Episode 419 - Bukan Astra, Bukan Shastra



Iring-iringan dua ratus ribu prajurit mengular panjang dan derap langkah menghentak perkasa. Mereka terbagi ke dalam tiga kelompok. Yang paling depan berjumlah lima puluh ribu memiliki tugas untuk mebuka jalan. Di Tengah adalah pasukan inti dengan lima puluh ribu prajurit darat dan lima puluh ribu pasukan berkuda. Sedangkan paling belakang, merupakan pasukan yang membawa perbekalan serta barang-barang seperti kemah atau alat masak-memasak. 

Setiap satu prajurit di dalam rombongan tersebut memiliki keteguhan yang sama, yaitu menuntut balas dendam kesumat kepada Pangeran Arjuna dari kubu Pandawa.

Terkait dengan keteguhan hati para prajurit dimaksud, sesungguhnya terdapat beberapa pengecualian. Seorang tokoh terlihat berlari mengelilingi rombongan ketiga. Setiap satu putaran, ia akan berhenti, menempelkan kedua telapak tangan ke tanah, lalu menekuk sikut berulang-ulang dengan cepat sebanyak seratus kali. Pada kesempatan lain, usai satu keliling maka ia mengambil beban, lalu mengangkat beban tersebut tinggi di atas kepala sebanyak seratus kali pula. Dari perilakunya, jelas ia tak bertujuan menuntut balas dendam, melainkan untuk memperkuat diri. 

Berlebihan… Benar-benar berlebihan, batin Bintang Tenggara di dalam tubuh Si Kumal. Meski dapat dimaklumi bahwasanya sang Super Guru sudah lama tak memiliki tubuh yang dapat bergerak leluasa karena jiwa dan kesadarannya tak berdaya selama ratusan tahun di dalam liang nan gelap dan pengap, namun perilaku Komodo Nagaradja dalam melatih raga sungguh berlebihan. Ketika jiwa dan kesadarannya menumpang di dalam tubuh Si Buntal lalu mengubahnya menjadi Tuan Kekar, siluman sempurna itu seolah terbebas dari kutukan berkepanjangan dan berhadapan dengan semacam tantangan. Dia berbahagia namun pada batas yang berlebihan.

“Apa yang kau lamunkan!?” sergah Tuan Kekar tatkala berlari melintasi muridnya. 

Si Kumal menyipitkan mata. Sungguh pertanyaan yang basa-basi belaka. Dengan alasan untuk memperkuat raga, dirinya diperintah memanggul dua karung gandum, satu di pundak kiri dan satu lagi di pundak kanan. Yang lebih tak adil lagi, adalah kenyataan bahwa si sapi yang melangkah pelan di sisinya sedang melenggang santai. 

“Percepat langkah!” sergah Tuan Kekar menyelesaikan putarannya untuk pagi itu.

“Tuan Kekar, kapan kita akan mendalami Astra dan Shastra…?”

Tuan Kekar menyeka peluh yang bersimbah di sekujur tubuh. Raut wajahnya terkesan malas, dari mulutnya terdengar keluhan. “Dengan perkembanganmu saat ini, waktu itu tak akan tiba…” 

Tiga hari dan tiga malam waktu berlalu. Kini, sembari memanggul dua karung gandum, Si Kumal berlari kecil di sisi rombongan prajurit paling belakang. Ia telah menyelesaikan satu setengah putaran, yang merupakan pencapaian terbaiknya sejauh ini. Ia mengetahui betul bahwa tak mungkin menolak, apalagi menentang sang Super Guru. Pengalaman selama itu mengajarkan bahwa tokoh tersebut berkepala batu, sehingga lebih baik mengikuti saja perintahnya. 

Sementara itu, Tuan Kekar telah terlebih dahulu menyelesaikan latihan bagi dirinya sendiri. Dia melangkah santai, raut wajahnya menyibak semangat penuh suka cita. “Lumayan, lumayan…,” ujarnya puas menatap Si Kumal. “Bila sudah genap dua putaran, maka kita akan mulai membahas tentang chakra.”

Dua hari kemudian, sang mentari bersinar cemerlang. Hanya sedikit awan putih yang berkumpul ringan di angkasa. Di permukaan bumi, langkah Si Kumal terlihat tangkas. Meski dengan susah-payah, akhirnya ia dapat mengelilingi rombongan prajurit sebanyak dua kali. Mau mati rasanya memanggul dua karung gandum itu, namun kini tubuhnya terasa jauh lebih ringan. 

“Jadi, apakah kita mengikuti rombongan ini kembali ke Ibukota Hastinapura, ataukah memisahkan diri untuk pergi ke tempat tujuan awal…?” ujar Tuan Kekar. “Di persimpangan sekira setengah hari ke depan, adalah wilayah perbatasan menuju Kemaharajaan Gandhara.”

Di lain sisi, Si Kumal tak terlalu acuh atas pertanyaan tersebut. Ia tak peduli ke mana arah tujuan mereka, karena yang ia utamakan adalah pengetahuan lebih lanjut tentang tenaga dalam murni alias chakra. Kendatipun demikian, ia mengetahui maksud dan tujuan dari pertanyaan Tuan Kekar. Dalam upaya menelusuri jejak Pangeran Wyudharu, alias Ginseng Perkasa, langkah pertama adalah mengunjungi Kemaharajaan Gandhara dengan harapan tokoh tersebut berhasil melepaskan diri dari pengejaran pasukan Kerajaan Kekaya kubu Pangeran Vrihatkshatra. Jikalau dia gagal ke sana, maka langkah berikutnya adalah menelusuri jejak Pangeran Vrihatkshatra sendiri. 

“Kau tak hendak menelusuri jejaknya…?” Tuan Kekar mencermati keraguan di wajah anak didiknya. 

“Bukan… bukan itu…” Si Kumal gelagapan. 

“Keberadaan si laknat itu sama pentingnya dengan mempelajari chakra…” Tuan Kekar mengingatkan. “Tanpa dia, maka kau dan aku tak beda dengan prajurit pejalan kaki biasa. Apa gunanya kau berlatih chakra…? Hanya bila bersama dengannya, maka kita dapat hadir di barisan depan, dan berkesempatan meraih kejayaan!”



“Berhenti! Berhenti! Berhenti!” Aba-aba di dalam rombongan prajurit sahut-bersahut, dari perajurit di barisan terdepan sampai ke belakang. 

Tuan Kekar dan Si Kumal saling pandang. Keduanya penasaran apakah kiranya yang dapat menghentikan derap langkah dua ratus ribu pasukan Sampshapataka…? Walau hanya berjumlah seperlima dari kekuatan mereka, rombongan ini cukup perkasa untuk menaklukan sebuah kerajaan kecil. 

“Pasukan di tengah berpapasan dengan rombongan sekutu!” 

“Belum dapat dipastikan… tapi kemungkinan besar adalah rombongan salah satu dari Pangeran Kurawa!”

Informasi yang datang dari mulut ke mulut di antara para prajurit berlangsung cepat, namun isinya masih simpang-siur. Pangeran Kurawa siapakah yang dimaksud…? Perang Kurukshetra tinggal kurang dari tiga purnama lagi, bagaimana mungkin ada kakak-beradik Kurawa yang berkeliaran. Kalau saja tertangkap, maka neraca peperangan akan berat sebelah, karena salah satu pihak terlebih dahulu memiliki tawanan perang. Di lain sisi, dari pihak Pandawa belum ada berita yang mengumumkan bahwa mereka memiliki tawanan perang dimaksud.  

“Rombongan kecil yang berasal dari Kemaharajaan Gandhara!” teriak prajurit beberapa langkah di hadapan. 

Tanpa ada pertukaran kata-kata, Tuan Kekar dan Si Kumal serempak melesat maju. Keduanya hendak memastikan secara langsung apakah informasi tersebut akurat. Pangeran Kurawa yang menempuh perjalanan dari Kemaharajaan Gandhara hanya memiliki satu kemungkinan, yaitu adalah teman seperjalanan mereka, atau lebih tepatnya, tuan mereka. 

Tak lama waktu berselang, kedua tokoh yang dibalut rasa ingin tahu nan tinggi tiba di antara rombongan tengah. Di saat itu, para prajurit di sana sudah mulai melanjutkan perjalanan. Sebagai tambahan, kini terlihat mencolok sebuah kereta kuda bertakhtakan emas dan permata di antara mereka. Puluhan pengawal yang bersiaga mengelilingi kereta kuda tersebut mengenakan pakaian dengan nuansa yang berbeda dari pasukan Sampshapataka. Ingatan Si Kumar di dalam benak Bintang Tenggara mengisyaratkan bahwa mereka merupakan pasukan khusus dari Kemaharajaan Gandhara. 

“Berhenti!” Perintah salah satu prajurit pengawal sembari merentangkan pedang nan melengkung panjang. “Jangan mendekat!”

“Apakah di dalam kereta kuda itu Yang Mulia Pangeran Wyudharu?” ujar Si Kumal sebelum Tuan Kekar mengamuk karena diperlakukan kurang sopan.

“Bukan urusan kalian!?” 

“Bukan urusan kami…?” Tuan Kekar menggeretakan gigi. “Katakan pada…” Ia mengacungkan kepalan tinju. 

“Kami adalah pendamping Yang Mulia Pangeran Wyudharu,” tanggap Si Kumal cepat. 

“Siapa di sana…?” Tetiba terdengar suara dari dalam kereta kuda nan bertakhtakan emas permata. Suara seorang perempuan. 

“Yang Mulia, terdapat dua prajurit yang mengaku sebagai pendamping Yang Mulia Pangeran Wyudharu.”

“Oh benarkah…?” Jendela kereta kuda membuka perlahan, akan tetapi hanya terlihat seorang perempuan dewasa muda yang melongok keluar. 

“Baiklah… Kita menepi sejenak,” tanggap perempuan itu. Demikian, kereta kuda nan bertakhtakan emas permata sementara memisahkan diri dari rombongan pasukan Sampshapataka. 

Pintu kereta kuda membuka. Dari balik bayangan, kemudian melangkah keluar seorang lelaki dewasa muda nan tampil perkasa serta penuh wibawa. Ia tak mengenakan atasan, sehingga setiap lika-liku otot-ototnya terlihat mengkilap karena keringat. Rambutnya hitam dan klimis, dengan wajah tampan dihiasi kumis dan janggut.

“Pangeran Wyudharu…?” Si Kumal mengucek mata, memastikan tak ada yang salah pada indera penglihatan. Di dalam ingatannya, sang pangeran memanglah diberkahi wajah tampan serta tubuh nan tinggi dan tegap, namun otot-otot ditubuhnya itu adalah sesuatu yang baru. Bila dibandingkan dengan Tuan Kekar yang memiliki otot nan tampil berlebihan, maka tingkat kekekaran tokoh di hadapannya itu terlihat sangat ideal. 

“Kumal dan Buntal…? Ke mana saja kalian selama ini…?” sapa Pangeran Wyudharu segera setelah turun dari kereta kuda. Ia melambaikan lengan dengan gemulai, memberi isyarat agar para pengawal meninggalkan mereka. 

“Aku adalah Tuan Kekar dan ada yang perlu kita bahas secara pribadi!” tanggap lelaki dewasa muda kekar yang tetiba saja suasana hatinya berubah kelam. Di saat yang bersamaan, ia melangkah ke pintu kereta kuda. 

“Eit… Tunggu… tunggu…” raut wajah Pangeran Wyudharu terlihat cemas. 

“Ada apa…?” Tuan Kekar mengangkat sebelah alis.

Si Kumal tentu menyadari bahwa di dalam kereta kuda tersebut terdapat seorang perempuan. Kendatipun demikian, ia tak hendak terjepit di dalam perselisihan antara dua Jenderal Bhayangkara. Jangan sampai seperti pepatah ‘gajah berjuang sesama gajah, pelanduk mati di tengah-tengah’. Lebih baik tak ikut campur. 

“Keluar…” ujar Pangeran Wyudharu setengah berbisik ke dalam kereta kuda. 

Seorang perempuan dewasa muda nan tersipu malu melangkah keluar. Diikuti perempuan kedua, ketiga, keempat… sampai kesepuluh! Kesemuanya menyembunyikan ketiak mereka. 

Tuan Kekar menyilangkan lengan di depan dada. Si Kumal membuang wajah seolah-olah menikmati pemandangan alam nan indah. Sementara itu, Pangeran Wyudharu menggaruk-garuk kepala. Aura dan penampilan yang sejenak sebelumnya demikian berwibawa, hancur berkeping-keping sudah. 

Suasana di dalam kereta kuda hening. Satu-satunya suara yang terdengar adalah deru napas Tuan Kekar yang naik-turun menahan emosi. “Sampai kapan kita akan berdiam di sini…?” ujarnya pelan. 

Pangeran Wyudharu memberi perintah kepada kusirnya agar kereta kuda kembali bergabung ke dalam barisan pasukan Sampshapataka. Ia kemudian melanjutkan dengan membuka cerita. Bahwasanya, setelah dipanah oleh Pangeran Vrihatkshatra, ia terus berlari tanpa tujuan pasti. Tanpa sengaja ia masuk ke dalam wilayah Kemaharajaan Gandhara. Mengetahui akan batas wilayah kerajaan serta curiga akan kemungkinan jebakan, Pangeran Vrihatkshatra memutuskan untuk menghentikan pengejaran. 

Tiba di tempat tujuan, Pangeran Wyudharu diterima dengan suka-cita oleh pamannya Sangkuni Raja Gandhara. Bahkan, sang paman tersentuh hatinya melihat kemenakan yang tetap menjalani tugas kendati tertancap panah di paha. Tokoh tersebut menugaskan tabib istana untuk memberikan perawatan terbaik, juga menitahkan pelatih bela diri istana untuk membimbing sang kemenakan. Walhasil, selain memperoleh kepastian dukungan Kemaharajaan Gandhara, Pangeran Wyudharu pun menumbuhkan kemampuan. Dengan bakat dari darah Kurawa, kemampuannya berkembang pesat. 

“Sungguh luar biasa!” tanggap Si Kumal bangga. 

“Bahkan si mesum ini giat berlatih…,” dengus Tuan Kekar. “Tak seperti seseorang di antara kita yang malah menderita luka dalam akibat hentakan balik sesuatu yang tak dia pahami…”

Si Kumal sontak melontar pandang ke luar jendela. Ia hanya mampu menghela napas panjang. Suasana hati Tuan Kekar sedang buruk akibat gelagat Pangeran Wyudharu, sehingga perlu menunggu beberapa hari lagi sampai dia tenang untuk melanjutkan latihan. 

“Apakah dikau melakukan kesalahan dalam mempelajari chakra…? Tentang astra dan shastra…?” aju Pangeran Wyudharu.

“Benar…” 

Pangeran Wyudharu mengangkat jari telunjuk di depan wajahnya. Ia memberi urainan, “Pelepasan chakra hanya dapat dilakukan menggunakan perantara, dalam hal ini senjata. Senjata kemudian terbagi ke dalam astra dan shastra. Astra merupakan senjata yang pengerahannya berpisah dari diri perapalnya, seperti panah dan lembing. Sedangkan Shastra merupakan senjata yang pengerahannya berada di dalam genggaman si perapal, seperti pedang, tombak dan gada.”

“Chakra Sudarshana merupakan astra…” simpul Si Kumal. 

“Benar, Chakra Sudarshana merupakan astra.”

“Teori tak akan membawamu ke mana-mana…,” cemooh Tuan Kekar. 

Di lain pihak, Si Kumal justru sedang memikirkan sesuatu yang bertentangan. Chakra Sudarshana milik Basudewa Krishna tanpa diragukan merupakan senjata cakram yang penerapannya secara astra. Akan tetapi, bagaimana dengan chakra yang dilepaskan oleh Kakek Govinda…? Tokoh tersebut sama sekali tak memiliki senjata astra maupun shastra… Dia benar-benar memanfaatkan tenaga dalam murni tanpa perantara sama sekali, bagaimana mungkin…?

“Apa lagi yang kau renungkan…?” Tuan Kekar kembali mencela. “Selama perjalanan kembali ke Ibukota Hastinapura, kau harus dapat menguasai setidaknya salah satu dari teknik pelepasan chakra!”

Si Kumal mengangguk. Kendatipun demikian, benaknya masih teralihkan kepada unjuk kebolehan Kakek Govinda. Bilamana syarat dan ketentuan pelepasan chakra adalah melalui astra dan shastra, bukankah sepantasnya kemampuan lelaki setengah baya nan misterius itu merupakan kemustahilan…? Kemampuan yang dia kuasai bukanlah astra, bukan pula shastra…

Pandangan mata Si Kumal menatap Tuan Kekar dan Pangeran Wyudharu silih berganti. Untuk sementara ini, ia memutuskan untuk menyimpan pengetahuan seputar Kakek Govinda dari kedua tokoh di dalam kereta kuda. 


Catatan:

Gambaran penampilan Pangeran Wyudharu adalah sebagaimana berikut: