Episode 117 - Pelatihan dan Tekad



Danny masuk ke kamarnya dan melihat kucing hitam sedang duduk di kasur seraya bermain smartphone-nya. Belakangan ini, karena kecanduan dengan sebuah permainan, kucing hitam itu terus membuat masalah jika Danny tidak meminjamkan smartphone-nya, jadi dia tidak punya pilihan selain meminjamkan.

"Hei, cepat selesaikan permainanmu, aku mau pakai HP-ku." Ucap Danny sambil duduk di tepi kasur.

"Tunggu sebentar, aku baru saja masuk ke permainan." Balas kucing hitam tanpa melirik ke Danny dan terus terpaku pada layar smartphone.

"Aku beri waktu 10 menit." Balas Danny dengan muram.

"Tidak, bagaimana mungkin, setidaknya satu jam, ah, tidak, dua jam, ya, dua jam lagi." Balas Kucing hitam.

Danny mengerutkan dahinya lalu mengela nafas. "Baiklah, minggir, aku mau berbaring." 

"Oke." Ucap kucing hitam sambil menggerakkan tubuhnya ke samping tempat tidur. 

Danny sedikit melirik permainan yang sedang dimainkan oleh kucing hitam dan langsung merasa bosan. Bukannya dia tidak suka bermain permainan, hanya saja permainan yang sedang dimainkan kucing hitam tidak termasuk dalam kategori yang Danny sukai. Dia lebih suka permainan perang dan sejenisnya.

Tanpa ada hal yang bisa dilakukan, akhirnya Danny memutuskan untuk masuk ke dunia jiwanya. 

Dunia jiwa Danny.

Dunia jiwa Danny yang sebelumnya hanya sebuah ruang putih tanpa ada apapun, kini adalah sebuah padang rumput hijau yang sangat luas. Tentu saja, semua ini bukan karena Danny, tapi ini semua karena Dan.

Di tengah-tengah padang rumput yang hijau ini, terdapat sebuah area yang hancur dan sangat kering. Di tengah-tengah tempat tersebut, Dan berdiri dengan tenang. Di sekitarnya terdapat kobaran api berwarna hitam.

Sejak saat itu, Dan terus berlatih untuk mengendalikan kekuatan api hitamnya. Namun, sampai saat ini dia masih belum bisa menggunakan secara sempurna, dia tidak puas dengan itu dan masih bersikeras untuk berlatih. 

Ketekunan dan kerja keras yang Dan lakukan benar-benar membuat Danny malu. Meskipun dia bukan anak yang pemalas, tapi jika dibandingkan dengan Dan, maka mereka ibarat langit dan bumi, terlampau sangat jauh.

Danny tidak menggangu Dan, dia terus memperhatikan Dan dari jauh.

Dan memejamkan matanya dan menggunakan semua konsentrasinya pada apa yang sedang dia lakukan. Setelah merilekskan pikirannya, Dan mengendalikan semua energi di dalam tubuhnya sambil memajukan telapak tangan kanannya. 

Kemudian, aliran api berwarna hitam berputar di depan telapak tangannya dan membentuk menjadi bola, bola itu terus membesar dan membengkak.

Namun, tiba-tiba saja bola api berwarna hitam itu langsung meledak dan menghapuskan semua yang ada di sekitarnya. Menghempaskan tanah-tanah dan membakar rumput di sekitarnya hingga yang tersisa hanya Dan yang berdiri tepat di tengah ledakan tersebut.

Setelah beberapa saat, dampak ledakan itu menghilang, Danny berjalan mendekati Dan yang tampak agak kesal.

"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" tanya Danny.

Dan melirik Danny dan menjawab. "Setelah dua pertarungan kita sebelumnya, aku jadi sadar, bahwa aku harus memiliki jurus pamungkas untuk langsung menghancurkan musuh dengan satu serangan, jadi aku mencoba untuk mengeluarkan semua energi dalam satu tembakan, tapi ternyata itu lebih sulit daripada yang aku bayangkan." 

Dalam dua pertarungan sebelumnya. Danny bersama Dan pergi ke dunia jiwa Alice dan harus melawan monster es krim yang terus tumbuh sebanyak apapun dihancurkan, kemudian di pertarungan lainnya Dan harus melawan musuh yang walaupun telah dia potong-potong menjadi berkeping-keping tapi tetap hidup.

"Jadi begitu, lalu apakah kau juga bisa mengajariku? Aku juga ingin menjadi lebih kuat." Ucap Danny.

"Bagaimana caraku mengajarimu jika aku saja belum menguasainya dengan sempurna?" balas Dan.

"Tapi, bukannya kekuatan yang aku miliki ini adalah kekuatanmu? Bagaimana mungkin kau tidak bisa menguasai kekuatanmu sendiri?" tanya Danny yang bingung.

"Siapa bilang kekuatan ini adalah milikku?" tanya Dan, kemudian tanpa membahas lebih jauh Dan langsung berkata, "lebih baik kau berlatih sendiri, itu akan lebih efektif."

"Baiklah." Balas Danny patuh.

Danny membuat pistol dan memegangnya di tangan kanannya. Kemudian Danny merasakan aliran energi di dalam tubuhnya lalu menciptakan peluru di dalam pistol tersebut menggunakan energimya. Dengan menggunakan energi ini, ledakan yang dihasilkan akan lebih kuat dari peluru biasa.

"Dan, tolong buatkan beberapa target tembak untukku." Pinta Danny pada Dan.

Meskipun ini adalah dunia jiwanya, tapi dia tidak mampu mengubah ataupun membuat area di dalamnya. Bahkan, jika bukan karena Dan, maka tempat ini pasti hanya area kosong berwarna putih.

Danny memegang erat pistolnya dan membidik target yang telah Dan ciptakan. Jaraknya sekitar 20 meter, jaraknya cukup tepat untuk pistol.

Bang.

Peluru terbang dengan cepat menuju target, tapi kemudian melewatinya begitu saja. Peluru itu meleset sangat jauh dari target tersebut.

Bang.

Bang.

Bang.

Kemudian beberapa peluru terbang lagi, akan tetapi sama seperti sebelumnya, peluru tersebut tidak mengenai target yang diincar.

Danny menarik nafas dalam-dalam lalu mencoba untuk merilekskan pikirannya. Dengan perlahan Danny membidik target di depannya dan 'Bang', Danny menarik pelatuk pistol dan membuat peluru kembali terbang menuju target. Tidak seperti sebelumnya, kali ini peluru menyerempet target lalu meledak dengan hebat. Ledakan itu menghancurkan setengah target di depannya.

Danny tersenyum sumringah dan menoleh ke arah Dan hanya untuk melihat yang terakhir sedikit mengerenyitkan dahinya.

"Kau tidak ingin berganti senjata lain saja saja? Seperti tombak, pedang, kapak atau semacamnya. Kau tahu, akurasi tembakanmu itu benar-benar mengerikan." Ucap Dan dengan jujur.

"Yah, kau benar, tapi aku tidak ada rencana untuk menggunakan pedang atau tombak." Balas Danny.

"Tapi..."

"Tunggu, aku punya ide." Danny cepat memotong ucapan Dan.

Danny mengarahkan moncong pistolnya pada target. Setelah dengan ringan menarik pelatuk, peluru terbang cepat menuju target. Jelas, peluru itu tidak berada pada jalur yang tepat, akan tetapi tiba-tiba saja peluru itu berbelok tajam, akan tetapi malah membuatnya menjadi semakin jauh dari target.

"Yah, ini tidak semudah yang aku pikirkan." Balas Danny dengan senyum pahit di wajahnya.

Di beberapa percobaan sebelumnya, Danny menyadari bahwa ada ikatan antara dia dan peluru yang dia tembakan, hal ini tidak aneh, karena peluru itu tercipta dari energi yang Danny punya. Dengan memanfaatkan ikatan itu, Danny berupaya untuk mengarahkan peluru secara manual, tapi peluru berkecepatan tinggi itu jelas tidak mudah untuk dikendalikan yang akhirnya membuat peluru itu menjadi semakin jauh dari target.

"Oh, kau lumayan cerdik juga." Ucap Dan sambil mengangguk pelan.

"Haha, sebenarnya sudah sejak lama aku berpikir untuk bisa memiliki kekuatan yang membuat tembakanku tetap sasaran." Balas Danny sambil tersenyum.

"Yah, tentu saja kau pasti menginginkan kekuatan seperti itu, mengingat akurasi tembakanmu yang sangat buruk." Ucap Dan dengan wajah pengertian.

"Haha, begitulah." Balas Danny.

Danny sangat menyadari betapa buruknya akurasi tembakannya, jadi tidak perlu untuk membantahnya.

Setelah itu Danny terus berlatih untuk mengarahkan peluru. Hasilnya, setelah entah berapa percobaan, salah satu peluru berhasil menyerempet target. Meskipun hanya satu percobaan yang bisa dikatakan berhasil, tapi Danny merasa puas, lagipula dia tidak terburu-buru, dia hanya akan mengambil satu langkah pada satu waktu.

Danny menoleh ke arah Dan, kini di depan Dan terdapat sebuah bola api berwarna hitam yang sangat besar. Bola api itu berkobar dengan ganas dan brutal. Dengan sapuan ringan, Dan mendorong bola api itu ke depan dan kemudian bola api itu terbang dengan kecepatan sedang lalu meledak dengan hebat, menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya.

"Kekuatanmu ... Sangat ganas." Ucap Danny yang terpana setelah melihat ledakan besar bola api itu.

"Tidak, ini masih sangat buruk, dan efisiensinya juga masih sangat buruk, masih jauh dari yang aku harapkan." Balas Dan dengan wajah tidak puas.

"Oh, kalau begitu terus bekerja keras, aku akan kembali dulu."

"Ya." Balas Dan tanpa menoleh

Danny kembali dari dunia jiwanya. Kemudian dia menoleh ke samping dan melihat kucing hitam masih bermain permainan di smartphone-nya. Danny menoleh ke jam dinding, ternyata sudah tiga jam berlalu.

"Hei, cepat kembalikan HP-ku." 

"Tunggu, sekarang aku sedang dibagian terbaiknya, aku pinjam sebentar lagi." Balas Kucing hitam dengan acuh.

"Ohhhh, baterainya sudah mau habis, dimana chargernya, cepat." Ucap kucing hitam terburu-buru.

Danny mengela nafas dan mengambil charger di dalam tasnya dan menyerahkannya kepada kucing hitam. Lalu, tanpa mengucapkan terima kasih, kucing hitam menyambungkan charger pada smartphone dan kembali memainkan permainan, mengabaikan Danny yang sedari tadi menatapnya dengan tidak senang.

"Hahaha, aku menang, aku menang, seperti yang aku duga, manusia-manusia itu memang lemah, haha." Kucing hitam tertawa terbahak-bahak.

Danny menggelengkan kepalanya sambil melihat Kucing hitam yang tergila-gila pada permainan di smartphone. Dalam hatinya dia merasa bahwa permainan sangat mengerikan, bahkan itu bisa membuat kucing menjadi ketagihan badan tergila-gila.

Tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka, dengan buru-buru Danny menutup mulut kucing hitam, dia tidak mau membuat Ibunya ketakutan setelah melihat ternyata kucing di kamar anaknya bisa berbicara seperti manusia, bahkan juga bisa bermain permainan di smartphone. Pemandangan itu pasti sangat aneh.

Danny keluar dari kamarnya dan menyambut Ibunya. Akhir-akhir ini Ibu Danny memang sering pulang malam, kata Ibunya, di perusahaan tempatnya bekerja sedang ada projek besar yang harus segera diselesaikan, jadi mau tidak mau Ibu Danny harus bekerja lembur.

"Selamat datang Bu." Ucap Danny lembut.

Danny merasa sedikit asam di hatinya setelah melihat Ibunya yang tampak sangat kelelahan, terlihat dari kantung mata di bawah matanya yang sedikit merusak penampilan cantiknya.

"Oh, kamu belum tidur, cepat tidur, sudah malam." Balas Ibunya dengan ceria.

Jelas, Danny tahu bahwa Ibunya bersikap ceria untuk menghilangkan kekhawatirannya.

"Iya." Ucap Danny seraya mengangguk.

"Bagus." Dia menggosok kepala Danny sebentar lalu masuk ke dalam kamar.

Danny melihat punggung yang tampak lemah itu dan merasa matanya sedikit basah, dia menggosok matanya dan kembali ke kamarnya.

Kini, Danny mendapatkan alasan yang jelas kenapa dia harus memenangkan turnamen bela diri. Bukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk Angel, tapi untuk malaikat yang senantiasa melindunginya sejak kecil.