Episode 434 - Nagaradja



Pada suatu hari nan cerah di dalam masa pengasingannya, Pangeran Arjuna membersihkan diri di Sungai Gangga. Tanpa dia sadari, tetiba muncul ombak raksasa yang menggulung dan menarik tubuhnya ke dalam sungai suci tersebut. Dilibas gulungan ombak nan maha deras, Pangeran Arjuna tiada berdaya. Ia berupaya berenang melepaskan diri namun tiada hasil, sementara itu napasnya sudah tersedak dan menelan air. Jika tak dapat melepaskan diri dari dalam gelombang, maka ia tak akan memperoleh kesempatan menghirup udara segar lagi. Selamanya. 

Akan tetapi, pada detik-detik di mana Pangeran Arjuna hampir kehilangan kesadaran, ia merasakan kehadiran kekuatan yang melingkupi dan menarik tubuhnya, sekaligus meniupkan udara segar. Dalam keadaan yang serba cepat, ia pun menyaksikan kelebat sebuah gerbang yang yang sangat asing, dan membawa dirinya masuk ke dalam. 

Kesadaran Pangeran Arjuna kembali dan ia mendapati bahwa dirinya tidak lagi berada di Sungai Gangga. Betapa ia menyaksikan sebuah kubah transparan raksasa membentang tinggi di atas sana. Kubah nan kokoh tersebut berperan sebagai pelindung wilayah. Di sisi luar kubah, terlihat berbagai jenis binatang-binatang laut berukuran raksasa laut yang berenang perlahan. Segera sang pangeran menyadari bahwa dirinya kini berada di dasar lautan, dan bahwa dirinya dalam keadaan tiada mengenakan busana! 

Pangeran Arjuna nan telanjang bulat bangkit berdiri. Terlihat otot-otot di sekujur tubuhnya yang keras akibat tempaan kerasnya pertarungan demi pertarungan. Akan tetapi, kedua matanya terbelalak ketika menyaksikan di hadapannya sedang berdiri seorang putri. Tubuh bagian atasnya merupakan seorang perempuan dewasa muda nan cantik jelita berambut tergerai panjang, sedangkan tubuh bagian bawahnya merayap-rayap di tanah mirip dengan tubuh ular atau buaya yang bersisik. 

Sungguh menyeramkan. Yang lebih membuat terperangah, adalah tubuh bagian atas dari makhluk tersebut tiada mengenakan sehelai benang pun. Maka bergelayutan di dada, adalah sepasang payudara nan lembut dengan ukuran yang sangat pas, tiada terlalu besar dan tiada pula terlalu kecil. Bulir-bulir sesuatu di ujung kedua buah ranum tersebut berukuran mungil dan berwarna merah muda!

Pangeran Arjuna salah tingkah. Ia berupaya bertahan dengan menutupi bagian tubuh bukan otot nan sedang mengencang, serta membuang wajah agar tak terbuai akan kemolekan di hadapan mata. Kendatipun demikian, ia merasa bahwa mahkluk tersebut sangatlah tak asing. “A.. apakah dikau yang menyelamatkan diriku… dari… dari terjangan ombak besar di Sungai Gangga…?” Sedikit terbata-bata, Pangeran Arjuna akhirnya berhasil mengeluarkan suara. 

Makhluk setengah manusia dan setengah ular itu mengangguk. Akan tetapi, raut wajahnya terlihat sama kebingungannya dengan Pangeran Arjuna. Betapa tidak, dia sedang menyaksikan seorang lelaki dewasa muda yang sedang kesulitan menutupi bagian bawah perutnya sendiri. Agaknya berukuran sedikit lebih besar dari rata-rata lelaki, sehingga dua telapak tangan tak cukup untuk menyembunyikan. 

“Siapakah sesungguhnya dikau…?” lanjut Pangeran Arjuna setelah menenangkan diri. 

“Diriku adalah seorang ‘nagakanya’… Apakah penampilanku membuat dikau takut…?” jawab makhluk tersebut. 

Pangeran Arjuna tertegun. Benaknya berputar deras. Bagaimana mungkin dirinya takut terhadap sepasang payudara nan indah…? Terlepas dari itu, sepertinya ia pernah mendengar akan istilah nagakanya di kalangan bangsa naga. Jikalau ingatan tiada mengelabui, maka nagakanya berarti putri naga. Basudewa Krishna pernah berceritera tentang kerajaan siluman naga di dasar lautan. Oh, andai saja dirinya lebih memperhatikan ketika sang guru menyampaikan pengetahuan dan sari tauladan. 

“Hm…?” Sebelah alis sang nagakanya meninggi karena lawan bicaranya terlihat bimbang.

“Tidak! Sama sekali tidak!” tegas Pangeran Arjuna. “Bagaimana mungkin diriku takut kepada seseorang yang telah menyelamatkan jiwaku!?” 

Sang nagakanya tersenyum. Ia lantas meliuk mendekat. Lekuk perutnya demikian lembut dan pinggulnya walau pun bersisik tebal sangatlah menggoda. “Namaku Ulupi…”



“DUAR!” 

Ledakan kekuatan yang mendadak melibas Tuan Kekar dan Pangeran Wyudharu, sejatinya bukan sembarang ledakan. Berbeda dengan pengerahan tenaga dalam murni baik Astra maupun Shastra, serangan tersebut memuat unsur kesaktian air! Hal menggunakan unsur kesaktian alam seperti itu, merupakan sesuatu yang langka terjadi di wilayah Anak Benua! 

Tuan Kekar dan Pangeran Wyudharu serempak melompat mundur. Dari balik terjangan ombak air, kemudian muncul seorang perempuan dewasa nan cantik jelita. Sisi atas tubuhnya mengenakan pakaian zirah keemasan yang dihiasi ukiran-ukiran nan indah, memantulkan sinar rembulan purnama. Sedangkan sisi bawah tubuhnya mirip dengan ekor ular yang panjang bersisik tebal. Sosok yang baru hadir ini sangatlah indah, sekaligus demikian mengerikan!

“Siluman jalang!” sergah Pangeran Wyudharu. Betapa sebal ia karena kini pakaian zirahnya sendiri bersimbah basah. “Lawan kali ini akan sangat merepotkan!” 

Di lain sisi, di samping Pangeran Wyudharu kedua bola mata Tuan Kekar melotot, mulut menganga lebar.

“Sepertinya kini tiba waktu bagi kita bertarung dengan sepenuh hati…,” Pangeran Wyudharu bersiap. Busur di tangan kiri dan anak panah di jemari tangan kanan. 

“Nagakanya… putri siluman naga…” Bibir Tuan Kekar bergetar. “Aku… aku tak bisa menghadapi beliau…”

Pangeran Wyudharu menoleh pelan kepada Tuan Kekar. Baru kali ini ia menyaksikan bagaimana tokoh tersebut demikian takjub, bahkan terkesan… takut! 

“Beliau… beliau adalah Ulupi… Putri dari Kauravya…” 

“Cih! Kenapa memangnya…?” gerutu Pangeran Wyudharu. 

“Kauravya Nagaradja… adalah… adalah kakek buyutku….”



Si Kumal memiliki pemikiran yang sederhana. Ia sepenuhnya mengetahui bahwa dirinya bukanlah tandingan bagi Ghatotkatcha Putra Bhima. Tidak dalam hal kekuatan, serta tidak pula dari segi kecepatan. Namun demikian, Si Kumal memiliki satu hal penting yang tak disadari lawan. Ia memiliki… harapan!

“DUAR!” 

Telapak kaki peranakan rakshasa menginjak dan menggetarkan bumi. Saking kuatnya hentakan, sampai menyebabkan ledakan nan membahana. Pada detik-detik terakhir sebelum pijakan mendarat, Si Kumal melakukan lompatan harimau untuk menyelamatkan diri dan kemudian terpental akibat dorongan gelombang ledakan. Setelah bergelinding empat-lima kali di rerumputan, sigap ia bangkit berdiri dan meneruskan pelarian. Sedikit lagi! batinnya menyemangati diri sendiri. 

Ghatotkatcha Putra Bhima hanya berdiri diam menyaksikan mangsanya meneruskan upaya melarikan diri. Agaknya ia sudah dapat memperkirakan bahwa lawannya memang berniat mengulur-ulur waktu atau bahkan sengaja menggiring ke suatu tempat. Kendatipun demikian, sang peranakan rakshasa seolah memberi kesempatan agar sasaran tersebut mampu memberikan perlawanan yang berarti. Sungguh sikap nan sangat bertentangan dengan Balaputera Naga yang biasanya membungkam lawan secepat mungkin tanpa pandang bulu. Agaknya menumpang di tubuh digdaya tokoh seperti Ghatotkatcha Putra Bhima tiada memberi tantangan sama sekali, karena segala sesuatunya terkesan sangat mudah dicapai. 

Si Kumal menelusuri jalan setapak di kaki Gunung Girinagar. Berkali-kali ia melompat demi menyelamat diri dari pijakan telapak kaki sang pemburu. Tak berselang lama, mereka tiba di dekat sebuah pondok tua yang reyot. 

Benar. Itu adalah pondok reyot milik Kakek Govinda. Di tempat tersebut Si Kumal berlatih tenaga dalam murni bersama-sama dengan Sanjay selama beberapa waktu. Si Kumal menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia mencari-cari, lantas melompat masuk ke dalam pondok. 

“BRAK!” 

Kaki besar peranakan rakshasa meluluh-lantakkan pondok reyot dengan sekali injak. Untunglah Si Kumal sempat melompat ke luar. 

“Kakek! Kakek Govinda! Dimanakah dikau!?” pekiknya sekuat tenaga sembari meneruskan lompatan ke atas batu besar di mana biasanya Kakek Govinda duduk bersila dalam tapa. Raut wajahnya berubah sangat cemas. “Kakek Govinda!” 

Setelah bersusah-payah melarikan diri dari Ghatotkatcha Putra Bhima, kini harapan Si Kumal berubah hampa. Awalnya ia berharap dapat menemukan si kakek tua di sana. Dengan kemampuan nan digdaya, harapannya adalah Kakek Govinda akan dapat membantu menumbangkan Ghatotkatcha Putra Bhima. Namun temikian, tampaknya harapan tersebut hanyalah angan-angan kosong belaka. 

Tendangan Ghatotkatcha Putra Bhima seketika menghancurkan batu nan besar. Si Kumal melompat, namun tepat di saat mendarat, sudut matanya menangkap sebentuk telapak tangan menampar deras. Ia sudah tak mampu menghindar… 

“DUAR!”

Tetiba, menyeruak dari permukaan tanah, sebuah tembok nan kokoh membentengi tubuh. Tembok tersebut berasal dari unsur kesaktian tanah. Pada detik-detik terakhir tadi, Si Kumal memanfaatkan unsur kesaktiannya sebagai upaya bertahan. Kendatipun demikian, di hadapan Ghatotkatcha Putra Bhima nan maha digdaya, tembok pertahanan tanah tersebut terlihat seperti sekeping kerupuk yang renyah. Tamparan tangan peranakan rakshasa tiada dapat dibendung! 


Pangeran Wyudharu kewalahan. Walau diimbuh dengan tenaga dalam murni, setiap tembakan anak panah yang ia lepaskan tiada dapat menembus perisai air yang dikerahkan lawan. Di saat yang bersamaan pula, sang pangeran dipaksa menghindar dari belasan tombak-tombak air yang dilepaskan oleh siluman berwujud setengah manusia dan setengah ular, Ulupi Nagaradja!

Pangeran Wyudhari terpaksa bertarung seorang diri, karena di belakang sana Tuan Kekar hanya diam mematung. 

“Hoooiii! Sadarlah, bagaimana mungkin siluman itu adalah bebuyutanmu!” sergah Pangeran Wyudharu sembari melompat menghampiri rekannya. 

Walaupun berujar demikian, di dalam benak Ginseng Perkasa menyadari bahwa bukan tak mungkin perkawinan antar binatang siluman dengan binatang siluman lainnya berujung kepada keturunan di Negeri Dua Samudera. Sebagai bukti nyata adalah para Wangsa Syailendra dari berbagai trah. Mereka yang sampai saat ini hidup menetap dan bercampur-baur dengan penduduk asli Negeri Dua Samudera, dahulunya merupakan keturunan yang berasal dari wilayah Anak Benua. 

Dengan kata lain, bukan tak mungkin bahwa Komodo Nagaradja merupakan siluman sempurna keturunan naga dari Anak Benua dan komodo dari Negeri Dua Samudera!

Serangan Ulupi Nagaradja berikutnya membuat Pangeran Wyudharu terdorong mundur. Bukan lagi belasan tombak yang menyasar, namun kini terlihat sebilah tombak raksasa yang merupakan wujud dari unsur kesaktian air! Mengincar deras!

Di arena yang berbeda, Putri Duhsala dan Putri Vrushali mampu memperpendek ruang dengan lawan. Keduanya menekan Putri Rukmini dan Putri Satyabhama. Tak lama lagi mereka akan meraih kemenangan. Perlu diakui bahwa hal ini dimungkinkan karena keberanian tokoh biasa-biasa saja mengorbankan jiwa dengan mengalihkan perhatian Ghatotkatcha Putra Bhima…

“Tap!” 

Tetiba, tak terpisah jauh, terlihat sesosok tubuh berukuran sangat besar mendarat. Walaupun ukurannya gergasi, pendaratannya terlihat sangatlah ringan. Tangan kirinya yang menggenggam sesuatu, pun mengayun pelan. Samar, sesuatu terlihat dilemparkan ke arah Pangeran Wyudharu! 

Sigap Pangeran Wyudharu menyambut tubuh Si Kumal yang kotor serta penuh luka dan lebam! Setengah sadar, agaknya remuk sudah tulang-belulang di sekujur tubuh lelaki dewasa muda nan malang itu. 

Kembalinya Ghatotkatcha Putra Bhima membuat neraca pertempuran berpihak kepada kubu Pandawa. Putri Rukmini dan Putri Satyabhama yang sebelumnya sempat tertekan, memperoleh dukungan semangat. Mereka memisahkan jarak, membalas serangan, dan membalikkan keadaan!

Kendatipun para anggota kubu Pandawa berkumpul, Ulupi Nagaradja merangsek maju. 

“Dia… adalah… lawanku…,” cegah Ghatotkatcha Putra Bhima. Suaranya nan rendah menggetarkan sukma. 

Ulupi Nagaradja berhenti di tempat, lalu memutar tubuh. Pakaian zirah emas yang memantulkan sinar rembulan purnama terlihat perkasa, sementara itu raut wajahnya tiada terlihat gentar, bahkan terkesan kesal. “Mengapa aku harus tunduk pada kehendakmu…?”

Ghatotkatcha Putra Bhima melotot. 

“Ini urusanku! Dia adalah calon suamiku! Kau jangan ikut campur!” tegas Ulupi Nagaradja.

Ketegangan di dalam kubu Pandawa seketika mengemuka. Peranakan rakshasa dan putri siluman naga bersitegang! Ghatotkatcha Putra Bhima dan Ulupi Nagaradja berdiri hadap-hadapan!

Mendengar perselisihan di dalam kubu Pandawa, Pangeran Wyudharu segera menyadari jati diri lawan-lawan nan tangguh! Siapa lagi bila bukan dua saudara sepupu dari Kadatuan Kedelapan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga! Keduanya memang dikenal tak bisa diatur dan cenderung bertindak sesuka hati. Kendatipun demikian, perhatian Pangeran Wyudharu saat ini terpecah sehingga tak bisa menyusun siasat. Di pangkuannya, Si Kumal dalam keadaan sangat mengenaskan. Bila tak mendapat perawatan segera, maka nyawanya tak akan tertolong. Sia-sia segala upaya menjalani dunia ilusi ini bila Bintang Tenggara meregang nyawa!

“Hei! Sadarlah!” sergah Pangeran Wyudharu kepada Tuan Kekar. “Muridmu sekarat!”

Putri Duhsala dan Putri Vrushali dipaksa kembali berkumpul bersama dengan Pangeran Wyudharu. Keduanya terdesak mundur dan sepenuhnya menyadari bahwa kubu Kurawa berada di ujung tanduk! 

“Bagaimana keadaannya…?” ujar Putri Duhsala memandangi tubuh dalam keadaan mengenaskan. Dalam hati ia Sudah mengetahui bahwa keadaan tersebut memanglah tak terelakkan. Mana mungkin tokoh biasa-biasa saja sanggup menandingi Ghatotkatcha Putra Bhima!

Pangeran Wyudharu tiada memberikan jawaban. 

“Sepertinya sedang terjadi perpecahan di sana…,” lanjut Putri Duhsala menatap Kubu Pandawa. “Sebaiknya kita manfaatkan kesempatan ini untuk mundur sementara!”

“Tak perlu,” tanggap Putri Vrushali pelan. Sorot matanya menatap jauh ke arah belakang. “Dari Padang Kurukshetra, tak lama lagi mereka tiba…”