Episode 427 - Hari Keberangkatan



Mara bahaya di hadapan mata. Menumpang di tubuh manusia yang biasa-biasa aja, Si Kumal sudah sangat kepayahan karena dipaksa menyelamatkan jiwa dengan melompat sekuat tenaga. Padahal, sang lawan sampai saat ini baru melepaskan dua kali serangan jarah jauh.

Benak Si Kumal menyadari bahwa ia memiliki pilihan yang sangat terbatas. Berteriak memanggil bantuan kemungkinan tiada akan terdengar kerena tempat di mana istal kuda ini berada terletak jauh dari kerumunan prajurit. Bila bergerak mundur dan membawa bantuan, maka akan memakan waktu dan memberi kesempatan bagi sang penyusup melarikan diri. Sebelum mengetahui siapa dan apa tujuan si penyusup, maka jangan sampai dia melepaskan diri!

Di saat yang sama, diketahui bahwa ruang gerak si penyusup sangatlah terbatas. Satu-satunya pintu keluar-masuk ke dalam wilayah istal kuda berada di belakang Si Kumal. Empat sisi istal dikelilingi oleh tembok kokoh istana nan menjulang tinggi. Jadi, bagi si penyusup untuk melarikan diri, dia harus melewati lelaki dewasa muda di hadapannya.

Hambatan yang ada adalah kenyataan bahwa penerangan di wilayah istal sengaja dipadamkan, dan langit pun gelap tanpa sang rembulan yang memantulkan cahaya. Oleh sebab itu, kedua pihak yang sedang berhadapan tiada dapat saling mengenali antara satu sama lain. Benak Si Kumal masih berputar deras. Pencuri biasa pastilah tak menguasai kemampuan yang tinggi, sehingga penyusup itu kemungkinan besar adalah mata-mata. Kekhawatiran lain mencuat pula di dalam benak Si Kumal, semoga saja penyusup itu tak bertujuan meracuni kuda, sehingga secara tak sengaja meracuni binatang lain yang sangat berarti dan dititipkan di dalam istal kuda.

Si Kumal mengambil beberapa langkah maju, sementara di balik bayangan samar terlihat si penyusup bergerak siaga. Menjaga jarak aman, tindakan sederhana ini merupakan cara untuk mengukur kemampuan lawan. Tak ada serangan jarak jauh yang dilepaskan, sehingga aman untuk menyimpulkan bahwa sang penyusup hanya memiliki beberapa kesempatan dalam memanfaatkan tenaga dalam murni. Agaknya tadi dia terkejut karena ada yang datang, sehingga gegabah menyerang karena hendak membungkam lawan secepat mungkin. 

Menyibak kembangan, Si Kumal bergerak setengah lingkaran ke sisi. Ia semakin menutup ruang gerak si penyusup. Ibarat seekor tikus yang terpojok, kini si penyusup semakin terjepit. Akan tetapi, Si Kumal tak tahu harus berbuat apa lagi selanjutnya. Tak mungkin baginya ceroboh menyerang lawan yang diketahui dapat mengerahkan tenaga dalam murni.

“Menyerahlah! Tak ada jalan keluar bagimu!” sergah Si Kumal. Sengaja ia meninggikan suara, dengan harapan ada yang mendengarkan dari sisi luar istal kuda. Telah diputuskan bahwa yang dapat ia upayakan adalah mengulur waktu, dengan harapan para prajurit ronda akan datang dengan sendirinya atau menunggu sang mentari terbit. Ini adalah pertarungan yang menguji kesabaran dan daya tahan. 

Akan tetapi, di luar perkiraan Si Kumal, sang penyusup merangsek maju. Hal tersebut membuatnya gelagapan. Bila lawan melakukan serangan jarak dekat, maka dirinya berada dalam bahaya besar. Sebagaimana diketahui, pelepasan tenaga dalam murni sejatinya dilakukan dengan menggunakan perantara, dalam hal ini senjata. Senjata kemudian terbagi ke dalam astra dan shastra. Astra merupakan senjata yang pengerahannya berpisah dari diri perapalnya, seperti panah dan lembing. Sedangkan Shastra merupakan senjata yang pengerahannya berada di dalam genggaman si perapal, misalnya pedang, tombak atau gada. 

Menyadari bahwa serangan Astra tak membuahkan hasil, tak pelak lagi bahwa si penyusup hendak melancarkan serangan Shastra! Sontak saja Si Kumal melompat mundur. Selain tak membawa senjata, ia kurang yakin akan kekuatan dirinya sendiri. Sigap memutar tubuh, jurus yang ia dapat andalkan saat ini adalah… jurus kaki seribu! 

Demikian Si Kumal melarikan diri. Sesungguhnya ada keuntungan dari jurus kaki seribu: pertama tentu karena ia sangat piawai, kedua ia dapat menggiring lawan kepada prajurit Shampshapataka yang sedang bekerja, dan yang terpenting ia mencegah pertarungan di dalam istal. 

Walau tanpa kecepatan jurus unsur kesaktian petir, Si Kumal tetap dapat berlari lincah dengan gerakan tiada beraturan.

“Umm… mumu… muuu….” 

Baru beberapa langkah berlari, samar-samar Si Kumal menyadari bahwa lawan sepertinya sedang merapal jurus. Ia sadar akan perlunya bertahan dari serangan jika tak hendak dibokong dari belakang. Sigap, Si Kumal lantas melompat maju, berhenti, merunduk, dan menghantamkan telapak tangan pada permukaan tanah. Rangkaian gerakannya sangat alami, seolah sudah sangat terbiasa melakukan gerakan yang mirip dengan gerakan loncat harimau seperti yang sering diajarkan kepada kanak-kanak semasa di perguruan. 

Lawan tiada mengedorkan pengejaran. 

Kini Si Kumal menggenggamkan jemari, lantas menarik gumpalan tanah. Segera setelah itu, ia bangkit sembari melompat ke sisi. Uniknya, bukan semata segenggam tanah yang ia tarik, karena unsur kesaktian yang ia miliki memungkinkannya untuk membuat tanah berubah wujud menjadi sebilah galah panjang!

Dirinya berada keadaan terdesak dan di lingkungan sepi, batin Bintang Tenggara. Jadi, walaupun dilarang keras oleh Tuan Kekar membuat tempuling dari tanah karena serta-merta dapat membuka jati diri, Si Kumal tiada peduli. Sambil memutar tubuh menghadap lawan, ia tebaskan tempuling tanah di dalam genggaman!

“Umm… mumu… muu….” 

Lagi-lagi si penyusup merapal jurus, namun kini jaraknya sudah berada di dalam jangkauan tempuling tanah. Serangan tebasan tersebut akan mendarat dengan sangat telak. Akan tetapi, pada detik-detik akhir ketika jarak di antara mereka sangat dekat sehingga memungkinkan untuk menyaksikan wajah si penyusup, kedua bola mata Si Kumal terbelalak!


“Jikalau menurut dikau adalah kurang bijak bagi kita berpisah kereta perang, maka sebaiknya kita tetap bersama,” ujar Pangeran Wyudharu sembari menenggak segelas anggur.

“Hmph!” Tuan Kekar mendengus. “Kau dan bocah itu tampaknya senang menunggangi kereta perang sendiri-sendiri. Bukankah kalian hendak tampil gagah berani layaknya pahlawan pembela kebenaran di kala perang…?”

“Ah… inilah dia dampak buruk penyakit keras kepala. Malangnya kemampuanku tiada pernah mampu meracik ramuan penyembuh bagi penyakit yang satu ini…,” gerutu Pangeran Wyudharu.

“Jangan kalian pikirkan kehendakku, lakukan saja apa-apa yang kalian sukai. Toh, dunia ini hanyalah ilusi belaka…”

“Hm… perkara dunia ilusi ini senantiasa mengundang tanya. Bagaimana ia tercipta dengan sangat rinci sesuai sejarah masa lampau….”

Tuan Kekar mengambil tempat duduk, bersandar, dan menempatkan kedua kakinya di atas meja. Sebentuk senyuman menghias di sudut bibir tatkala ia meraih gelas anggur. “Pertanyaanmu salah. ‘Bagaimana’ tidaklah penting. Seharusnya yang kau pertanyakan adalah ‘siapa’.”

“Siapa…?” Pangeran Wyudharu menyondongkan tubuh ke depan. 

“Iya. Siapa dia yang memiliki keahlian di luar batas nalar sampai mampu menciptakan sebuah dunia, lengkap dengan bentang alamnya… cuaca dan bangunan… tokoh-tokoh di dalamnya… peristiwa-peristiwanya.”

Pangeran Wyudharu mengedutkan dahi. “Apakah mungkin ‘siapa’ tersebut sedang mengawasi kita…?”

“Mungkin saja…,” tanggap Tuan Kekar santai. “Mungkin saja dia sedang duduk bersandar sembari menenggak anggur. Tertawa lepas menyaksikan jiwa-jiwa yang berjuang mati-matian demi menumbuhkan keahlian…”

“Hehe… Seperti gelagat dikau saat ini…?” seloroh Pangeran Wyudharu. 

“Demikianlah…”

“Andai saja kita mengetahui ‘tujuan’ dunia ilusi ini, maka dapat kita memperkirakan ‘siapa’ itu dalang di baliknya…”

“Hmph… Apakah kau benar-benar tiada mengetahui siapa sang dalang yang memainkan lakon pewayangan ini…? Setidaknya menerka-nerka…” 

“Hm…” Pangeran Wyudharu semakin berpikir keras. 

“Sudahlah, jangan terlalu keras kau berpikir… Nanti rusak otakmu dibuatnya…”

“Ada yang janggal…”

“Banyak kejanggalan, itu sudah pasti…,” gerutu Tuan Kekar. Ia lantas terlihat seolah encari-cari, menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang. “Omong-omong, ke mana perginya si bocah bodoh dan ceroboh…? Padahal tadi sudah kusuruh tidur dia…”


===


Sang mentari baru saja bangkit dari peraduannya sehingga suasana pagi hari ini terasa sangat sejuk. Kendatipun demikian, kegiatan segenap penduduk di Ibukota Hastinapura telah dimulai sejak subuh. Para prajurit mempersiapkan persenjataan dan perbekalan, serta jiwa dan raga. 

Pada pagi hari, segenap rakyat berbondong-bondong ke jalan utama di tengah Ibukota Hastinapura. Puluhan ribu jumlah mereka berbaris rapi sepanjang jalan besar itu. Lelaki dan perempuan, tua dan muda, miskin dan kaya tiada terkecuali. Kesemuanya menanti sabar. Jikalau ahli baca sekalian merupakan rakyat Hastinapura, maka merupakan sebuah kebanggaan melepas pergi para pungguwa menuju perang. 

Suara sangsakala yang ditiup serempak dari menara pengawas di empat penjuru ibukota nyaring terdengar. Sang mentari sudah menunjukkan dirinya dengan gemilang, dan sinarnya menyapa para prajurit yang berbaris rapi. Suara derap langkah mereka meledak-ledak ibarat letusan senjata. Jumlah mereka ribuan, dengan ukuran tubuh yang hampir sama dan tanpa cela. 

Khalayak menyambut dengan melompat-lompat, melambaikan tangan, memberikan kecupan jarak jauh, dan berteriak penuh semangat. 

Berikutnya giliran para pasukan prajurit penunggang kuda. Berjumlah ratusan, gerakan mereka tangkas yang terbagi dalam empat baris yang bergerak beriringan. Pakaian perang yang membalut tubuh mereka mengkilap, demikian pula dengan perisai yang dikenakan oleh setiap ekor kuda. Yang membuat tersima, adalah pemandangan di mana setiap prajurit beserta kuda mereka bergerak dengan demikian anggun dalam satu irama. 

Pawai pasukan prajurit penunggang kuda berlalu, namun tetiba suasana berubah hening. Khalayak sedang mencermati mengapa tanah tempat mereka berpijak bergemuruh selayaknya sedang terjadi gempa bumi. Beberapa dari mereka mulai menyadari apa yang selanjutnya terjadi. Walau tanpa aba-aba, barisan padat khalayak di kedua sisi jalan utama mundur secara teratur. 

Suara derung yang berasal belalai terdengar menggelegar. Puluhan ekor pasukan gajah perang lantas melangkah perkasa. Gading-gading mereka mengacung panjang dan tajam, sementara sekujur belalai mereka dilapis dengan balutan logam berduri. Sekali sapu, maka tubuh mangsa akan luluh lantak menjadi bubur daging, tulang dan darah. 

Disajikan pemandangan yang demikian perkasa, lompatan khalayak semakin tinggi, lambaian dan tepukan tangan semakin keras, serta teriakan semakin bersemangat.

Sangsakala kembali ditiupkan. Kali ini menandakan bahwa sajian utama akan segera menampakkan diri. Pertama-tama adalah rangkaian enam ekor kuda yang saling terjalin memasuki ujung jalan. Di balik rangkaian kuda tersebut, seorang penunggang kereta perang terlihat duduk perkasa di hadapan kereta perang berbalut emas. Dia adalah seorang lelaki tegap berkulit tubuh gelap yang berperan sebagai kusir pada kereta perang tersebut. 

Ia adalah pribadi yang sangat misterius, bahkan catatan latar belakangnya tiada termaktub di mana pun. Khabar yang berhembus menyebutkan bahwa dia adalah mantan budak pembangkang dari Benua Hitam. Ada pula yang mengatakan bahwa dia terlahir di dalam lahar gunung berapi, bahkan tak sedikit yang percaya bahwa dia adalah jelmaan dari bintang berekor yang jatuh dari langit. Namun demikian, segenap rakyat mengenal pasti namanya sebagai Pratikhami, seorang kusir kereta perang nan perkasa. 

Kereta perang nan berlapis emas tersebut memantulkan sinar mentari yang menyilaukan pandangan mata. Namun, sekejap kemudian, berkas cahaya warna-warni membias ke semerata penjuru. Cahaya mentari kini dipantulkan oleh berbagai batu permata berwarna-warni yang menghiasa kereta perang tersebut. Indah nian sampai membuat segenap khalayak terkesiap. Suasana berubah khusyuk. 

Segenap mata khalayak kini terpusat kepada sosok di belakang sang kusir, yang berdiri tenang di dalam kereta perang nan kokoh sekaligus megah. Kumisnya yang sangat tebal dan rambutnya hitam lebat mengkilap, mengantarkan kepada raut wajah nan tegas. Tak ada keraguan dari sorot matanya nan jernih. Demikian, saat yang dinanti-nanti segenap khlayak telah tiba. Hari ini adalah hari keberangkatan sang Putra Mahkota Pangeran Duryudhana menuju Padang Kurukshetra!

Menyaksikan secara langsung sang Putra Mahkota bergelimang cahaya, lompatan khalayak semakin tinggi, lambaian dan tepukan tangan semakin keras, serta teriakan semakin membahana. Betapa mereka kagum dan terpesona akan sosok sang penguasa. 

Tinggal satu pekan sebelum Perang Kurukshetra, yang menjadi penentu keabsahan penguasa di Kemaharajaan Kuru membuncah. Pawai keberangkatan ini berperan sebagai sarana unjuk kekuatan demi menunjukkan kepada khalayak bahwa kemenangan sudah berada di depan mata. Akan tetapi, orang-orang luar mungkin bertanya-tanya, mengapa kiranya segenap khalayak demikian mendukung pasukan Kurawa…? Bukankah pihak yang menempuh jalan kebenaran adalah Pandawa…?

Dari sudut pandang khalayak, pemerintahan Putra Mahkota Pangeran Duryudhana merupakan pemerintahan yang adil dan makmur. Sang penguasa merupakan sosok bijaksana. Beliau tak pandang bulu, dan mengayomi setiap kalangan sebagai setara. Khalayak saat ini hidup di bawah pemerintahan yang berperikeadilan. Bagi mereka, mengapa para Pandawa hendak menggantikan pemerintahan yang sudah sangat baik ini…? Belum tentu pergantian penguasa akan mampu memperjuangkan keadilan serta membawa kemakmuran!

Kereta perang Putra Mahkota Pangeran Duryudhana diikuti oleh kereta perang Panglima Perang Bhisma Putra Gangga, Maha Guru Drona, serta para punggawa kemaharajaan yang lain. Selanjutnya adalah Pangeran ke-2 Dushasana, Pangeran ke-3 Dussala, Pageran Ke-4 Jalagandha, Pangeran ke-5 Saha dan seterusnya, dan seterusnya. 

Pada urutan terakhir, Pangeran ke-100 Wyudharu sudah bersiaga di atas kereta perang emasnya. Tak sabar pula ia menanti giliran keikutsertaan di dalam iring-iringan pasukan berangkat perang. Di samping, Tuan Kekar di dalam kereta perang perak pun sudah siap sedia.

“Di mana bocah tengik itu!?” Tuan Kekar tak sabar. “Tak lama lagi adalah giliran kita berbaris dalam pawai!” 

“Dalam sepekan terakhir ini, gelagatnya memang agak berbeda…,” sahut Pangeran Wyudharu. “Akan tetapi, seharusnya tak ada yang menjadi kendala….”

“Saban hari dia pergi sembunyi-sembunyi, kembali menjelang larut malam. Aku justru curiga dia akan melakukan tindakan gegabah… Tidak, aku seratus peratus yakin dia akan melakukan sesuatu yang bodoh dan ceroboh!”

Saat Pangeran Wyudharu dan Tuan Kekar sedang berbincang-bincang dan menunjukkan kekhawatiran, dari balik jajaran prajurit Sampshapata sebentuk kereta perang perunggu bergerak perlahan ibarat dalam gerakan lambat. Pada posisi kusir, terlihat seorang remaja memegang tali kekang. Di dalamnya kereta perang perunggu itu, Si Kumal berdiri dengan lengan menyilang di depan dada. Sorot matanya tajam. 

“Siapa dia…?” tanya Tuan Kekar kala menyaksikan kusir yang mengendalikan kereta perang milik Si Kumal, karena dia bukanlah prajurit Sampshapataka yang ditugaskan. 

“Ini adalah Sanjay, kenalanku. Kebetulan ia gagu,” tanggap Si Kumal santai. 

Di sisi lain, Pangeran Wyudharu malah terlihat cemas. Kedua matanya menyaksikan bahwa ada yang tak biasa pada kereta perang perunggu itu. Mulutnya menganga namun tak kuasa mengeluarkan kata-kata. 

“Apakah itu…?” Tuan Kekar pun menyadari keanehan sambil membelalakkan mata. 

“Ayo kita bergerak!” Si Kumal tiada menaggapi pertanyaan. Penuh percaya diri mengacungkan lengan lurus ke depan, walaupun kereta perang miliknya bergerak sangat, sangat lambat. 

“Tunggu!” Akhirnya Pangeran Wyudharu berhasil mengeluarkan suara. “Kau tak bisa menambatkan ‘itu’ pada kereta perang…” 

“Hm… Kenapa…?”

“Dia sudah gila! Benar-benar gila!” Tuan Kekar menepuk keningnya sendiri. 

Pangeran Wyudharu melanjutkan, “Hanya para brahmana dan dewata yang kereta perangnya ditarik sapi!”