Episode 112 - Jiwa yang Busuk



Dari luar, aku terlihat seperti gadis cantik pada umumnya. Tapi aku sadar, aku ... sedikit gila.

Benar, orang-orang tidak tahu bagaimana aku yang sebenarnya. Karena tampak dari luar, aku, Berlian, adalah gadis cantik yang sangat enak dipandang. Juga, aku selalu menjaga sopan santun ketika berhadapan dengan orang lain. Oleh sebab itu wajar saja orang-orang salah paham akan diriku.

Meskipun aku tahu aku agak sedikit tidak biasa, menurutku itu bukan sesuatu hal yang perlu diributkan. Banyak orang-orang yang lebih istimewa daripada orang lainnya, seperti Messi yang lebih hebat bermain bola dari pemain lainnya, Einstein yang memiliki IQ lebih tinggi daripada yang lainnya.

Karena itu, tidak perlu diributkan ketika aku memiliki pemikiran dan imajinasi lebih dari orang-orang lainnya.

Itu sesuatu yang wajar. Contoh lainnya, di dunia ini terdapat banyak batu, tapi ada beberapa jenis batu yang lebih istimewa dari batu lainnya. 

Bahkan ada contoh yang lebih sederhana, jika diberikan dua uang bernilai 1000 tapi yang satu adalah dollar dan yang lainnya adalah rupiah, sudah jelas orang-orang memilih yang dollar, karena dollar memiliki harga yang lebih baik.

Jadi, sesuatu yang berbeda, sesuatu yang terlihat janggal, bukan sesuatu yang perlu diributkan. Banyak hal istimewa lainnya hingga itu menjadi terlihat tidak istimewa lagi.

Saat ini, aku berada di kantor tempatku bekerja, di depanku adalah layar komputer yang menyala dan memiliki banyak data di dalamnya, dan tugasku adalah mengisi data-data yang kosong tersebut. Sebuah pekerjaan yang sangat merepotkan dan membosankan.

Aku menoleh ke samping, di sana terdapat rekan kerjaku, namanya adalah Dania, seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjangnya. Rambutnya sangat indah dan terlihat sangat terawat, tanpa sadar aku mencoba untuk menyentuhnya.

"Ada apa?" tanya Dania dengan tanda tanya di wajahnya.

"Tidak, aku hanya kepikiran, rambutmu sangat bagus ya." Jawabku sambil tersenyum kecil.

"Hehe, rambut kamu juga bagus banget kok." Balas Dania sumringah. Jelas, dia gadis yang sederhana, semua perasaannya tertulis jelas di wajahnya.

"Tidak, rambutmu terlihat lebih bagus, pakai perawatan apa?" tanyaku lagi.

Kemudian Dania menceritakan tentang semua perawatan yang telah dia lakukan di salon sambil tersenyum.

Namun, pikiranku melayang tinggi dan suara Dania terasa menghilang, menggantikannya adalah imajinasi yang berlari dengan liar. Di dalam imajinasiku, aku melihat sosok Dania dengan rambut hitam panjangnya, kali ini rambutnya di ikat dengan tali tebal dan kemudian tali itu di ikatan pada belakang sepeda motor. Tak perlu di tanyakan lagi, motor yang melaju kencang itu menyeret tubuh Dania dan rambut hitam panjang terlihat sangat mampu untuk terus bertahan.

Teriakan dan air mata mengucur deras dan banyak luka di sekujur tubuh Dania, kemudian tiba-tiba saja sepeda motor berhenti dan sosok Dania terlempar dengan kuat dan menabrak sepeda motor tersebut.

Sebuah pemandangan yang fantastis.

Namun, rambut hitamnya masih kokoh berada di kepalanya.

Tiba-tiba saja imajinasiku buyar karena Dania menepuk pelan pipiku.

"Maaf, aku malah melamun, hehe." Balasku sambil tersenyum malu.

"Ya udah, ayo lanjut kerja lagi." Ucap Dania.

"Siap." Jawabku sembari memberi hormat.

Aku kembali menyibukkan diri dalam pekerjaanku dan melepaskan kesenanganku untuk sementara. 

Jam 5 sore, akhirnya aku bisa pulang. Biasanya, aku akan memesan ojek online untuk mengantarkan aku pulang, tapi hari ini agak berbeda. Salah satu teman kerjaku, Alex, menawarkan diri untuk mengantarkan aku pulang.

Tidak ada alasan untuk menolak ajakannya dan akhirnya aku duduk di belakang sepeda motornya. Aku sadar bahwa dia melakukan ini untuk mendekatiku, tapi aku tidak terlalu ambil pusing dan memberikan respon positif pada pendekatannya. Bukan berarti aku menyukainya juga, aku hanya tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi saat ini, masalah di masa depan akan aku serahkan pada aku di masa depan.

"Pegangan." Ucap Alex.

"Iya." Balasku.

Dari belakang, aku memeluk tubuh kekar Alex. Dia sering bercerita bahwa dia selalu pergi ke gym, jadi aku tidak heran tubuhnya penuh dengan otot-otot yang memanjakan mata.

Kembali, imajinasiku mulai melayang tinggi. Di dalam imajinasiku, aku membayangkan Alex tanpa memakai baju sedang diikat. Lalu dengan menggunakan silet, aku mulai mengiris semua otot-otot yang ada di tubuhnya. Darah terus terkucur dari sekujur tubuhnya dan akhirnya aku selesai mengangkat semua otot itu dan menaruhnnya di samping. Sementara itu, Alex yang biasanya terus tersenyum kini mulai menangis seperti bayi yang baru dilahirkan.

"Ayo turun." Ucap Alex membuyarkan imajinasiku.

"Oh, sudah sampai?" 

"Belum, kita makan dulu yuk." Balas Alex.

"Oh, oke, tidak masalah." 

Kemudian kami menuju meja yang masih kosong dan memesan hidangan untuk masing-masing, aku memesan nasi goreng dan Alex memesan bakso.

Warung makan yang kami datangi memang menjual banyak hidangan sekaligus, ada sate, bakso, nasi goreng, dan masih banyak yang lainnya. Di salah satu sisi warung, terdapat seorang pria yang sedang berdiri seraya mengipasi sate yang sedang di bakar.

Sekali lagi, imajinasiku melayang tinggi meninggalkan diriku. Kali ini, di dalam imajinasiku, aku sedang berdiri seraya mengipasi tusuk sate yang sedang dibakar di atas bara api. Asap tipis terus keluar setiap kali aku mengipasinya. 

Setelah beberapa saat, aroma daging sudah keluar dan membawa aroma yang sangat khas, aku mengambil semua tusuk sate yang sudah matang dan menaruhnya ke piring. Kemudian aku berjalan mendekati Alex yang masih menangis kesakitan.

Setelah melihat tusuk sate yang aku pegang, tangisan Alex semakin kencang dan kini menyerupai teriakan hewan buas. Kesal karena suara tangisannya yang mengganggu, aku menusukkan tusuk sate pada pipinya dan menembus ke bagian yang lainnya.

Oh, ini sangat menyenangkan.

Aku terus menusukkan tusuk sate yang tersisa pada pipi Alex. Namun, kini pipinya telah penuh dengan tusuk sate dan masih ada tusuk sate yang tersisa, tapi aku tidak mau ada tusuk sate yang terbuang hingga akhirnya aku langsung menusukkannya ke perut Alex. 

Haha, sangat efisien, tidak perlu dikunyah lagi.

"Hei." Alex sekali lagi membuyarkan imajinasiku, membuat aku sedikit kesal.

"Ada apa?" tanya Alex dengan ramah.

"Hemm, tidak apa-apa, cuma sedikit lelah saja." 

"Oh, maaf, selesai makan akan langsung aku antar pulang."

"Iya, terima kasih."

Selesai makan, Alex mengantarkan aku pulang. Langit sore yang mulai menghilang di ujung sana terlihat sangat indah, layaknya kehidupan, yang suatu hari nanti pun pasti akan sirna. Namun, meskipun begitu, keindahan itu akan selalu tetap ada dalam ingatan.

°°°

Seperti Dalpos dan Biloth, Egor juga memasuki dunia jiwa manusia untuk mengambil alih tubuh sang pemilik jiwa.

Sosok Egor yang seperti seorang kesatria berjalan dengan hati-hati, di bahunya seekor ular berwarna pelangi terus mendesis seraya memperhatikan sekeliling. 

Dunia jiwa yang Egor masuki tidak seperti yang dia bayangkan. Tidak pernah terpikirkan bahwa jiwa manusia bisa seperti apa yang dia lihat saat ini.

Di sekitarnya banyak mayat-mayat yang tak utuh berserakan. Aroma darah dan daging busuk tercium jelas dan tidak mungkin bisa disembunyikan. Banyak hewan-hewan buas yang sangat mengerikan sedang memakan mayat-mayat yang berserakan tersebut.

Hewan-hewan buas itu menatap tajam pada Egor, seakan tidak mau berbagi makanan. Kemudian tiba-tiba saja seekor hewan buas yang tampak seperti harimau tapi berkepala kadal melompat dan menyerang Egor, mungkin itu karena Egor berdiri di dekat makanannya.

Egor menarik tombaknya, lalu dengan ringan menusukkan tombak tersebut pada hewan buas yang menyerangnya. Tombak menusuk kepala hewan buas itu hingga tembus pada punggungnya, darah segar mengalir deras hingga akhirnya hewan buas itu tak lagi bernafas.

Tapi, ternyata tindakan Egor membuat hewan buas lainnya menjadi marah. Mata mereka menjadi berwarna merah dan dengan keras menggeram pada Egor.

Di punggung Egor, ular berwarna pelangi mendesis dengan keras pada hewan-hewan buas tersebut, tapi ternyata tindakannya itu membuat hewan-hewan buas tersebut menjadi semakin marah, tampaknya mereka tidak mempunyai pikiran dan hanya bergerak sesuai insting, dan insting mereka berkata bahwa Egor dan ular berwana pelanginya harus dibunuh.

Dengan gila, hewan-hewan buas tersebut berlari mengejar Egor, tanpa komando, mereka lebih mirip dengan tanah yang longsor ke arah Egor. Kadang ada hewan buas yang lebih besar menginjak hewan buas yang lebih kecil, benar-benar pemandangan yang penuh kekacauan.

Egor memegang tombaknya erat, lalu tiba-tiba saja tombaknya diselimuti oleh api yang membara. Jika hewan buas dengan pemikiran normal melihat api tersebut, pasti mereka akan merasa terintimidasi dan tidak akan berani untuk mendekatinya, tapi sayangnya hewan-hewan buas ini hanya tubuh monster tanpa otak.

Tanpa takut, seekor hewan buas berbentuk buaya dengan kaki kuda menyerang Egor dengan kepalanya yang seperti badak bercula satu. Namun, serangan itu berhasil ditangkis Egor dengan tombaknya, lalu tanpa basa-basi Egor menusukkan tombak itu pada kepala hewan buas yang menyerangnya dan membuatnya langsung hangus terbakar api yang menyelimuti tombak.

Dalam satu menit, tombak api milik Egor terus menyerang hewan-hewan buas di sekitarnya, akan tetapi jumlah hewan buas itu sangat banyak dan Egor mulai kesal dengan pertarungan tidak berarti ini.

Akhirnya ular berwarna pelangi di punggung Egor turun dan kemudian tubuhnya membesar dengan cepat. Lalu ular berwarna pelangi itu membuka mulutnya dan dari sana keluar kabut berwarna ungu yang dengan cepat menyebar ke sekitar dan saat kabut ungu itu bersentuhan dengan hewan buas yang menyerang mereka, hewan-hewan buas itu langsung terbakar dan mati.

Setelah beberapa saat, akhirnya kabut itu menghilang bersama dengan ular pelangi yang kembali ke ukuran semulanya.

Egor benar-benar tidak habis pikir, dunia jiwa ini sangat berbeda dengan apa yang dia bayangkan. 

Dunia jiwa ini sangat kotor dan busuk.

Kemudian langkah kaki terdengar, Egor menolehkan kepalanya dan melihat ke arah suara. Di sana terlihat seorang gadis dengan gaun putih bersih. Dan di belakang gadis tersebut terlihat bentuk raksasa dari gadis itu sedang memakai gaun berwarna merah dan tersenyum lebar hingga merobek mulutnya, dia membawa payung dan sebuah pisau.

Dia pasti pemilik dunia jiwa ini, pikir Egor.

Meskipun begitu, Egor tidak memiliki niat untuk bertarung, dia memiliki pemikiran lain dalam kepalanya.

"Ayo kita buat kesepakatan." Ucap Egor.

Gadis bergaun putih itu tersenyum dengan lembut sebagai balasannya.