, lihatlah sang rembulan purnama…,” ujarnya kemudian.

Tentu tak ada satu pun yang menyempatkan diri mengamati sang rembulan karena sebelumnya sibuk bertarung. Alangkah terkejutnya mereka ketika mendongak dan menyaksikan bahwa terdapat wilayah merah yang menyebar dari bagian tengah permukaan rembulan. Sudah sekira tujuh puluh lima persen bagian bulan berubah warna. Yang lebih mencengangkan lagi, adalah aura mencekam yang terasa menjalar dari atas sana!

“Itu bukanlah rembulan purnama, melainkan cikal-bakal lorong dimensi antar dunia,” lanjut Putra Mahkota Duryudhana. “Bilamana seluruh bagian rembulan palsu itu tertutup, maka sebuah lorong dimensi antar dunia akan membuka!” 

“Apa hubungannya dengan Perang Kurukshetra…?” aju Putri Duhsala. 

Belum sempat Kurawa Kesatu itu menjawab, tetiba permukaan sang rembulan seolah membelah merekah… 

“BELEDAR!”

Suara yang menggelegar membuat jantung seperti berhenti berdetak dan darah bak menggelegak. Jauh tinggi di angkasa, pada permukaan merah sang rembulan palsu muncul bayangan gelap akan sesuatu. Dan seketika itu jua, dapat pula dirasakan hawa membunuh yang demikian digdaya! 

Itu bukanlah suara halilintar biasa! Ada sesuatu di atas sana yang hendak menerobos keluar! Sampai setakat ini, semua dapat memahami.

“Tidak ada kaitannya sama sekali…,” lanjut Putra Mahkota Duryudhana seolah tak ada kejadian apa-apa. “Jika kalian ingin ikut serta dalam Perang Kurukshetra, silakan saja. Akan tetapi, sang rembulan palsu, gerbang dimensi antar dunia itu, adalah alasan dunia ilusi ini diciptakan. Tidakkah kalian ingin mengetahui rahasia di baliknya…?”

“Bagaimana dapat kami ketahui bahwa ini bukan siasat kalian…?” teriak Putri Rukmini. Kecurigaannya sangatlah beralasan.

“Tanyakan saja kepada mereka…,” tanggap Putra Mahkota Duryudhana ringan. Jemarinya kini menunjuk kepada Ghatotkatcha Putra Bhima lalu kepada Ulupi Nagaradja.

Kedua tokoh yang dimaksud masih mendongak. Raut wajah keduanya kusut, bahkan cemas. Sebagai warga Kemaharajaan Cahaya Gemilang, tentu saja Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga menyadari makna yang tersirat. Kejadian yang sedang berlangsung ini serupa dengan apa yang biasa terjadi pada lapisan langit di atas Ibukota Minangga Tamwan! (1)

Putra Mahkota Duryudhana kemudian menoleh kepada tokoh lain yang berdiri tak terlalu jauh. Di sana, Sangkuni Raja Gandhara menatap balik walau di dalam benak dia sedang menghitung sejumlah kemungkinan. Sampai pada satu titik, benak tokoh tersebut merujuk kepada beberapa fakta, antara lain: rentang waktu di mana seorang tokoh senantiasa menghilang bak ditelan bumi, kemampuan menyegel kasta keahlian diri sendiri, serta kemunculan seorang murid. Kesemuanya berujung kepada sang ayahanda, Balaputera Ragrawira!

“Kau datang mewakili gurumu, tapi tak cukup mampu untuk menuntaskan tugas seorang diri…,” ledek Sangkuni Raja Gandhara. “Sehingga mengumpulkan bidak-bidak untuk membantu…”

“BELEDAR!” 

Suara menggelegar kembali terdengar. Akan tetapi, kali ini sangat berbeda. Bersamaan dengan suara tersebut, halilintar berwarna merah menyambar dari sang rembulan. Hawa membunuh demikian kental dan terdapat niat untuk membinasakan. Sasarannya adalah… Putra Mahkota Duryudhana!

Langit bergetar dan bumi bergegar, sigap sang Kurawa Kesatu melompat menghindar. Sambaran halilitar menyebabkan ledakan nan demikian digdaya. Setelah menghindar, Putra Mahkota Duryudhana kemudian mendarat di sisi Sangkuni Raja Gandhara. Karena berlangsung di luar perkiraan dan terpaksa menyelamatkan diri, tampaknya ia melupakan satu hal…

Semua yang menyaksikan terkesima! Sebuah kawah tercipta di tempat di mana kereta perang nan mewah lagi megah milik Putra Mahkota Duryudhana hancur menjadi berkeping-keping. Ketika debu yang mengepul akhirnya surut, terlihat sosok tubuh yang sedang menaungi tubuh yang lain! 

“Tuan Kekar!” teriak Pangeran Wyudharu sambil melesat datang. 

Sungguh pemandangan yang mengenaskan. Sambaran halilintar merah yang menghacurkan kereta perang membuat sisi belakang tubuh Tuan Kekar hangus, dan dia sudah tak lagi bernyawa! Kendatipun demikian, jasadnya masih kokoh melindungi Si Kumal sehingga sepenuhnya terbebas dari serangan. Di saat terdesak, kiranya Tuan Kekar memutuskan untuk melindungi daripada menyelamatkan diri!

“Ups… Berkurang sudah kekuatan tempur kita…,” gerutu Putra Mahkota Duryudhana kepada diri sendiri. Sama sekali tiada terbersit penyesalan dari raut wajahnya. 

“Tentu kau tahu bahwa aku tak akan memberikan uluran tangan mengatasi makhluk yang akan keluar dari atas sana. Aku bukan bidakmu…,” cibir Sangkuni Raja Gandhara.

Di saat keduanya berbincang-bincang, Pangeran Wyudharu memindahkan tubuh Tuan Kekar yang sudah tak bernyawa dan memeriksa tubuh lemah Si Kumal. Walaupun dilindungi dari sambaran halilintar merah, cedera yang disebabkan oleh Ghatotkatcha Putra Bhima sudah terlampau parah. Dengan kata lain, sia-sia sebenarnya pengorbanan Tuan Kekar. 

Kendatipun demikian, Pangeran Wyudharu belum hendak menyerah. Ia lantas membawa tubuh Si Kumal menuju kereta perang yang sebelumnya membawa Jayadratha Raja Sindhu dan Karna Raja Angga. Kereta perang kosong itu terparkir cukup jauh. Kali ini ia akan membawa pergi tubuh Si Kumal untuk mencari perawatan. 

“Kau hendak ke mana…?” cegat Putra Mahkota Duryudhana yang tetiba muncul di depan kereta. “Aku membutuhkanmu… Biarkan saja tokoh bukan siapa-siapa itu mati. Toh, sesungguhnya dia baik-baik saja. Jiwanya akan kembali ke tubuh asli di geladak Lancang Kuning.”

Tampaknya Putra Mahkota Duryudhana belum menyadari jati diri Pangeran Wyudharu dan Si Kumal. 

“Hrraaagghhh….”

Tetiba suara mengerang terdengar menyanyat jiwa. Datangnya dari sang rembulan palsu, yang mana keseluruhan permukaannya sudah berubah semerah darah. Permukaan rembulan merah terlihat berlubang kecil tepat di bagian tengah! 

“Bersiaplah!” teriak Putra Mahkota Duryudhana melompat pergi karena keadaan kini sudah sangat mendesak. “Kita perlu meredam kekuatannya!”

Hawa membunuh yang jauh lebih kental daripada biasanya menyeruak dari celah rembulan merah. Saking kentalnya hawa membunuh, tubuh mereka yang menyaksikan dibuat kaku, dan gemetaran secara bersamaan!

“Ghatotkatcha, Ulupi, Sangkuni, Wyudharu… berpencar sejauh mungkin!” teriak Putra Mahkota Duryudhana. Kedua tangannya lincah merapal formasi segel. 

Kecuali Ginseng Perkasa, setiap bangsawan Wangsa Syailendra Trah Balaputera mengenali setiap simbol dan susunan formasi segel yang sedang dirapal, yang tak lain adalah Formasi Segel Cahaya Gemilang!

Sebagai pengingat, formasi Segel Cahaya Gemilang sembilan penjuru pernah dikerahkan oleh sembilan Datu Besar di lapisan langit di atas Ibukota Minangga Tamwan. Formasi segel tersebut memiliki kemampuan untuk membatasi ruang gerak serta tenaga sejati makhluk nan mengerikan. 

Perlahan, lubang pada permukaan rembulan merah membuka semakin lebar. Keadaan semakin genting!

“Cih!” Sangkuni Raja Gandhara yang sebetulnya tak hendak terlibat menggeretakkan gigi. Namun kini ia turut bergerak menjaga jarak sembari mulai merapal formasi segel. Tampaknya tokoh tersebut menyadari akan bahaya besar yang mengancam jikalau makhluk dari atas sana dibiarkan leluasa!

Ghatotkatcha Putra Bhima dan Ulupi Nagaradja sudah berpencar cukup jauh. Pun keduanya rampung merapal formasi segel. Dengan demikian, empat pilar cahaya yang berwarna putih membumbung tinggi ke angkasa. Indah sekali pemandangan yang mengemuka. Suasana petang jelang malam berubah terang, ibarat siang hari di mana sang mentari bersinar terik. Di dalam setiap pilar cahaya, keempat tokoh terlihat melayang ringan dan terus menjaga kelangsungan formasi segel. Mereka memainkan peran yang diemban dengan sangat baik.

Di antara pilar-pilar tersebut, kemudian terbentuk pula dinding cahaya yang menaungi wilayah di mana kubu Pandawa maupun Kurawa yang lain berada. Dengan kata lain, mereka kini terkurung di dalam wilayah persegi yang beradius beberapa puluh meter. Cukup luas wilayah formasi segel yang dibangun.


Catatan:

(1) Episode 211