Episode 113 - Pertemuan dan Perpisahan



Perubahan pasti akan terjadi. Cepat atau lambat, sesuatu tidak akan sama lagi, tidak  akan seperti yang dulu lagi, kecuali Tuhan yang maha esa. 

Untuk beberapa hal, perubahan akan membuat seseorang menjadi lebih baik, beberapa hal lainnya akan membuat seseorang menjadi lebih buruk. Namun, dalam beberapa kasus istimewa, ada orang yang tidak akan berubah meskipun sekelilingnya tidak lagi sama.

Dalam beberapa aspek, perubahan bukanlah hal yang buruk. Bahkan bisa dibilang perubahan akan membuat sesuatu menjadi lebih baik.

Seperti dalam bidang kedokteran. Perubahan pesat terjadi dan memungkinkan manusia untuk mengobati banyak penyakit yang dulunya tidak terpikirkan untuk bisa disembuhkan.

Seperti saat ini, ketika dunia dihantam oleh virus tak kasat mata yang mungkin bisa mengambil hidupmu keesokan harinya, orang-orang dalam bidang kedokteran terus berubah dan berkembang untuk mencari cara mengatasi masalah yang ada.

Semua upaya dan kerja keras itu membuat perubahan yang sangat hebat. Banyak orang yang dulu matanya terpejam, kini telah mulai membuka matanya dan melangkah untuk membantu orang lain. Banyak orang yang dulunya tidak peduli tentang sesuatu yang sepele seperti mencuci tangan, kini berlomba-lomba mencari sabun untuk mencuci tangan.

Meskipun begitu, tentu saja ada sisi hitam dalam setiap perubahan yang ada. Banyak orang yang memanfaatkan musibah virus ini sebagai momen untuk memperkaya diri dan melancarkan gerakan dalam bayangan. Bermanuver dengan cepat untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap untuk kepentingan bersama, walaupun kebenarannya hanya dirinya yang tertawa.

Semua dalam semua, sebuah koin akan selalu menampilkan warna yang berbeda. Kau bisa melihatnya dari sisa atas atau bawah, tapi alangkah lebih baiknya kau memahami dua sisi tersebut sebelum mengambil kesimpulan.

Juga, seperti yang dikatakan sebelumnya, ada beberapa kasus khusus. Ketika koin di lemparkan, ada kemungkinan koin tidak akan menampilkan sisi atas atau bawah, tapi tetap berdiri tegak di tengah-tengah.

Tidak terpengaruh oleh perubahan. 

Tetap menjaga warna sejati.

Tetap pada pendirian.

°°°

Seorang pria berpakaian serba hitam berjalan menuju sebuah ruangan. Ruangan yang tidak lama dia tempati tapi membawa aroma ramah baginya, mungkin karena banyak barang lama yang dia tempatkan di dalam ruangan tersebut.

Ruangan yang cukup luas itu kini adalah tempat tidurnya. Jika di lihat dengan seksama, bahkan bisa dibilang terlalu luas jika hanya untuk satu orang. Semua itu terlihat jelas karena masih banyak ruang yang belum terisi.

Dia berjalan ke tepi ruangan dan meraih sebuah foto lama di atas meja. Foto yang terlihat kumal karena telah termakan usia. Di dalam foto tersebut terdapat 4 sosok tersenyum bahagia. Seorang pria kekar dengan kumis yang tebal, seorang wanita dengan rambut hitam yang menawan, seorang wanita tua dengan senyum yang ramah, dan seorang anak kecil dengan senyum yang sumringah.

Dengan lembut, dia menyentuh gambar pria kekar berkumis dan wanita berambut hitam tersebut, kemudian pikirannya berkelana melewati ruang dan waktu menuju masa lalu yang pernah tercipta.

Kala itu, pria kekar dengan kumis tebal itu dengan hati-hati berdiri di belakangnya. Mencoba menolong dia apabila terjatuh dari sepeda yang baru saja dia dapatkan. Di kejauhan, wanita dengan rambut hitam tersenyum lembut memandangi pemandangan yang mungkin di anggap biasa saja oleh orang lain, tapi baginya itu pemandangan yang sangat indah.

Kemudian tiba-tiba saja sepeda yang dia kendari terjatuh, tapi pria berkumis tebal itu tidak sempat menyelematkannya dan akhirnya tubuhnya dengan keras menghantam aspal. Dari jauh, wanita dengan rambut hitam berlari dengan terburu-buru mendekat, raut khawatir jelas tertulis di wajahnya.

Anak kecil itu terluka di sikunya, sedikit darah keluar dari luka akibat benturan tersebut, tapi dia tetap tersenyum seraya menahan sakit tersebut, tidak mengizinkan kedua orang yang berharga baginya khawatir akan keadaannya.

Pria kekar berkumis tebal itu tersenyum bangga melihat pria kecil itu tidak menangis. Dengan senyum lebar di wajahnya dia memuji pria kecil itu seraya menggosok kepalanya.

Tapi, kemudian tiba-tiba suara bentakan datang dari sisinya, wanita dengan rambut hitam memarahinya karena tidak mampu menjaga pria kecil tersebut. Adegan itu sebenarnya tidak lucu, tapi pria kecil itu tertawa melihatnya.

Tawanya membuat pria berkumis tebal dan wanita dengan rambut hitam itu terdiam untuk sesaat, lalu kemudian ikut tertawa. Tawa mereka membuat orang-orang di sekitarnya melihat mereka bertiga dengan pandangan aneh, tapi mereka bertiga tidak peduli dan terus tertawa dengan bahagia.

Momen sederhana yang terus terngiang dalam ingatan. Dengan luka kecil di siku yang mulai tertelan waktu sebagai saksi. Adegan itu menghangatkan hatinya.

Namun, bahagia tidak bertahan lama, sebuah peristiwa tak terduga  terjadi. Sebuah kecelakaan maut merenggut nyawa pria berkumis tebal dan wanita dengan rambut hitam itu. 

Saat pria kecil itu mengetahuinya, sebuah rasa sakit menghantam dadanya, menghancurkan sesuatu tak terlihat di dalam dadanya, dan memaksa kesedihan yang amat dalam tumbuh tanpa terkendali.

Pria kecil itu tidak menangis, dia hanya bisa menjerit memanggil dua nama yang tak akan pernah menjawab panggilannya. Meskipun begitu, teriaknya masih menggema dengan kuat.

Dunianya tak lagi berwarna, hanya hitam dan abu-abu di sekitarnya. Tak ada yang bisa dia lakukan, meskipun api dendam bergelora dan membakar hatinya, memaksa dia untuk bergerak dan membalas luka yang telah terjadi, tapi tetap saja tidak ada yang bisa dia lakukan, karena dia hanya anak kecil yang masih belum tahu tentang dunia.

Tapi, tiba-tiba saja datang peluk hangat, pria kecil itu melihat sosok wanita yang telah di makan usia, tapi tetap menawan. Hangat itu mengembalikannya, membuat dia kembali tumbuh, dan menjadikannya lebih kuat dari sebelumnya.

Kemudian, datang seorang pria seumurannya, menjadi teman pertamanya dan akhirnya membuat ikatan kuat yang lebih dari sekadar aliran darah.

Hari-hari terus berlalu, kini pria kecil itu sudah tumbuh menjadi anak remaja, memiliki cinta, memiliki mimpi, dan memiliki keluarga kecil yang sangat dia hargai.

Namun, hari bahagia itu kembali hancur karena peristiwa serupa dari masa lalu. Sebuah kecelakaan merenggut nafas dari pemilik peluk yang menghangatkan hatinya. Lagi, rasa dingin yang amat sangat terasa di sekujur tubuhnya. Sesuatu yang pernah hancur di dalam dadanya, kembali hancur dan remuk karena kesedihan yang amat sangat.

Api dendam yang dulu pernah bergelora, kini kembali membara dan membuat warna di matanya berubah. 

Api itu membara dengan hebat, seolah-olah akan meledak dengan hebatnya. 

Saat itu, tiba-tiba sebuah kepingan kecil jatuh dari langit, jatuh secara perlahan dan kemudian mengenai pemuda yang sedang bersedih tersebut. 

Kepingan kecil itu membuat pintu kesempatan untuk balas dendamnya terbuka. Kekuatan hebat mengalir dalam darahnya dan perjanjian tercipta.

Selanjutnya, dia mengirimkan surat kecil kepada teman pertamanya dan pergi untuk membalaskan dendam. Kini, tidak ada yang bisa menghentikannya. Peluk hangat yang dulu pernah memadamkan api emosi tak ada lagi, dan teman pertamanya juga tak sempat untuk memadamkan api tersebut.

Langkah pertamanya untuk pergi membawanya ke dunia yang baru. Di sana, dia memiliki banyak orang di sekitarnya. Tapi, tetap saja dia merasa kesepian. Sebuah lubang besar menganga di dalam hatinya yang tidak mungkin bisa di isi kembali, lubang besar tanpa dasar.

Waktu terus berlalu, satu persatu keinginannya untuk balas dendam terwujud, tapi dia tetap melanjutkan langkahnya. Karena dia tidak bisa lagi pergi dari jalan yang telah dia pilih di awal kepergiannya.

Kini, target balas dendamnya menjadi sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Dia kini tidak lagi memburu orang-orang yang telah menciptakan luka di hatinya. Tapi dia akan membalaskan dendam kepada setiap orang yang dia anggap tidak sejalan dengan pemikirannya.

Dia akan terus berjalan sambil menghancurkan semua yang dia anggap tidak pantas ada di dunia. Dia akan terus melangkah ke masa depan yang dia inginkan. 

Pemikiran naif yang sesuai dengan umurnya.

Meskipun begitu, dengan kekuatan yang dia dapatkan, hal tidak masuk akal itu terus terwujud. Satu persatu, semua yang tidak sedap dipandang terus hancur.

Demi membuat perubahan bagi dunia.

Yang tanpa dia sadari, juga merubahnya dari dalam. Dia tidak lagi peduli dengan impiannya, dia tidak lagi peduli dengan teman pertamanya, yang ada di matanya hanya dendam yang semakin lama semakin membara.

Mungkin, tidak bisa lagi dipadamkan.

Tidak ada lagi yang tahu tentang masa depannya, tidak ada yang tahu tentang apa yang sebenarnya dia inginkan, bahkan dia sendiri juga tidak tahu tentang apa yang dia lakukan.

Dia hanya terus berjalan pada jalan yang telah dia pilih.

"Selanjutnya, adalah yang terakhir."

"Ya."

"Setelah itu, penuhi perjanjian yang yang dulu."

"Kau tidak perlu mengingatkan aku terus, aku tidak akan mengingkarinya."

"Baguslah kalau begitu."

"Lagipula tidak ada lagi yang penting bagiku di dunia ini."

Obrolan singkat itu tertelan waktu dan menghilang tanpa jejak.

Pria dengan pakaian serba hitam itu menaruh kembali foto kumal ke atas meja, lalu secara perlahan berjalan ke tempat tidurnya lalu mengistirahatkan tubuhnya.

Dengan lembut dia memejamkan matanya dan bergumam dengan lembut, "Sebentar lagi, aku akan menyusul kalian."

Identitas sebenarnya dari pria itu adalah Rito. Pada awalnya dia terus menggunakan pakaian serba hitam yang menutupi tubuhnya agar tidak ketahuan oleh orang lain. Tapi karena itu sebuah julukan Iblis Hitam tersemat pada dirinya. 

Meskipun begitu, Rito tidak menolaknya, dia lebih memilih untuk di panggil sebagai Iblis Hitam daripada dengan nama panggilan yang berharga dari temannya, yang kini tidak lagi dia anggap berharga.

Suara jam dinding menggema di ruangan yang luas itu, tapi tiba-tiba saja Rito di bawa dengan paksa ke dunia jiwanya. Dunia yang tercipta berdasarkan dirinya sendiri.

Di sana adalah tempat yang hitam tanpa ada apapun. Sebuah kekosongan yang tidak berbatas.

Dia berdiri berdampingan dengan seorang iblis yang memberikannya kekuatan. Di hadapan mereka berdua, berdiri seorang iblis dengan nama Raon.