Episode 418 - Astra dan Shastra



“Kepung dia!” 

Sekelompok orang tetiba muncul dari balik semak belukar. Tak kurang dari dua puluh jumlah mereka, dengan perawakan dan penampilan yang berbeda-beda. Bergerak sesuai aba-aba, demikian tangkas mereka menutup ruang gerak sasaran. 

Yang menjadi sasaran, terombang-ambing dan gontai di atas pundak seekor sapi yang berhenti mendadak karena dicegat, adalah seorang lelaki dewasa muda. Raut wajahnya pucat, bukan karena takut, melainkan karena masih lemah akibat hentakan balik tenaga dalam murni. Ia menatap kepada para pengepung, dari penampilan mereka bukanlah prajurit terlatih namun terlihat sudah sangat terbiasa bergerak dalam kelompok. Hanya terdapat satu kemungkinan, bahwa mereka adalah sekawanan bandit gunung. 

Keadaan berubah genting! Akan tetapi, para bandit gunung terlihat meragu sedangkan Kumar di atas pundak sang sapi berada pada titik percaya diri tertinggi. Beberapa hari sebelumnya ia berhasil mengelabui para petani yang hendak merampas sang sapi, sehingga lelaki dewasa muda itu melihat sebuah peluang. Dalam benak ia mengira-ngira, apakah sebaiknya mengaku sebagai petapa atau mungkin sebagai pejabat dari Ibukota Hastinapura. Beberapa skenario muslihat melintas-saling silang di dalam benaknya. 

“Wahai, tuan-tuan yang budiman,” sapa Kumar dengan nada nan santun. Ia mencoba peruntungan. 

Salah seorang bandit gunung, yang ukuran tubuhnya paling besar di antara mereka, mendatangi Kumar. Raut wajahnya datar, dan seketika tiba di sisi sang sapi, segera ia mengayunkan lengan nan besar. 

“Brak!” 

Bandit gunung bertubuh besar tersebut menjenggut pakaian Kumar, lantas menyentak dan membanting tubuh ringan lelaki dewasa muda tersebut ke tanah! Gerakannya ringkas, tanpa basa-basi dan tanpa belas kasih selayaknya baru saja membuang lembaran kulit pisang yang sudah tiada berguna. Ia kemudian meraih tali kekang sapi dan perlahan melangkah pergi. 

Tubuh dengan aliran tenaga dalam yang kacau-balau tak kuasa menahan goncangan, sehingga Kumar yang mendarat di tanah membatukkan darah. Beberapa anggota kawanan bandit gunung mendatanginya, lantas menghadiahi tendangan dan menginjak-injak secukupnya. Kumar hanya mampu meringkuk, melindungi wilayah vital tubuh. Di dalam benak lelaki dewasa muda itu menyesali pandangan bahwa dapat berkelit dan bersiasat. Jelas kawanan bandit gunung berbeda dengan sekelompok petani yang polos. 

Pada akhirnya para bandit gunung berhenti ketika korban sudah hampir hilang kesadaran. Mereka lantas menyeret tubuh lemah lelaki dewasa muda itu. 

Hari telah beranjak malam ketika Kumar sadarkan diri. Kedua tangannya terikat dan dirinya ditambat pada sebatang pohon. Di hadapan ia menyaksikan ratusan titik-titik cahaya yang membentang sejauh mata memandang. Tak ayal, kini ia sadara berada di dalam wilayah perkemahan. 

Api berwarna kuning seukuran genggaman tangan menari-menari dan mendekat. Beberapa bandit gunung datang. Semakin dekat, semakin dapat dicerna bahwa setiap satu dari mereka mengenakan seragam. Penilaian Kumar berubah, dan kini ia sadari bahwa mereka bukan semata bandit gunung. Sebelumnya mereka adalah pasukan prajurit yang menyamar! 

Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut prajurit-prajurit tersebut, karena perintah dilakukan melalui tindakan. Tendangan berarti arahan untuk bangun, dan dorongan merupakan aba-aba untuk mempercepat langkah. Kumar menyadari dirinya merupakan tahanan, namun pertanyaan berikutnya berada di kubu manakah pada prajurit ini…? Kurawa…? Ataukah mungkin Pandawa…?

Kumar dibawa ke salah satu tempat di dalam perkemahan. Dalam keadaan tertatih, ia menyaksikan api unggun yang menyala dan dikelilingi oleh sekelompok orang. Di antara mereka yang mengelilingi api unggun adalah lelaki bertubuh besar yang senang membanting tanpa basa-basi. Ia kelihatan sedang asyik berbincang-bincang, terkadang mengangkat gelas tuak, lalu tergelak terbahak-bahak. Lawan bicaranya dan pusat perhatian adalah seseorang yang menghadap api unggun namun membelakangi arah datangnya Kumar. 

“Itu dia…” ujar lelaki bertubuh besar yang senang membanting tanpa basa-basi sembari menunjuk dengan menggunakan gelas tuak, sehingga terlihat seperti sedang bersulang. 

Dilatarbelakangi api unggun nan menyala membara, Kumar lantas menyaksikan sosok yang membelakangi dirinya bangkit. Dia tak mengenakan atasan, sehingga massa otot pada sisi belakang leher, pundak dan bahunya terlihat mengkilap dipantulkan cahaya obor. Sungguh luar biasa ukuran besar dan kepadatan otot-ototnya itu, yang mana menggeliat ketika ia berdiri dan memutar tubuh. Kemudian, otot dadanya nan bidang mengencang dan mengendor silih berganti pada dada kiri lalu dada kanan seperti sepasang buah semangka yang sedang ditimbang menggunakan neraca. Akan tetapi, yang paling mencengangkan adalah perutnya… berukuran besar mirip perempuan hamil, namun sangat berorot sekali! Sungguh tak lazim!

“Ke mana saja kau selama dua purnama ini…?” Lelaki dewasa muda berotot-totot itu menyapa. 

Kumar melotot, kedua bola mata seolah hendak keluar melompat! Bibirnya bergetar… “Tuan…? Tuan Buntal!”

“Heh! Siapa itu Tuan Buntal!? Aku ini adalah… Tuan Kekar!” jawabnya sembari mengangkat dagu dan mengencangkan otot dada. “Dan ini adalah Si Kumal…,” ujarnya sembari bersulang kepada rekan-rekan yang mengelilingi api unggun. 

Demikian, ‘Kumar’ kembali berubah menjadi ‘Si Kumal’. Akan tetapi, yang lebih mengejutkan adalah bagaimana Komodo Nagaradja mampu mengubah tubuh lembek Si Buntal menjadi demikian menyeramkan hanya dalam selang waktu dua purnama!? Ingatan terakhir akan tokoh tersebut adalah dia digebuki tiada berdaya oleh prajurit Kerajaan Kekaya yang berpihak pada Pandawa, alias kubu Pangeran Vrihatkshatra. Bagaimana caranya dia melepaskan diri…? Dan yang lebih mengejutkan lagi, saat melatih otot mengapa dia tak mengecilkan perut!?

“Sepertinya tak ada yang berubah dari engkau selain bertambah lemah…” cibir jiwa dan kesadaran Komodo Nagaradja yang mendiami tubuh Tuan Kekar. 

Si Kumal menundukkan kepala. Tak ada jawaban yang dapat ia berikan kepada sang super guru, tak ada alasan yang dapat ia susun untuk berkilah. Tubuhnya memang masih menderita cedera dalam akibat hentakan balik tenaga dalam murni, sedangkan Tuan Kekar pastinya sangat giat berlatih untuk mencapai perubahan yang sedemikian rupa. 

“Sudah… duduklah di sini,” panggil Tuan Kekar.

Malam semakin larut, dan satu per satu anggota pengeliling api unggun beranjak pergi. Lelaki bertubuh besar yang senang membanting tanpa basa-basi akhirnya undur diri untuk beristirahat. Di hadapan api unggun, hanya tersisa Tuan Kekar dan Si Kumal.

“Apa saja yang kau perbuat sampai aliran tenaga dalam demikian kacau…?” Tuan Kekar membuka pembicaraan. 

Si Kumal menatap sendu kepada Super Gurunya. “Diriku berlatih tenaga dalam murni…” 

“Jauh-jauh datang dari Negeri Dua Samudera, kau hanya hendak belajar tenaga dalam murni…?”

“Super…”

“Hush!” 

“Tuan Bun…” 

“Hush!”

“Tuan Kekar… apakah mengetahui tentang tenaga dalam murni…?”

“Tentu saja! Aku mengetahui tentang banyak hal!” 

Si Kumal menghela napas panjang, menyadari bahwa kini bukan saatnya untuk menyangsikan. Bila dirinya hendak memulihkan diri, maka bantuan Tuan Kekar pastilah sangat dibutuhkan. 

“Kau tak percaya, heh…?” Tuan Kekar mengangkat lengan kanan setinggi ulu hati, kemudian membuka telapak tangan menghadap ke atas. Segera setelah itu, terbentuk sesuatu yang setengah kasat mata. Berwarna biru lembayung, bentuknya bulat, kecil seperti sebutir kelereng. 

“Sekecil itu…?” cibir Si Kumal yang sempat berharap lebih. 

“Brak!” 

Tetiba Tuan Buntal menghentakkan telapak tangannya nan kekar tepat ke dada lawan bicaranya. Tubuh Si Kumal serta merta terpental dan terjerembab ke tanah. Beberapa kali membatukkan darah, ia lantas hilang kesadaran.

“Itulah akibat dari kelancanganmu!” hardik Tuan Kekar. “Malam ini kau tidur di luar!” 

Hiruk-pikuk perkemahan prajurit sudah bermula tatkala sang mentari terbit. Sesuai pembagian tugas yang merata dan berkala, ada prajurit yang memberi makan kuda, ada yang merawat senjata dan baju zirah, ada pula yang memasak ransum. Sebagian besar prajurit lain sudah memulai latihan pagi. 

Lelaki dewasa muda itu terbangun di tengah lalu-lalang para prajurit. Tubuhnya tergolek di rerumputan yang basah berembun. Uniknya, tak satu pun prajurit yang peduli pada tubuh yang tertelungkup lemah, namun tak satu pun juga yang tanpa sengaja menginjak atau menendang tubuhnya. Hanya percikan-percikan tanah yang terlontar karena lalu-lalang yang menyapa, untuk menambah kotor pada pakaiannya. 

Si Kumal menjulurkan lidah untuk merasakan manisnya embun di atas rumput, namun ia hanya mampu membasahi bibir kering seadanya. Sampai hati sekali Tuan Kekar menyerang dan membiarkan dirinya tergolek tiada berdaya sepanjang malam. Di antara perkemahan prajurit itu, ia seperti seonggok tahi kerbau yang tak diinginkan. 

Sang mentari mengawang tinggi. Tetiba Si Kumal merasakan tubuhnya diangkat dan dibopong pergi. Sosok yang membawanya tak lain adalah lelaki bertubuh besar yang senang membanting tanpa basa-basi. 

“Byur!” 

Tubuh Si Kumar dilemparkan ke anak sungai. Napasnya tersengal karena menghirup air, dan kedua tangannya menggapai-gapai seolah hendak meraih kehidupan sedang melangkah pergi. Air sungai nan sejuk dan jernih seketika keruh. Sejenak kemudian baru ia sadari bahwa air anak sungai tersebut dangkal, hanya setinggi perut. Di bantaran sungai, ia lihat lelaki bertubuh besar yang senang membanting tanpa basa-basi menjatuhkan satu buntalan kain sebelum memutar tubuh dan melangkah pergi. 

Segar! Baru kini ia sadari betapa segarnya tubuh usai mandi pagi. Memanfaatkan kesempatan untuk minum dan membasuh diri, lelaki dewasa muda itu lantas menemukan pakaian bersih di dalam buntalan yang ditinggal. Setelah itu, ia pun kembali ke perkemahan prajurit. 

Dalam perjalanan, terlihat seorang prajurit yang kebetulan melintas. Si Kumal menarik perhatiannya dan menyapa, “Tuan Prajurit, perkemahan siapakan ini…?”

Prajurit tersebut terlihat curiga, karena lawan bicaranya mengenakan seragam prajurit yang serupa namun melontarkan pertanyaan bodoh. Namun demikian, dengan bangga ia menjawab, “Ketahuilah bahwa ini merupakan salah satu perkemahan kami para Sampshapataka. Atas Sumpah Api yang telah kami ikrarkan, kami akan membunuh Arjuna atau lebih baik kami mati!” 

Si Kumal mengganggukkan kepala sebagai bentuk dukungan, lalu melanjutkan, “Apakah Tuan Prajurit mengenal Tuan Bun… Maksudku… Tuan Kekar…?”

Prajurit tersebut menudingkan jemari telunjuk kepada salah satu kemah berukuran sedang, kemudian pergi melanjutkan urusannya. Menuju kemah dimaksud, Si Kumal melangkah cepat. 

“Tuan Kekar… Tuan Kekar…,” panggil Si Kumal di hadapan pintu kemah. 

Tak ada suara jawaban dari dalam. 

“Tuan Kekar… Tuan Kekar…” Alunan suaranya terdengar merdu. 

“Berisik!” Suara menyergah terdengar dari dalam… “Masuk saja kalau kau mau masuk!” 

Si Kumal mengenali suara tersebut. Suara dari sosok maha keji yang tanpa alasan menghantam dadanya, membuat terbatuk darah, kemudian membiarkan tubuhnya tergolek lemah sepanjang malam dingin di bawah bintang-bintang. Kendatipun sebal, Si Kumal tetap melangkah masuk. 

Di dalam, Tuan Kekar yang memang kekar itu terlihat sedang berbaring terlentang di atas dipan kecil. Sekujur tubuhnya berpeluh, di mana kedua lengannya sedang menyangga tombak logam di atas dada. Pada kedua sisi ujungnya tombak logam, terlihat menyangga beban nan besar dan pastinya teramat berat. Tak pelak lagi, dia sedang melatih otot dada! (1)

“Sem… bi… lan puluh sembilan…” Dia menghela napas panjang. “Se… ra…” 

Pada dorongan terakhir itu, Tuan Kekar terlihat kehabisan napas. Raut wajahnya memerah padam. Si Kumal menatap takjub. 

“Jangandiamsajakeparat!” pekik Tuan Kekar dalam satu hentakan napas. 

Si Kumal terlihat kebingungan, namun tetap melangkah mendekat. Sorot mata Tuan Kekar yang melotot mengisyaratkan permintaan bantuan untuk mengangkat bilah tombak yang sedang melintang di atas dada. Agaknya Tuan Kekar sudah kehabisan tenaga. Akan tetapi, tepat pada saat itu terlintas pula pemikiran lain di dalam benak Si Kumal. Bahwasanya, jikalau sedikit saja mengarahkan dan menekan ke bawah bilah beban tersebut, maka dengan memanfaatkan daya tarik bumi dan tanpa mengeluarkan banyak tenaga, dapat dengan mudah ia mencekik leher Tuan Kekar nan keji. Biar mati saja dia! 

Kedua bola mata Tuan Kekar semakin melotot seolah hendak copot. Walhasil, Si Kumal mengusir niat buruk yang sempat hinggap di dalam benak, dan membantu menggeser beban berat dari atas dada. 

“Hmph…” Tuan Kekar bangkit berdiri seperti per yang sebelumnya ditekan, kemudian menggerak-gerakkan dada kiri dan kanan silih berganti. Sungguh pemandangan nan mengerikan. Terbesit perasaan sangat bangga lagi puas atas pencapaian dan terhadap dirinya sendiri. Dia meraih selembar handuk. 

“Bagaimana keadaan tubuhmu!?” ujarnya garang sembari menyeka keringat. 

“Tubuhku…? Tubuhku baik-baik saja!” Betapa Si Kumal terkejut ketika menyadari bahwa aliran tenaga dalamnya sudah kembali mengalir baik.

“Dan…?” Tuan Kekar mengangkat sebelah alis.

Si Kumal hanya melongo karena tak memahami maksud lawan bicaranya. 

“Mana ucapan terima kasihmu…?” Nada suara mencemooh keluar dari mulut Tuan Kekar. 

Si Kumal terpana. Ingatannya berkelebat pada malam sebelumnya, ketika Tuan Kekar menghantam dadanya dengan tenaga dalam murni seukuran kelereng. Mungkinkah tindakan tersebut tanpa disadari bermaksud membuang gumpalan darah kotor dan memperbaiki aliran tenaga dalamnya…? 

“Mana…? Mana…?”

Menundukkan kepala, Si Kumar berujar, “Terima kasih, Tuan Kekar…”

Malam hari kembali tiba. Di dalam tenda, Si Kumar memperoleh penjelasan panjang dari Tuan Kekar. Bahwasanya, setelah tertangkap oleh kubu Pangeran Vrihatkshatra dari Kerajaan Kekaya, tokoh tersebut dipisahkan dari rombongan utama dan digelandang menuju salah satu kerajaan pendukung Pandawa. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan rombongan Sampshapataka yang sedang menempuh perjalanan menuju Kemaharajaan Kuru. Karena kalah jumlah, rombongan Kerajaan Kekaya kubu Pangeran Vrihatkshatra kocar-kacir. Pada kesempatan itu pula, Tuan Kekar berhasil melepaskan diri. Walhasil, kini ia bergabung bersama rombongan prajurit Sampshapataka dan bergerak menuju Ibukota Hastinapura. 

“Sampshapataka secara keseluruhan berjumlah tak kurang dari seratus ribu prajurit,” papar Tuan Kekar. “Bersama kita saat ini hanya seperlima bagiannya saja. Jumlah yang lebih besar sedang menuju Padang Kurukshetra sebagai persiapan jelang perang.”

Si Kumal menyimak dengan seksama. 

“Jadi, tindakan bodoh dan ceroboh apa yang kau lakukan dalam mempelajari tenaga dalam murni…?”

“Diriku melihat seorang kakek tua yang mengerahkan kekuatan sebagaimana Basudewa Krishna… Ia menyebutnya sebagai chakra…”

“Iya, tenaga dalam murni di tempat ini dikenal sebagai chakra… Lalu…?”

“Diriku hendak meniru kemampuan tersebut, namun hentakan balik chakra malah mencederai tubuh…,” tanggap Si Kumal pilu. 

“Kau memang bodoh dan ceroboh… itu tak kuragukan.”

Tatapan mata Si Kumal bertemu dengan Tuan Kekar… Beberapa saat kemudian Si Kumal membuat wajah. Ia menyadari kesalahan. 

“Sebelum dapat mempelajari sesuatu yang baru, selalu ingat akan prinsip ‘membangun pemahaman, merumuskan penafsiran, meraih pencerahan’. Urut-urutan ini jangan sekali-kali dilangkaui, karena merupakan sebuah proses.”

Si Kumal mengangguk, mengakui kebodohan dan kecerobohan diri. 

“Ini adalah pelajaran yang sepatutnya aku berikan setelah kita memperkuat raga,” lanjut Tuan Kekar. “Pertama, penerapan keahlian di wilayah Anak Benua berbeda dengan Negeri Dua Samudera. Para ahli di Negeri Dua Samudera memanfaatkan tenaga dalam murni lalu membaurnya dengan unsur kesaktian. Dampaknya adalah jurus-jurus yang indah dan menyilaukan mata; unggul dari segi penampilan namun sesungguhnya lemah. Bila dikerahkan dengan benar, maka hakra atau tenaga dalam murni pada intinya lebih tangguh. Lebih yahud!”

Pupil pada kedua bola mata Si Kumal membesar. Sungguh sang Super Guru mengetahui akan banyak hal.

“Kedua, penerapan chakra dibagi menjadi: Astra dan Shastra.”



Catatan:

(1) Bench press

Gambaran penampilan Tuan Kekar adalah sebagaimana berikut: