Episode 116 - Akhir Pertarungan



Rito tidak pernah menyangka langkah eksplosif dari Idos hingga akhirnya dia lengah dan tertangkap. Memang benar Rito hampir tidak terkalahkan di dalam dunia jiwanya yang sepenuhnya berwarna hitam, tapi tetap saja dia tidak mampu untuk melepaskan diri dari cengkeraman Idos yang begitu kuat.

Beruntung, Sitri mengganggu Idos dan membuka celah sehingga Rito berhasil melarikan diri dari cengkeraman Idos.

Kini, dua pemimpin pasukan iblis yang dulunya saling membantu di medan perang yang sama, berhadapan dengan niat bertarung yang sangat kuat.

Sungguh ironi yang sangat lucu. 

Semuanya karena perbedaan pendapat dan tujuan. 

Sitri memegang tombaknya dengan erat lalu mulai menyerang Idos dengan intensif. Idos tidak berani untuk dengan sengaja mengenai tombak berwarna biru tersebut, karena dia sangat tahu bagaimana kuatnya serangan dari tombak tersebut, meskipun tubuh Idos telah menjadi lebih kuat setelah masuk ke mode devil heart, tapi dia masih belum tandingannya.

Untuk bisa bertarung dengan Sitri, Idos melepaskan api merah yang membara dari tubuhnya. Kemudian api tersebut menyelimutinya dan menjadi sebuah baju zirah berwarna merah yang membara.

Dengan baju zirah ini lah Idos menjadi sosok yang menakutkan di medan perang. Tidak hanya kekuatannya saja yang begitu menakjubkan, tapi pertahanannya juga sangat bandel, seperti noda di atas penggorengan.

Dengan menggunakan baju zirah tersebut Idos mulai semakin berani. Kini Idos tidak lagi dalam kondisi bertahan saja, kadang kala dia akan membelokkan tombak Sitri untuk kemudian menyerang balik. 

Namun, meskipun begitu, Sitri dengan lihai berhasil menghindar dari serangan Idos. Seperti yang diharapkan dari pemimpin pasukan iblis yang berhasil mengalahkan Solas yang bahkan bisa melihat masa depan, dia sangat lincah dan gesit.

Pertarungan antara Idos dan Sitri terus berlanjut. 

Dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa ditangani bola mata, Idos dan Sitri berpindah tempat dan menyerang satu sama lain. Layaknya bintang di malam hari, bentrokan mereka sangat kontras di dunia jiwa Rito yang seperti langit malam. 

Percikan api berwarna merah dan biru itu sungguh indah di pandangi.

Meskipun telah bertarung cukup lama, Idos dan Sitri mampu saling menjaga konsistensi dan konsentrasi mereka, sampai kini kondisi mereka masih sama seperti pertama bertarung. Dengan kata lain kekuatan mereka memang seimbang.

Sitri dengan tombaknya yang mematikan dan pergerakan yang lincah, dan Idos yang memiliki kecepatan yang meledak-ledak dan pertahanan dan kekuatan yang ulet. Mereka berdua terus bertarung untuk tujuan mereka masing-masing.

Di kejauhan, sebuah mata muncul dari dalam kegelapan. Benar, itu adalah mata Rito. Setelah tertangkap sebelumnya, dia menjadi lebih berhati-hati dari sebelumnya. Dia memunculkan matanya untuk memantau bagaimana situasi di luar. 

Dengan kekuatannya Rito memang mampu menyatu dalam kegelapan, tapi di dalam kegelapan dia tidak bisa melihat apapun di luar. 

Namun, beberapa saat kemudian, dengan menggunakan insting hewannya yang telah diperkuat setalah masuk ke dalam mode devil heart, serangan Idos datang dan menghancurkan bola mata tersebut dan mengubahnya menjadi bayangan hitam.

Dengan sedikit penundaan tersebut, hampir saja tombak Sitri menembus kepala Idos, tapi untungnya dia masih sempat untuk menghindarinya dan melanjutkan pertarungannya dengan Sitri dalam suasana hati yang baik.

Bentrokan antara tinju dan tombak kembali terdengar. Setiap bentrokan membuat bunga api dan untuk sesaat menerangi daerah di sekitar yang kemudian akan kembali menjadi gelap kembali. Kemudian adegan tersebut terus tercipta di tempat yang berbeda, seolah-olah Idos dan Sitri melakukan teleportasi, tapi bukan, itu hanya karena kecepatan mereka berdua yang terlalu cepat.

Di dalam kegelapan, Rito masih bersembunyi. Kondisinya sekarang sangat mengenaskan, banyak bagian tubuhnya sudah berubah menjadi bayangan hitam, begitu pula dengan matanya yang sebelumnya di hancurkan oleh Idos.

Meskipun memang benar Rito tidak bisa melihat apapun di luar, tapi dia bisa merasakan dengan samar bagaimana keadaan di luar. Lagipula kekuatannya adalah berintegrasi dalam kegelapan, dengan kata lain dia menjadi kegelapan itu sendiri.

Dengan sabar Rito terus menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari dalam kegelapan. Menurutnya, kemenangan bukan ditentukan dengan kekuatan saja, tapi kemampuan untuk membuat peluang dan kesabaran untuk mengeksekusi peluang tersebut. 

Yang terkuat tidak akan selalu menjadi sang pemenang, tapi sang pemenang pasti akan diingat sebagai yang terkuat.

Bentrokan antara Idos dan Sitri terus berlanjut, seakan-akan tidak akan pernah selesai. 

Di dunia jiwa ini tidak ada rasa lelah atau sakit, Idos dan Sitri juga mampu menjaga konsentrasi mereka meskipun dalam pertarungan yang sengit, jadi cukup beralasan untuk mengatakan bahwa pertarungan ini tidak akan pernah usai.

Satu hal yang akan bisa menjadi penentu akhir dari pertarungan Idos dan Sitri adalah durasi dari mode devil heart. Tidak ada akuran baku tentang seberapa lama mode ini akan bisa dipertahankan, semua ini tergantung dari kekuatannya masing-masing. Jadi, meskipun Idos yang pertama kali mengaktifkan mode devil heart, tidak berarti dia yang akan selesai lebih dulu.

Dan memang begitu, api biru dari tombak Sitri mulai meredup, tidak secerah sebelumnya, yang berarti waktu pemakaian mode devil heart-nya akan segera berakhir.

Sitri semakin gencar melakukan serangan pada Idos karena dia tahu bahwa tidak akan lama lagi durasi mode devil heart-nya akan berakhir, dan saat itu maka keuntungan yang dia miliki sekarang akan hilang dan tidak akan lama dia pasti akan kalah dari Idos yang masih dalam mode devil heart. 

Benar, kekuatan antara dua pemimpin iblis yang dalam mode devil heart dan mode biasa sejauh dua dunia.

Warna biru pada tombak Sitri semakin memudar dan hampir kehilangan warna birunya. Dia dengan kuat memegang tombaknya dan kemudian meluncurkan serangkaian serangan pada Idos dengan sangat sengit. 

Kali ini Idos tidak melakukan serangan balik, dia hanya terus menghindar dan menangkis serangan dari Sitri sambil terus bersabar hingga waktunya datang baginya untuk menyerang balik.

Tapi, tiba-tiba saja instingnya mengatakan bahwa bahaya datang dari belakangnya.

Benar saja, mahluk rendahan itu masih berani melakukan sesuatu padanya, pikir Idos dengan kesal. 

Dalam sepersekian detik, Sambil terus bertahan dari serangakaian serangan Sitri, Idos melirik ke arah belakangnya, tapi dia tidak menemukan adanya sosok Rito, akan tetapi instingnya masih berkata bahwa bahaya itu masih ada di sana.

Benar saja, tiba-tiba sebuah tangan keluar dari lubang hasil tusukan tombak Sitri pada Idos. Tangan itu memegang sebuah granat dan dengan cepat tangan itu melepaskannya dan sedetik kemudian granat itu meledak dengan kuat. Walaupun ledakan itu tidak menghancurkan tubuh Idos, tapi ledakan itu mendorong tubuh Idos dan menghancurkan posisi bertarungnya, membuka peluang bagi Sitri.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang, Serangakaian serangan bersarang dan menembus tubuh tubuh Idos, membuat lebih banyak lubang lagi di sana, hampir terlihat seperti jaring yang rusak.

Idos sangat marah dan kesal pada Rito, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan, Rito sudah kembali bersembunyi dalam kegelapan. Mustahil Idos bisa menemukannya Bahkan dengan instingnya. Selama masih ada suatu tempat tanpa cahaya, Rito tidak akan pernah bisa ditemukan.

Beberapa saat kemudian Idos kembali bisa untuk bertahan dari serangan Sitri yang menghujaninya. Lalu, perasaan bahaya datang lagi, kali ini Idos bisa menebak bahwa itu pasti adalah Rito. Dan benar saja, dua tangan keluar dari belakang tubuh Idos lalu melemparkan dua granat padanya. 

Bang. 

Bang.

Dua ledakan pada saat yang bersamaan kembali menghancurkan posisi Idos dan kemudian ratusan tusukan dari tombak Sitri melubangi hampir seluruh tubuh Idos. Membuat dia terlihat sangat menyedihkan. 

Berpikir bahwa situasi ini sangat buruk, Idos tanpa ragu mencoba keluar dari rangkaian serangan Sitri lalu dengan cepat keluar dari dalam dunia jiwa Rito, jika terlambat sedikit saja bisa-bisa semua tubuhnya akan berubah menjadi bayangan hitam dan dengan begitu jiwanya akan hancur tanpa bisa disembuhkan kembali.

Idos rela mengorbankan harga dirinya saat ini untuk kemudian membalaskan penghinaan yang telah dia dapat dari Rito dan Sitri di masa depan nanti.

Rito dan Sitri tidak berusaha menghentikan pelarian Idos. Bukannya mereka tidak mau, hanya saja mereka tidak bisa. Rito tidak berdaya dengan begitu kuatnya Idos, Sitri juga tidak akan mampu mengingat bahwa mode devil heart-nya akan segera berakhir. Dan benar saja, tepat setelah Idos pergi, mode devil heart Sitri berakhir dan api biru itu menghilang tanpa jejak.

Dari dalam kegelapan, sosok Rito kembali muncul tepat di sebelah Sitri. Dia menyentuh bagian tubuhnya yang telah menjadi bayangan hitam dengan hati-hati.

"Tenang saja, setelah beberapa saat, itu akan kembali pulih seperti semula. Beruntung dia hanya mencoba menghancurkannya, bukan mengambilnya." Ucap Sitri dengan tenang.

"Baiklah, ngomong-ngomong apakah kau tahu apa yang dia rencanakan?" tanya Rito sedikit penasaran.

"Aku tidak terlalu yakin, tapi aku bisa sedikit menebaknya. Kemungkinan besar dia berupaya untuk mencari kepingan pedang gram, sama seperti yang kau miliki saat ini." Balas Sitri.

"Jadi, ada banyak kepingan pedang gram ini?" tanya Rito lagi.

"Aku tidak terlalu yakin, aku pikir tidak akan terlalu banyak. Tapi masing-masing kepingan pedang gram itu akan memberikan kemampuan yang cukup hebat pada kalian manusia." Balas Sitri.

"Kepingan pedang gram ini hanya bermanfaat bagi manusia?"

"Ya, tidak akan banyak gunanya untuk iblis sepertiku jika hanya kepingan saja." 

Sementara itu, jiwa Idos berkelana dengan bebas, mencari tubuh yang bisa dia tempati. Di dunia manusia, para iblis harus mencari wadah untuk bisa bertahan hidup, apalagi dengan kondisinya yang terluka parah seperti sekarang. Idos harus buru-buru mendapatkan tubuh atau dia akan lenyap dari dunia ini.

Kemudian pandangan Idos tertuju pada seekor kucing berwarna kuning, kucing tersebut sedang duduk sambil menjilati kakinya. Idos tidak terlalu peduli apakah biru manusia atau hewan, dia dengan buru-buru masuk ke dalam tubuh kucing kuning tersebut. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Idos berhasil mengambil alih tubuh tersebut.

Kini, kucing kuning itu adalah tubuh baru bagi Idos di dunia manusia.