Episode 416 - Chakra (2)


Berlalu sudah satu purnama di dunia paralel nan unik, serta dua pekan sejak terpisah nasib dengan Tuan Buntal dan Pangeran Wyudharu. Bintang Tenggara merasa masih memiliki banyak waktu sebelum mencari kedua tokoh dimaksud. Walau, bila ditelisik lebih jauh, maka pemuda itu sesungguhnya bertindak demi kepentingan diri sendiri. Demi mempelajari kemampuan yang dapat membawanya tampil perkasa di dalam Perang Kurukhshetra, Si Kumar rela membiarkan Tuan Buntal dan Pangeran Wyudharu menderita entah di mana…

“Setiap peristiwa dalam hidup adalah menentukan keputusan dan setiap keputusan yang diambil akan berdampak baik dan buruk bagi manusia. Dan dampak itu akan dirasakan untuk selamanya. Keputusan yang diambil saat ini bisa menghadirkan kebahagiaan atau kesedihan di masa depan. Bukan untuk satu orang semata, tapi juga untuk keluarga dan masa depan generasi setelah itu. Saat seseorang berhadapan dengan sebuah dilema, hati menjadi terganggu lalu dipenuhi dengan kebimbangan sehingga saat membuat keputusan menjadi sebuah pertempuran dan hati pun menjadi medan perang. Kita banyak mengambil keputusan bukan untuk mencari jalan keluar, tetapi untuk menenangkan hati. Namun, adakah yang makan sambil berlari? Tidak. Lalu, bisakah sebuah hati yang kacau mengambil keputusan yang benar? Pada kenyataannya, bilamana seseorang mengambil keputusannya saat keadaan pikiran yang tenang dia pasti akan meraih masa depan bahagia. Sebaliknya, bilamana seseorang mengambil keputusan yang semata menenangkan hatinya sendiri, itu akan memberi dia beragam penderitaan dan kesedihan di masa depannya. Pikirkanlah itu…”

Kumar membuka kelopak matanya dan langsung melihat keberadaan Kakek Govinda yang duduk bersila di atas sebongkah batu besar. Pakaiannya sederhana, yaitu kain lusuh yang menggantung seadanya dari pundak sampai sedikit di bawah lutut. Tokoh tersebut baru saja menyelesaikan kata-katanya. Agaknya lelaki setengah baya itu sedang meracau, batin Kumar. Apakah kiranya yang perlu dipikirkan…? 

Akan tetapi, raut wajah Kumar seketika berubah terperangah tatkala menoleh ke samping. Sanjay, pemuda yang juga ikut duduk bersimpuh bersama dengannya, memasang raut wajah kusut dengan mata melotot kepada Kakek Govinda. Agaknya kata-kata lelaki setengah baya itu ditujukan kepada pemuda tersebut dan mendarat dengan telak. Sanjay seperti hendak menjawab, bahkan menentang pandangan Kakek Govinda, namun tak bisa dilakukan karena ia gagu. 

Kakek Govinda menatap lembut kepada Sanjay, sorot matanya mengisyaratkan kepedihan nan tiada terperi. Tampaknya hubungan di antara kedua tokoh tersebut lebih mendalam dari apa yang tampil pada permukaan. Di dalam hati Kumar bertanya-tanya, apakah Sanjay pernah mengambil keputusan salah dalam hidupnya, sehingga pantas mendapat nasehat yang sedemikian rupa…? 

“Bila berbicara akan perjuangan dari hidup dan saat manusia tidak bisa mengatasi dirinya sendiri, dan kehilangan keyakinan dalam kekuatannya sendiri, maka dia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dalam kenyataannya kejahatan lahir dalam kehidupan manusia saat dirinya mulai kehilangan kepercayaan diri. Hanya kepercayaan diri yang bisa menanggung kebenaran. Apakah itu kepercayaan diri…? Saat manusia menganggap perjuangan hidup membuatnya sangat lemah, maka dia sendiri akan kehilangan ‘bhakti’nya. Bukan menghadapi perjuangannya tapi dia malah mencari cara lain untuk membebaskan dirinya akan hal itu. Tapi kalau percaya pergulatan hidup akan membuatnya menjadi lebih kuat, sama seperti tubuh yang diperkuat dengan melalui latihan, maka semangat perjuangan akan memperkuat rasa percaya diri yang dia miliki. Dengan kata lain, kepercayaan diri tidak lain adalah keadaan pikiran, itu sebuah cara untuk melihat hidup. Dan cara dalam melihat hidup itu ada pada manusia itu sendiri. Pikirkanlah itu…”

Sebelum berkata-kata, Kakek Govinda telah mengalihkan pandangan dan menatap kepada Kumar, sorot matanya mencerminkan kekecewaan. Akan tetapi, berbeda dengan Sanjay yang sebelumnya diberi wejangan dan menanggapinya dengan ketidakpuasan pada raut wajah, Kumar malah terbengong. Dalam benaknya ia masih beranggapan bahwa lelaki setengah baya itu meracau. Kendatipun demikian, Kumar secepatnya memasang raut wajah serius, dan setengah mati ia berupaya menunjukkan sikap yang seolah baru mendapat pencerahan nan penuh makna lagi berharga. 

Kakek Govinda kembali memejamkan mata. Sementara itu, masih terbersit amarah dari raut wajah Sanjay kendatipun matanya sudah terpejam. Berpura-pura mengerti, Kumar pun turut memejamkan mata. Benaknya hendak berteriak, bahwa dirinya tak memerlukan ajaran tentang falsafah kehidupan, karena 99 Taktik Tempur ala Komodo Nagaradja sudah lebih dari cukup untuk mengarungi hidup. Yang ia butuhkan dari lelaki setengah baya di hadapan mereka adalah tunjuk ajar akan jurus nan digdaya!

Satu pekan kemudian, kegiatan Kumar dan Sanjay masih seperti biasanya. Mereka memulai hari dengan mencari makanan untuk sekedar bertahan hidup dalam kesederhanaan, serta mengumpulkan jerami untuk si sapi. Pada petang harinya, berdua mereka duduk bersila di sisi batu besar. Di atas batu, seperti biasa pula Kakek Govinda akan memulai dengan menyampaikan falsafah kehidupan. 

Akan tetapi, hari ini berbeda. Kakek Govinda mengangkat lengan kanan setara bahu dan mengacungkan jemari telunjuk ke atas. Tak ada perubahan pada aura tenaga dalamnya namun seketika itu juga muncul cincin berwarna lembayung. Berdesing, ukurannya cincin kemudian membesar sampai seukuran piring. Benda tersebut mengapung ringan, bahkan indah, di ujung jemari. 

Itu dia!? Batin Bintang Tenggara berteriak penuh suka cita. 

“Imbuhkan tenaga dalam perlahan, mengalun bersamaan dengan aliran darah… Pusatkan pada ujung jemari…”

Kumar dan Sanjay segera melaksanakan arahan Kakek Govinda. Akan tetapi, berbeda dengan lelaki setengah baya itu, peningkatan tenaga dalam keduanya terasa sangat kentara. 

“Alirkan secara alami…,” ujar Kakek Govinda sebelum kembali menutup mata dan tenggelam dalam tapa. 

Lelaki dewasa muda dan pemuda saling pandang. Kumar dan Sanjay memahami maksud lelaki setengah baya itu. Bahwa di saat mengalirkan dari mustika di lulu hati, jangan sampai terjadi peningkatan aura tenaga dalam. 

“Mustahil…,” gerutu Kumar. Baginya, saat mengerahkan tenaga dalam adalah mutlak terjadi perubahan aura. Hal yang sedemikian terjadi pada segenap ahli tanpa terkecuali. Bahkan, sengaja menunjukkan peningkatan aura tenaga dalam merupakan salah satu cara di dalam dunia keahlian demi menggertak lawan. 

Tunggu, batin Bintang Tenggara teringat akan sesuatu. Bagaimana halnya dengan Balaputera Khandra yang senantiasa menyamarkan aura tenaga dalamnya…? Selama ini diperkirakan bahwa tokoh tersebut bisa muncul tanpa disadari karena memanfaatkan formasi segel, namun setelah diingat-ingat lagi tak pernah dirasa akan kehadiran formasi segel… Mungkinkah Balaputera Khandra mampu mengalirkan tenaga dalam tanpa disadari pihak lain..?

Sanjay memejamkan mata. Terkesan bahwa ia menyadari bahwa bila Kakek Govinda dapat melakukan hal tersebut, maka bukan tak mungkin bagi dirinya melakukan hal yang sama. Kumar terpaksa mengikuti.

Hari berikutnya, Sanjay sudah dapat mengalirkan sedikit tenaga dalam tanpa menunjukkan perubahan pada aura yang dipancarkan tubuhnya. Walau tak banyak, namun pencapaian tersebut mengungguli Kumar yang malah terlihat kepayahan. Tak ada tunjuk ajar tambahan dari Kakek Govinda karena ia larut dalam tapa. 

Tiga hari berlalu, dan Sanjay sudah dapat dengan leluasa mengalirkan tenaga dalam tanpa adanya peningkatan aura. Walau terbatas, Kumar pun akhirnya mampu menyusul. Kuncinya adalah mengalirkan tenaga dalam sedikit-sedikit dan secara perlahan. Jangan tergesa-gesa. 

Kakek Govinda kembali mengangkat lengan kanan setara bahu dan mengacungkan jemari telunjuk ke atas. Tak ada perubahan pada aura tenaga dalamnya namun seketika itu juga muncul cincin berwarna lembayung. Berdesing, ukurannya cincin kemudian membesar sampai seukuran piring. Di ujung jemari benda yang dinamai chakra itu mengapung ringan dan indah. 

“Kumpulkan tenaga dalam di ujung jemari…,” ucap Kakek Govinda sebelum kembali memejamkan mata dan tenggelam dalam tapa. 

“Srash!” Tetiba gumpalan api sebesar buah kelapa menyala di ujung jemari Sanjay. Secara naluriah, mengalirkan tenaga dalam ke luar dari tubuh membuat unsur kesaktiaannya terpicu. Ia gagal. 

Di lain sisi, warna biru lembayung membungkus ujung jemari Kumar. Baginya, mengerahkan tenaga dalam murni tidaklah terlalu sulit. Ia sering menyaksikan jurus Parang Naga, yang mana dapat memperpanjang dan memperlebar bilah parang dengan memanfaatkan tenaga dalam murni. Bahkan dalam keadaan tanpa parang, Panglima Segantang mampu mengerahkah jurus andalan tersebut dengan membungkus lengan menggunakan tenaga dalam murni dan membuatnya ibarat bilah parang.

Ujung jemari telunjuk Bintang Tenggara seolah memanjang sekira setengah jengkal. Kali ini ia tampil lebih unggul dibandingkan Sanjay, walaupun beberapa saat kemudian pemuda di sisinya itu dapat meniru dan mencapai hasil yang serupa. 

“Jangan menyontek…,” gerutu Kumar sembari menyembunyikan jemari telunjuknya. Lelaki dewasa muda itu merasa tersaingi. 

Dua hari berselang.  

“Lepaskan…,” ujar Kakek Govinda. Lagi-lagi petunjuk yang ia berikan singkat dan padat. “Ikat…,” tambahnya sebelum melanjutkan tapa. 

Kali ini imbauan yang disampaikan menjadi tantangan yang sangat berat bagi Kumar dan Sanjay. Lelaki dewasa muda dan pemuda itu kesulitan melepaskan tenaga dalam murni dari ujung jemari. Ketika lepas, makan tenaga dalam tersebut lenyap seolah dibawa angin untuk menyatu kembali dengan alam. Bilamana memaksakan, maka pelepasan tenaga dalam akan memicu unsur kesaktian tanah bagi Kumar dan unsur kesaktian api milik Sanjay. Tanah menggumpal atau api menyala di ujung jemari. Nyatanya, kebiasaan mengerahkan unsur kesaktian kini menjadi sebuah kendala.

Demikian adalah kenyataan pemanfaatan tenaga dalam. Segenap ahli memanfaatkan tenaga dalam murni untuk membungkus tubuh demi membangun pertahanan atau mengalirkan kepada senjata di tangan untuk menambah keampuhan. Dalam kaitan dengan serangan jarak jauh, yang kerap dilakukan para ahli adalah mengimbuhkan tenaga dalam murni kepada unsur kesaktian. Hal ini dilakukan karena selain dipercaya dapat menambah keampuhan juga membangun kesan perkasa. Setidaknya inilah cara yang lazim dilakukan di Negeri Dua Samudera…

Mungkinkah Sanjay juga berasal dari Negeri Dua Samudera…? Tetiba sebuah pertanyaan mencuat di benak Bintang Tenggara karena menyadari bahwa rekannya itu juga kesulitan mengikuti tunjuk ajar. Apakah dia juga merupakan jiwa dan kesadaran yang menumpang di tubuh orang lain…? Kendatipun demikian, Bintang Tenggara segera menampik kecurigaan tersebut karena berpandangan bahwa Sanjay telah sejak lama mengembara bersama Kakek Govinda.

“Sanjay,” ujar Kumar ketika mereka mengambil air di sungai. “Ketika tenaga dalam murni terlepas dari ujung jemari, kita tak lagi dapat mengendalikannya…” 

Sanjay mengangguk. Ia lantas mengambil sebatang ranting dan menggores pada permukaan tanah basah. Secara sederhana ia menggambar tubuh manusia yang menjulurkan lengan, bulatan kecil yang agaknya adalah tenaga dalam murni, kemudian api yang menyala. Ia lantas menggores tanda silang pada gambar api.

Kumar mengelus-elus dagu. Sepertinya ada yang kurang pada gambar tersebut… “Lepaskan… ikat…,” gumam Kumar mengulang kata-kata Kakek Govinda. “Aku tahu!” 

Sanjay menoleh pelan. Melalui goresan di tanah, ia turut menyadari. Telunjuk tangan kanannya menyentuh alis, dan tangan kiri menempel di dada. 

Petang hari itu Kumar dan Sanjay duduk bersila di hadapan Kakek Govinda. Keduanya mengalirkan tenaga dalam secara cermat. Setelah ‘melepaskan’ tenaga dalam murni dari ujung jemari telunjuk, segera mereka menebar jalinan mata hati demi ‘mengikat’ tenaga dalam murni tersebut. Kini, terlihat mengapung setengah kasat mata mirip dengan udara yang memuai, namun bentuknya mengalun-alun tiada beraturan seperti kepulan asap yang hendak berbaur dengan udara. 

Upaya yang mereka lakukan rupanya tak ringan, hanya sebentar saja sekujur tubuh bermandikan peluh. Nyatanya, mengerahkan mata hati agar tenaga dalam murni yang keluar dari tubuh tiada sirna merupakan tindakan yang berat. Proses ini dirasa mirip dengan ketika memecahkan mustika tenaga dalam saat hendak naik peringkat keahlian. Bedanya, naik peringkat adalah mengendalikan tenaga dalam di dalam diri, 

“Padatkan!” Tetiba Kakek Govinda berseru. 

Kumar dan Sanjay menuruti perintah. Akan tetapi, kemampuan menebar mata hati keduanya terbatas. Karena memaksakan diri, darah merah mengalir keluar dari lubang hidung dan kepala seperti hendak pecah!

“Akh!” Tubuh lelaki dewasa muda itu terdorong lalu terhempas di tanah. Kumar nan malang kehilangan kendali atas mata hati sehingga tubuhnya terkena hentakan balik tenaga dalam murni yang gagal dikendalikan!