Episode 428 - Mudra Abhaya



Sanjay, seorang pemuda tuna wicara, memang sudah sejak beberapa waktu berupaya menelusuri jejak Kumar setelah keduanya terpaksa berpisah. Pencarian berujung ke istana milik Kurawa ke-100 Pangeran Wyudharu, namun karena keterbatasannya dalam berkomunikasi menyebabkan pemuda tersebut tiada dapat mencari tahu tentang keberadaan Kumar. 

Singkat kata dan singkat ceritera, Sanjay menyadari bahwasanya sapi milik Kakek Govinda ditempatkan di dalam istal istana Kurawa ke-100. Oleh sebab itulah, pada malam gelap tanpa rembulan, Sanjay berniat mengambil kembali sang sapi. Pada malam gelap tanpa rembulan itu pula, Sanjay tanpa sengaja berhadapan dengan Kumar. 

Sejak saat itu, keduanya berlatih secara diam-diam. Selama selang waktu di mana keduanya terpisah, Sanjay rupanya mampu mengembangkan kemampuannya untuk dapat mengerahkan Astra dan Shastra. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan Kumar yang masih yakin dan percaya bahwa kemampuan yang dipertunjukkan oleh Kakek Govinda bukanlah Astra maupun Shastra. Sang kakek tiada pernah mengerahkan senjata sama sekali. Maka dari itu, pertumbuhan Kumar dalam berlatih Astra dan Shastra tampaknya hampir tiada berkembang sama sekali. 

Terlepas dari perbedaan cabang pemahaman tentang tenaga dalam murni, Kumar akhirnya memutuskan sendiri bahwa Sanjay dapat berperan sebagai kusir kereta perang, di mana sang sapi kemudian menjadi penariknya. Demikian silang pendapat pada hari keberangkatan terjadi…

“Tunggu!” Akhirnya Pangeran Wyudharu berhasil mengeluarkan suara. “Kau tak bisa menambatkan ‘itu’ pada kereta perang…” 

“Hm… Kenapa…?”

“Dia sudah gila! Benar-benar gila!” Tuan Kekar menepuk keningnya sendiri. 

Pangeran Wyudharu melanjutkan, “Hanya para brahmana dan dewata yang kereta perangnya ditarik sapi!”

Dahi Si Kumal berkedut dan perasaannya sedikit tersinggung. Tiada pernah disebutkan dalam aturan perang bahwa sapi tak diperkenankan menarik kereta perang. Lagipula, itu bukan sapi sembarang sapi, melainkan sapi miliknya Kakek Govinda nan perkasa. 

“Coba kau pikirkan dengan akal sehat!” Tuan Kekar menggeretakkan gigi. “Kereta perang harus dapat bergerak gesit di medan pertempuran. Jika tidak, maka kau dan sapi itu akan jadi sasaran empuk panah musuh. Kalian mau mati konyol!?”

Demi keyakinan dan harga diri, Si Kumal tetap mempertahankan pandangannya. “Akh… Kalian hanya iri hati karena tak memiliki sapi!”

“Jangan keras kepala!” hardik Tuan Kekar. “Dari mana kau belajar menjadi kepala batu!?” 

“Hehe… Dari gurunya, tentu saja,” seloroh Pangeran Wyudharu. Ia melompat turun dari kereta perangnya. “Sudahlah… Jangan memaksakan. Selagi masih ada waktu, cepat tukar sapi itu dengan kuda yang tersedia…”


Meskipun berada pada urutan terakhir iring-iringan keberangkatan pasukan menuju medan perang, segenap khalayak di Ibukota Hastinapura tetap mengantarkan pasukan Kurawa ke-100 dengan penuh semangat. Puluhan ribu jumlah khalayak bertumpuk-tumpuk di sisi kiri dan kanan jalan utama. Mereka melompat-lompat girang, melambaikan dan bertepuk tangan semakin keras, serta berteriak walau suara sudah serak. 

Perasaan yang menghanyutkan. Seolah dapat disaksikan dengan mata telanjang betapa hawa dukungan dari khlayak menjadi alunan ombak di lautan luas. Ombak dukungan tersebut memberikan kekuatan untuk perahu berlayar, bersamaan dengannya menambahkan rasa percaya diri serta keyakinan kepada segenap penumpang perahu akan sebuah tugas mulia yang memang pantas dilalui oleh para ksatria. 

Sungguh pengalaman sekali seumur hidup bagi sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Ia menyaksikan satu kesatuan jalinan mata rantai yang tak putus. Khalayak jelata mendukung para ksatria dan para ksatria membela rakyat jelata. Khalayak jelata menghidupi ksatria dan ksatria rela mengorbankan nyawa demi kelangsungan hidup rakyat jelata. 

Dalam benaknya Bintang Tenggara bertanya-tanya, bagaimana mungkin meraih dukungan dari para ksatria dan kesetiaan rakyat sampai sedemikian rupa…? Apakah ini yang dimakud dengan kebangsawanan dan kewibawaan. Apakah yang telah dilakukan dan dicapai oleh sang Yuvaraja di Kemaharajaan Kuru, Putra Mahkota Duryudhana, sehingga layak mendapat dukungan sampai sedemikian rupa…?

Tentu saja jawabannya tak sedangkal persoalan kebangsawanan dan kewibawaan, karena tak sedikit pihak di luar sana yang mencela beliau sebagai tokoh licik yang merampok kekuasaan. Kebangsawanan dan kewibawaan tak memiliki arti bila berhadapan dengan pihak-pihak yang sedianya membenci. Lalu, apa? Apakah kepemimpinan? Jika demikian jawabannya, maka kepemimpinan yang seperti apa…?

Si Kumal takjub dan merasa perlu menyempatkan waktu mengamati Putra Mahkota Duryudhana. Pengamatan yang menyeluruh akan menjadi kesempatan emas untuk mempelajari kiat-kiat meraih dukungan, baik dari para kstaria maupun rakyat jelata. Kesempatan yang sangat terbatas adanya. 

“HOI!”  

Teriakan yang datang dari kereta perang di hadapan menarik Si Kumal dari dunia lamunan. Di dalamnya kereta perang tersebut, terlihat Tuan Kekar yang sedang melotot. 

“Di luar ibukota, kita akan bergabung dengan sepuluh ribu pasukan prajurit Sampshapataka!” sergah Tuan Kekar. “Setelah itu baru kita akan bergerak bersama-sama menuju Padang Kurukshetra. Di sana, pasukan inti Sampshapataka yang berjumlah sembilan puluh ribu pasukan sedia menanti. Demikian pula dengan kerajaan-kerajaan sekutu, hari ini mereka berangkat serentak dari wilayah masing-masing untuk nantinya akan berkumpul di Padang Kurukshetra.”  

Iring-iringan keberangkatan dari Ibukota Hastinapura mengular panjang. Karena jumlah itu pula pergerakan mereka lambat. Perjalanan yang sepantasnya dapat ditempuh dalam waktu singkat, menjadi lebih lambat dari seharusnya.

“Izinkan hamba menghadap Yang Mulia Pangeran Wyudharu. Hamba membawa pesan penting dari Putra Mahkota Duryudhana,” ujar seorang lelaki dewasa. Penampilannya mencerminkan pejabat tinggi di kemaharajaan. 


===


Setelah pertukaran serangan yang berlangsung sejenak dengan pamannya sendiri, perempuan dewasa itu melanjutkan perjalanan. Raut wajahnya dingin tatkala melesat terbang di langit tinggi, seolah-olah tiada perkara duniawi yang menarik perhatiannya. Walaupun demikian, jauh di dalam lubuk hatinya kecemasan mendera sangat. Kedua putranya pergi menempuh perjalanan jauh dan belum akan kembali dalam waktu dekat, sementara itu lelaki yang ia kasihi tergolek tak sadarkan diri. 

Yang menjadi kekhawatiran utama adalah kenyataan bahwa keadaan tubuh sang suami tak menunjukkan luka-luka berat, tidak pula cedera pada mustika di ulu hati. Kehilangan kesadaran yang sebagaimana demikian jauh lebih mengkhawatirkan dari pada luka tubuh walau parah sekalipun. Setidaknya dengan luka-luka di tubuh, dapat diketahui penyebab keadaan yang dialami. Anehnya lagi, butir terbesar dari Liontin Lembayung Jiwa yang menggantung di leher tetap menunjukkan kemilau penuh kehidupan kendatipun kondisi sang suami yang sedang koma.

Oleh sebab itu, perempuan dewasa itu perlu menelusuri jejak langkah sang suami. Hal ini semakin sulit dilakukan, karena sang suami memiliki kegemaran menyimpan rahasia perjalanan. Kendatipun demikian, terdapat beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah akibat perbuatan para ahli dari Kemaharajaan Langit. Akan tetapi, berdasarkan pertemuan dengan sang Amaure sebelumnya, tak ada tanda-tanda yang mengarah ke sana. Lagipula, Kemaharajaan Langit memiliki harga diri yang terlampau tinggi untuk berbuat licik. Jikalau menghendaki sesuatu, mereka akan bertindak langsung tanpa tedeng aling-aling.  

Dengan menyingkirkan kemungkinan Kemaharajaan Langit, maka hanya ada beberapa ahli di Negeri Dua Samudera yang dapat memberikan petunjuk. Dua diantaranya adalah sang Maha Maha Tabib Surgawi dan si Kutu Buku, namun mencari mereka lebih sulit dibandingkan mencari jarum di tumpukan jerami. Bakar saja tumpukan jerami sampai habis, maka jarum akan ditemukan dengan sendirinya. 

Penelusuran berikutnya jatuh kepada tokoh-tokoh yang dapat mencederai ahli sekelas Balaputera Ragrawira. Sangat terbatas jumlah mereka, namun perlu disambangi.

“Tap!” 

Hari jelang petang ketika perempuan dewasa itu mendarat di hadapan deretan candi nan besar-besar. Tanpa mempedulikan sesiapan pun yang mendekati, segera ia melesat ke arah candi kesembilan. Di dalam, sang Juru Kunci sudah menanti sembari membungkukkan tubuh, pun sebuah lorong dimensi ruang telah terbuka lebar. 

Tak lama kemudian perempuan dewasa itu tiba di wilayah Kedukan Bukit. Memantau sekilas pandang, segera ia melesat terbang menuju pusat Ibukota Minangga Tamwan. Istana Utama Kemaharajaan Cahaya gemilang adalah tujuannya. 

Ketika perempuan itu bergerak sesuka hati di wilayah kemaharajaan besar yang berdaulat, berbagai formasi segel pertahanan mendeteksi kedatangan ancaman. Tembok dan kubah berbagai formasi segel itu pun aktif merangkai dengan sendirinya, membangun perlindungan yang mumpuni dari serangan pihak tak dikenal. 

“DUAR!” 

“DUAR!” 

“DUAR!” 

Satu per satu formasi segel pertahanan hancur berkeping-keping ibarat jendela kaca yang dihantam batu granit karena tiada mampu membendung laju dan kerasnya gempuran. Di saat yang bersamaan, tiga ahli Kasta Emas menghadang di hadapan. 

“Hentikan!”

“Siapakah engkau yang lancang menyerang Ibukota Minangga Tamwan!?”

Perempuan dewasa itu melambat di udara. Kemudian, dengan lantang ia menuntut, “Panggil Balaputera Dewa ke sini, sekarang!”

“Lancang!” 

Mendengar bahwa nama junjungan mereka diutarakan tanpa rasa hormat sama sekali, sontak ketiga ahli Kasta Emas itu melancarkan serangan!

Akan tetapi, belum sempat mereka bergerak terlalu jauh, perempuan dewasa itu telah tiba tepat di hadapan salah satu. Ahli Kasta Emas itu, seorang lelaki setengah baya, tiada sempat melesat mundur ketika hantaman keras telak mendarat di ulu hatinya! Ia roboh dan jatuh ke tanah. 

Dua ahli Kasta Emas lain rampung merapal formasi segel hanya dalam beberapa kedipan mata. Satu mengambil wujud seekor kuda sembrani raksasa sementara satunya lagi berwujud sebuah candi nan megah. Menyadari bahwa rekan mereka roboh sebelum rampung merapal formasi segel, kedua lelaki dewasa itu sigap bahu-membahu dalam menyerang dan bertahan. 

Kuda sembrani raksasa merangsek dengan kecepatan maha tinggi, namun tetiba melambat karena tertahan oleh kekuatan yang tak kasat mata. Di saat itu pula, perempuan dewasa itu melesat melewati serangan lawan dan tiba di hadapan candi megah, di mana kedua ahli Kasta Emas bernaung di dalamnya. Tanpa gerakan tipuan, langsung kepada titik sasaran, perempuan dewasa itu menghantamkan tinju. 

“DUAK!”

Permukaan formasi segel nan berwujud candi megah bergetar keras. Retakan merekah pada dinding pertahanannya. Sang perapal membatukkan darah, namun masih dapat menahan gempuran. Di saat itu pula ia menyaksikan bahwa perempuan dewasa di hadapan mereka sedang melepaskan tinju susulan!  

“DUAK!”

Formasi segel berwujud kuda sembrani raksasa menghantamkan kedua kaki belakangnya. Sekilas tendangan tersebut akan mendarat telak, namun pada detik-detik terakhir perempuan dewasa itu membelokkan tinjunya untuk menghadang tendangan. Gelombang getaran dahsyat membias ke semerata penjuru ketika kedua kekuatan berbenturan, namun segera setelah itu formasi segel berwujud kuda sembrani raksasa hancur berkeping! Ahli Kasta Emas kedua pun membatukkan darah. 

Dua ahli Kasta Emas kini melayang lunglai di dalam formasi segel pertahanan yang retak. Keduanya tiada akan mempercayai apa yang berlangsung bila tidak mereka rasakan sendiri. Bahwasanya, tiga ahli Kasta Perak dibuat tanpa daya di hadapan perempuan dewasa yang tak dikenal.

Sedari tiba, seluruh rangkaian gerakan perempuan dewasa itu ibarat mengalir tanpa jeda. Sungguh ia tak hendak membuang-buang waktu karena menyadari bahwa ahli Kasta Emas bertaburan jumlahnya di Ibukota Minangga Tamwan. Jikalau mereka datang bergerombolan, maka keadaan akan menjadi menyulitkan. Tanpa menghiraukan kedua ahli Kasta Emas yang masih takjub akan kekuatan lawan, perempuan dewasa itu menukik turun menuju Istana Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Swush!” 

Baru hendak mencapai gerbang, tetiba sesuatu, atau lebih tepatnya rangkaian sesuatu, melesat gesit dalam kecepatan maha tinggi. Kali ini perempuan dewasa itu terpaksa terhenti di tempat, karena sebentuk telapak tangan raksasa sedia menghadang di depan mata. Siapapun itu, tokoh yang muncul kali ini tiada dapat dipandang sebelah mata! 

Di hadapan, formasi segel yang berwujud telapak tangan raksasa terus merangkai. Bila dicermati lebih seksama, maka telapak tangan tersebut sesungguhnya terdiri dari jalinan ribuan formasi segel yang berwujud belati-belati berukuran kecil yang melesat tanpa henti. Berkilau keperakan, rangkaian belati kemudian rampung membangun wujud arca raksasa akan seseorang yang duduk bersila dengan posisi tangan kanan diangkat dan telapaknya menghadap ke depan. Sementara itu, tangan kiri terbuka dan menengadah di pangkuan.

Raut wajah perempuan dewasa yang tadinya dingin, kini sedikit berubah, bahkan terkesan resah. “Mudra Abhaya…?” gumamnya pelan. (1)

“Dikau mengenal Mudra…?” Tetiba, dari balik formasi segel arca raksasa, mencuat seorang perempuan setengah baya.

Perempuan dewasa tidak menjawab. Terkait pertanyaan itu, tentu saja ia mengenali Mudra atau sikap tangan yang sedemikian. Ia bahkan mengetahui bahwa pada struktur bangunan suci Kamulan Bhumisambara, Mudra Abhaya dikatakan terletak para relung pagar langkan empat baris pertama Rupadhatu sisi utara. Atau setidaknya demikian adalah sebagaimana pernah dijelaskan oleh sang suami pada suatu waktu di masa lalu. 

Mengingat akan sang suami, si perempuan dewasa tetiba mengernyitkan dahi. Formasi segel lawan bukanlah formasi segel maha digdaya Kamulan Bhumisambara, karena diketahui hanya suaminya seorang yang dapat merapal formasi segel tersebut. Buktinya, perempuan setengah baya itu membangun Mudra Abhaya dari jalinan ribuan formasi segel berwujud belati-belati kecil. Kilaunya pun tak berwarna cemerlang keemasan, melainkan keperakan. Kendatipun demikian, Mudra Abhaya tersebut jelas mengancam.

“Siapakah kiranya dikau…?” Perempuan setengah baya yang menghadang tiada mencerminkan gelagat permusuhan.

“Aku tak ada urusan dengan Kadatuan Kesatu!” tanggap perempuan dewasa karena mengetahui bahwa di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, hanya para ahli dari Kadatuan Kesatulah yang paling piawai membangun wujud senjata. “Kedatanganku hendak bersua Balaputera Dewa. Ada yang perlu aku tanyakan!” 

“Oh… Kebetulan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa sedang tak berada di tempat.”

“Dusta! Aku tahu bahwa Balaputera Dewa tak bisa meninggalkan Ibukota Minangga Tamwan.” 

Perempuan setengah baya menghela napas panjang. “Sepertinya dikau harus dihentikan dengan paksa.” Meski berujar tegas, tatapan mata perempuan setengah baya itu demikian teduh. 


Catatan:

(1) ‘Mudra Abhaya’ dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘Tiada Ketakutan’ atau ‘Ketakgentaran’. Ia merupakan salah satu rangkaian Mudra sebagaimana yang pernah disampaikan dan ditampilkan dalam Episode 342.