Episode 107 - Di Kota yang Jauh



Roy, dia adalah mantan anggota geng Serigala Hitam. Dikatakan sebagai 'mantan' karena kini geng itu sudah hancur karena kejadian saat itu. Kejadian ketika Iblis Hitam dan bawahannya menyerang tiga geng secara bersamaan dan mengalahkan mereka semua.

Bukan hanya itu, kemunculan aliansi 10 guild kecil juga menjadi salah satu alasan kenapa geng Serigala Hitam hancur. Dengan jumlah yang unggul, aliansi 10 geng menyerang sisa-sisa anggota geng Serigala Hitam yang masih ada dan mengambil alih semua bisnis mereka.

Semua kejadian itu terlihat seperti aliansi geng dan Iblis Hitam adalah satu kekuatan, tapi sebenarnya mereka tidak ada hubungan apapun dan aliansi 10 geng hanya mengambil kesempatan dari tertangkapnya anggota inti geng Serigala Hitam oleh polisi untuk mengambil alih bisnis yang sebelumnya milik geng-geng tersebut.

Namun, Roy berpikir bahwa mereka adalah satu kekuatan yang sama dan takut bukan kepalang hingga akhirnya memutuskan untuk pindah dari kota tersebut. Di kota yang baru, Roy mencoba untuk menjalani hidup yang baru sambil terus waspada jika saja ada yang mencoba mengejarnya hingga ke sana.

Di satu siang. 

Roy yang mengenakan kaos polos dan celana jeans juga masker untuk membuat wajahnya tidak bisa dikenali, dia berjalan ke warung di pinggir jalan yang selalu menjadi tempat makan langganannya. Matanya terus menatap waspada pada orang di sekitarnya meskipun dia sudah pergi jauh ke kota lain, sifat paranoid tidak sembuh bahkan sampai saat ini. Dia berpikir terlalu banyak pada hal kecil dan itu membuat dia waspada seperti sekarang.

Setelah berjalan selama 3 menit, akhirnya Roy sampai di warung tersebut. Warung sederhana yang dibangun dari kayu dan di cat dengan warna hijau. Meskipun begitu, warung tersebut selalu ramai oleh para pengunjung, alasannya adalah karena harganya yang murah dan lokasinya yang dekat dengan salah satu universitas ternama di kota itu, jadi warung ini sering digunakan sebagai tempat makan sekaligus nongkrong oleh para mahasiswa dan mahasiswi.

Hari ini pun seperti itu, banyak mahasiswa yang duduk sambil bercanda dan tertawa, Roy mengambil langkah santai ke salah satu sisi warung yang masih tersedia kursinya. Dia duduk di sebelah seorang pria yang tampak sangat biasa hingga kau pasti akan melupakannya setelah tidak melihat selama satu hari. Tidak ada fitur khusus yang menarik dari pria tersebut dan tampak sangat membosankan.

Namun, identitas sebenarnya pria yang tampak membosankan itu adalah Alsiel, bawahan dari Dan. Dia adalah jiwa yang masuk ke tubuh biasa ini dan sedang melakukan perjalanan untuk mencari jiwa-jiwa yang lainnya.

Meskipun begitu, setelah kecintaan terhadap makanan tertancap di hatinya, Alsiel tidak pernah berhenti untuk mencari makanan enak dan membuat dia melupakan misinya. Begitu pula hari ini, setelah melihat sebuah warung di tepi jalan yang ramai, dia langsung menghentikan sepeda motornya dan memasuki warung tersebut. Dari pengalamannya, Alsiel bisa tahu bahwa kemungkinan besar makanan di warung yang ramai tersebut sangat enak.

Setelah memesan, dia menunggu sambil mengerutkan dahinya. Meskipun memang benar warung yang ramai biasanya memiliki makanan yang enak, tapi Alsiel merasa terganggu dengan suara berisik dari orang-orang di sekitarnya. Mereka tertawa dan mengobrol, bahkan ada yang mengabaikan makanan di depannya dan hanya fokus pada smartphone di tangan. Alsiel sangat membenci rasa tidak hormat mereka pada makanan yang telah dibuat susah payah oleh para koki.

Sebelumnya Alsiel pernah melihat seorang koki yang sedang memasak dan akhirnya mencoba memasak juga, tapi makanan yang dihasilkan oleh Alsiel sangat mengerikan hingga tidak layak dikatakan sebagai makanan, dari hal ini rasa hormat Alsiel kepada koki menjadi lebih tinggi, meskipun mereka adalah manusia.

Setelah pesanannya datang, Alsiel langsung menyantapnya dan menghiraukan semua orang di sekitarnya.

Sementara itu, setelah Roy membuat pesanan, dia menunggu makanannya datang sambil melihat ke sekeliling warung itu. Matanya tampak iri dengan keceriaan mahasiswa di sekitarnya. Roy hanya bersekolah sampai SMA dan tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena masalah ekonomi, setelah itu dia mencoba untuk mencari pekerjaan tapi tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan karena tidak memiliki ijazah sarjana. 

Hari-harinya menjadi suram dan kemudian dia bertemu dengan Dion dan bergabung dengan geng Serigala Hitam miliknya. Di geng Serigala Hitam, Roy tidak memiliki kekuatan untuk bertarung, jadi dia selalu ditugaskan untuk mencari informasi. Memang bukan kehidupan yang Roy idamkan, tapi pendapatan yang dia dapatkan membuat Roy enggan membuangnya.

Setelah geng Serigala Hitam dihancurkan, Roy tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Saat ini Roy hidup dari uang yang dia simpan selama dia di geng Serigala Hitam, tapi suatu saat uang itu pasti akan habis dan mau tidak mau Roy harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, tapi dia tidak memiliki banyak keahlian dalam dirinya.

Tidak lama kemudian pesanannya datang, itu adalah bakso setan, diberi nama seperti itu karena rasanya yang pedas dari banyaknya cabai yang digunakan.

Menggunakan sendok, Roy mengambil sedikit kuahnya dan meminumnya. Rasa pedas langsung menjalar cepat pada lidahnya.

'huh huh, pedas.'

Roy melihat ke sampingnya di mana seorang pria biasa juga memesan hidangan yang sama. Kini pria itu memiliki banyak keringat di sekitar wajahnya, tapi dia tidak berhenti untuk memakannya.

Namun, tiba-tiba terdengar suara berisik. Dua orang saling berteriak dan memegang kerah masing-masing dengan marah. Di sekelilingnya orang-orang bersemangat dan menyoraki dua orang yang bertarung tersebut.

Tiba-tiba saja Alsiel yang berada di samping Roy langsung berdiri dan menerobos kumpulan orang-orang di sekitar dua orang yang sedang bertarung. Tanpa mengatakan apa-apa Alsiel langsung meraih dua orang itu dan melemparkannya keluar dan kembali ke tempat duduknya, seperti itu bukan hal yang luar biasa.

Di sisi lain, orang-orang hanya biasa terbengong setelah melihat hal yang sangat luar biasa itu. Mereka tidak pernah berpikir bahwa orang yang tampak biasa dan membosankan itu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. 

Sedangkan itu, dua orang yang dilempar keluar oleh Alsiel dengan takut melihat ke arah Alsiel lalu pergi dari sana.

Untuk Roy, dia tidak bisa tidak menatap Alsiel dengan mata melotot dan mulut terbuka, apa yang Alsiel lakukan terlalu luar biasa bagi Roy.

"Apa?" tanya Alsiel dengan ekspresi terganggu karena tatapan Roy yang intens.

"Ah ... Um .. tidak, bukan apa-apa." Balas Roy dengan kaku.

Dengan kejadian ini, Roy mengingatkan dirinya lagi untuk tidak menilai seseorang dari penampilannya saja. Roy masih mengingat seorang pria yang pernah dia ikuti yang ternyata anak dari Yakuza dan memiliki tiga pacar yang adalah anggota polisi, gengter, dan pembunuh. 

Kesalahpahaman Roy terhadap Rito masih belum terselesaikan.

Setelah menghabiskan semua makanannya, Alsiel berdiri dari tempat duduknya dan membayarnya. Kemudian dengan santai keluar dari warung dan menghampiri sepeda motornya, meninggalkan semua orang yang melihatnya dengan takjub sekaligus takut.

"Sudah dekat, aku sekarang bisa merasakannya lebih jelas." Gumam Alsiel pelan sambil membawa sepeda motornya ke satu arah.

Sementara itu, Roy tidak berhasil menghabiskan bakso setan yang dia pesan dan pergi setelah membayarnya. Kehidupan barunya telah dimulai, tapi dia masih belum tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

Tanpa keahlian, tanpa kenalan, di sebuah kota baru yang tidak dia kenali, Roy benar-benar tidak tahu langkah apa yang harus dia lakukan. Tidak seperti hari-harinya yang sibuk ketika berada di geng Serigala Hitam, hari-harinya saat ini sangat luang, tapi karena itu Roy tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Hidupnya yang dulu sesederhana melakukan tugas yang diberikan oleh Dion padanya, dia tidak pernah melakukan hal-hal yang sesuai dengan keinginan hingga akhirnya tidak tahu apa yang sebenernya dia inginkan.

Baru saat itu Roy mengingat sebuah kalimat. 'Kebebasan tanpa tujuan itu sangat membosankan.".

Roy selalu mengikuti arus yang membawanya. Jalurnya adalah jalur yang orang lain berikan. Kemudian ketika jalur itu tiba-tiba menghilang, Roy berhenti di tempat tanpa tahu harus kemana.


°°°


Langit malam menyelimuti kota yang telah sepi. Semua orang telah nyenyak tertidur di rumah masing-masing. Meskipun malam terlihat seperti malam pada biasanya, tapi sebuah kejadian besar telah terjadi. Empat jiwa melayang di langit dan mencari tubuh untuk ditinggali.

Empat jiwa itu adalah Dalpos, Biloth, Raon, dan Egor. Mereka adalah para pemimpin pasukan iblis yang memiliki tujuan untuk mencari kepingan pedang yang terjatuh ke dunia manusia.

Jiwa-jiwa itu bergerak seperti angin dan kemudian masuk ke tubuh manusia. Mereka yang dimasuki oleh para iblis benar-benar tidak beruntung, karena mereka harus mengalahkan jiwa iblis yang masuk ke dalam tubuhnya atau jiwa mereka akan hancur dan tubuh mereka akan diambil alih.

Salah satu orang yang tidak beruntung tersebut adalah Erwin. Dia adalah salah satu murid di SMA yang sama dengan Danny.

Tiba-tiba saja dia berada di tengah kota yang sepi.

"Di mana ini? Apakah aku sedang bermimpi?" gumam Erwin seraya mengalihkan perhatian pada sekitarnya.

Kota itu terlihat seperti kota mati karena tidak ada seorangpun. Erwin berjalan santai sambil mencari tahu situasinya. Sebelumnya dia telah mencoba untuk mencubit pipinya, tapi dia tidak merasakan sakit, jadi dia berpikir bahwa ini adalah mimpi.

"Ini mimpi yang sangat nyata." Gumam Erwin sambil menyentuh bangunan di sekitarnya. Dia bisa merasakan kerasya tiang listrik seperti kenyataan, tapi ketika dia mencoba untuk memukulnya, Erwin tidak merasakan sakit.

"Sangat aneh." Gumam Erwin.

"Hahahaha, aku benar-benar beruntung." 

Erwin melihat ke arah suara melengking itu terdengar, di sana terdapat seorang pria dengan pakaian bulu berwarna hitam yang tampak sangat menyeramkan.

"Siapa kau?" Teriak Erwin.

"Kau tidak perlu tahu, kau hanya perlu mati dan menyerahkan tubuh ini padaku." Ucap Dalpos sambil melesat menuju Erwin sambil membawa pedangnya.

"Sial!" Erwin dengan cepat mencoba melarikan diri dari Dalpos.