Episode 425 - Karna Raja Angga



Di bantaran sungai Aswa, seorang kepala kusir kereta perang dari Istana Hastinapura bernama Adhiratha menggerutu sebal karena pakan kuda yang disediakan berjumlah seadanya dan kurang bergizi. Hal yang terkesan sederhana ini memaksanya untuk turun tangan mengumpulkan bahan pakan sendiri. Di tengah kekesalan, kedua matanya menangkap sebuah keranjang yang hanyut dibawa aliran air sungai. Keranjang tersebut lantas tersangkut di sebatang pohon tumbang. Karena penasaran, Adhiratha lantas mengambil keranjang tersebut. Betapa terkejutnya Adhiratha ketika menemukan bahwa di dalam keranjang terdapat pakaian perang dan perhiasan, serta seorang bayi lelaki! 

Adhiratha yang kebetulan belum memiliki keturunan, memungut dan membesarkan bayi lelaki tersebut. Ia diberi nama Basusena. Singkat kata dan singkat ceritera, walaupun tumbuh dalam lingkungan keluarga kusir, Basusena sedari kecil memiliki keinginan untuk menjadi ksatria di Kemaharajaan Kuru. Sang ayah berupaya mengabulkan permintaan tersebut dan mendaftarkan Basusena ke perguruan yang diasuh oleh Maha Guru Drona, di mana adik-beradik Pandawa dan Kurawa menuntut ilmu. Akan tetapi, Maha Guru Drona menolak mentah-mentah permohonan Kepala Kusir Adhiratha, dikarenakan sang maha guru hanya bersedia menerima murid dari kalangan ksatria sahaja. 

Walhasil, Basusena dicarikan guru lain. Dengan sedikit siasat menyamarkan jati diri, Basusena kemudian menuntut ilmu kepada kalangan brahmana, yaitu Resi Parasurama. Tak tanggung-tanggung, tokoh ini merupakan guru dari Bhisma Putra Gangga. Demikian, Basusena memiliki guru yang lebih canggih daripada Pandawa maupun Kurawa. 

Suatu hari, Maha Guru Drona mengumumkan bahwa murid terbaiknya dalam keterampilan memanah adalah Pangeran Arjuna. Basusena yang mendengar pengumuman tersebut lantas memberanikan diri menantang Pangeran Arjuna dalam keahlian memanah. Akan tetapi, semua yang hadir saat itu mengenalnya sebagai putra kusir istana. Oleh sebab itu, Basusena sengaja diminta untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, karena penantang Pangeran Arjuna sepantasnya datang dari kalangan yang sederajat. Mendengar permintaan tersebut, Basusena pun tertunduk malu. 

“Keberanian dan kekuatan bukan hanya milik kalangan ksatria!” Tetiba terdengar suara menyela yang menggelegar. Datangnya dari seorang tokoh muda perkasa. Kumis di atas bibirnya belum terlampau lebat. “Jikalau aturan bahwa ksatria hanya diperkenankan bertarung menghadapi ksatria, maka izinkan aku angkat kaki dari kemaharajaan ini! Aku mengetahui bahwa di luar sana masih banyak orang yang memiliki keberanian dan kekuatan daripada kalian semua!” 

Segenap hadirin terkesima atas pembelaan yang disampaikan oleh pemuda yang dikenal sebagai Kurawa ke-1 Pangeran Duryudhana. Sang pangeran muda jelas-jelas menentang gurunya sendiri. Ia bahkan melanjutkan bahwa sebagai tokoh pemberani, maka Basusena layak dinobatkan sebagai raja di salah satu kerajaan yang telah ditaklukkan. 

Tak hendak menentang ancaman putra kesayangannya, maka Paduka Raja Dhrastrarastra menobatkan Basusena sebagai raja di Kerajaan Angga. Pertarungan memanah menghadapi Pangeran Arjuna ditangguhkan. 

Pada hari penobatan, banyak umpatan dan cemooh menghujat sang calon raja yang berasal dari kalangan yang lebih rendah. Namun, para hadirin terpaksa menutup mulut ketika lagi-lagi Pangeran Duryudhana muda melakukan pembelaan kepada Basusena. Terlepas dari itu, peristiwa yang paling menarik perhatian pada acara penobatan Basusena sebagai penguasa Kerajaan Angga adalah ketika Ratu Kunti, istri pertama dari Pangeran Pandu, tetiba terjatuh dari tempat duduk dengan mata terbelalak!


===


Keterangan yang diberikan oleh Kurawa ke-101 Putri Duhsala alias Canting Emas sangatlah berharga. Bersama dengan Jayadratha Raja Sindhu alias Aji Pamungkas, selama dua purnama ke belakang keduanya giat menelusuri jejak rekan-rekan yang lain. Walau belum menemukan jejak Panglima Segantang, mereka sudah dapat memperkirakan tokoh-tokoh mana yang kemungkinan besar merupakan Guru Muda Khandra dan Kuau Kakimerah. 

Kendatipun demikian, baik Putri Duhsala maupun Jayadratha Raja Sindhu memiliki ruang gerak yang sangat terbatas. Sebagai tokoh terkemuka, gerak-gerik keduanya senantiasa diawasi sehingga tak berkesempatan melakukan penelusuran lebih jauh. Dalam kaitan ini, demikian pula dengan Kurawa ke-100 Pangeran Wyudharu, yang sebagaimana diketahui tampil terlampau mencolok belakangan ini. Bahkan, Ginseng Perkasa dengan sengaja menanam bibit-bibit permusuhan dengan beberapa pihak. Sungguh langkah yang tak bertanggung jawab. 

“Adalah kewajiban kita untuk menelusuri dan mengumpulkan sekutu,” ujar Tuan Kekar sembari melangkah gagah. “Tugas ini sangatlah penting, bahkan dapat mengubah arah peperangan.”

“Siap!” tanggap Si Kumal. Walaupun menumpang di tubuh tokoh rendahan yang lemah, Bintang Tenggara telah memantapkan hati untuk menoreh prestasi gemilang. Sorot matanya berkilau cemerlang.

Selain hapal di luar kepala rangkaian kejadian utama di dalam wiracarita Mahabharata, Puri Duhsala juga sangat mengenal tokoh-tokoh yang memainkan peran penting. Salah satu tokoh yang menarik perhatiannya adalah sang ibu suri dari pihak Pandawa, yaitu Kunti.

Ibu Suri Kunti semasa kecil bernama Pritha dan merupakan putri kandung dari Shurasena Raja Yadawa, sehingga beliau merupakan saudari perempuan dari Basudewa ayahanda Krishna. Sewaktu kecil, Pritha diangkat anak oleh Raja Kuntibhoja lantas diberi nama sebagai Putri Kunti. Beranjak dewasa, Putri Kunti nan cantik dipersunting dan menjadi istri pertama Pangeran Pandu. Sebagai ratu, beliau kemudian melahirkan Pangeran Yudhistira, Pangeran Bhima dan Pangeran Arjuna serta mengasuh Pangeran Nakula dan Pangeran Sahadeva yang beribu Madri istri kedua Pandu. 

Akan tetapi, sebelum menikah dengan Pangeran Pandu, sesungguhnya Putri Kunti telah memiliki seorang anak lelaki. Alkisah, sewaktu belia Putri Kunti bertemu dengan Resi Durwasa dan dianugerahi kesaktian Adityahredaya untuk memanggil dewa-dewa. Pada suatu hari, Putri Kunti yang hanya setengah percaya pada kemampuan Adityahredaya, menguji coba kesaktian tersebut. Ia berhasil memanggil Dewa Surya, yang lantas memberinya seorang bayi lelaki. Sebelum kembali ke kahyangan, bayi tersebut dianugerahi pakaian perang dan perhiasan dari sang ayahanda, serta diberi nama Karna.  

Tak hendak memiliki putra di masa belia, maka Putri Kunti pun menyingkirkan putranya itu. Sang bayi yang baru lahir, bersama dengan pakaian perang dan perhiasannya, dimasukkan ke dalam keranjang dan dihanyutkannya di sungai Aswa. 

“Kita sudah tiba di Ibukota Champapuri,” ujar Tuan Kekar di hadapan gerbang masuk menuju sebuah kota besar. 

“Di kota inikah letaknya kediaman Karna Raja Angga, tokoh kepercayaan Putra Mahkota Duryudhana…?”

“Jangan tanyakan kepadaku, aku pun baru sekali ke sini,” cibir Tuan Kekar. “Sana… kau pergi tanya kepada prajurit yang berjaga.”

Tuan Kekar dan Si Kumal lantas diarahkan menuju sebuah istana nan megah. Di dalam, keduanya menunggu di sebuah aula tertutup. 

“Jadi, mengapa Karna Raja Angga tetap berpihak pada Kurawa, padahal dia adalah kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa…?” 

“Apakah kau tak mendengarkan penjelasan Putri Duhsala…?”

“Ya, kita tahu bahwa Basudewa Krishna telah hadir kehadapannya dan membuka jati dirinya, pun setelah itu Ibu Suri Kunti menyambangi untuk memohonkan dukungan. Akan tetapi, mengapakah pendiriannya tiada berubah…?”

“Ya, sudah jelas, bukan…? Bagi Karna Raja Angga, saudara sejatinya adalah Putra Mahkota Duryudhana. Ketika dia ditertawai, dihina, dilecehkan… hanya Putra Mahkota Duryudhana seorang yang tulus membela.”

Seorang pelayan melangkah masuk ke dalam aula. Tanpa suara, hanya mengandalkan gerakan tubuh, pelayan tersebut mengundang Tuan Kekar dan Si Kumal memasuki ruang singasana. 

Sosok lelaki dewasa bertubuh tegap duduk di atas panggung ruangan singasana. Tatapan matanya tajam ke depan dengan dagumengangkat tinggi. Pakaian perang yang ia kenakan bersinar terang, demikian pula dengan sepasang anting, gelang dan kalung yang menghiasi tubuhnya. Memandang secara langsung kepada tokoh ini, seolah sedang menyaksikan serpihan sang mentari yang jatuh ke muka bumi. 

Di sisi bawah panggung, belasan punggawa istana memandangi kedua tamu yang melangkah pelan dan datang menghadap. Raut wajah setiap satu dari mereka terlihat tegang. 

“Mohon ampun beribu ampun, wahai Paduka Yang Mulia Karna Raja Angga. Hamba datang menghadap mewakili Pangeran Wyudharu…,” ujar Si Kumal memperkenalkan diri sembari membungkukkan tubuh. 

Tak ada perubahan pada raut wajah Karna Raja Angga. Melirik pun ia enggan. Di lain sisi, Si Kumal sudah memperkirakan bahwa tanggapan yang akan mereka terima adalah sebagaimana demikian. Putri Duhsala telah menyampaikan secara panjang dan lebar bahwa Karna Raja Angga merupakan pribadi yang tinggi hati. Namun demikian, Si Kumal belum kehabisan akal untuk membuka jati diri tokoh tersebut. Benarkah Balaputera Khandra menumpang di tubuh itu…

“Paduka Yang Mulia Karna Raja Angga, sebuah roda ditakdirkan untuk berkelana. Namun demikian, takdirnya membutuhkan kehadiran pihak lain agar dapat tercapai. Bila roda disatukan dengan kereta dan ditarik oleh kuda, maka dia akan dapat berkeliling ke seluruh penjuru dunia. Tanpa kereta dan kuda, roda hanya berdiam di halaman pembuatnya, dan digunakan sebagai tempat memajang tanaman.”

Sang penguasa menantap tajam kepada di Si Kumal yang baru saja mengulang kata demi kata sebagaimana yang diperintahkan oleh Putri Duhsala. Kata-kata hapalan itu sesungguhnya merupakan kutipan kata-kata Karna Raja Angga sendiri. Sebagai seseorang yang dibesarkan oleh kusir kereta perang, Karna Raja Angga mengibaratkan diri sebagai roda, sementara kereta perang dan kuda adalah Putra Mahkota Duryudhana. Demikian adalah nilai kesetiaan baginya. 

Dengan demikian, Si Kumal berhasil menarik perhatian lawan bicaranya. Karna Raja Angga mengangkat sebelah lengan, dan para punggawa istana memahami titah yang datang bersamaan melalui gerak tubuh tersebut. Serempak mereka meninggalkan ruang singasana. 

“Siapa sebenarnya kalian?” Walau merupakan serangkai kalimat tanya, namun terdapat tenaga dalam murni dalam jumlah besar yang diimbuh ke dalam setiap kata. 

Si Kumal terdiam. Bukan karena ia tak hendak menjawab, namun terdapat perasaan kurang nyaman yang tiada dapat dijelaskan. Matanya spontan melirik kepada Tuan Kekar yang berdiri di sisi, dan mendapati bahwa tokoh tersebut terlihat sangat waspada. Naluri Tuan Kekar mengisyaratkan bahaya, dan nalurinya itu sangat jarang keliru. Seketika itu juga benak Bintang Tenggara menyimpulkan bahwa tokoh di hadapan mereka bukanlah Balaputera Khandra! Mungkinkah Putri Duhsala salah mengambil kesimpulan…?

Di saat yang bersamaan, Si Kumal menyadari bahwa pertanyaan yang dilontarkan perlu ditanggapi. Salah menjawab, maka dalam satu serangan saja Karna Raja Angga dapat menumbangkan mereka berdua dengan mudah. Tokoh di atas singasana dipastikan teramat sangat perkasa!

“Kami adalah pendamping Pangeran Wyudharu yang ditugaskan untuk menyampaikan pesan,” tanggap Si Kumal berupaya menjaga ketenangan.  

“Waktu kalian telah habis. Aku tak perlu mendengarkan pesan dari mereka yang tak jujur,” ujar Karna Raja Angga sembari bangkit dari bangku singasananya. Beliau melangkah pergi begitu saja. 

Baik Tuan Kekar maupun Si Kumal menghela napas lega. Melalui pertemuan singkat tersebut, keduanya menyadari bahwa mereka hampir saja tersalah langkah. Tak pelak bahwa tubuh Karna Raja Angga memang ditumpangi oleh tokoh dari Negeri Dua Samudera, namun bukanlah Balaputera Khandra. Dengan kata lain, Putri Duhsala melakukan kesalahan yang hampir berakibat fatal!

Sang pelayan yang sebelumnya mengantarkan kedua tokoh datang menjemput. Ia mengarahkan agar keduanya mengikuti keluar dari ruang singasana. Akan tetapi, Si Kumal dan Tuan Kekar tidak dipandu menuju gerbang keluar, melainkan mereka dibawa ke sebuah taman di dalam lingkungan istana. 

Di bawah sebuah pendopo, terlihat seorang perempuan dewasa nan cantik sedang duduk menikmati pemandangan nan indah. Pembawaannya ibarat kebanyakan putri bangsawan, namun terdapat kesan yang sangat bersahaja darinya. 

“Silakan…,” sapa perempuan sembari menawarkan tempat duduk. Di saat yang bersamaan ia memberi isyarat agar sang pelayan dipersilakan pergi.

Tuan Kekar maupun Si Kumal hanya berdiri. 

“Oh, maafkankan kelalaianku yang terlupa memperkenalkan diri. Namaku Vrushali…” Sebentuk senyuman menghias bibirnya. Sangat mempesona.

Nama yang tak asing di benak Si Kumal. Berdasarkan penjelasan Putri Duhsala sebelum memberikan tugas, Vrushali merupakan istri dari Karna Raja Angga. Tokoh ini bahkan disanjung oleh Basudewa Krishna. Kala itu, Pangeran Arjuna melontarkan pernyataan bahwa Vrushali akan aman bila berada bersama Karna, sementara menurut pandangan Basudewa Krishna, adalah Karna yang akan aman bila bersama dengan Vrushali. 

“Yang Mulia Paduka Ratu,” ujar Si Kumal membungkukkan tubuh. “Apakah kiranya ada keperluan dengan kami…?”

“Bukankah kalian yang sengaja datang mengunjungi diriku…?”

Si Kumal tak dapat menyembunyikan keterkejutan, namun demikian ia mencoba peruntungan. “Diriku merupakan murid dari Perguruan Budi Daya dari Negeri Dua Samudera…,” ujarnya. Sesungguhnya pernyataan ini bukan sebuah kebohongan, namun bukan pula sepenuhnya kejujuran. 

“Dikau hanyalah murid sementara di Perguran Budi Daya… Sesungguhnya dikau adalah murid dari Perguruan Gunung Agung,” tanggap Vrushali ringan. 

Benak Si Kumal meneroka berbagai kemungkinan akan jati diri tokoh tersebut. Di antara mereka yang menumpang di Lancang Kuning, memang ada beberapa tokoh yang mengetahui kenyataan tersebut. 

“Apakah dikau dapat menebak siapa sesungguhnya aku…?”

Si Kumal terpaku di tempat. Ia tak hendak tersalah kata. 

“Bagaimana, wahai bintang di langit tenggara…?”

“Kuau!” Si Kumal hampir melompat di tempat. 

“Ssstt!” Tuan Kekar sontak memantau sekeliling. Untungnya tak terdapat sesiapa pun di sekitar taman. 

Vrushali kembali tersenyum. 

“Dari mana kau tahu bahwa ini adalah aku…?”

“Takdir kita selalu terkait…”

“Siapakah sesungguhnya jati diri Karna Raja Angga…?” sela Tuan Kekar yang tiada dapat menyembunyikan penasaran, apalagi setelah tokoh tersebut menggelitik nalurinya sebagai sosok yang sangat berbahaya. 

“Sungguh diriku tiada mengetahui, wahai Yang Terhormat Sesepuh Komodo Nagaradja…”

Tuan Kekar semakin membelalakkan mata. Dari mana Kuau Kakimerah mengetahui tentang keberadaan dirinya? Apakah baru-baru ini? Ataukah sudah sejak lama?

“Karna Raja Angga senantiasa waspada,” lanjut Vrushali mengabaikan keterkejutan lawan bicaranya. “Tiada pernah sekalipun beliau menunjukkan gelagat yang mencirikan seseorang dari Negeri Dua Samudera.”