Episode 423 - Permainan Dadu (3)



“Sepuluh peti berisi kepingan emas,” ujar Kurawa ke-100 Pangeran Wyudharu di atas arena permainan dadu. 

Walau disebut sebagai arena, pada panggung yang terletak tepat di tengah-tengah aula, hanya terdapat sebentuk meja persegi panjang. Ukuran panjangnya sekira empat meter, lebar dua meter, dan tinggi sekira setengah meter. Mirip dengan sebuah meja makan yang biasa-biasa saja, bahkan terkesan mungil ketika dikelilingi para Kurawa dengan postur tubuh nan tegap-tegap. 

“Hanya sepuluh peti kepingan emas…? Taruhan terakhir adalah dua puluh peti, apakah kiranya maksud engkau, wahai Wyudharu…?” ejek Kurawa ke-5 Pangeran Jalasandha sembari membuka lengan lebar-lebar seolah ia merasa sangat kebingungan.

Alunan nana sitar, sarod, tambura, tabla dan vina mengalun semarak pada panggung di sisi kiri. Iramanya selaras dengan gerakan gemulai perempuan-perempuan dewasa muda yang menari di atas panggung berseberangan. Setiap satu dari mereka memainkan lekuk perut nan terbuka mulus, yang semakin menarik perhatian karena pada pusar bergelayutan kerlip perhiasan emas bertakhtakan batu mulia beraneka warna. Sungguh menyilaukan mata.

“Engkau yang baru-baru ini meraih pencapaian nan gemilang, diberkati hak atas seratus ribu pasukan prajurit Sampshapataka… Bukankah sepuluh peti kepingan emas adalah jumlah yang terlampau kecil…?” lanjut Pangeran Jalasandha, kini sedikit mengangkat kedua lengan selayaknya sedang mempertanyakan sebuah keganjilan kepada khalayak yang menyaksikan. 

“Wahai kakakku Pangeran Jalasandha,” tanggap Pangeran Wyudharu pelan. Ia menyadari bahwa tak boleh terpancing emosi lalu memaksakan diri bertaruh dalam jumlah yang terlampau besar hanya karena hendak menjaga muka. Di saat yang bersamaan pula, ia beranggapan bahwa ejekan yang dilontarkan harus dibalas dengan pantas. “Bukankah dikau sudah kehilangan tiga puluh peti emas dalam dua lemparan dadu sebelumnya…? Diriku membuka dengan sepuluh peti karena memikirkan keadaan dikau, wahai kakakku…”

Raut wajah Pangeran Jalasandha sontak berubah merah, lebih padam daripada ketika dia kalah dua puluh peti emas sebelumnya. Mata melolot dan gerahamnya bergemeretak, ia melangkah maju. 

“Hahaha…” Tetiba terdengar gelak tawa dari arah panggung kehormatan. Kurawa ke-2 Pangeran Dushasana bangkit berdiri, lantas melompat tangkas. Seketika itu juga dia mendarat di arena permainan dadu. Kehadirannya serta-merta membuat suasana semakin tegang. Ia kemudian menepuk ringan pundak Pangeran Wyudharu. 

Tubuh Pangeran Wyudharu sontak terhuyung ke sisi dan keringat di pelipis mulai membulir. Betapa tepukan pundak yang terlihat ringan tersebut sesungguhnya diimbuh dengan tenaga dalam. Jikalau tak memiliki raga yang prima, maka Pangeran Wyudharu sudah pasti jatuh berjumpalitan ke bawah panggung. 

Tanpa mengumbar kata, Pangeran Dushasana mengisyaratkan bahwa ucapan sang adik ke-100 sesungguhnya sudah melewati batas. 

Di lain sisi, Pangeran Jalasandha menyadari akan ‘teguran’ yang diberikan. Sebentuk senyuman puas menghias di sudut bibirnya. Sorot matanya mengatakan bahwa sang kakak kedua berada di pihaknya. Pun hal yang sama diamini oleh beberapa Kurawa lain yang menyaksikan. 

“Aku juga bertaruh sepuluh peti berisi keping-keping emas,” lanjut Pangeran Dushasana lantang sembari mengambil dadu. Senyuman di wajahnya membuat suasana kembali cair. 

Pangeran Jalasandha terkesan sedikit kecewa. Sementara tiga Kurawa lain melompat sigap menyambut undangan Pangeran Dushasana. Sebagian dari mereka bukan tak hendak menaikkan nilai taruhan, namun merasa bahwa permainan dadu seharusnya adalah sesuai dengan namanya, yaitu ‘permainan’. Sebuah permainan selayaknya untuk dinikmati dengan sepenuh hati. Masing-masing lantas mengucapkan muka dadu yang menjadi pilihan mereka. 

“Ada apa, Jalasanda? Jikalau memenangkan putaran ini, maka engkau akan meraih keuntungan tiga peti emas…,” ujar Pangeran Dushasana sembari mengayunkan lengan dan melempar buah dadu. 

“Enam!” teriak salah seorang peserta di atas panggung.

“Hahaha…” Pangeran Jalasandha tergelak puas karena muka dadu pilihannya yang kali ini mengemuka. “Terima kasih atas sumbangsih kalian, wahai saudara-saudaraku. Emas kalian akan sangat bermanfaat di dalam Perang Kurukshetra nanti!”

Demikian, Pangeran Jalasandha melompat balik ke panggung kehormatan. Beberapa peserta pemainan dadu yang sebelumnya kalah terlihat kesal. Setelah meraih satu kemenangan, tokoh tersebut malah menarik diri. Di lain pihak, Pangeran Jalasandha memang sengaja meninggalkan arena, bukan sekadar hendak menunjukkan bahwa dirinya dapat berlaku sesuka hati, namun lebih karena ia berpandangan bahwa keberadaan Pangeran Dushasana malah akan menghambat rencananya memeras Pangeran Wyudharu. Ia perlu menyusun siasat lain.

Atas panduan Pangeran Dushasana, permainan dadu berlangsung beberapa kali lagi dengan nilai yang sama. Dia terus menerus kalah, walau menanggapi setiap kekalahan dengan hati riang. Malangnya, tak sekalipun dewi keberuntungan berpihak kepada Pangeran Wyudharu, sehingga kehilangan dua puluh peti emas lagi. 

Pangeran Wyudharu memutuskan undur diri untuk sementara waktu. 

“Wyudharu…,” sapa Pangeran Kundhasi sembari menyerahkan segelas anggur. “Kehadiran dikau hari ini bertujuan untuk melipatgandakan kekayaan, agar mampu membiayai pasukan prajurit Sampshapataka… bukankah demikian…?”

Pangeran Wyudharu terkejut, namun mampu menjaga ketenangan pada raut wajahnya. Perhatiannya saat ini sedang terpusat dan keasyikan menikmati lekuk ketiak para penari yang aduhai. Tanpa mengalihkan pandangan, ia menerima segelas anggur yang ditawarkan, diiringi dengan sebentuk senyuman. 

“Bukanlah rahasia jikalau dikau mengalami kendala. Hampir semua menyadari bahwa walaupun bukan yang terendah di antara kita, namun harta kekayaanmu sangatlah terbatas. Di lain sisi, sesungguhnya dikau dapat meminta bantuan kepada kakanda Putra Mahkota. Toh, beliau yang memberikan hadiah dalam bentuk pasukan prajurit Sampshapataka…”

Pangeran Wyudharu tersenyum kecut. Harga dirinya menolak untuk mengemis. Di saat yang bersamaan, ia tak hendak terlibat terlalu jauh dalam percakapan dengan sosok yang mendatanginya itu. Walaupun ingatan di dalam benak akan tokoh tersebut sangatlah terbatas, namun dari tindak-tanduknya Ginseng Perkasa memahami betul bahwa Pangeran Kundhasi merupakan tokoh yang senang bersiasat. 

Tatapan beberapa pasang mata di panggung kehormatan mengawasi perbincangan antara Pangeran Wyudharu dan Pangeran Kundhasi. Betapa sebagian menghela napas lega tatkala menyaksikan Pangeran Wyudharu mengangkat gelas, meminum seteguk anggur, lantas melangkah pergi dari lawan bicaranya. 

Setelah itu, sejumlah adik-beradik Kurawa lain secara bergantian mendatangi Pangeran Wyudharu. Kesemuanya memulai percakapan dan sangatlah ramah. Semakin mudah untuk menebak bahwa masing-masing dari mereka menyembunyikan udang di balik batu. 

“Jangan hiraukan mereka,” tetiba terdengar suara menyapa dari arah belakang. Dia berdiri sambil bersandar pada salah satu tiang kokoh yang menyangga aula. “Aku akan mendukungmu.”

Pangeran Wyudharu mengenal tokoh tersebut sebagai Kurawa ke-47 Pangeran Sukshena, salah satu Kurawa yang terkenal senang mengumpulkan sekutu. Saat ini, diketahui pula dia mengepalai salah satu kubu yang berisi tak kurang dari dua puluh anggota. Kepribadiannya keras dan sangat terpusat dalam memenangkan Perang Kurukshetra. Ia juga sangat berambisi akan kekuasaan, bukan sekadar jabatan di dalam pemerintahan. Bila tak di Ibukota Hastinapura, maka dia menginginkan kekuasaan di tempat lain. Bilamana nanti memenangkan Perang Kurukshetra, maka kerajaan-kerajaan pendukung Pandawa akan menjadi sasaran nan sangat empuk baginya. 

Kepada saudara-saudara lain yang mendatangi, Pangeran Wyudharu sebelumnya berlaku dingin. Akan tetapi, kepada tokoh yang satu ini tanggapannya berbeda. “Kerajaan mana yang akan dikau serahkan kepada diriku setelah kita memenangkan Perang Kurukshetra nanti…?” ajunya tanpa berbasa-basi. 

Pangeran Sukshena awalnya memasang kesan santai dengan berdiri bersandar pada salah satu pilar, namun mendengar pertanyaan menohok dari sang adik segera ia berdiri tegap. Kedua bola matanya mencermati dengan seksama. Agaknya, di dalam benak kini ia menyadari bahwa lawan bicaranya itu bukanlah si bungsu yang lemah dan mudah dimanipulasi. Di saat yang bersamaan, hatinya senang. Tak hanya berpeluang memperoleh tambahan pasukan dalam jumlah besar, ia juga berhadapan dengan calon panglima perang yang tangguh. Sekutu yang bernilai tinggi.

Penuh percaya diri, Pangeran Sukshena menganggapi, “Katakan kerajaan mana pun dari kubu Pandawa, dan engkau akan menjadi penguasanya…”

Pangeran Wyudharu tak kuasa menahan senyuman. Ia mengetahui bahwa berkumpul dalam satu kubu justru menunjukkan mereka adalah pribadi-pribadi yang lemah dan memiliki sumber daya terbatas. Hanya bila bersatu padu mereka dapat unjuk gigi. Satu-satunya yang patut diwaspadai dari kubu mereka adalah keberadaan Pangeran Kundhasi. Bahkan, kemungkinan besar dia adalah dalang yang bermain di belakang layar. 

“Cepat, katakan saja dan aku akan membuat mimpimu menjadi kenyataan…,” bisik Pangeran Sukshena.

Dalam kaitan ini, Pangeran Wyudharu memperkirakan bahwa di dalam kubu Pangeran Sukshena telah berlangsung kesepakatan pembagian kekuasaan berdasarkan sumbangsih masing-masing anggotanya. Dengan berbisik, Pangeran Sukshena menunjukkan bahwa dia bersedia mengubah atau setidaknya mengatur agar apa pun permintaan yang diajukan akan dipenuhi. Perihal jatah anggota lain akan diurus belakangan. 

“Wahai kakakku, apakah diriku perlu mengulang lagi pertanyaan…? Silakan dikau yang mengajukan penawaran, dan bilamana penawaran tersebut menarik, maka diriku akan dengan senang hati… mempertimbangkan.” 

Demikian, Pangeran Wyudharu kembali mengangkat gelas, meminum seteguk anggur, lantas melangkah menjauh dari lawan bicaranya. Ia mencari posisi yang lebih baik untuk menikmati lekuk ketiak nan mulus-mulus. Apalagi, para penari telah cukup lama bergerak rancak sehingga mulai terlihat keringat pada permukaan setiap pasang ketiak. Oh betapa nikmatnya bila dapat mengelus wajah para permukaan ketiak nan lembut, lembab serta hangat. Surga duniawi!

“Keparat!” gerutu Pangeran Sukshena tatkalalawan bicaranya menghilang di balik keramaian. “Lancang bocah bau kencur itu mempermainkan aku!” 

“Dia menyembuyikan sesuatu…,” tanggap Pangeran Kundhasi yang tetiba muncul. “Harta kekayaannya terbatas, namun dia tak akan memohon bantuan kepada Putra Mahkota, atau kepada sesiapa pun…”

“Halah… Kau berpikir terlalu jauh! Bocah itu mengetahui kalau dia sedang berada di atas angin, jadi dia sengaja mengulur-ulur waktu! Dia menunggu tawaran terbaik!” 

“Tidak… Tidak sesederhana itu…,” tukas Pangeran Kundhasi dengan wajah serius. “Apakah Kakak Sukshena memperhatikan bagaimana dia memandangi para penari…?”

“Hm…? Memanglah janggal. Dia bisa saja memperoleh perempuan-perempuan bangsawan yang berkal-kali lipat lebih cantik daripada penari-penari itu…”

“Dia sengaja hendak mengelabui penilaian kita…,” ujar Pangeran Kundhasi. Di saat berujar, bola mata melirik ke arah panggung kehormatan. Di atas sana, beberapa saudara tua tak lepas mengawasi gerak-gerik Pangeran Wyudharu. 

Pangeran Sukshena mengikuti arah lirikan mata Pangeran Kundhasi. Di saat itu pula, segera dia menyadari maksud dari pesan yang disampaikan. “Jikalau hanya tawaran terbaik, maka dia dapat langsung meminta kepada salah satu dari mereka…,” simpulnya pelan. 

Pangeran Kundhasi mengangguk. “Tiada mengapa. Apa pun yang terjadi hari ini, seratus ribu pasukan prajurit Sampshapataka sudah jatuh ke dalam genggaman kita!” 

Keduanya saling bertukar senyum, kemudian berpisah ke arah yang berbeda. Sementara itu permainan dadu di atas panggung terus berlangsung, dan di saat yang bersamaan berbagai pihak mengumpulkan data, menyusun rencana, bahkan melancarkan siasat. Para pangeran yang berada di panggung kehormatan turun dan ikut berbaur. Setiap pasang mata mengawasi satu sama lain. 

Air liur mulai mengalir di sudut bibir Pangeran Wyudharu yang asyik menonton para penari dari balik bayang-bayang pilar besar penopang aula. 

“Ssttt… Sssstttt… ” Tetiba terdengar suara mendesis dari arah belakang.

Pangeran Wyudharu sigap menyeruput masuk air liur di sudut bibir tatkala memutar tubuh. Sungguh kemampuan nan sangat piawai dan terasah oleh waktu. Di hadapannya, menanti seorang perempuan dewasa muda nan cantik lagi menawan dari segala sisi. Semua pihak mengenal perempuan dewasa muda itu sebagai satu-satunya Kurawa perempuan. 

“Berhentilah berpura-pura…,” bisik Kurawa ke-101 Putri Duhsala. “Aku merana, karena bencana.”

“Hm…? Kasihan sekali…”

“Aku merana, karena bencana…,” ulang Putri Duhsala memelototkan mata. 

“Bencana apa…?”

“Ini aku… aku… Canting Emas!” Perempuan dewasa muda itu menggeretakkan gigi.

“Oh… iya… iya… Bin… Bintang Tenggara,” tanggap Pangeran Wyudharu terbata-bata. Keduanya berbisik-bisik di balik pilar besar. 

“Sudah kuduga bahwa engkaulah yang menumpang di tubuh itu. Seperti biasa pencapaianmu terlalu menonjol. Dampaknya membuat banyak pihak tak nyaman, dan lagi puisimu membuat mereka semakin mendulang kecurigaan. Sudah, batalkan apa pun rencanamu di tempat ini, aku akan memberikan harta untuk menopang seratus ribu pasukan prajurit Sampshapataka…”

“Benarkah…?” Suara Pangeran Wyudharu sedikit meninggi. 

“Di dunia manapun aku kaya raya dan tak pernah berbohong,” dengus Canting Emas. “Kita tak bisa berbincang-bincang lebih lama. Esok malam sambangi aku di istana.” Ia bergegas melangkah pergi. 

“Tunggu!” cegah Pangeran Wyudharu. “Aku tak mudah dikelabui. Untuk membuktikan jati dirimu, segera tunjukkan ketiak… kedua-duanya!” 

Putri Duhsala sudah berlalu, sehingga tak mendengarkan tuntutan konyol Pangeran Wyudharu. Dia menghilang di balik keramaian. 

Meski sedikit kecewa, sebentuk senyum nan lebar menghiasi wajah Pangeran Wyudharu. Sejak Si Kumal memasang pengumuman dalam bentuk puisi, ia sudah menebak bahwa perhatian akan terpusat kepada dirinya. Pun ia sudah memperkirakan bahwa tak akan rekan-rekan Bintang Tenggara menanggapi karena berisiko terpapar kepada musuh. 

Rencana Si Kumal berakhir di titik itu, tapi tidak dengan upaya Pangeran Wyudharu. Yang tak diketahui oleh Bintang Tenggara, adalah kenyataan bahwa Ginseng Perkasa sesungguhnya gemar berjudi, dan sangat piawai dalam hal ini. Kedatangan memenuhi undangan permainan dadu merupakan titik awal perjudian itu sendiri. Yang ia incar bukanlah kemenangan di atas arena dalam bentuk harta kekayaan, namun ia bertaruh bahwa rekan-rekan Bintang Tenggara akan memanfaatkan keramaian untuk mengungkapkan diri. 

Pangeran Wyudharu baru saja meraih kemenangan yang manis!

“Hei Wyudharu! Malam masih muda, mau ke manakah engkau!?” Tetiba seruan terdengar dari atas panggung arena permainan dadu. Pangeran Jalasandha sedang berada di sana, dan sepertinya meraih kemenangan beruntun. “Bergabunglah bersama kami! Jangan katakan bahwa ciut sudah nyalimu!” 

Pangeran Wyudharu hanya membalas dengan senyuman. Perlu diingat bahwa Ginseng Perkasa bukanlah Komodo Nagaradja. Ginseng Perkasa tak mudah terpancing pada tantangan. Sebagai penjudi tangguh, ia tahu kapan waktunya menarik diri tatkala sudah mencapai kemenangan. Ia kemudian melambaikan tangan selayaknya tiba waktu untuk berpisah. 

“Hahaha… Kalian lihat itu! Dia mengkhianati kepercayaan Yang Mulia Sangkuni Raja Gandhara dan Yang Mulia Putra Mahkota dengan sikap pengecutnya!” lanjut Pangeran Jalasandha. 

Pangeran Wyudharu yang baru saja hendak memutar tubuh tetiba berhenti di tempat. Dalam keadaan seperti ini, Komodo Nagaradja akan langsung naik pitam dan pertarungan adalah adegan selanjutnya. Sedangkan bagi Ginseng Perkasa, keadaan seperti ini berarti ‘undangan’ untuk mempermalukan muka lawannya. 

Pangeran ke-100 melompat naik ke atas panggung permainan dadu!