Episode 435 - Perasaan Mencekam




Kata-kata Putri Vrushali terbukti benar. Hanya selang beberapa saat setelah Putri Duhsala menyarankan agar Kubu Kurawa mundur sementara, di kejauhan terdengar derap langkah kaki kuda. Dari suaranya, dapat dipastikan bahwa bukan satu atau dua ekor kuda saja, namun jauh lebih banyak!

Semakin lama suara derap langkah kuda terdengar semakin keras, bahkan menggetar tanah. Di bawah sinar temaram rembulan purnama, kemudian terlihat serangkaian kuda yang menarik sebuah kereta perang. Setidaknya ada delapan ekor kuda yang melecut cepat dan sungguh kehadiran kereta perang tersebut mengubah suasana. 

“Aku dataaang!” Terdengar pekik suara dari kejauhan. Tampak kusir kereta perang tersebut melambaikan sebelah lengan penuh semangat. 

Di sisi yang lain, Putri Duhsala menghela napas panjang, namun raut wajahnya tiada terlihat lega akan datangnya bala bantuan. Tampaknya tokoh yang datang tak memberikan ketenangan batin bagi dirinya. 

Tampil gagah dan perkasa, dua tokoh kubu Kurawa tiba bersama dengan kereta perang. Yang satu berperan sebagai kusir sedangkan satunya lagi berdiri di belakang. Keduanya datang langsung dari Padang Kurukshetra segera setelah perang hari pertama rampung. Sebagai kusir adalah Jayadratha Raja Sindhu yang merupakan suami dari Putri Duhsala, sedangkan penumpangnya adalah Karna Raja Angga yang tak lain adalah suami Putri Vrushali. Sebagaimana diketahui, Jayadratha Raja Sindhu tak lain adalah Aji Pamungkas, sedangkan Karna Raja Angga belum diketahui jati dirinya. Sungguh pelik, karena jelas-jelas Putri Vrushali mampu mencermati setiap tokoh dari Negeri Dua Samudera, namun tak mengenali siapa tokoh di balik tubuh Karna Raja Angga. 

“Istriku, bagaimana keadaan kalian!?” ujar Jayadratha Raja Sindhu sembari melompat dari kereta perang. Ia bersalto dua-tiga kali di udara sebelum mendarat tepat di hadapan Putri Duhsala. 

“Aku bukan istrimu!” cetus Putri Duhsala. “Dan kami baik-baik saja! Mengapa lambat sekali kalian!?” 

Karna Raja Angga dan Putri Vrushali saling pandang. Tak ada pertukaran kata-kata di antara mereka. Karna Raja Angga lantas menatap kepada kubu Pandawa di kejauhan. 

“Ini bukan saatnya berkelahi di antara kita! Lihatlah kubu Pandawa, kekuatan mereka bertambah!” Putri Rukmini menengahi perselisihan di antara Ghatotkatcha Putra Bhima dengan Ulupi Nagaradja.

Perselisihan serta-merta mereda, namun bukan karena kedua tokoh yang terlibat mengalah. Ghatotkacha Putra Bhima menatap lurus kepada Karna Raja Angga yang masih berdiri di atas kereta perang. Raut wajahnya berubah memerah padam. Baru kali ini sang peranakan rakshasa menunjukkan perubahan emosi. 

Semua yang berdiri di kubu Pandawa merasakan kegusaran Ghatotkacha Putra Bhima. Mereka menyadari kenyataan bahwa pada Perang Kurukshetra yang sebenarnya, Ghatotkacha Putra Bhima meregang nyawa pada malam hari ke-14 Kala itu, Ghatotkacha Putra Bhima menerobos masuk ke perkemahan Kurawa, mengamuk, serta membantai banyak sekali prajurit. Berbekal senjata pusaka pemberian Dewa Indra, kemudian Karna Raja Angga menjagal sang peranakan rakshasa! 

“Aku akan menumpas Karna Raja Angga sekarang juga!” Ghatotkacha Putra Bhima tiada dapat menahan diri. 

“Tunggu!” Putri Rukmini merentangkan lengan. “Kubu Kurawa lebih unggul, sedangkan Vrihatkshatra masih belum pulih!” 

Sungguh Putri Rukmini sulit percaya bahwa Pangeran Vrihatkshatra akan tunduk kepada tokoh tak dikenal seperti Tuan Kekar. Siapakah dia tokoh kuda hitam itu…? Kehadirannya tiada diperhitungkan, namun mampu memberi ancaman yang nyata. 

“Maka aku akan mengubah keunggulan mereka!” 

“Kau akan kesulitan menghadapi Karna, sedangkan Wyudharu dan Jayadratha masih sangat bugar. Tiga lawan satu, maka engkau akan memasuki pertempuran berat sebelah!” 

“Engkau dapat meredam Wyudharu dan Jayadratha…?” Ghatotkacha Putra Bhima mengalihkan pandangan. Ia berujar kepada Ulupi Nagaradja. 

“Tidak keduanya secara bersamaan,” tanggap putri siluman naga itu. Jawaban nan singkat dan padat menunjukkan bahwa ia dapat mengukur kemampuan diri sendiri bila harus berhadapan dengan dua lawan sekaligus. 

“Aku bisa menghambat Wyudharu….” Tetiba terdengar suara dari belakang. Pangeran Vrihatkshatra yang sedang beristirahat berupaya bangkit berdiri. Ia sudah menggengam busur di tangan kiri dan anak panah di tangan kanan. “Dalam pertarungan jarak jauh, aku masih mampu menghambatnya…”

“Tidak!” Tegas Putri Rukmini yang menyadari masih ada Tuan Kekar di kubu Pandawa. “Setidaknya kita perlu menahan mereka sampai lewat tengah malam nanti. Setelah itu, terserah kalian!” 

Ghatotkacha Putra Bhima tetap melangkah maju! 

“Hentikan langkahmu! Basudewa Krishna menugaskan kita untuk menahan mereka!” Sang putri menatap tajam. Kata-kata yang keluar dari mulutnya bukanlah permintaan, melainkan perintah!

Mendengar nama Basudewa Krishna diucapkan, Ghatotkacha Putra Bhima, Ulupi Nagaradja, Pangeran Vrihatkshatra terpaku si tempat. Ketiganya tak meneruskan niat beratarung, melainkan terpaksa menaati perintah. Mereka berdiri waspada menanti gempuran kubu Kurawa. Di lain sisi, Putri Rukmini menyadari bahwa saat ini keadaan mereka sedang terdesak. Bila kubu Kurawa menyerang, maka mereka tak akan sanggup bertahan lama. 

“Keuntungan jumlah berpihak kepada kita,” ujar Jayadratha Raja Sindhu. “Ayo, tunggu apa lagi…?” Ia pun melangkah maju. 

Kendatipun demikian, langkah maju Jayadratha Raja Sindhu tak dibarengi oleh tokoh-tokoh lain. Pangeran Wyudharu sedang sibuk merawat Si Kumal dan Tuan Kekar tampaknya sedang kehilangan semangat bertarung. Sementara itu, Karna Raja Angga terlihat melipat tangan di depan dada. Ia tak juga turun dari kereta perangnya. 

“Dari segi jumlah dan kekuatan, kita dapat menyingkirkan mereka…” Akhirnya Putri Duhsala angkat suara. “Wyudharu, nyawa Si Kumal tak terancam. Kita dapat merawatnya usai menumbangkan lawan.”

Pangeran Wyudharu menatap tubuh Si Kumal. Berdasarkan pemeriksaan cepat, kedua tulang lengan, beberapa tulang rusuk, serta tulang paha kanan patah. Bila diperiksa dengan lebih seksama, kemungkinan cedera yang dialami bisa lebih berat lagi! Sungguh Ghatotkacha Putra Bhima sama sekali tak memberi ampun. 

“Tuan Kekar,” bisik Pangeran Wyudharu. “Sebaiknya untuk sementara waktu kita ungsikan dia dari tempat ini. Berbahaya baginya bila terbawa masuk ke dalam pusaran pertempuran.” 

Tuan Kekar mengangguk, lalu membopong dan membawa pergi tubuh Si Kumal. 

“Kita lanjutkan pertempuran!” Semangat Putri Duhsala menggebu. Walaupun ia mengetahui bahwa Tuan Kekar merupakan salah satu kekuatan tempur yang mumpuni, tokoh tersebut pastinya sangat mengkhawatirkan sesama rekan dari Perguruan Budi Daya. Kendatipun tak ada Tuan Kekar, dengan kehadiran Jayadratha Raja Sindhu dan Karna Raja Angga, sesungguhnya kemenangan sudah berada di depan mata!

Kubu Kurawa melangkah maju dengan Putri Duhsala dan Putri Vrushali di baris depan, disusul Jayadratha Raja Sindhu dan Pangeran Wyudharu. Akan tetapi, Karna Raja Angga tiada bergerak barang selangkah pun dari atas kereta perang. Ia hanya berdiri diam dengan menyilang lengan di depan dada. 

“Ada apa…?” aju Putri Duhsala. 

“Dia tak akan ikut bertempur…,” tanggap Putri Vrushali pelan. 

“Hah! Mengapa!?” 

Kali ini tak ada jawaban yang keluar dari mulut Putri Vrushali. 

Putri Duhsala mendatangi Karna Raja Angga. “Ini adalah tugas penting yang harus diselesaikan sebelum tengah malam!” ujarnya menggeretakkan gigi. Ia menahan diri untuk tak berteriak agar tak didengar oleh kubu lawan. 

“Tugas…? Tugas kalian tak ada hubungannya dengan aku,” tanggap santai Karna Raja Angga. 

“Lalu, mengapa engkau datang ke tempat ini!?” 

“Aku hanya penasaran dengan apa yang kalian rencanakan…”

“Cih!” Putri Duhsala mendecak kesal. Di saat yang bersamaan raut wajahnya tiada dapat menyembunyikan kekhawatiran. Hatinya cemas, karena di tempat itu hanya Karna Raja Angga seorang yang dapat mengimbangi bahkan menumbangkan Ghatotkacha Putra Bhima!

Kedua kubu nan terpisah jarak kini diam terpaku di tempat. Keadaan tak menguntungkan melanda kubu Kurawa karena mereka tak dapat membuka serangan. Jikalau keadaan ini berlanjut, maka kubu Pandawa yang akan meraih kemenangan sebab tujuan mereka hanya menahan langkah lawan sampai lewat tengah malam. 

Putri Duhsala memutar otak. Benaknya mengukur dan menimbang. Tak lama kemudian ia mengambil selangkah maju sambil berujar, “Kali ini aku dan Vrushali akan menghadapi Rukmini, Satyabhama dan Vrihatkshatra. Wyudharu hadapi Ulupi dan Jayadratha tahan Ghatotkacha!” 

“Hah!? Kenapa aku yang menghadapi gergasi itu!?” Kedua bola mata Jayadratha Raja Sindhu melotot seolah hendak melompat.

“Karena engkau membawa tokoh yang tak berguna! Lagipula, bukankah engkau maha perkasa…? Kurasa tak akan sulit bagimu menumbangkan Ghatotkacha…” 

Pandangan mata Jayadratha Raja Sindhu beralih ke arah kubu Pandawa. Dari jauh saja terlihat betapa besar ukuran tubuh dan menekannya aura yang menyibak dari peranakan rakshasa itu. Sungguh dapat membuat keringat bercucuran dan dengkulnya bergetar.

Tanpa basa-basi dan aba-aba, Putri Duhsala dan Putri Vrushali serempak merangsek maju. Sesungguhnya siasat yang disusun sangatlah sederhana, yaitu menumpas Putri Rukmini, Putri Satyabhama dan Pangeran Vrihatkshatra secepat mungkin. Setelah itu, keduanya akan membantu Pangeran Wyudharu menumbangkan Ulupi Radjanaga. Terakhir, bertiga mereka akan membokong Ghatotkacha Putra Bhima. 

Kelemahan dari siasat ini adalah kemungkinan besar mereka terpaksa mengorbankan Jayadratha Raja Sindhu!


Malam semakin larut. Langit cerah berbintang, dengan sang rembulan purnama menggantung jumawa. Sorot kedua bola mata si Kumal memandang jauh tinggi ke angkasa ketika Tuan Kekar membawa tubuhnya nan tiada berdaya. Tak ada lagi sakit nan terasa, bahkan tak ada rasa sama sekali. Karena banyaknya jumlah cedera yang diderita, tubuhnya sudah mati rasa. Tenaga tak punya, bersuara pun ia sudah tiada kuasa. 

Tetiba, di atas langit sana sang rembulan memperlihatkan gelagat yang janggal. Jika dicermati dengan seksama, tepat di tengah permukaannya muncul satu titik kecil berwarna semerah darah. Samar dan perlahan, titik kecil tersebut merayap dan mulai merambah di permukaan sang rembulan purnama. Menyaksikan pemandangan tersebut, sekujur tubuh Si Kumal tetiba terasa dingin namun darahnya seolah menggelegak. Di saat itu pula, ia merasakan kedatangan hawa membunuh nan sangat mencekam mencoba merajam tubuh.

Perasaan seperti ini bukan kali pertama ia rasakan!