Episode 436 - Para Bidak



Dua kereta perang nan maha megah lagi mewah melesat berdampingan. Kecepatan keduanya membuat tanah menyeruak dan debu mengepul tinggi. Masing-masing kereta perang ditarik oleh rangkaian enam ekor kuda pilihan yang berasal dari bibit unggul dan tumbuh melalui perawatan terbaik. Ukuran tubuh mereka besar dan tinggi dengan otot-otot yang sekeras batu. Menyaksikan kuda-kuda tersebut, bahkan tak berlebihan bilamana dikatakan bahwa mereka mampu melindas seekor gajah seandainya berdiri melintang di hadapan jalur mereka. 

Kereta perang di kanan memuat seorang lelaki setengah baya, sedangkan kereta perang di kiri seorang lelaki dewasa. Keduanya memiliki kumis dan janggut yang subur dan lebat serta mengenakan semacam mahkota di kepala. Tubuh mereka tinggi dan tegap dilapisi pakaian zirah yang tampil mengkilap tanpa cela serta menyibak aura nan perkasa. Sekali pandang saja dapat disimpulkan bahwa kedua sosok tersebut bukanlah tokoh biasa-biasa saja, bahkan sesungguhnya merupakan dua bangsawan terkemuka. Di samping itu, keduanya menunjukkan tingkat kemahiran yang sangat tinggi dalam memacu kuda, dan oleh karenanya tiada memerlukan kusir. 

Sambil memegang tali kendali kuda, tokoh lelaki dewasa menatap sang rembulan purnama. Raut wajahnya sedikit berubah tatkala mencermati titik kecil berwarna merah di tengah permukaan rembulan merambah semakin luas. Namun demikian, perubahan raut wajah tersebut hanya berlangsung sejenak karena ia kembali memusatkan perhatian dalam memacu kuda. 

“Hyah!” teriak lelaki dewasa itu memberi perintah sembari menyentak tali kendali.

“Apa yang hendak kau capai dengan meninggalkan peperangan di malam hari seperti ini…?” ujar lelaki setengah baya di kereta perang sebelah. Posisi kereta perangnya kini sedikit tertinggal, bukan karena ia melambat namun karena kereta perang di sebelah secara nyata menambah kecepatan. 

Lelaki dewasa hanya menyunggingkan senyum di sudut bibir yang terlindung oleh jambang nan lebat. Ia lantas menjawab, “Hasil dari peperangan tiada bisa ditentukan, sama halnya seperti permainan dadu. Bahkan Bhisma Yang Agung pun bisa mati…”

“Jangan kau samakan aku dengan tokoh yang terluka oleh seorang bocah dan mati karena tak bersedia melawan perempuan…”

Kedua kereta perang nan maha megah lagi mewah kembali melesat berdampingan.

“Permainan apa yang sedang engkau gulirkan…? Aku tahu engkau sudah mengumpulkan bidak. Tak lama lagi rahasia yang kau simpan akan terbongkar…,” lanjut lelaki setengah baya. 

“Memahami rahasia kehidupan berarti juga memahami bentuk nyata dari penciptaan itu sendiri. Memasukkan kepalan tangan ke dalam arus Sungai Gangga, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Tetapi jika kita membuka telapak tangan di arus Sungai Gangga, maka air suci akan dapat dinaikkan hingga ke kepala.”

“Hahaha…,” gelak lelaki setengah baya. “Aku rasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengutip kata-kata bijak, terlebih lagi bila kata-kata itu berasal dari Basudewa Krishna.”

Raut wajah lelaki dewasa terlihat setenang langit di malam itu. Hanya dengan kalimat-kalimat kutipan saja, dengan mudahnya ia mengalihkan pokok pembicaraan. Tak hendak dikejar dengan pertanyaan susulan, ia lantas memacu kuda lebih cepat lagi. 

Perjalanan mereka membelah malam pun berlanjut tanpa ada pertukaran kata-kata. Tampaknya yang lelaki dewasa sangat terburu-buru. 

“Sraak!” 

Tetiba kereta perang di depan, yang dikendalikan oleh lelaki dewasa, mengerem mendadak. Tapal kaki kuda mengangkat tanah karena dipaksa berhenti, serta membuat kereta perang terombang pelan. Kereta perang di belakang terkejut namun masih sempat membanting tali kendali untuk mengubah arah demi menghindari tabrakan. 

“Apa yang terjadi!?” sergah tokoh lelaki dewasa di atas kereta perang kepada seseorang bertubuh pendek dan kekar di pinggir jalan. Dia terlihat sedang membawa rekannya yang menderita cedera berat. Sungguh pemandangan tak lazim di hutan pada malam hari.

Sosok yang ditanya hanya membalas dengan tatapan kosong. Pun tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. 

“Cepat! Bawa dia naik!” ujar lelaki dewasa di atas kereta perang. Tangannya menunjuk bagian tengah kereta perang, di mana sang pemilik biasa berdiri di kala pertempuran. 

Tuan Kekar tak segera mematuhi. 

“Jikalau ingin menyelamatkan jiwanya, maka tak ada pilihan lain!” 

Tuan Kekar menatap Si Kumal. Napasnya lelaki dewasa muda itu sudah tak lagi beraturan, bahkan setiap tarikan napas terlihat seperti tersedak. Jikalau tak mendapatkan pertolongan, maka tokoh tersebut akan meregang nyawa dalam waktu dekat. Menyaksikan keadaan penuh nestapa, Tuan Kekar melompat naik ke atas kereta perang. Ia rebahkan tubuh Si Kumal perlahan. 

Kedua kereta perang nan maha megah lagi mewah meneruskan perjalanan.


Pertempuran tak berlangsung sesuai harapan. Di kala kubu Kurawa menyerang, Ghatotkatcha Putra Bhima pun merangsek maju. Lawan yang seharusnya ia hadapi adalah Jayadratha Raja Sindhu, namun dia malah mengincar Karna Raja Angga! 

Putri Rukmini mendecak lidah, padahal jika tetap bertahan mereka sepantasnya lebih unggul. Walau, perlu diakui bahwa kesempatan Ghatotkatcha Putra Bhima menumbangkan Karna Raja Angga adalah dalam pertarungan satu lawan satu. Oleh sebab itu, ia tak hendak membuang-buang tenaga untuk menghentikan tindakan ceroboh rekannya. Terlebih lagi, saat ini ia sudah disibukkan oleh serangan jarak dekat dan bertubi dari Putri Duhsala. Demikian pula dengan Putri Satyabhama, yang harus bekerja keras menjaga jarak dari tusukan-tusukan tombak bermata tiga milik Putri Vrushali. 

Di lain pihak, Ulupi Nagaradja terlibat pertarungan imbang dengan Pangeran Wyudharu. 

“Brak!” 

Tubuh Jayadratha Raja Sindhu terpukul mundur oleh tendangan Pangeran Vrihatkshatra!

“Bodoh!” teriak Putri Duhsala sambil berkelit ke samping. “Jangan terlibat pertarungan jarak dekat!” 

Hati Putri Duhsala kesal bukan kepalang. Bagaimana mungkin Aji Pamungkas nekat menghadapi Panglima Segantang dalam pertarungan jarak dekat!? Walaupun tak dalam keadaan prima, Pangeran Vrihatkshatra tentu jauh lebih piawai dalam pertarungan jarak dekat menghadapi Jayadratha Raja Sindhu! Akan tetapi, di saat itu pula Putri Duhsala menyadari sebuah kesempatan emas. 

“Ikuti aku!” Tetiba Putri Duhsala memberi aba-aba kepada Putri Vrushali, Pangeran Wyudharu dan Jayadratha Raja Sindhu. Serempak mereka mundur dan memutar arah untuk mengubah sasaran. Kesemuanya menyadari bahwa saat itu adalah kesempatan terbaik untuk membokong Ghatotkatcha Putra Bhima yang memisahkan diri dari kelompoknya! 

Pertempuran berlangsung maju-mundur layaknya sebuah permainan galasin. Bagi sebagian orang akan terkesan membosankan, namun bagi mereka yang piawai merupakan kegiatan yang sangat seru dan menantang! Dalam kaitan ini, taktik dan pengambilan keputusan yang tepat merupakan penentu kemenangan. Kekuatan dan kecepatan bukanlah segalanya. 

Putri Rukmini mengetahui akan hal tersebut, pun menyadari bahwa dalam babak permainan ini dirinya dalam keadaan tertinggal dari Putri Duhsala. Kendatipun demikian, ia tak mengejar bukan karena tak mampu… 

“Duar! Duar! Duar!” 

Hujan anak panah tetiba mengguyur anggota kubu Kurawa yang berkumpul dan sedikit lagi mencapai Ghatotkatcha Putra Bhima dari arah belakang. Kehadiran serangan mendadak tersebut membuat kesemuanya sontak melompat dan berpencar. 

Karna Raja Angga sedang berkelit lincah dari terkaman Ghatotkatcha Putra Bhima ketika ia merasakan ancaman datang dari arah samping. Sebilah anak panah dengan kekuatan Astra melesat dan mengincar titik vital sehingga memaksa dirinya mengelak. Anak panah tersebut berhasil membuatnya lengah dan waktu singkat yang tercipta memungkinkan peranakan rakshasa berhasil mendaratkan hantaman!

Kubu Kurawa kembali berkumpul di dekat tempat di mana Karna Raja Angga mendarat setelah terpental. Kendati tak menderita cedera berat, raut wajah tokoh tersebut terlihat kesal. 

“Dan kau masih tak mau ikut bertarung…?” sindir Putri Duhsala. Kata-katanya sengaja diutarakan untuk menabur garam di atas luka.

“Apa gunanya aku bertarung bila kalian hanya akan membebani…,” tukas Karna Raja Angga dingin. 

“Siapa sebenarnya dia!?” sergah Putri Duhsala kepada Putri Vrushali. Sebelum ini ia menghormati dan sengaja tak memaksa rekannya mengungkapkan jati diri sebenarnya Karna Raja Angga. Mungkin ada alasan tertentu yang menyebabkan Putri Vrushali bungkam. Akan tetapi, kelakuan Karna Raja Angga sudah tak dapat ditolerir lagi. Sebagai sesama kubu Kurawa, adalah sepantasnya Karna Raja Angga ikut membantu menghadapi kubu Pandawa.

“Ada masalah lain yang lebih mendesak…,” tanggap Putri Vrushali. Sorot matanya memandang ke arah lain. 

Dua sosok mengemuka dari balik bayangan malam. Yang satu adalah seorang pemuda sedangkan satunya lagi perempuan dewasa muda. Yang pemuda adalah sosok berbakat di mana pada Perang Kurukshetra hari pertama mencederai Panglima Perang Pithamaha Bhisma Putra Gangga, yaitu Abhimanyu Putra Arjuna. Sementara yang perempuan dewasa muda adalah ksatria perkasa yang pada hari ke-10 nanti malah menjadi penyebab kematian Panglima Perang Pithamaha Bhisma Putra Gangga! Benar, perempuan dewasa muda itu tak lain adalah Putri Shikhandi, atau yang lebih dikenal sebagai Srikandi!

“Jangan kalian ikut campur!” bentak Ghatotkatcha Putra Bhima kepada dua tokoh Pandawa yang baru tiba. Ia mengetahui bahwa Putri Shikhandi melepaskan anak panah untuk melindungi dan tembakan Abhimanyu Putra Arjuna memberikan kesempatan baginya mendaratkan serangan di tubuh Karna Raja Angga.

“Puyuh Kakimerah dan Embun Kahyangan…,” bisik Putri Vrushali mengacu kepada dua tokoh tersebut. 

Tak perlu pikir panjang untuk menyadari bahwa keadaan kini berbalik. Kehadiran dua tokoh baru membawa kubu Pandawa berada di atas angin. Akan tetapi, Putri Duhsala menyadari sebuah kelemahan mendasar di kubu lawan. Ia lantas berujar dengan suara lantang, “Bagaimana kalau kita selesaikan pertikaian ini melalui pertarungan satu lawan satu!? Pemenang pertarungan berhak melanjutkan ke pertarungan menghadapi lawan berikutnya!”

“Heh! Kau kira kami bodoh…?” tanggap Putri Rukmini. “Tak ada keuntungannya bagi kami bertarung satu lawan satu menghadapi kalian! Kami bahkan tak perlu melanjutkan pertarungan untuk meraih kemenangan!”

“Setuju!” sela Ghatotkatcha Putra Bhima sembari melangkah maju. “Aku yang akan tampil pertama dan seorang diri membungkam kalian!”

Sebentuk senyuman menghias di sudut bibir Putri Duhsala. Umpan ditelan mentah-mentah. Ia mengetahui bahwa kelemahan kubu Pandawa justru terletak pada tokoh yang paling tangguh di antara mereka. Siapa pun itu yang menumpang di tubuh Ghatotkatcha Putra Bhima, dia gemar bertarung. Kendatipun demikian, tokoh-tokoh lain memang tak dapat dipandang sebelah mata, salah satunya Putri Shikhandi…

“Duar! Duar! Duar!”

Anak-anak panah kembali menghujani. Satu anak panah yang dilepaskan berpencar menjadi puluhan anak panah Astra yang tiada dapat diredam. Kubu Pandawa, bahkan Karna Raja Angga, terpaksa berpencar demi menghindar. Tak ayal, serangan tersebut datang dari Putri Shikhandi yang berbuat sekehendak jiwa!

“Srash!” 

Terjangan ombak unsur kesaktian air melibas ke dua sisi berbeda. “Kalian diam di tempat!” sergah Ulupi Nagaradja yang memaksa Putri Shikhandi bertahan dan membuat langkah Ghatotkatcha Putra Bhima terhenti.

Ghatotkatcha Putra Bhima melotot. Putri Shikhandi tak menjawab, namun ia menanggapi dengan membidik busur ke arah Ulupi Nagaradja! 

Kepala Putri Rukmini dibuat pening. Ghatotkatcha Putra Bhima, Ulupi Nagaradja, serta kini Putri Shikhandi memang tak bisa diarahkan. Untunglah Pangeran Vrihatkshatra sedang dalam keadaan lelah, jika tidak maka ada empat tokoh yang akan bertindak sesuka hati. Sungguh memalukan baginya yang kesulitan mengelola sekutu sendiri.

Di lain pihak, di dalam hati Putri Duhsala tertawa terbahak-bahak. Bila seperti ini, maka kubu Kurawa tak perlu susah-payah bertarung. Biarkan saja mereka di kubu Pandawa melemahkan diri sendiri. Hanya perlu sedikit dorongan saja bagi mereka membinasakan sesama rekan.  

“Atau, majulah yang paling kuat di antara kalian!” teriak Putri Duhsala menyiram minyak ke dalam kobaran api. Hanya dengan kata-kata, ia membuat Ghatotkatcha Putra Bhima, Ulupi Nagaradja, Putri Shikhandi, bahkan Pangeran Vrihatkshatra panas. 

“Canting Emas… Kau…” Putri Rukmini yang senantiasa tampil sabar menggeretakkan gigi. Ia tak lagi dapat menahan diri. 

“Hmph… Ataukah engkau yang paling perkasa, wahai Citra Pitaloka…?” ledek Putri Duhsala. “Majulah… Majulah sini…”

“Srek!” 

Putri Rukmini memperpendek jarak hanya dalam satu lompatan! Terpaut sekira lima langkah dari Putri Duhsala, tangan kanannya melepaskan tikaman kain sari!

Putri Duhsala berkelit ke samping, menusukkan katar di tangan kanan, lantas menebas dengan katar di tangan kiri. Serangannya cepat dan terarah. Lawannya merunduk, namun secara tiba-tiba sabetan datang dari arah bawah ke atas! 

“Trang!” 

Putri Duhsala menangkis dengan menyilangkan kedua katar di depan dada. Tanpa ia sadari, di saat melesat ternyata Putri Rukmini melepaskan kain sari di tangan kiri untuk memungut pedang panjang melengkung miliki Pangeran Vrihatkshatra yang tergeletak di tanah. Pedang tersebut sebelumnya terlempar karena dipaksa berhadapan dengan gada labu milik Tuan Kekar. 

Selanjutnya pertarungan di antara kedua tokoh perempuan berlangsung alot.

“Duak!” 

Sapuan kain sari disusul tebasan pedang dan diakhiri tendangan menyapu. Ibarat gelombang pasang, serangan beruntun terakhir menghantam bahu Putri Duhsala. Terdorong ke samping, Kurawa ke-101 itu menyadari bahwa sesungguhnya Citra Pitaloka merupakan petarung jarak dekat. Sengaja di dunia ilusi tersebut dia berpura-pura sebagai petarung jarak menengah dan sangat sabar untuk tak menunjukkan kebolehan sebenarnya. Sebagaimana dimaklumi, menyembunyikan kemampuan asli sampai saat yang tepat merupakan taktik tempur yang paling mendasar! 

Selain itu, Putri Duhsala baru menyadari satu hal lain yang lebih penting lagi. Sesungguhnya tindakan menyerang Putri Rukmini bertujuan untuk meredakan pertikaian di dalam kubu Pandawa. Dia bersandiwara seolah-olah lepas kendali, dengan demikian Ghatotkatcha Putra Bhima, Ulupi Nagaradja, serta Putri Shikhandi tak jadi saling serang!

Murid Utama Perguruan Gunung Agung semakin yakin dan percaya bahwa Murid Utama Sanggar Sarana Sakti bukan lawan yang dapat ditaklukkan dengan mudah. Kecerdasan, kekuatan serta kecepatan Canting Emas dan Citra Pitaloka dapat dikatakan berimbang. Kendatipun demikian, kedua pihak tak akan mundur barang selangkah pun!

“Plok! Plok! Plok!” 

Tetiba terdengar tepukan tangan pelan. Jarak dari satu tepukan ke tepukan berikutnya berlangsung lambat sehingga mencerminkan kekaguman. Karena perhatian terpusat pada pertarungan dua perempuan dewasa muda, segenap mereka yang hadir terlambat menyadari kehadiran dua tokoh lain. Adalah seorang lelaki setengah baya dan lelaki dewasa yang berdiri perkasa di atas dua kereta perang berbeda. 

Kedua tokoh tersebut adalah… Sangkuni Raja Gandhara dan Putra Mahkota Duryudhana!



Catatan:

Sabar, ya… Sedikiiiiit lagi…

Untuk mempermudah, berikut adalah tokoh-tokoh yang telah kita ketahui jati diri mereka: